
Arumi terkejut mendapati tubuh Ashraf yang kembali demam. Akan tetapi, ia takut memberitahukan menantunya karena akan membuat menantunya semakin sedih. Ia pun memutuskan untuk membawa Ashraf ke rumah sakit bersama dengan suaminya, Herwan.
“Mas, kenapa akhir-akhir ini Ashraf sering jatuh sakit? Ibu takut kalau sesuatu buruk terjadi kepada cucu kita,” ucap Arumi yang sangat takut dengan kondisi kesehatan cucu kesayangannya itu.
“Kamu jangan berpikir buruk seperti itu. Apapun yang terjadi, Ashraf pasti akan sembuh,” jawab Herwan.
Beberapa saat kemudian.
Wanita berseragam serba putih datang menghampiri Arumi dan Herwan. Kemudian, dokter itu mengatakan bahwa Ashraf harus segera dipertemukan dengan wanita yang selalu dipanggilnya Bunda.
Mendengar hal tersebut, Arumi langsung menangis karena Bunda dari Ashraf telah meninggal dunia.
“Nyonya tidak perlu menangis, nyonya hanya tinggal mempertemukan Adik Ashraf dan Bundanya saja. Insya Allah, Ashraf langsung membaik dan mungkin saja langsung sembuh. Penyakit anak kecil seperti itu bisa disebabkan karena dia sangat merindukan seseorang,” terang sang dokter.
“Bagaimana bisa, Dok? Sementara putri saya sudah meninggalkan kami untuk selamanya dan cucu kami sampai sekarang tidak mengetahui bahwa Bundanya telah meninggal dunia,” jawab Arumi dengan berderai air mata.
Mendengar keterangan dari Arumi, dokter itu terkejut dan segera meminta maaf karena ia sama sekali tidak mengetahui masalah keluarga mereka yang ternyata sedang berduka.
“Maafkan atas ucapan saya tadi, Nyonya dan Tuan. Saya benar-benar tidak tahu mengenai masalah ini, dengan hati yang paling dalam sekali lagi saya meminta maaf,” ucap dokter wanita spesialis anak.
Herwan dapat memaklumi maksud dari wanita dihadapannya dan meminta wanita yang berprofesi sebagai dokter untuk meninggalkannya berduaan dengan sang istri yang masih saja menangis.
Arumi menangis tersedu-sedu karena ia juga merindukan sosok putri kesayangannya, sama seperti Ashraf yang merindukan sosok Bundanya.
“Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita lakukan ketika Ashraf sakit seperti ini?” tanya Arumi sambil memukul dadanya suaminya berulang kali.
Arumi tak peduli dengan tatapan orang sekitar, yang hanya dipikirkannya saat itu bagaimana Ashraf bisa segera sembuh dan tak sakit-sakitan lagi.
“Sudah, jangan menangis lagi. Ayo temui Ashraf!” ajak Herwan.
Arumi seketika itu menepis tangan suaminya yang mengajaknya masuk ke dalam ruangannya cucu mereka.
“Apakah Mas tidak bersedih dengan kematian Asyila, putri kita? Bagaimana seorang Ibu bisa diam saja dan tak menangis setelah mengetahui kematian putrinya. Apa Mas sekarang memilih untuk mengabaikan putri kita?”
Arumi sangat sayang dengan putri tunggalnya. Seumur hidupnya, Arumi tak pernah membayangkan bahwa putri kesayangannya lebih dulu menyusul putra pertamanya yang sudah belasan tahun meninggalkan dirinya.
Herwan memilih untuk tetap diam, ia tidak ingin memperkeruh suasana hati istrinya.
Cukup lama Arumi menangis, sampai akhirnya Arumi menghentikan tangisannya dan masuk ke dalam ruangan cucunya dengan mata sembab.
“Nek, Ashraf mau pulang. Ashraf mau sama Bunda, Bunda kemana Nek?” tanya Ashraf yang tak henti-hentinya menanyakan keberadaan Bundanya.
“Ashraf mau bertemu Bunda?” tanya Arumi.
Bocah itu dengan cepat mengangguk.
“Kalau begitu, Ashraf harus menginap di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan. Kemudian, setelah sembuh Ashraf sudah bisa bertemu dengan Bunda Asyila. Ashraf setuju?” tanya Arumi.
Senyum di bibir Ashraf merekah dengan sempurna, meskipun saat itu bibirnya terlihat sangat pucat.
“Benar ya Nek?” tanya Ashraf memastikan dengan mata penuh harapan besar.
“Iya, sayang. Sekarang Ashraf tidur dan Nenek akan membangunkan Ashraf bila waktu makan siang,” ucap Arumi.
Lagi-lagi Ashraf termakan oleh kebohongan Neneknya dan entah sampai kapan Sang Nenek terus membohonginya.
__ADS_1
Arumi membelai lembut rambut cucunya dengan air mata yang terus mengalir deras.
Melihat istrinya yang terus-menerus menangis, membuat hati Herwan sesak. Belum lagi penyakit istrinya yang tiba-tiba kumat karena terlalu banyak pikiran.
“Mas, malam ini kita tidur disini ya. Ibu ingin kita tidur disini menemani Ashraf,” tutur Arumi.
“Tentu saja kita tidur disini,” balas Herwan.
“Mas, masalah Ashraf yang masuk rumah sakit, tolong jangan beritahukan kepada Nak Abraham. Ibu tidak ingin Nak Abraham cemas dan semakin sedih,” terang Arumi.
“Akan tetapi, cucu kita juga butuh Ayahnya,” jawab Herwan.
“Mas, tolong mengertilah!” pinta Arumi.
“Ini bukan masalah mengerti atau tidak, Adik. Akan tetapi, Ashraf saat ini juga butuh kehadiran Nak Abraham. Nanti malam Mas akan menghubungi Nak Abraham dan meminta Nak Abraham untuk datang ke rumah sakit menemui Ashraf,” tegas Herwan.
Arumi perlahan mulai memahami maksud dari suaminya dan pada akhirnya ia menyetujui perkataan suaminya yang akan memberitahu keadaan Ashraf kepada menantunya itu.
Beberapa jam kemudian.
Seperti yang telah dikatakan oleh Arumi, Arumi pun membangunkan Ashraf untuk menikmati makan siangnya.
Awalnya Ashraf menolak untuk makan karena ia sangat tidak ***** makan dan mulut terasa sangat pahit. Akan tetapi, Arumi terus memohon kepada Ashraf agar Ashraf mau makan meskipun hanya sedikit.
“Ayo ya sayang, tolong jangan menolak keinginan Nenek. Nenek tidak ingin Ashraf semakin sakit,” ucap Arumi dengan mata yang sembab.
Ashraf membuka mulutnya perlahan dan dengan hati-hati Arumi memasukkan makanan ke dalam mulut Ashraf.
“Pelan-pelan saja mengunyahnya,” ucap Arumi.
“Assalamu’alaikum,” ucap Herwan sambil melangkah masuk dengan menenteng kantong plastik berisi roti tawar serta beberapa cemilan sehat keinginan cucunya kemarin malam ketika cucunya belum sakit.
“Wa’alaikumsalam,” balas Ashraf dan Arumi.
“Lihat Kakek bawa apa?” tanya Herwan sambil mengangkat kantong plastik tinggi-tinggi.
“Roti!” seru Ashraf yang samar-samar melihat roti tawar keinginannya.
Arumi terkejut melihat respon Ashraf yang begitu semangat.
“Masya Allah, cepat sembuh ya sayang!”
“Siap, Nek. Ashraf tidak sabar mau ketemu Bunda,” jawab bocah kecil itu.
Arumi tertunduk sedih, ia merasa sangat bersalah karena telah membohongi cucunya.
Apa yang dikatakan oleh dokter tersebut memanglah benar. Alasan Ashraf sering sakit-sakitan itu dikarenakan Ashraf merindukan sosok Bundanya.
Tanpa sadar, makan siang Ashraf habis tanpa tersisa. Justru, kini Ashraf tidak terlihat seperti yang baru saja terkena demam.
“Mas, apakah Mas masih ingat menghubungi Nak Abraham?” tanya Arumi.
“Kita lihat saja kondisi Ashraf sampai nanti malam. Kalau Ashraf masih sakit, itu artinya Mas harus menghubungi Nak Abraham,” jawab Herwan apa adanya.
“Kakek, mau roti tawar!” pinta Ashraf menunjuk ke arah kantong plastik yang sebelumnya di bawa oleh Herwan.
__ADS_1
Herwan mengangkat kedua alisnya dan memberikan dua potong roti tawar kepada cucunya.
“Kakek kasih selai ya,” tutur Herwan.
Ashraf dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak usah, kek,” jawabnya dan perlahan menikmati roti tawar ditangannya itu.
Malam hari.
Kondisi Ashraf kembali menurun, demamnya yang awalnya normal kini sudah panas lagi dan membuat sepasang suami-istri itu panik.
“Mas, sebaiknya kita beritahu Nak Abraham. Ibu tidak mau Ashraf kenapa-kenapa,” ucap Arumi yang kini nampak sangat khawatir dengan kondisi cucunya.
Belum lagi, cucunya itu terus saja memanggil Bundanya dalam keadaan sakit.
“Hiks... Hiks... Bunda.. Bunda,” panggil Ashraf dengan posisi mata terpejam. Akan tetapi, air matanya terus saja mengalir.
“Ashraf, jangan seperti ini sayang. Nenek sangat takut,” ucap Arumi sambil memegang tangan Cucunya yang terasa sangat panas.
Herwan mulai panik dan memutuskan untuk segera menghubungi menantunya yang saat ini tengah berada di Bandung.
“Mas mau kemana?” tanya Arumi ketika melihat suaminya ingin melangkah keluar dari pintu.
“Mas mau menghubungi Nak Abraham, kalau terus begini kesehatan Ashraf akan semakin menurun,” terang Herwan.
Herwan melangkah keluar dari pintu dan berusaha menghubungi menantunya.
Akan tetapi, nomor telepon Abraham ternyata sedang berada diluar jangkauan alias tidak aktif.
“Tidak biasanya nomor telepon Nak Abraham tidak aktif seperti ini. Ya Allah, tolong sembuhkan lah cucu kami secepat mungkin. Hamba sangat kasihan melihat cucu kami, Ashraf menderita terus-menerus. Belum lagi rasa rindunya kepada putri kami, Asyila,” ucap Herwan bermonolog.
Karena nomor telepon Abraham tak bisa dihubungi, Herwan pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar dan memberitahukan kepada istrinya mengenai nomor telepon menantu mereka yang sedang berada di luar jangkauan.
“Kalau begitu, Mas tolong hubungi Dyah atau Fahmi. Kalau masih tidak bisa, hubungi Nak Ema atau Nak Yogi,” jelas Arumi.
“Astaghfirullahaladzim, kenapa Mas tidak kepikiran dari tadi,” balas Herwan sambil menepuk dahinya berulang kali.
Herwan kembali keluar dari ruangan itu dan cepat-cepat menghubungi Dyah.
Lagi-lagi nomor yang Herwan hubungi tidak aktif.
“Kemana Dyah? Kenapa nomor teleponnya tidak aktif sama seperti Nak Abraham.”
Herwan mengernyitkan keningnya dan melihat jam di ponselnya yang ternyata sudah jam 23.15 WIB.
“Astagfirullahaladzim, pantas saja mereka tidak bisa dihubungi. Rupanya sudah jam segini, waktu dimana mereka semua beristirahat,” ucap Herwan bermonolog.
Herwan merasa bersalah jika harus menghubungi mereka di jam malam. Ia pun kembali masuk ke dalam dan memberitahukan bahwa sekitar jam 3 pagi, ia akan kembali menghubungi keluarga di Bandung.
Untungnya saja, Ashraf sudah tidak menangis lagi dan tengah tertidur akibat kelelahan menangis.
Berulang kali, Arumi menciumi tangan cucunya dan berharap besok pagi keadaan cucunya kembali pulih seperti sediakala.
“Adik tidurlah di ranjang ini, biar Mas yang tidur di bawah!” pinta Herwan.
Arumi mengiyakan dan naik ke ranjang untuk segera tidur. Masih banyak hal yang harus dilakukannya besok pagi dan setelah melaksanakan sholat subuh, Arumi ingin pulang ke rumah memasak makanan kesukaan cucunya agar sang cucu bisa segera keluar dari rumah sakit.
__ADS_1