
Bandung.
Sudah hampir seminggu Sang suami belum juga kembali, meskipun begitu Abraham masih mengirim pesan singkat kepada Asyila dan mengatakan bahwa disana Abraham baik-baik saja.
Kesedihan Asyila tidak terlalu ia pikirkan, karena begitu banyak pekerjaan yang haru ia tangani. Mulai dari menjual kue kacang yang membludak pesat hingga pakaian muslimah miliknya yang hampir tiap hari laku keras, bahkan ada banyak pelanggan kehabisan barang belanjaan mereka karena saking larisnya.
“Aunty, Dyah memposting gamis Aunty yang ini di sosial media dan ternyata banyak yang memesan. Kira-kira gamis yang ini adanya kapan ya Aunty?” tanya Dyah karena tahu bahwa pakaian muslimah yang dijual oleh Aunty laku keras.
“Insya Allah, seminggu lagi Dyah,” balas Asyila pada Dyah.
“Seminggu lagi? Baiklah, Dyah akan tanyakan ke mereka, apakah mereka mau menunggu dalam waktu seminggu atau tidak?”
“Dyah, tolong bantu yang lainnya membungkus hijab ini ke dalam plastik, kepala Aunty rasanya agak berat. Sepertinya Aunty butuh istirahat,” tutur Asyila yang sudah dua hari ini kepala sakit dan juga berat.
“Aunty sepertinya kelelahan dan kurang tidur, kalau begitu beristirahatlah. Biar Dyah yang melanjutkan membungkus hijab ini,” balas Dyah.
Saat Asyila baru saja bangkit, tiba-tiba Asyila kehilangan keseimbangan dan untungnya ada Dyah yang dengan sigap menahan tubuh Asyila agar tidak jatuh.
Para karyawati yang berada di ruangan itu pun ikut panik dengan keadaan Asyila.
“Ya Allah, Aunty,” ucap Dyah dengan jantung berdebar-debar karena ketakutan dengan apa yang terjadi kepada Aunty-nya.
“Dyah, tiba-tiba penglihatan Aunty menjadi gelap. Tolong bantu Aunty ke kamar!” pinta Asyila pada Dyah.
Dyah memapah Aunty-nya menuju kamar.
“Aunty sebaiknya perbanyak istirahat, kalau Aunty sakit begini yang ada Paman pasti akan marah karena Aunty tak memedulikan kesehatan Aunty,” tutur Dyah.
“Sebenarnya Aunty mu ini juga tidak ingin sakit, Dyah. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Namanya juga sakit, memang benar apa kata kamu tadi, Aunty memang harus banyak istirahat. Mungkin, besok toko tutup,” balas Asyila.
“Tidak. Pokoknya toko tidak boleh tutup, Dyah yang akan menggantikan Aunty. Aunty tenang saja, besok kebetulan Mas Fahmi tidak pergi ke kedai, jadinya biar Mas Fahmi yang menjadi Asyila,” ujar Dyah.
“Dyah, Aunty tidak ingin merepotkan kamu dan juga suamimu.”
“Aunty, Dyah ataupun Mas Fahmi sama sekali tidak merasa direpotkan, justru kami senang kalau membantu Aunty, itu artinya kami masih sangat dibutuhkan,” sahut Dyah.
Asyila dan Dyah akhirnya tiba di kamar, Dyah perlahan membantunya Asyila untuk merebahkan diri di tempat tidur.
“Aunty beristirahatlah dulu, Dyah akan memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi Aunty,” tutur Dyah dan mengeluarkan ponsel pintar miliknya.
“Dyah, tidak perlu memanggil Dokter segala. Aunty hanya butuh istirahat saja,” ujar Asyila pada Dyah agar tidak memanggil Dokter untuk datang ke Perumahan Absyil.
Dyah menggelengkan kepalanya menolak permintaan Aunty-nya dan menghubungi salah satu dokter kenalannya untuk datang memeriksa kondisi kesehatan Aunty kesayangannya itu.
“Aunty tenang saja, rumah Dokter yang Dyah panggil tidak jauh dari Perumahan Absyil. Mungkin 15 menit lagi, Dokter Caca tiba.”
__ADS_1
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Dyah melenggang pergi meninggalkan Asyila di kamarnya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Mbok Num, tolong buatkan Aunty teh hangat ya!” pinta Dyah ketika berpapasan dengan Mbok Num.
“Baiklah, Mbak Dyah,” sahut Mbok Num dan bergegas membuatkan teh untuk Asyila yang tengah sakit.
Asyila perlahan membuka hijab miliknya dan meletakkan hijab tersebut di atas nakas. Ia berusaha untuk rileks agar pusing di kepalanya segera berkurang.
“Tok! Tok! Tok!”
“Masuk saja, tidak dikunci!” pinta Asyila setengah berteriak agar di dengar sampai keluar pintu.
Mbok Num perlahan masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat untuk Asyila.
“Nona Asyila, ini teh hangat,” tutur Mbok Num.
“Mbok Num, tolong bantu saya minum teh hangat itu ya!” pinta Asyila dengan suara lirih.
Mbok Num meletakkan teh tersebut di nakas dan membantu Asyila untuk duduk.
“Terima kasih, Mbok Num,” ucap Asyila pada Mbok Num yang telah membantunya minum teh.
“Iya, Nona Asyila sama-sama. Kalau begitu, saya izin keluar agar Nona Asyila bisa segera sembuh,” tutur Mbok Num dan berjalan keluar dari kamar.
Perlahan, Asyila menoleh ke arah bayinya yang untungnya tengah terlelap.
Malam hari.
Dyah masuk ke dalam kamar Aunty-nya untuk memberitahukan kepada Aunty kesayangannya itu untuk makan karena setelah itu, istri dari Pamannya harus minum obat.
“Aunty, ayo makan!” ajak Dyah.
Asyila menggelengkan kepalanya, “Tidak, Dyah. Aunty sama sekali tidak kuat untuk berjalan.”
“Masih sakit ya Aunty kepalanya? Aunty itu kurang darah karena terlalu lelah dan juga terlalu banyak berpikir. Ya sudah, Dyah ambilkan Aunty makan biar Aunty bisa makan,” terang Dyah.
Dyah berlari kecil menuju ruang makan untuk mengambilkan makanan untuk Aunty kesayangannya.
“Dyah mau makan lagi?” tanya Fahmi yang saat itu tak sengaja melihat istrinya di ruang makan.
“Bukan, Mas. Ini untuk Aunty. Kasihan Aunty, tidak kuat berjalan karena sakit,” jawab Dyah dengan ekspresi sedih.
Dyah mengisi piring serta lauk pauk untuk Aunty-nya dan setelah semuanya terisi di dalam sebuah piring, Dyah pun melenggang pergi menuju suaminya yang masih berada di ruang makan.
Dyah masuk ke dalam kamar dan meletakkan piring tersebut ke atas nakas.
__ADS_1
“Ayo, Aunty! Dyah bantu Aunty duduk,” tutur Dyah membantu Aunty-nya untuk duduk di tempat tidur tersebut.
“Dyah, bawa Aunty ke sofa saja!” pinta Asyila.
“Baiklah, kalau Aunty maunya duduk di sofa,” balas Dyah dan berusaha membantu Asyila untuk berjalan menuju sofa.
Dyah akhirnya berhasil membantu Asyila duduk di sofa. Kemudian, ia mengambil piring untuk menyuapi makanan pada Aunty kesayangannya itu.
Dyah sangat beruntung memiliki keponakan seperti Dyah yang begitu memedulikan dirinya.
“Sudah, Dyah,” tutur Asyila yang baru makan sedikit.
“Ya Allah, Aunty. Aunty itu baru makan tiga suapan, pokoknya Aunty harus menghabiskan makanan ini!” pinta Dyah.
“Dyah, mulut Aunty ini rasanya pahit,” terang Asyila.
“Ya sudah begini saja, Aunty makan lima suap lagi ya!” pinta Dyah.
“Baiklah,” balas Asyila berusaha menelan setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, walaupun dengan sangat terpaksa.
Dyah tersenyum senang ketika Aunty-nya menuruti keinginannya itu.
Usai menyuapi makanan pada Asyila, Dyah pun pamit untuk segera meninggalkan kamar tersebut.
Kini, Asyila bersama dengan bayi mungilnya berdua saja di dalam kamar.
Asyila tiba-tiba menitikkan air matanya merindukan Sang suami agar bisa segera ia peluk.
“Mas, cepat pulang ya. Asyila akan selalu mendo'akan Mas Abram disini,” tutur Asyila bermonolog.
Asyila sama sekali tak memberitahukan bahwa dirinya sedang sakit, karena tak ingin membuat pekerjaan suaminya tidak fokus karena istrinya sakit di rumah.
Asyila meminum obat miliknya agar segera sembuh, kemudian ia memutuskan untuk segera tidur agar esok harinya dirinya mulai membaik.
1 jam kemudian.
Dyah dan Fahmi mulai mengantuk saat mereka berdua duduk di sofa ruang tamu, karena waktu yang memang sudah malam, merekapun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar agar bisa langsung istirahat.
Disaat yang bersamaan, Asyila terbangun dari tidurnya dan turun dari tempat tidurnya secara perlahan menuju kamar mandi.
Usai membuang air kecil, Asyila keluar dari kamar mandi dan disaat itu juga bayi Akbar menangis.
“Iya sayang,” ucap Asyila sembari melangkahkan kakinya menuju ranjang buah hatinya.
Asyila menggendong buah hatinya itu dan membawanya ke tempat tidurnya.
__ADS_1
Asyila mulai menyusui bayinya itu dan ia pun kembali terlelap karena efek dari obat yang mengakibatkan kantuk berat.