
Perumahan Absyil.
Dyah, Ema, Fahmi dan Yogi pun turun dari mobil. Kemudian, mereka pamit untuk kembali ke rumah masing-masing.
“Paman, terima kasih untuk tumpangannya. Fahmi dan Dyah harus pulang sekarang, buah hati kami harus segera istirahat,” tutur Fahmi.
“Aku juga Abraham, terima kasih atas tumpangannya. Kami pulang.”
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Abraham dan juga Asyila.
Abraham serta Asyila saling tukar pandang melihat Ema serta Yogi.
“Tumben Kahfi tidak dibawa,” tutur Asyila.
“Kahfi sedang liburan di Jakarta, pasti dia akan menemui Ashraf,” tutur Abraham.
“Mungkin saja, lagipula mereka sudah seperti anak kembar,” balas Asyila.
Merekapun akhirnya masuk ke dalam rumah untuk mengistirahatkan buah hati mungil mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Abraham langsung membuka pakaiannya dan bergegas membersihkan diri karena waktu sholat Jum'at akan segera tiba.
“Mas, Syila pilihkan ya pakaiannya,” tutur Asyila yang baru saja meletakkan bayi mungil mereka.
Abraham mengiyakan dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Yang ini saja,” tutur Asyila memilih baju Koko berwarna putih.
Asyila tersenyum dan mulai menyetrika baju Koko suaminya agar terlihat lebih rapi.
Setelah itu, Asyila melepaskan pakaiannya untuk menggantinya dengan pakaian yang lebih santai.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar terbangun dan menangis cukup kencang.
“Sebentar ya sayang,” ucap Asyila.
Asyila mengganti pakaiannya dengan terburu-buru, dikarenakan bayi Akbar semakin histeris dengan tangisannya.
“Iya sayang, mau minum susu ya?” tanya Asyila dan bergegas menyusui bayi mungilnya.
Asyila tak habis pikir dengan bayi yang baru berumur 1 bulan tersebut. Jika keinginannya tidak dituruti saat itu juga, bayi Akbar pasti akan menangis histeris. Tangisannya seperti Ashraf yang tengah merajuk.
“Sudah, tidak mau menangis lagi?” tanya Asyila sembari terus menyusui bayi mungilnya.
Perlahan Asyila merasa mengantuk ketika melihat wajah bayinya yang tengah tertidur sembari mulutnya sibuk menyusu ASI. Asyila pun akhirnya tertidur pulas.
Beberapa menit kemudian.
Asyila baru saja selesai mandi dan menoleh ke arah istri kecilnya yang tengah berbaring menyamping membelakangi dirinya. Karena penasaran apakah istri kecilnya tidur atau tidak, Abraham pun mendekat dan ternyata istri kecilnya memang tengah tertidur.
“Syila pasti sangat lelah, biarkan saja dia tertidur seperti ini,” tutur Abraham lirih dan cepat-cepat mengenakan pakaian yang sebelumnya sudah disetrika oleh Sang istri.
Tak butuh waktu lama, Abraham akhirnya siap untuk pergi ke masjid.
Abraham memilih untuk tak membangunkan istri kecilnya dan melenggang pergi meninggalkan kamar dengan langkah yang sangat hati-hati agar tak di dengar oleh istri serta buah hati mereka.
Beberapa menit setelah Abraham pergi, Asyila terbangun dan seketika itu menoleh ke arah kamar mandi serta pakaian yang telah ia siapkan untuk suaminya.
“Ternyata Mas Abraham sudah berangkat,” ucap Asyila sedih karena ia ketiduran ketika sedang menyusui bayi Akbar.
__ADS_1
Asyila perlahan turun dari tempat tidur setelah memastikan bahwa bayi Akbar tertidur pulas. Kemudian, Asyila keluar dari kamar untuk mencuci pakaian yang kotor.
Saat Asyila baru saja turun dari anak tangga, perhatian Asyila tiba-tiba teralihkan oleh ruang kerja miliknya. Tanpa pikir panjang lagi, Asyila berlari kecil memasuki ruangan yang hampir semua isinya adalah kain-kain yang akan ia sulap menjadi pakaian-pakaian muslim.
“Karena tidak terlalu banyak pekerja di rumah, lebih baik aku menyibukkan diri membuat pakaian,” tutur Asyila dan bergegas keluar dari ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya mencuci pakaian.
***
Sore hari.
Asyila tersenyum ke arah suaminya yang baru saja menaiki mobil, sore itu Sang suami ada pekerjaan mendadak di kantor dan harus segera diselesaikan.
Sebenarnya Asyila sedih karena Sang suami akan sibuk, akan tetapi Asyila juga tak boleh egois karena pekerjaan suaminya adalah tanggung jawab yang besar.
“Syila, Mas berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya Mas!” seru Asyila dengan terus melambaikan tangan ke arah suaminya yang tengah mengemudikan mobil.
Mobil tersebut perlahan keluar dari halaman rumah sampai akhirnya tak terlihat lagi.
“Pak Eko sudah sembuh belum ya, kalau Pak Eko masih sakit kasihan juga,” tutur Asyila bermonolog dan berjalan menuju gerbang untuk menutup gerbang tersebut tanpa menguncinya.
Setelah itu, Asyila masuk ke dalam untuk segera menemui buah hatinya yang berada di ruang keluarga.
“Syukurlah, Bunda kira kamu bangun sayang,” tutur Asyila lirih ketika melihat bayi mungilnya yang sedang terlelap dengan sangat pulas.
Asyila mendorong kereta bayi mungil menuju ruang kerja miliknya untuk kembali melanjutkan potongan-potongan kain yang sebelumnya sudah ia gunting.
“Sayang, Bunda saat ini ada kesibukan baru.
Akbar jangan rewel ya, kalau mau minum susu Akbar tidak boleh menangis histeris. Ok!”
Asyila tersenyum dan duduk di kursi yang tak jauh dari bayi mungilnya. Kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
“Bismillahirrahmanirrahim, semoga hasilnya bagus. Aaaminn,” ucap Asyila dengan penuh semangat.
Wanita muda itu terlihat sangat fokus dengan apa yang ada ditangannya, bila saja Abraham melihatnya sudah pasti Abraham memuji kecantikan istri kecilnya yang tengah serius dengan kesibukan baru Sang istri.
Asyila menoleh ke arah bayi mungilnya yang terlihat sangat anteng.
“Bayi pintar,’ puji Asyila dengan senyum manisnya.
Beberapa saat kemudian.
Abraham baru saja keluar dari masjid dan tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas pulang untuk menemui istri serta bayi mungil mereka.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sembari memasuki rumah.
Pria itu masuk dan kembali mengunci pintu rapat-rapat. Kemudian, bergegas menuju kamar untuk menemui istri dan bayi Akbar.
Saat Abraham ingin melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, telinga Abraham samar-samar menangkap suara mesin jahit.
“Suara mesin jahit? Apakah itu Syila?” tanya Abraham bermonolog.
Abraham berbalik badan dan berlari kecil memasuki ruang kerja istri kecilnya.
“Syila,” tutur Abraham sembari menyentuh punggung istri kecilnya.
Asyila terkejut dan hampir saja tangannya mengenai mesin tersebut.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Asyila sembari mematikan mesin jahit miliknya, “Mas hampir saja membuat Asyila jantungan,” imbuh Asyila sembari menyentuh dadanya yang berdebar kencang karena kelakuan suaminya yang tiba-tiba menyentuh punggungnya.
__ADS_1
Abraham tertawa lepas sembari memeluk tubuh istri kecilnya dengan sangat eram.
“Mas jahat ya, istrinya kaget malah diketawain,” ucap Asyila.
“Maaf-maaf, Mas tidak bermaksud membuat Syila kaget,” balas Abraham yang masih memeluk istrinya.
“Mas, Syila mau makan sate Padang. Kira-kira di daerah sekitar sini ada tidak ya Mas?” tanya Asyila.
“Kalau sate Padang siang-siang begini tidak ada Syila, kalau malam insya Allah ada,” balas Abraham.
“Mas bohong, jelas-jelas namanya sate Padang yang artinya kalau siang begini ada,” tutur Asyila.
Abraham menatap wajah istri kecilnya dengan tatapan terheran-heran.
“Ya sudah, Mas akan mencarikan sate Padang yang Asyila inginkan. Ngomong-ngomong Asyila sedang mengerjakan apa?” tanya Abraham penasaran.
Asyila melepaskan pelukan suaminya dan beralih ke pakaian yang tengah ia kerjakan.
“Bagaimana, apakah terlihat bagus?” tanya Asyila yang ingin mendengar pendapat dari suaminya.
Abraham memperhatikan setiap detail jahitan istri kecilnya yang ternyata sangat bagus.
“Sempurna dan sangat sempurna. Insya Allah apa yang Asyila kerjakan saat ini akan berbuah manis,” ungkap Abraham.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Mas. Terima kasih atas dukungan Mas selama ini, insya Allah Asyila akan semangat untuk menjahit pakaian-pakaian muslim ini,” balas Asyila.
Abraham mengangguk kecil dan pandangannya tiba-tiba tertuju ke arah kereta bayi mungilnya.
“Masya Allah, ini bayi kerjaannya tidur terus ya,” tutur Abraham.
Asyila hanya senyum-senyum mendengar suaminya berbicara.
Abraham sangat gemas dengan bayi mungilnya yang terus saja tidur.
“Sayang, ayo bangun,” tutur Abraham dan menggendong bayi Akbar dengan sangat hati-hati.
Bayi mungil itu pun perlahan membuka matanya dan terlihat sangat anteng.
“Assalamu’alaikum sayang,” ucap Abraham ketika bayi Akbar membuka mata dengan sempurna.
“Wa’alaikumsalam Ayah,” balas Asyila menirukan suara anak kecil.
Abraham menciumi kedua pipi buah hatinya dengan sangat gemas.
“Masya Allah, kamu sangat lucu sekali Nak,” ucap Abraham.
“Mas, bayi Akbar ajak main dulu ya. Asyila mau menyelesaikan jahitan Asyila ini!”
“Siap, kalau sudah cepat susul kami di ruang keluarga.
“Baik, Mas,” jawab Asyila.
Abraham perlahan keluar dari ruangan istri kecilnya untuk segera pergi ke ruang keluarga.
Asyila tersenyum manis sembari melambaikannya tangannya ke arah sang suami, kemudian kembali fokus dengan pekerjaan barunya.
“Semangat Asyila, kamu pasti bisa,” ucap Asyila menyemangati dirinya sendiri.
Ada mimpi yang sedang Asyila kejar, Asyila ingin sekali membuat banyak pakaian muslim untuk wanita dan juga pria. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Bagi Asyila mimpinya adalah sebuah keharusan karena dengan seperti itu Asyila bisa berbagi cinta mengenai Islam.
__ADS_1
Abraham ❤️ Asyila