Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Munculnya Wanita Yang Mirip Dengan Sang Bunda


__ADS_3

Bandung.


Pagi-pagi sekali, Arumi sudah menyiapkan sarapan untuk suami serta cucunya.


Hari itu adalah hari Senin, dimana adalah hari awal bagi Ashraf berangkat ke sekolah.


Awalnya Ashraf tak ingin masuk sekolah, dikarenakan ia ingin Sang Ayah yang mengantarkannya ke sekolah. Akan tetapi, Arumi terus membujuk Ashraf hingga akhirnya Ashraf setuju untuk berangkat ke sekolah tanpa di antar atau ditemani oleh Sang Ayah tercinta.


“Sarapan sudah Nenek siapkan, ayo sarapan!” ajak Arumi setelah menyisir rambut cucu kesayangannya.


“Suapin!” pinta Ashraf.


“Ok! Tapi, Ashraf makan yang banyak ya!” seru Arumi.


“Baik, Nenek,” jawab Ashraf.


Arumi tersenyum sambil menggandeng tangan kecil Ashraf. Kemudian, keduanya bersama-sama menuju ruang makan.


“Ashraf kemana saja? Kakek sudah menunggu Ashraf dari tadi,” tanya Herwan dengan memasang wajah ngambek.


Ashraf tertawa lepas melihat wajah kakeknya dan memperlihatkan rambutnya yang sudah rapi.


“Iya Kakek tahu,” ucap Ashraf ketika melihat rambut cucunya yang sudah rapi.


Mereka bertiga akhirnya sarapan bersama sebelum pergi ke sekolah.


Beberapa saat kemudian.


Pak Udin baru saja selesai memanaskan mesin mobil untuk mengantarkan buah hati majikannya ke sekolah.


“Wah sudah ganteng Bos kecil nya Pak Udin,” puji Pak Udin ketika melihat Ashraf yang baru saja keluar dari rumah.


Ashraf dengan malu-malu menyembunyikan wajahnya di perut Kakeknya.


“Loh kok malah malu-malu kucing seperti itu?” tanya Pak Udin menggoda Ashraf.


Ashraf hanya senyum malu-malu mendengar godaan Pak Udin kepadanya.


“Ayo Kek!” ajak Ashraf agar segera naik ke dalam mobil.


Tidak hanya Arumi dan Herwan yang ikut mengantarkan Ashraf ke sekolah. Salah satu bodyguard yang disewa oleh Abraham pun ikut serta untuk memastikan bocah kecil itu aman dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya.


“Ayo, Pak Udin. Kita berangkat sekarang!” pinta Herwan.


Pak Udin mengiyakan dan bergegas menuju sekolah Ashraf.


Diperjalanan menuju sekolah, Ashraf memutuskan untuk bernyanyi lagu anak-anak.


Arumi pun ikut bernyanyi dengan suara apa adanya.


Ketika mereka tengah berhenti karena lampu merah, Ashraf berteriak sekeras mungkin ketika melihat wanita yang mirip Bundanya sedang melintas tepat dihadapannya.


“Bunda! Bunda!” teriak Ashraf memanggil Bundanya dan mencoba turun dari mobil. Akan tetapi, langsung dicegah oleh Arumi.


“Ashraf, kamu mau ngapain?” tanya Arumi terkejut.

__ADS_1


“Nek, tadi ada Bunda disana. Ayo Nek kejar Bunda!” pinta Ashraf sambil menarik-narik tangan Arumi agar segera menemaninya turun untuk mengejar wanita yang ia pikir itu adalah Bundanya.


Ashraf menangis dan berteriak di dalam mobil. Akan tetapi, ketika lampu sudah hijau, mobil itu bergegas melaju menuju sekolah Ashraf.


“Huhuhu... Huhuhu..” Ashraf terus menangis dan terus memanggil Bundanya.


Sementara yang lainnya, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ashraf.


Kalaupun itu Asyila, sangat tidak mungkin dan jika memang benar kenapa Asyila tidak pulang untuk menemui keluarganya.


“Ashraf pasti salah lihat,” ucap Arumi sambil menghapus air mata Ashraf yang terus mengalir.


“Itu, Bunda. Tapi, Bunda tidak pakai kerudung,” terang Ashraf.


“Sudah jelas itu bukan Bunda Asyila, Ashraf. Bunda Asyila tidak mungkin tidak mengenakan kerudungnya,” balas Arumi yang sudah yakin bahwa yang dilihat oleh Ashraf bukanlah putri tunggalnya.


Ashraf yang menangis histeris itu, perlahan menghentikan air matanya dan memeluk tubuh Neneknya dengan erat.


“Sudah, tidak apa-apa. Ashraf tidak boleh menangis, sebentar lagi kita sampai,” tutur Arumi yang sedari tadi berusaha menahan air matanya melihat kesedihan serta kerinduan Ashraf yang sangat mendalam pada Bundanya tersayang.


“Nek, kapan Bunda pulang? Kenapa Bunda lama perginya?” tanya Ashraf yang entah sudah berapa kali ia bertanya dan terus bertanya kapan Bundanya bisa pulang menemuinya.


Arumi mencoba mengalihkan pertanyaan Ashraf dengan cara berpura-pura batuk.


“Uhuk... Uhuk...”


“Kakek, minta air minum buat Nenek!” pinta Ashraf yang begitu peka dengan keadaan Neneknya.


Herwan mengiyakan dan menyerahkan sebotol air untuk diminum oleh istrinya.


“Nenek sakit?” tanya Ashraf begitu perhatiannya dengan kondisi kesehatan Arumi.


“Nenek nanti jangan lupa minum obat ya,” tutur Ashraf.


Begitulah cara mereka mengalihkan perhatian dan pertanyaan Ashraf yang selalu saja bertanya mengenai Bundanya.


Akan tetapi, entah sampai kapan mereka terus berbohong mengenai keberadaan Asyila yang sudah tenggelam di laut lepas.


Akhirnya mereka tiba di depan gerbang sekolah Abraham. Seperti biasa, Pak Udin, Herwan dan Arumi akan pulang ke rumah. Sementara bodyguard yang disewa Abraham akan menunggu dan menjaga Ashraf sampai mereka pulang.


“Belajar ya baik yang sayang,” ucap Arumi.


Ashraf mengiyakan dengan penuh semangat dan beberapa temannya sudah datang menghampirinya untuk masuk ke dalam kelas.


“Kakek, Nenek. Ashraf sekolah dulu ya, Assalamu'alaikum.”


“Wa’alaikumsalam, jangan nakal ya sayang. Belajar ya pintar,” balas Arumi.


Ashraf melambaikan tangannya dan masuk ke dalam kelas bersama-sama dengan temannya.


“Tolong jaga cucu kami! Kalau ada yang mencurigakan langsung tangkap saja,” ucap Herwan.


“Siap,” balas si bodyguard.


Pada awalnya, para guru serta anak-anak lainnya, merasa aneh dengan kedatangan si bodyguard.

__ADS_1


Akan tetapi, semuanya berjalan lancar ketika Abraham datang menjelaskan kepada para guru dengan hadirnya si bodyguard sebagai penjaga untuk buah hatinya, Ashraf.


Mereka pun memaklumi hal tersebut dan aktivitas sekolah berjalan seperti biasanya.


Saat perjalanan pulang menuju kediaman Abraham Mahesa, kedua orang tua Asyila terlihat begitu sedih.


Manakala ketika mereka mengingat Ashraf yang tak sengaja melihat seorang wanita yang mirip dengan putri mereka.


“Kasihan Ashraf, karena sudah lama tidak melihat putri kita, Ashraf berhalusinasi mengira wanita yang dilihatnya adalah putri kita. Ya Allah, kalau Asyila masih hidup dia pasti sudah datang menemui kita,” ucap Arumi sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Pak Udin yang sudah mengetahui mengenai kematian Asyila, masih tidak percaya.


Ia tahu bahwa Asyila adalah wanita yang sangat baik, baik akhlaknya, baik pengucapannya dan semua yang ada di diri Asyila tidak ada yang namanya minus.


Arumi terus saja menangis sambil terus berbicara mengenai putri mereka. Sementara Herwan, memilih menjadi pendengar yang baik untuk istrinya.


Hanya itu yang bisa Herwan lakukan untuk membuat istrinya tetap stabil.


“Mas, bagaimana kalau kita menyewa orang-orang untuk mencari putri kita dilautan?” tanya Arumi.


Herwan dengan cepat menolak keinginan istrinya. Bukan apa-apa, Herwan tidak ingin mereka terus mengorek luka yang sangat sakit itu.


“Tidak usah, akan sangat menyakitkan kalau hasilnya sama seperti kemarin. Cukup kita kirim Do'a setiap hari agar arwah Asyila tenang disana,” balas Herwan.


“Tapi....”


“Tolong jangan bahas masalah ini lagi, apalagi membahasnya di depan Nak Abraham.


Sampai detik ini, Nak Abraham masih sangat terpukul dan melampiaskannya dengan cara menangkap orang-orang jahat. Asal Ibu tahu, pekerjaan Nak Abraham itu sangat berbahaya dan sangat membahayakan nyawanya. Mas tidak mau pikiran Nak Abraham bertambah banyak dan melupakan kedua cucu kita yang masih sangat kecil,” tegas Herwan.


Arumi tertunduk malu, tidak seharusnya ia berkata seperti itu. Kehilangan putrinya, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


Beberapa jam kemudian.


Ashraf tengah bermain bersama temannya di lapangan bermain, suasana bocah kecil itu sangat senang ketika teman-temannya mengajaknya bermain serta bersenda gurau.


“Ashraf!”


Entah suara dari mana, Ashraf menangkap suara seorang wanita yang baru saja memanggil dirinya. Bocah kecil itu bergegas turun dari ayunannya dan menoleh ke arah sekitar.


“Ashraf!” Panggilan itu sekali lagi terdengar dan sangat jelas, sampai-sampai salah satu teman Ashraf mengatakan bahwa ia mendengar ada seorang wanita yang memanggil dirinya.


Ashraf berlari kecil dan tiba-tiba ia terkejut melihat sosok wanita berdiri dihadapannya dengan tersenyum lebar ke arahnya.


Ashraf terdiam sejenak dengan tatapan terheran-heran.


“Bunda?” tanya Ashraf memastikan.


Wanita yang berdiri dihadapannya saat ini bisa dikatakan hampir mirip dengan Bundanya. Akan tetapi, ia tidak mengenakan hijab dan tubuhnya sedikit berisi.


“Sssuuttt, jangan keras-keras. Nanti bapak-bapak itu mendengar kita,” ucap si wanita sambil menunjuk ke arah bodyguard yang sedang berdiri sambil membelakangi mereka.


Ashraf mengangguk kecil dan tiba-tiba bel kembali berbunyi, membuat Ashraf terpaksa masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajarannya.


“Masuklah, aku akan menunggumu disini,” ucapnya.

__ADS_1


Ashraf tersenyum lebar dan bergegas masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajarannya.


Penasaran? Mau lanjut? Komen 😘👇


__ADS_2