Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Berharap Abraham Segera Sadar


__ADS_3

Arsyad berlari dengan sangat bahagia ketika mengetahui bahwa Bunda serta Adiknya datang, sampai-sampai Arsyad lupa mengenakan pakaiannya.


“Arsyad, pakai baju dulu,” tutur Arumi mengingatkan Arsyad.


Arsyad tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Sang nenek, ia sangat ingin segera bertemu dengan Bunda dan juga adiknya.


“Bunda! Ashraf!” teriak Arsyad kegirangan.


Asyik yang baru turun dari mobil segera merentangkan tangannya dan Arsyad pun seketika itu juga memeluk wanita yang sangat berharga bagi Arsyad Mahesa.


“Bunda... hiks... hiks...” Arsyad menangis bahagia melihat Bundanya ada dihadapannya dan sekarang sudah bisa ia peluk.


“Maafkan Bunda ya sayang, maaf Bunda baru bisa datang sekarang,” ucap Asyila sedih.


“Tidak apa-apa, Bunda,” jawab Arsyad sambil melepaskan pelukannya dan beralih memeluk tubuh adiknya, Ashraf.


“Kak Arsyad..” Ashraf pun menangis di pelukan Sang kakak.


“Adik Arsyad sudah sembuh?” tanya Arsyad.


“Sudah, kak,” jawab Ashraf.


Arumi dan Herwan datang menghampiri putri kesayangan mereka dan juga cucu kedua mereka.


“Assalamu'alaikum, Ayah dan Ibu apa kabar?” tanya Asyila sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


“Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah kabar kami baik. Kamu sekarang pasti sangat sedih sayang, kuatkan hatimu ya sayang,” ucap Arumi sambil menyentuh pundak Asyila.


Asyila mengangguk kecil dengan tersenyum tipis.


“Asyila kuat, Ibu. Mas Abraham pasti segera sembuh dan bisa berkumpul bersama kami lagi,” balas Asyila.


Arsyad dan Ashraf terus saja berpelukan sembari menangis. Kakak beradik itu benar-benar membuat siapapun melihat mereka pasti terharu.


“Pak Eko, tolong bawa masuk!”


Eko mengiyakan dan membawa masuk koper serta barang-barang belanjaan lainnya. Pak Udin pun datang dan juga membantu Eko membawa barang-barang.


“Sayang, sudah jangan menangis lagi. Arsyad tolong bawa Adik Ashraf ke dalam ya sayang!”


“Baik, bunda,” balas Arsyad dan dengan hati-hati membawa adiknya masuk ke dalam rumah.


Kini diluar rumah tersisa Asyila, Arumi dan juga Herwan.


“Bagaimana keadaan Mas Abraham, Ayah?” tanya Asyila penasaran.


“Sampai sekarang suamimu belum juga siuman, Nak. Akan tetapi, kondisi suamimu perlahan mulai membaik dan kita hanya tinggal menunggu keajaiban dan Allah untuk membangunkan suamimu,” terang Herwan.


Asyik kembali meneteskan air matanya dan sangat-sangat berharap agar Sang suami tercinta segera siuman. Meskipun, untuk beberapa bulan ke depan akan terus menggunakan kursi roda.

__ADS_1


“Sudah, Nona Asyila,” ucap Eko.


“Terima kasih, Pak Eko. Sekarang Pak Eko dan Pak Udin bersantailah di pos, Asyila akan membawakan kopi dan cemilan,” tutur Asyila dan mengajak kedua orangtuanya masuk ke dalam rumah.


Asyila meminta Arumi dan Herwan untuk duduk di ruang keluarga sementara dirinya akan ke dapur untuk membuatkan kopi dan membawa cemilan ke depan.


Asyila adalah wanita muda yang kuat dan bisa dikatakan sangat kuat. Meskipun ia seringkali diuji oleh Allah, tapi tak menyurutkan semangat serta keimanannya. Justru, semangat dan keimanannya makin besar kepada Sang pencipta. Asyila percaya dibalik cobaan kini akan ada hal yang sangat Indah yang telah dipersiapkan untuk keluarga kecilnya.


“Pak Eko dan Pak Udin, ini kopi dan cemilannya! Kalau kurang langsung bilang saja kepada Asyila,” tutur Asyila sambil meletakkan kopi dan cemilan di atas meja.


Eko dan Pak Udin kompak mengucapkan terima kasih kepada Asyila yang sangat baik kepada mereka.


“Kalau begitu, Asyila permisi,” tutur Asyila dan bergegas kembali ke dalam rumah dengan membawa nampan kosong.


Kelopak mata serta kantung mata Asyila terlihat sangat bengkak alias sembab karena seringnya menangis.


“Ibu, Ayah! Malam ini Asyila akan ke rumah sakit, tolong jaga Arsyad dan Ashraf!” pinta Asyila.


“Kamu mau pergi sendiri sayang?” tanya Arumi memastikan.


Asyila mengiyakan dan kembali meminta kedua orangtuanya untuk menjadi buah hatinya bersama Abraham Mahesa.


“Asyila juga mau menginap di rumah sakit dan menemani Mas Abraham,” terang Asyila.


Arumi dan Herwan saling tukar pandang, dengan berat hati mereka mengiyakan keinginan Putri tunggal mereka.


Sore hari.


Ashraf yang awalnya tidak tahu alasan mengapa Ayahnya tidak bisa bertemu dengannya akhirnya mengetahui bahwa Sang Ayah tengah di rawat karena sakit.


“Sayangnya Ayah dan Bunda diam dulu di rumah ya! Bunda mau ke rumah sakit menemani Ayah di sana, tugas kalian berdua sekarang adalah banyak-banyak berdo'a meminta pertolongan dari Allah. Kalian mengerti!”


“Mengerti Bunda!” seru Arsyad dan Ashraf.


“Anak pintar, kalau begitu Bunda pergi ke rumah sakit dulu. Ingat! tidur jangan malam-malam.”


“Baik, bunda.”


Arsyad dan Ashraf bergantian mencium punggung tangan Asyila serta berharap agar Ayah mereka segera sembuh.


“Ayah, Ibu! Asyila berangkat dulu, Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumsalam, hati-hati Nak,“ balas Arumi dan Herwan secara bersamaan.


Asyila masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya dari jendela. Kemudian, mobil pun perlahan keluar dari pekarangan rumah dan bergegas ke rumah sakit tempat dimana Abraham dan Yogi dirawat.


Diperjalanan, Asyila terus menggerakkan tasbih ditangannya. Ia berharap bahwa Sang suami tercinta bisa segera sadar, Asyila sangat merindukan bagaimana suaminya menyebut namanya “Syila” dengan begitu lembut serta penuh Cinta.


*****

__ADS_1


Asyila berjalan seorang diri ke arah ruang rawat suaminya dengan begitu semangat. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan sahabatnya, Ema.


“Ema!” panggil Asyila.


Ema yang baru saja dari bawah membeli makanan segera menoleh dan betapa senangnya Ema ketika melihat sahabatnya sudah berada dihadapannya.


“Ya Allah, Asyila! Akhirnya kamu datang juga, kenapa kamu terlihat sangat kurus begini?” tanya Ema.


Asyila memeluk sekilas tubuh sahabatnya dan mengatakan alasannya kurus karena sulit makan.


“Bagaimana keadaan Pak Yogi?” tanya Asyila, “Mobil Pak Yogi karena kecelakaan itu menjadi ringsek, aku berjanji setelah Mas Abraham sembuh mobil suamimu akan digantikan dengan yang baru,” terang Asyila.


“Kamu ini bicara apa? Aku sama sekali tidak memikirkan masalah mobil Abang Yogi. Aku hanya berharap agar Pak Abraham segera sembuh dan bisa membuat sahabatku ini kembali ceria dan juga berisi,” goda Ema dengan mata berkaca-kaca.


Kedua terus saja berbincang-bincang sampai akhirnya Ema mengajak Asyila untuk duduk.


“Dimana Kahfi?” tanya Asyila yang baru menyadari bahwa Kahfi tidak bersama dengan Ema.


“Kahfi sedang berada di rumah, bersama dengan Mami dan juga Ibu,” jawab Ema.


Asyila mengiyakan dan entah kenapa dadanya tiba-tiba sesak. Ia pun teringat dengan suaminya dan meminta Ema untuk mengantarkannya ke ruang Sang suami.


Sesampainya di depan ruang rawat sang suami, Asyila dikejutkan oleh dokter serta beberapa perawat yang berlari keluar masuk ruang rawat suaminya.


“Sus, apakah ini benar ruangan suami saya, Mas Abraham?” tanya Asyila menghentikan salah satu perawat yang akan masuk ke ruang rawat suaminya.


“Iya benar, tiba-tiba kondisi pasien menurun dan kami harus melakukan tindakan lebih lanjut. Maaf saya permisi,” ucap si perawat dan kembali masuk ke dalam ruang rawat Abraham.


Asyila lemas dan untungnya ada Ema yang selalu berada di dekat Asyila.


“Ema, apakah Mas Abraham akan baik-baik saja?” tanya Asyila pada sahabatnya.


“Tentu saja, Pak Abraham adalah pria yang kuat,” balas Ema berusaha menghibur Asyila meskipun, Ema sendiri tak yakin dengan kondisi Abraham yang bisa dikatakan cukup parah.


Asyila tidak bisa menunggu lagi, ia pun menerobos masuk ke dalam untuk melihat suaminya.


“Mas Abraham!” Asyila berlari mendekat dan menyentuh tangan suaminya dengan berlinang air mata.


Dokter dan juga perawat lainnya berusaha mengeluarkan Asyik dari ruangan tersebut. Akan tetapi, Asyila bersikeras untuk terus menemani suaminya.


“Saya istrinya, tolong jangan pisahkan kami!” pinta Asyila yang enggan keluar dari ruangan tersebut.


“Tolong kerjasamanya, kami akan melakukan sebaik mungkin untuk menyelamatkan Tuan Abraham.”


Ema masuk dan berusaha menyadarkan sahabatnya bahwa apa yang Asyila lakukan akan mengganggu konsentrasi dari dokter dan juga perawat.


Akhirnya Asyila mengiyakan dan berat hati keluar dari ruang rawat suaminya.


“Mas, cepatlah sadar. Kami sangat merindukan Mas,” ucap Asyila menangis di pelukan sahabatnya.

__ADS_1


Ema pun ikut menangis, ia sungguh kasihan dengan sahabatnya itu dan berharap bahwa Abraham segera sadar.


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2