Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Pulang Tanpa Memberitahu Asyila


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Abraham sudah mulai jenuh dengan kondisinya. Ditambah lagi, ia harus terus berbaring di tempat tidurnya yang sama sekali tak nyaman untuk tubuhnya.


Meskipun begitu, kondisi Abraham tidak separah kondisi Edi. Dikarenakan, Edi sampai sekarang belum bisa bangun dari tidurnya. Sementara Abraham, sudah bisa turun dari tempat tidurnya. Bahkan, berjalan ke kamar mandi tidak masalah bagi Abraham.


Seorang Dokter pria masuk ke dalam ruangan tersebut, untuk memeriksa kondisi Abraham. Sementara Edi, setengah jam lalu sudah ada Dokter yang datang memeriksa kondisinya.


“Dok, saya ingin pulang hari ini juga!” pinta Abraham yang tak dapat di ganggu gugat lagi.


“Tuan Abraham, kondisi Tuan saat ini masih cukup parah. Luka di bagian dada dan juga punggung masih basah, ada kemungkinan mengeluarkan darah. Apa Tuan mau pulang dengan kondisi seperti ini?” tanya Dokter itu berusaha untuk menghalangi Abraham pulang, dikarenakan kondisi luka Abraham belum sepenuhnya kering.


“Apapun itu, saya harus pulang hari ini juga. Bagaimanapun, saya tidak tahan lagi jika harus di rawat di tempat ini sampai beberapa hari ke depan. Jadi, tolong urus kepulangan saya secepat mungkin!” pinta Abraham yang telah membulatkan tekad untuk pulang ke Perumahan Absyil, berkumpul dengan keluarganya.


“Baiklah, kalau itu keinginan Tuan Abraham. Saya akan secepatnya mengurus kepulangan Tuan Abraham,” jawabnya yang mengenal sosok Abraham Mahesa.


Abraham akhirnya bisa bernapas lega, ia hanya tinggal menunggu dan akhirnya ia pulang ke rumah yang telah sangat ia rindukan.


Disaat yang bersamaan, Asyila ingin sekali menemui suaminya. Akan tetapi, saat itu Akbar sedang demam dan tak memungkinkan bagi Asyila meninggalkan putra kecilnya yang tengah sakit.


“Bunda, sini peluk Akbar,” pinta Akbar yang sulit sekali untuk memejamkan matanya.


Mungkin saja, dengan dipeluk oleh Bundanya, ia bisa segera tidur dan demamnya bisa sedikit berkurang.


“Iya sayang, sebentar ya,” balas Asyila yang saat itu tengah memberikan vitamin untuk wajahnya agar terlihat sehat.


Setelah selesai mengoleskan seluruh vitamin ke wajah dan lehernya, Asyila bergegas naik ke tempat tidur untuk memeluk Akbar agar bisa tidur dengan nyenyak.


“Jagoan Bunda ternyata sedang demam, cepat sembuh ya sayang. Kalau Ayah tahu, pasti Ayah sangat sedih,” tutur Asyila yang telah memeluk tubuh kecil Akbar.


“Bunda, jangan beritahu Ayah ya! Kalau Ayah tahu Akbar sakit, Ayah pasti mengejek Akbar,” pinta Akbar pada Bundanya.


“Akbar sayang, kenapa berpikir seperti itu? Ayah mana ada mengejek Akbar, yang ada malah Ayah sedih bila tahu jagoan Ayah Abraham sakit. Sekarang, Akbar tidur ya agar cepat sembuh!”


“Baik, Bunda,” balas Akbar dan sebelum tidur, ia membacanya Do'a terlebih dahulu.


Beberapa jam kemudian.


Asyila yang tengah sibuk menyirami tanaman hias, terkejut melihat sebuah ambulans yang berhenti tepat di depan rumah. Asyila saat itu juga berjalan menghampiri Ambulans tersebut dan ternyata adalah suaminya.


“Mas Abraham! Mas sedang apa disini? Kenapa Mas bisa pulang?” tanya Asyila yang begitu terkejut sekaligus marah karena kondisi suaminya masih belum sembuh.


Mobil ambulans tersebut, langsung pergi meninggalkan Abraham.


“Ssuuttss, Syila tenanglah. Jangan panik seperti ini, Mas tidak ingin ada yang tahu mengenai luka di tubuh Mas. Tolong, bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa!” pinta Abraham yang tak ingin jika keluarga yang lain mengetahui luka di seluruh tubuhnya.


Saat itu juga Asyila menangis dan berlari masuk meninggalkan suaminya yang masih berada di depan gerbang rumah mereka.


Asyila merasa apa yang dia lakukan menjadi sia-sia ketika suaminya pulang ke rumah. Asyila hanya ingin, suaminya di rawat di rumah sakit sampai luka di tubuh suaminya benar-benar kering. Akan tetapi, Abraham malah pulang tanpa memberitahu hal tersebut kepada Asyila.


Abraham berusaha berjalan menuju ke dalam dan tak lupa ia mengucapkan salam terlebih dahulu. Herwan yang mendengar salam tersebut, bergegas menghampiri Abraham yang sudah lebih dari seminggu tidak pulang ke rumah.


“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah. Akhirnya Nak Abraham pulang juga,” ucap Herwan dan memeluk tubuh Abraham cukup erat.


Saat itu juga, Abraham merasakan sakit yang luar biasa karena gesekan pakaiannya melukai luka yang seharusnya tidak boleh tergesek oleh apapun itu secara kuat.


Abraham berusaha menahan rasa sakit itu dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


“Ayah, Abraham ingin langsung istirahat. Beberapa hari ini, pekerjaan Abraham benar-benar sangat banyak, sampai-sampai Abraham tidak bisa tidur dengan nyenyak,” terang Abraham yang terpaksa berbohong.


Herwan mengiyakan dan dengan perlahan, Abraham melangkahkan kakinya menuju kamar.


Asyila yang menangis, saat itu juga membantu suaminya melepaskan pakaian.


“Lihatlah, luka Mas Abraham mengeluarkan darah. Kenapa Mas harus nekad seperti ini? Mas senang melihat Asyila menangis?” tanya Asyila sembari mengoleskan salep dari dokter untuk luka suaminya.


Abraham hanya diam, bagaimanapun diam adalah jalan terbaik untuk membuat istri kecilnya tak banyak mengomel.


Asyila terus mengomel sembari mengoleskan salep tersebut ke seluruh dada dan punggung suaminya secara perlahan. Setelah itu, Asyila mengambil selimut yang menurutnya paling halus untuk membuat Abraham bisa berbaring dengan baik.


“Sekarang, Mas harus berbaring di selimut ini. Sebelum salep itu meresap, Mas harus berbaring dengan posisi miring,” tegas Asyila dan saat itu juga, ia keluar dari kamar meninggalkan suaminya di dalam kamar seorang diri.


Di dalam kamar, Abraham telah berbaring dalam posisi miring. Ia tahu, bahwa keputusannya itu adalah kesalahan besar. Akan tetapi, lebih baik Abraham di rumah daripada harus berada di rumah sakit tanpa ada istri kecilnya.


Asyila yang baru saja keluar dari kamar, memutuskan untuk memasak makanan yang tentu saja makanan tersebut untuk suami tercintanya.


Asyila tahu, bahwa selama di rumah sakit, makanan yang dimakan oleh suaminya, tidaklah enak. Maka dari itu, Asyila akan membuatkan makanan untuk suaminya, yaitu sayur bening dengan tambahan jagung.


“Asyila, Ibu dengar dari Ayahmu, bahwa Nak Abraham telah kembali. Apakah Nak Abraham sakit?” tanya Arumi penasaran.


“Iya Ibu, Mas Abraham sakit demam,” jawab Asyila berbohong, karena tak mungkin Asyila mengatakan yang sejujurnya. Ditambah, suaminya pulang dari rumah sakit dalam keadaan tubuh yang belum sembuh.


“Ya Allah, pasti karena kelelahan bekerja. Kamu urus suamimu dengan baik ya Asyila, semoga Nak Abrahams bisa segera sembuh. Sepertinya, Nak Abraham harus banyak beristirahat, itu pasti karena kelelahan,” balas Arumi.


Asyila mengiyakan dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara Arumi, kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Beberapa saat kemudian.


Asyila masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan dengan sangat hati-hati agar mangkuk berisi sayur bening buatannya tidak tumpah.


Setelah itu, Asyila berjalan mendekat ke arah suaminya dan membantu suaminya untuk beranjak dari tempat tidur.


“Mas tidak apa-apa, Asyila tidak perlu khawatir. Lihat, luka Mas perlahan mulai kering karena salep yang Asyila oleskan kepada Mas,” ujar Abraham yang tidak terlalu sakit, daripada yang sebelumnya.


“Mas tidak perlu membohongi Asyila, makanlah ini dan habiskan. Setelah itu, Mas harus minum obat dan beristirahat. Untuk beberapa hari ke depan, Mas sholat saja di rumah,” terang Asyila dengan wajah juteknya.


Abraham mengiyakan dan ia mulai menikmati sayur bening buatan istri kecilnya tanpa disuapi oleh Sang istri tercinta.


Asyila sengaja tidak menyuapi suaminya, bagaimana Asyila ingin suaminya mengerti bahwa dirinya tengah ngambek.


Akhirnya Abraham menghabiskan semangkuk sayur bening tanpa nasi yang dibuat khusus untuk oleh Sang istri tercinta.


“Sekarang, Mas harus meminum obat ini!” Asyila menyerahkan obat kepada suaminya agar segera diminum oleh Sang suami tercinta.


Setelah itu, Abraham menyalakan televisi yang berada di dalam kamar. Bisa dikatakan, televisi yang berada di kamar mereka, jarang sekali di tonton. Entah kenapa, mereka lebih senang menonton di ruang keluarga.


“Mas, jangan lupa habis ini beristirahat,” tutur Asyila mengingatkan suaminya.


Setelah mengatakan hal itu, Asyila memutuskannya untuk keluar dari kamar. Ia ingin menghampiri Akbar yang saat itu tengah tidur di kamar kedua kakaknya, Arsyad dan juga Ashraf.


Saat Asyila membuka pintu kamar buah hatinya, ternyata Akbar telah terbangun dari tidurnya dan sedang duduk sembari membuka album foto milik dirinya dan juga kedua Kakaknya.


“Bunda, ini Kak Ashraf ya?” tanya Akbar sembari memperlihatkan foto tersebut ke arah Bundanya yang masih berdiri di dekat pintu.


Asyila berjalan mendekati Akbar yang masih di tempat tidur.

__ADS_1


“Iya sayang, ini Kak Ashraf,” jawab Asyila.


“Lalu, di dalam perut ini Bunda, siapa?” tanya Abraham menunjuk ke arah dimana kedua orangtuanya saling berpelukan dengan perut Bundanya yang membuncit.


“Kalau tidak salah, Bunda saat itu tengah mengandung Kak Ashraf,” jawab Asyila dengan senyum manisnya.


“Bunda, foto Akbar di dalam perut Bunda mana?” tanya Akbar penasaran.


Asyila tersenyum dan membalik halaman dari foto album tersebut untuk memperlihatkan foto dimana Akbar sedang dalam kandungan.


Beberapa menit kemudian.


Abraham yang sedang ingin mengambil ponselnya, tiba-tiba tak sengaja menjatuhkan ponselnya ke lantai.


“Astagfirullahaladzim,” ucap Abraham yang sedikit kesal karena harus mengambil ponselnya itu.


Ketika Abraham perlahan berjongkok untuk mengambil ponselnya, ia tak sengaja melihat sebuah koper kecil. Karena penasaran, Abraham menarik koper tersebut agar mendekat kepadanya. Saat Abraham ingin memeriksa isinya, tiba-tiba Akbar datang.


“Ayah!” Akbar terlihat sangat senang ketika mengetahui Ayahnya telah kembali.


Asyila pun masuk ke dalam kamar dan melotot tajam ke arah koper miliknya yang tengah dipegang oleh suaminya.


Jika sampai suaminya membuka koper tersebut, identitas Asyila sebagai wanita bercadar akan ketahuan.


Akbar bangkit dan perlahan berjalan mendekat ke arah buah hatinya. Asyila seketika itu bernapas lega dan berjalan mendekati kopernya, kemudian menaruh koper tersebut ke dalam almari pakaian bagian bawah agar tak diketahui oleh suaminya.


Alhamdulillah, Allah masih menyelematkan aku. Untung saja, Akbar datang tepat waktu.


“Badan Ayah kenapa merah-merah seperti darah? Ayah sakit?” tanya Akbar dengan ekspresi takut.


“Akbar, Ayah kemarin jatuh dari motor. Akan tetapi, Akbar jangan beritahu Nenek, Kakek dan yang lain. Cukup Allah, Bunda dan Akbar yang tahu rahasia ini. Akbar mau berjanji dengan Ayah?” tanya Abraham pada putra kecilnya.


“Iya Ayah, Akbar berjanji tidak akan memberitahukan kepada siapapun,” balas Akbar.


Merekapun membuat janji jari kelingking.


Asyila senang melihat suami dari putra kecil mereka yang kompak.


“Akbar, Ayah mau istirahat dulu. Agar luka Ayah segera sembuh, maaf karena Ayah tidak bisa membeli buah durian. Insya Allah, kalau Ayah sudah sembuh Ayah akan memborong buah durian khusus untuk Akbar.”


“Benar ya Ayah? Ayah tidak boleh bohong!”


“Iya Akbar sayang, Ayah tidak akan bohong kepada Akbar,” jawab Abraham dan mencium lembut pipi putra kecilnya.


Abraham pun perlahan naik ke tempat tidur untuk kembali beristirahat. Melihat Ayahnya yang sakit, Akbar tak tega dan merasa kasihan. Ia berusaha membayangkan bagaimana Ayahnya bisa jatuh dari motor dengan luka separah itu.


“Akbar kenapa hanya diam berdiri disitu? Ayo naik ke tempat tidur, bukankah Akbar juga sedang sakit? Ayo tidur bersama Ayah!” panggil Abraham agar Akbar segera naik ke tempat tidur.


Akbar tersenyum lebar dan perlahan naik ke tempat tidur agar bisa tidur bersama dengan Sang Ayah tercinta.


Disaat yang bersamaan, ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan Perumahan Absyil. Sepertinya, mereka tengah memantau salah satu rumah yang paling bagus dan memiliki bentuk yang paling besar diantara rumah yang lain.


“Bagaimana, kita harus membunuh pria itu. Gara-gara dia, bos kita masuk penjara. Kalau saja bos kita aman, sudah kaya kita dari hasil menjual narkoba,” tutur pria mengenakan topeng monyet.


“Lalu, apakah kita harus memaksa masuk ke dalam rumah pria sial*n itu?”


“Tidak, kita jangan gegabah. Kita akan melancarkan aksi kita 3 hari lagi, di malam hari!

__ADS_1


Setelah mengatakan kalimat tersebut, mereka pergi dengan menggunakan kendaraan roda empat.


__ADS_2