Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Sepakat Menunda Pernikahan


__ADS_3

Dyah tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah Fahmi yang baru saja mengantarkan pulang. Kurang dari seminggu, ia dan Fahmi akan resmi menjadi sepasang suami istri yang sah dimata hukum dan agama.


Beberapa hari yang lalu, keduanya sangat sibuk dan wara-wiri mengurus surat-surat untuk menikah.


Belum lagi, hal-hal yang tiba-tiba muncul dan membuat keduanya sempat berselisih. Meskipun begitu, cinta keduanya malah semakin besar.


“Ya Allah!” Dyah terkejut mendengar ponselnya berbunyi dan cepat-cepat merogoh ponselnya yang berada di dalam tas.


Ternyata yang menghubunginya adalah Pamannya tersayang.


“Hallo, Assalamu'alaikum Pamanku yang paling baik dan ganteng!” sapa Dyah bertingkah seimut mungkin.


“Wa'alaikumsalam,” jawab Abraham.


Dyah merasakan ada sesuatu hal yang telah terjadi, dikarenakan suara Pamannya terdengar begitu berat.


“Paman kenapa? Apa ada sesuatu hal yang telah terjadi?” tanya Dyah penasaran.


Abraham bukan tipe pria yang suka berbasa-basi, ia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada keponakannya itu. Dikarenakan, Temmy maupun Yeni saat itu tak bisa dihubungi. Kemungkinan, mereka sedang sibuk sehingga ponsel keduanya tidak aktif.


Setelah mendengar apa yang telah terjadi secara keselurahan dari apa yang dijelaskan oleh Sang Paman, seketika itu juga Dyah menangis dan terkulai lemas.


“Jangan menangis, keponakanku. Yang kami butuhkan sekarang adalah do'a dari kalian disana, tolong beritahu Papa dan Mamamu ketika mereka sudah pulang ke rumah.”


Dengan sesegukan, Dyah mengiyakan permintaan dari Pamannya. Kemudian, Abraham mengakhiri sambungan telepon karena harus menemani kedua adik sepupunya bermain.


Dyah cepat-cepat membuka pintu rumah dengan kunci cadang dan berlari masuk ke dalam kamar. Gadis bermata sipit itu menangis histeris, karena cobaan datang silih berganti kepada orang-orang yang sangat ia sayangi.


“Paman belum sembuh ya Allah, sekarang malah Aunty yang mengalami hal mengerikan. Ya Allah, tolong selamatkan Aunty dan calon adik hamba!” pinta Dyah.


Dyah terus saja menangis, sampai akhirnya ia tertidur karena terlalu lama menangis.


Beberapa saat kemudian.


Temmy dan Yeni akhirnya tiba, mereka terlihat sangat lelah karena ada urusan yang sangat penting dan beberapa rapat yang mendadak untuk diskusikan bersama rekan kerja yang lainnya.


Keduanya masuk dan tak lupa mengucapkan salam sebelum memasuki rumah.


“Kok sepi ya Pa? Biasanya kalau kita pulang, Dyah langsung datang menyambut kita,” ucap Yeni dengan terheran-heran.


“Mungkin sedang mandi atau sakit perut,” balas Temmy.


“Ya, mungkin saja. Ayo Pa ke kamar, Mama sangat gerah dan cepat-cepat ingin mandi,” tutur Yeni dan mengajak suaminya masuk ke dalam kamar.


****


Temmy dan Yeni sudah selesai mandi, akan tetapi Dyah belum memunculkan batang hidungnya dan membuat Yeni berpikir bahwa Dyah sedang sakit.


Yeni lalu memutuskan untuk menghampiri putri tunggalnya yang berada di dalam kamar.


“Sayang, sudah sore kenapa masih tidur dan belum mandi?” tanya Yeni dengan penuh perhatian dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kenyamanan bagi Dyah sebelum Dyah benar-benar dibawa pergi oleh Fahmi untuk membina bahtera rumah tangga.


Yeni mengubah posisi tidur putrinya yang tidur dengan posisi tengkurap.


“Dyah, kamu habis menangis sayang?” tanya Yeni ketika melihat kedua mata putri tunggalnya sembab.


“Mama, ayo ke Jakarta sekarang!” ajak Dyah sambil mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.

__ADS_1


“Kamu kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba mengajak Ibu ke Jakarta sekarang?”


Dengan sangat sedih, Dyah langsung menceritakan apa yang tengah terjadi pada keluarga kecilnya Pamannya.


Yeni terkejut dan langsung menangis saat itu juga. Wanita itu beranjak dan berlari menghampiri suaminya yang tengah minum kopi di teras depan rumah.


“Pa, kita harus bersiap-siap sekarang. Pokoknya hari ini kita harus berangkat ke Jakarta!”


Temmy masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istrinya dan itu membuat Yeni geram.


“Papa, tolong lebih cepat sedikit!”


Temmy terkejut ketika melihat reaksi istrinya yang tiba-tiba marah sekaligus menangis.


“Papa kenapa malah diam seperti ini? Abraham dan keluarganya saat ini mengalami musibah, Asyila bahkan mengalami koma,” terang Yeni.


“Innalilahi.” Temmy benar-benar syok, tanpa pikir panjang keduanya berlari masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta saat itu juga.


Disaat yang bersamaan, Fahmi datang ke rumah calon mertuanya dengan mata yang memerah. Fahmi nampak sangat sedih mengetahui hal buruk tengah menimpa keluarga dari calon Pamannya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Fahmi sambil mengetuk pintu.


Cukup lama Fahmi berdiri di depan pintu, sampai akhirnya Yeni datang menghampiri dirinya ketika mengetahui bahwa calon menantunya datang.


Yeni mempersilakan Fahmi untuk masuk dan saat itu juga Dyah datang dengan wajah yang nampak begitu berantakan.


Temmy keluar dari kamar dan menyuruh istri serta putri tunggalnya untuk segera masuk kamar.


“Nak Fahmi, ayo ikut kami!”


Akhirnya, mereka berempat berangkat menuju Ibukota Jakarta. Diperjalanan, Dyah terus saja menangis.


Fahmi sesekali menoleh ke arah calon istrinya yang terus saja menangis. Memang tak bisa dipungkiri, kejadian yang dialami oleh Abraham serta keluarganya adalah kejadian yang menggemparkan.


Beberapa jama kemudian.


Mereka akhirnya sampai tepat di depan gerbang rumah Abraham, Temmy seketika itu turun ketika melihat beberapa orang berjaga-jaga dikediaman adiknya.


“Bisakah kami masuk?” tanya Temmy.


Polisi yang berjaga langsung menginterogasi Temmy seketika itu juga dan Temmy pun segera menghubungi Abraham agar polisi-polisi yang berjaga bisa memberikannya jalan untuk masuk ke dalam rumah Abraham.


Setelah menerima pesan singkat dari Temmy, Abraham cepat-cepat keluar rumah dengan didampingi oleh Ayah mertuanya. Untuk memberitahu kepada para polisi bahwa Temmy adalah anggota keluarganya.


Temmy kembali masuk ke dalam mobil dan membawa mobil itu masuk ke halaman rumah Abraham. Setelah memarkirkan mobilnya, Temmy cepat-cepat turun dan memeluk tubuh Abraham dengan sangat erat.


“Sebenarnya siapa mereka? Motif yang membuat mereka melakukan hal yang sangat keji ini?” tanya Temmy.


“Kita bicarakan ini di dalam saja ya Abang, mari masuk!”


“Paman!” Dyah berlari dan memukuli lengan Pamannya, “Paman kenapa tidak melindungi Aunty? Paman jahat,” ucap Dyah kesal.


Abraham pasrah dan dengan senang menerima pukulan Dyah yang bertubi-tubi. Toh, ia sendiri kesal dengan keadaannya yang tidak bisa menolong istri kecilnya.


“Dyah, hentikan!” teriak Yeni dan seketika itu Dyah berhenti memukuli lengan Pamannya.


***

__ADS_1


Di ruang keluarga.


Semua orang tengah berkumpul dengan sangat serius, Temmy pun seketika itu memberitahukan berita yang sebenarnya tidak cocok diumumkan ketika keluarga adiknya tengah mengalami musibah.


Setelah Temmy memberitahukan bahwa dalam hitungan hari Dyah dan Fahmi akan menikah, seketika itu juga Dyah mengungkapkan bahwa ia ingin menunda pernikahan nya dengan Fahmi karena tidak ingin menari di atas penderitaan keluarga Pamannya.


Meskipun, Sang Paman dan yang lainnya tak mempermasalahkan tentang pernikahan nya itu.


Temmy dan Yeni semakin terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putri tunggal mereka. Keduanya pun meminta penjelasan kepada Dyah yang tiba-tiba menunda hari bahagia yang sebelumnya sudah dipersiapkan secara matang.


Dyah tak langsung menjawab, gadis bermata sipit itu terdiam dengan memberikan tatapan sedih kepada calon suaminya.


Fahmi yang paham dengan maksud Dyah, seketika itu juga membuat keputusan bahwa ia dan Dyah sepakat menunda pernikahan mereka sampai waktu yang belum ditentukan.


“Tidak, kalian tidak boleh seperti itu! Menikahlah,” ucap Abraham yang secara tegas menolak keinginan mereka untuk menunda-nunda yang namanya pernikahan, “Jangan karena keluarga Paman seperti ini, kalian langsung memutuskan untuk menunda pernikahan. Kalian tetap menikah karena hal itu sangat disukai oleh Allah beserta makhluknya. Kecuali, iblis dan sebangsanya,” ungkap Abraham.


“Tidak, Paman. Dyah tidak bisa melanjutkan pernikahan ini sebelum Aunty benar-benar sadar, Aunty sudah banyak melakukan banyak hal untuk Dyah dan Dyah tidak ingin menikah disaat Aunty seperti itu. Tolong, terimalah keputusan Dyah dan Fahmi. Toh, jodoh tidak akan kemana,” tegas Dyah.


Temmy dan Yeni seketika itu mengerti apa maksud dari perkataan Dyah. Tanpa pikir panjang lagi, keduanya langsung mendukung keputusan Dyah dan calon menantu mereka.


Arumi dan Herwan yang juga berada di ruangan itu, langsung menangis melihat Dyah serta keluarga lainnya begitu menyayangi Asyila.


Meskipun banyak yang ingin mencelakakan keluarga Abraham, tak sedikit pula yang sayang kepada keluarga dari Abraham Mahesa.


Arsyad dan Ashraf berlari kecil menghampiri Dyah, mereka menangis dan mengeluh karena Bunda mereka belum juga pulang.


Kedua bocah kecil itu, hanya tahu bahwa Bunda mereka sedang pergi ke suatu tempat karena ada urusan dan hal penting yang sedang dikerjakan.


Dyah mencoba menghibur keduanya dan meminta mereka untuk lebih bersabar lagi menunggu Bunda mereka untuk pulang ke rumah.


“Sini, peluk Kak Dyah!”


Arsyad dan Ashraf dengan cepat memeluk Dyah. Mereka berdua kompak menangis karena tak bisa bertemu dengan Bunda mereka dalam waktu yang belum bisa ditentukan.


“Sudah jangan menangis, kalian sudah makan belum?” tanya Dyah.


Kedua bocah kecil itu langsung menggelengkan kepala mereka, tanda bahwa mereka belum makan.


“Kenapa belum makan? Ayo Kak Dyah temani kalian makan, dengan syarat makanannya kalian harus habis. Setuju!”


“Setuju!”


Dyah menggandeng tangan Arsyad dan juga Ashraf sambil menuju ke arah dapur.


Ketika Arsyad dan Ashraf sudah benar-benar menjauh, para orang dewasa pun kembali membahas kejadian malam mengerikan tersebut.


Siang hari.


Dyah melambaikan tangan ke arah kedua orangtuanya serta calon suaminya. Siang itu, mereka bertiga akan kembali ke Bandung karena tak bisa berlama-lama di kota Jakarta.


Dyah sengaja tinggal dikediaman Pamannya, sampai Aunty kesayangannya sadar dari koma.


Hal tersebut Dyah lakukan, karena tak ingin membuat Arsyad dan Ashraf kehilangan semangat mereka.


“Kak Dyah, ayo main!” ajak Ashraf sambil memegangi ular tangga.


Dyah tersenyum lebar dan langsung setuju mendapat ajakan dari adiknya.

__ADS_1


Aunty tidak perlu khawatir, Selama Aunty disana Dyah lah yang akan menjaga adik-adik.


__ADS_2