Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Arsyad Tidur Bersama Ayah Dan Bundanya


__ADS_3

Usai menyusui bayi mungilnya, Asyila pun dengan hati-hati turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mempersiapkan bayi mungilnya mandi.


“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar tiba-tiba bangun dari tidurnya dan menangis saat itu juga.


“Sebentar ya sayang, Bunda sedang menyiapkan air hangat untuk Akbar mandi,” ucap Asyila dari dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, air hangat pun siap. Asyila cepat-cepat keluar dari kamar mandi untuk memandikan bayi mungilnya. Asyila tertawa kecil ketika melihat bayi mungilnya kembali tertidur.


“Ya ampun sayang, tadi nangis-nangis. Sekarang malah tidur,” tutur Asyila dan perlahan menanggalkan pakaian bayi mungilnya untuk segera mandi.


Disaat yang bersamaan, Abraham masuk ke dalam kamar untuk melihat istri serta bayi mereka.


“Syila mau memandikan bayi Akbar?” tanya Abraham sambil mendaratkan bokongnya di sisi ranjang.


“Iya, Mas. Sudah jam segini, kasihan kalau Akbar tidak dimandikan. Mana cuaca hari ini cukup panas,” jawab Asyila sambil menoleh sekilas ke arah suaminya tercinta.


“Asyila mandikan saja bayi Akbar, biar pakaiannya Mas yang siapkan.”


“Mas tidak perlu melakukannya, pakaian bayi Akbar sudah Asyila siapkan dan sudah Asyila letakan di sofa,” balas Asyila.


Abraham memanyunkan bibirnya karena ternyata semuanya sudah dipersiapkan oleh istri kecilnya.


“Kalau begitu, biar Mas saja yang mengenakan pakaian Bayi kita,” sahut Abraham yang ingin membantu istri kecilnya dalam mengurus bayi mungil mereka berdua.


“Mas yakin?” tanya Asyila memastikan.


“Tentu saja sangat yakin,” jawab Abraham dengan penuh percaya diri.


Asyila tertawa kecil dan memfokuskan perhatiannya pada bayi mungilnya yang sedang ia mandikan. Kemudian, ia pun selesai memandikan bayi mungil tersebut dan bergegas keluar dari kamar mandi.


Abraham terlihat sangat bersemangat dan meminta istri kecilnya untuk mengizinkannya membantu mengenakan pakaian bayi mungil mereka.


“Baiklah, Mas boleh memakaikan pakaian untuk Bayi kita,” balas Asyila dengan senyum manisnya yang membuat Abraham semakin mencintai istri kecilnya itu m


Abraham tersenyum senang dan mulai memakaikan pakaian bayi mungil mereka dengan sangat hati-hati.


Asyila memperhatikan suaminya yang begitu pandai mengganti pakaian bayi mereka.


“Terima kasih ya Mas, hal-hal kecil seperti ini membuat Asyila sangat bahagia. Selain menjadi suami yang baik serta bertanggung jawab, Mas juga menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak kita. Maafkan Asyila ya Mas yang masih banyak kekurangan ini,” tutur Asyila.


“Sssuutt...” Jari telunjuk Abraham menyentuh bibir Asyila, “Jangan berkata seperti itu lagi, Asyila sama sekali tak memiliki kekurangan. Justru, Asyila memiliki banyak kelebihan. Kita saling melengkapi satu sama lain dan Insya Allah kita akan berada di surga bersama-sama,” imbuh Abraham.


“Aamiin Allahumma Aamin,” balas Asyila.


“Tok... Tok... Tok...” Suara pintu diketuk dari luar kamar.


“Iya, Siapa?” tanya Abraham dan juga Asyila sambil menoleh ke arah pintu.


“Ini Arsyad,” jawab Arsyad dari balik pintu dan akan masuk ke dalam kamar jikalau ia diizinkan masuk.


“Masuk saja sayang, tidak dikunci!” perintah Abraham.


Arsyad pun masuk ke dalam kamar orangtuanya.


“Sudah belajarnya?” tanya Abraham dan menarik tubuh putra sulungnya ke dalam pangkuannya.


“Sudah, Ayah. Kak Bela sudah bisa menghafal huruf-huruf abjad dari A sampai Z dan besok Insya Allah Arsyad akan membantu Kak Bela mengeja,” jawab Arsyad yang terlihat begitu senang menceritakan bagaimana pintarnya Bela yang dengan cepat menghafal huruf abjad.


“Alhamdulillah, terima kasih ya sayang. Ayah bangga pada Arsyad,” ucap Abraham dan mengacak-acak rambut putra sulungnya bersama Sang istri.


“Ayah berterima kasih buat apa?” tanya Arsyad terheran-heran.

__ADS_1


“Untuk kebaikan dan kepintaran Arsyad,” jawab Abraham.


Arsyad tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Sang Ayah.


Asyila terkekeh kecil dan menggendong bayi mungilnya untuk bersantai-santai di ruang keluarga bersama yang lainnya.


“Ayo keluar!” ajak Asyila.


“Ayah, Bunda!” Panggil Arsyad dengan tatapan penuh serius.


Asyila yang ingin keluar dari kamar, seketika itu juga mengurungkan niatnya dan duduk di sisi ranjang.


“Iya sayang, apa ada hal yang ingin Arsyad katakan kepada Ayah dan juga Bunda?” tanya Asyila penasaran.


“Iya Bunda, ada yang ingin Arsyad katakan. Malam ini, boleh tidak Arsyad tidur dengan Ayah dan juga Bunda. Arsyad kangen tidur bersama,” terang Arsyad dengan mata berkaca-kaca.


Asyila tersentuh dengan permintaan putra sulungnya bersama Sang suami. Ia pun meletakkan bayi mungilnya yang sebelumnya ia gendong ke tempat tidur, kemudian ia memeluk putra sulungnya tersebut dengan penuh kasih sayang.


“Tentu saja boleh sayang, Ayah dan juga Bunda kangen sekali dengan Arsyad. Malam ini Arsyad tidur sama Ayah dan juga Bunda di kamar ini,” balas Asyila yang kini tengah menangis terharu.


Abraham tak dapat menyembunyikan rasa senangnya, ia pun ikut menangis dan memeluk keduanya dengan penuh cinta.


“Terima kasih, Ayah dan Bunda,” ujar Arsyad yang sangat senang karena dirinya diperbolehkan untuk tidur bersama kedua orangtuanya yang sudah lama ia nantikan selama berada di pondok pesantren.


“Iya sayang, Bunda sayang sekali dengan Arsyad!”


“Arsyad juga sayang sekali dengan Ayah dan juga Bunda. Terima kasih sudah menjaga serta melindungi Arsyad dari masih di dalam perut sama sekarang,” terang Arsyad.


“Arsyad sayang, kami pun berterima kasih karena telah memilih Ayah dan Bunda sebagai orang tua Arsyad,” balas Asyila.


Cukup lama mereka di posisi saling berpelukan, sampai akhirnya bayi mungil itu menangis dan membuat ketiganya terkejut.


“Sepertinya kita harus segera keluar, adik bayi agak rewel kalau habis mandi dan hanya di dalam kamar saja,” terang Asyila dan bergegas keluar dari kamar untuk segera bergabung bersama yang lain di ruang keluarga.


Akan tetapi, Arumi memilih untuk tak bertanya dan berpura-pura tidak tahu.


“Ayah kemana, Ibu?” tanya Abraham karena tak melihat Ayah mertuanya di ruang keluarga.


“Ayah sedang mengobrol di depan bersama Pak Udin,” jawab Arumi.


Abraham pun beranjak dari duduknya dan memilih untuk berkumpul dengan Ayah mertua serta sopir pribadinya.


“Boleh Abraham ikut bergabung?” tanya Abraham.


“Hahaha... Tentu saja boleh, Nak Abraham,” jawab Herwan.


“Sepertinya sangat seru, Ayah dan Pak Udin sedang mengobrol kan apa?” tanya Abraham penasaran.


“Ini, kami sedang membahas masalah kolam ikan yang baru buka itu. Di tempat Pak Mun, hanya membayar 20 ribu saja kita sudah bisa membawa pulang hasil pancingan,” ungkap Herwan dan kembali tertawa.


“Pak Mun yang rumahnya di pojok itu, Ayah? Memangnya ikan apa yang ada di dalam kolam itu?” tanya Abraham penasaran.


“Kalau tidak salah ikan Lele,” jawab Ayah mertua dari Abraham Mahesa.


Abraham tersenyum tipis dan memutuskan untuk mengajak kedua buah hatinya memancing bersama. Hitung-hitung untuk membuat mereka bertiga semakin dekat satu sama lain.


Mereka terus saja berbincang-bincang, sampai akhirnya Arumi datang dan meminta para pria untuk segera masuk ke dalam karena waktu berbuka sebentar lagi.


Abraham, Herwan dan juga Pak Udin pun masuk ke dalam rumah. Awalnya Pak Udin menolak karena ia sudah terbiasa berbuka bersama para bodyguard, akan tetapi Abraham terus memaksa dan akhirnya Pak Udin pun mengiyakan.


“Nak Abraham mau kemana?” tanya Arumi.

__ADS_1


“Memanggil Alif dan yang lainnya untuk berbuka puasa bersama di dalam,” jawab Abraham dan melenggang pergi untuk segera menghampiri para bodyguard nya agar berbuka puasa bersama di dalam rumah.


Abraham pun tiba dan mengajak para bodyguardnya untuk segera masuk ke dalam. Tanpa pikir panjang, Alif serta yang lainnya mengiyakan dan bergegas masuk ke dalam untuk ikut berbuka puasa bersama.


Sekitar 5 menit kemudian, akhirnya adzan Maghrib pun berkumandang. Waktunya bagi umat muslim membatalkan puasa mereka dengan yang manis-manis.


Setelah membatalkan puasa dengan air dan juga buah kurma. Abraham, Herwan serta yang lainnya bergegas melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di masjid.


Sementara para wanita seperti biasa, mereka akan melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di rumah saja.


“Bela sayang, kenapa diam saja? Apa ada hal yang sedang mengganggu pikiran Bela?” tanya Asyila pada Bela yang sedari tadi banyak melamun.


“Tidak ada apa-apa, Aunty,” jawab Bela yang memang tidak memikirkan apa-apa.


“Sungguh tidak apa-apa?” tanya Asyila memastikan.


Bela tersenyum dan mengangguk kecil, tanda bahwa ia tidak apa-apa.


“Ya sudah kalau begitu, ayo kita ambil air wudhu sudah waktunya untuk sholat Maghrib!” ajak Asyila sambil merangkul bahu Bela.


***


Pukul 21.15 WIB.


Arsyad duduk seorang diri di ruang keluarga sambil membaca kitab suci Al-Qur'an. Sebelum tidur, biasanya ia akan mengaji terlebih dahulu. Hal tersebut sudah ia terapkan sejak awal tinggal di pondok pesantren tempat dimana Arsyad mempelajari ilmu agama Islam.


Setelah Arsyad membaca kitab suci Al-Qur'an, Arsyad pun beranjak dari duduknya dan meletakkan kita suci Al-Qur'an ke tempatnya.


“Sudah mengajinya sayang?” tanya Asyila yang sedari tadi memperhatikan putra sulungnya.


“Alhamdulillah, sudah Bunda,” jawab Arsyad.


“Kak Bela dan Adik Ashraf sudah tidur. Arsyad sudah mau tidur apa belum?” tanya Asyila.


“Iya Bunda, Arsyad mau tidur bersama Ayah dan Bunda.”


“Tunggu apalagi? Ayo kita ke kamar, Ayah sudah menunggu Arsyad di kamar!” Asyila menggandeng tangan Arsyad dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Setibanya di kamar, Arsyad langsung dipeluk oleh Ayahnya.


“Jagoan Ayah sudah besar, rasanya baru kemarin Arsyad lahir,” tutur Abraham yang terlihat sangat bahagia.


“Ayah, Arsyad juga harus menjadi dewasa agar bisa menjaga adik-adik Arsyad,” ujar Arsyad, “Arsyad juga mau belajar ilmu bela diri agar kedepannya tidak sembarangan orang bisa menyakiti kita,” imbuhnya.


“Sungguh? Arsyad mau belajar ilmu bela diri? Kalau begitu, biar Ayah yang mengajari Arsyad!”


“Benarkah Ayah?” tanya Arsyad dengan sangat antusias.


“Tentu saja anakku, Ayah akan membuat Arsyad menjadi kuat,” balas Abraham.


“Mas, ini sudah malam. Besok kita mengobrol lagi, sekarang ayo tidur!” ajak Asyila yang sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Abraham dan Arsyad mengiyakan secara kompak. Kemudian, mereka berdua bersama-sama masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Asyila tersenyum manis, ia sudah lebih dulu mengambil air wudhu dan kini ia memutuskan untuk segera tidur karena tengah malam biasanya bayi mungilnya akan bangun karena haus.


Usai mengambil air wudhu, Ayah dan Anak itu pun bergegas naik ke tempat tidur.


Mereka berdua tak langsung tidur, malah berbincang-bincang di tempat tidur. Asyila yang memang belum tidur, memilih untuk diam sembari mendengarkan perbincangan suami serta putra sulung mereka.


Hampir 1 jam lamanya mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya Arsyad pun terlelap dan disusul oleh Abraham.

__ADS_1


Asyila yang sudah tidur setengah jam yang lalu, tiba-tiba terbangun karena mendengar bayinya menangis. Asyila pun beranjak dan menyusui sejenak bayi mungilnya, kemudian ia kembali melanjutkan tidurnya.


Like ❤️


__ADS_2