
Asyila dan Ema terus berbincang-bincang mengabaikan Abraham dan Yogi yang duduk disebelah mereka. Jika keduanya sudah berkumpul, mereka seperti lupa bahwa sudah memiliki suami dan anak-anak yang lucu.
Arsyad, Ashraf dan Kahfi sibuk bermain dengan mainan mereka. Sementara Dyah bingung harus melakukan apa, karena saat itu ia sangat malas untuk berbicara.
“Kak Dyah, tolong ambilkan mobil Arsyad!” pinta Arsyad sambil menunjuk ke arah mainan mobil di dekat tangan Dyah.
Dyah menoleh ke arah mainan mobil dan memberikannya kepada Arsyad.
“Terima kasih, Kak Dyah,” ucap Arsyad.
“Iya, sama-sama,” balas Dyah.
Dyah tiba-tiba ingat dengan sapu tangan pemberian pria tanpa nama. Ia mencium wangi dari sapu tangan tersebut yang samar-samar tercium bau kehangatan.
“Sapu tangan ini sudah aku cuci bersih. Akan tetapi, baunya masih ada,” ucap Dyah lirih dan ternyata di dengar oleh Asyila.
Asyila mencolek lengan Dyah sambil tersenyum lebar.
“Hati-hati nanti jatuh cinta,” bisik Asyila.
Pipi Dyah langsung merah merona ketika mendengar bisikan Asyila. Karena malu, ia pun bergegas keluar dari ruangan.
“Aunty ini bicara apa sih? Lagipula siapa juga yang jatuh cinta sama si pemilik Sapu tangan. Kalau dia sudah menikah bagaimana? Astaghfirullah, semoga apa yang dikatakan oleh Aunty tidaklah benar,” ucap Dyah penuh harap.
Dyah memilih untuk duduk sementara waktu dijejerkan kursi tunggu. Entah apa yang akan ia lakukan di tempat itu, yang terpenting ia duduk dengan tenang.
Arsyad ternyata keluar dan ikut duduk bersama Dyah.
“Kamu kenapa duduk disini? Bukankah tadi sedang bermain dengan Ashraf dan Kahfi?” tanya Dyah.
Arsyad menoleh sekilas dan kembali fokus ke mainan mobil nya. Ia menunduk diam dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.
“Arsyad kenapa diam saja?” tanya Dyah dan mengangkat kepala adiknya agar tak menunduk kebawah.
“Kok menangis?” Dyah terkejut mendapati bahwa adiknya itu menangis.
“Hiks... hiks... Mainan Arsyad rusak,” ucap Arsyad sambil menangis.
Dyah meminta Arsyad untuk tak menangis dan mengambil mainan mobil yang berada di tangan Arsyad.
“Ini kenapa bisa lepas begini? Arsyad apakan?” tanya Dyah karena ternyata dua roda depan mobil mainan Arsyad terlepas dan tidak bisa dipasangkan kembali.
“Bukan Arsyad yang merusakkan mainan mobil ini. Tapi, Ashraf dan Kahfi,” jawab Arsyad.
“Terus, kenapa Arsyad yang malah nangis?” tanya Dyah penasaran.
Arsyad menggelengkan kepalanya dan menangis sembari memeluk pinggang Dyah.
“Sudah jangan menangis, kalau Ayah Abraham marah, Arsyad bilang saja bahwa Ashraf dan Kahfi yang merusaknya,” tutur Dyah pada adiknya.
“Jangan, nanti mereka kena marah Ayah,” tolak Arsyad.
Akhirnya Dyah tahu bahwa adiknya itu memiliki hati yang baik dan lembut. Sama seperti Aunty, Arsyad tidak ingin jika Ashraf maupun Ashraf yang kena marah.
__ADS_1
“Jadi, kita harus bagaimana?” tanya Dyah.
“Kak Dyah jangan kasih tahu Ayah sama Bunda ya!” pinta Arsyad.
“Terus, Arsyad mau disalahkan?” tanya Dyah lagi.
Dengan polosnya, Arsyad mengangguk setuju.
“Ya sudah, Kak Dyah akan tutup mulut.”
Disaat yang bersamaan, Abraham keluar karena Ashraf dan Kahfi hanya main berdua saja di dalam.
“Yang lainnya main di dalam, kenapa Arsyad malah diluar?” tanya Abraham mendekat pada putra pertamanya, “Loh, anak Ayah dan Bunda kenapa menangis?” tanya Abraham lagi.
Arsyad menghapus air matanya dan memperlihatkan mobil miliknya yang rusak.
“Rusak lagi?” tanya Abraham.
“Iya Ayah,” jawab Arsyad tanpa berani menatap Ayahnya.
“Hhmmm... Kenapa mainan yang Ayah belikan selalu rusak?” tanya Abraham yang sebenarnya sudah tahu bahwa yang merusakkan mobil mainan itu adalah Ashraf dan juga Kahfi. Akan tetapi, Abraham sengaja bertanya untuk mengetahui jawaban dari putra pertamanya itu.
“Maaf, Ayah. Arsyad tidak sengaja merusaknya,” jawab Arsyad berbohong.
Abraham tersenyum tipis dan langsung menarik tubuh Arsyad ke pelukannya.
“Sudah jangan menangis, besok Ayah belikan mobil mainan yang baru,” ucap Abraham.
“Tidak usah Ayah. Arsyad belikan buku saja untuk belajar!” pinta Arsyad.
“Andai saja kalau Arsyad bukan Adik dari Kak Dyah, sudah pasti Kak Dyah meminta Paman menjodohkan kamu dengan Kakak,” ucap Dyah sambil menyipitkan matanya.
Pletak!
“Aawww... Sakit Paman,” rengek Dyah ketika merasakan panas di dahinya akibat sentilan keras dari Pamannya itu.
“Siapa juga yang mau punya menantu seperti kamu,” ledek Abraham.
“Yeeee.... Gini-gini banyak yang mau sama Dyah, Paman,” balas Dyah membela diri.
“Iya, Paman tahu. Kalau begitu ajak calon mu ke rumah dan mengobrol dengan Paman.”
Glek! Dyah menelan salivanya kuat-kuat ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Pamannya.
“Kenapa diam?” tanya Abraham penasaran.
Dyah bingung harus menjawab apa, kemudian ia beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam ruang pasien begitu saja.
Melihat reaksi keponakannya, Abraham tahu bahwa Dyah belum memiliki calon pendamping hidup.
“Ayah...” Arsyad menyentuh tangan Ayahnya.
“Iya sayang, ada apa?” tanya Abraham penuh perhatian.
__ADS_1
“Boleh beli es krim?” tanya Arsyad yang tiba-tiba ingin menikmati es krim.
“Boleh, ayo kita beli es krim!” ajak Abraham dan menggandeng tangan kanan Arsyad.
“Ashraf sama Kahfi tidak dia ajak?” tanya Arsyad.
“Mmmm... Lain kali saja, hari ini Ayah mau menikmati es krim berdua saja dengan Arsyad. Bagaimana?”
Arsyad mendongakkan kepalanya menatap Ayahnya dan mengangguk kecil. Meskipun di dalam hatinya ingin sekali mengajak Ashraf dan Kahfi.
“Mobilnya kenapa dibawa? Taruh saja di kursi!” perintah Abraham.
Arsyad mengiyakan dan meletakkan mobil mainannya yang rusak di kursi tunggu. Kemudian, mereka berdua berjalan bersama-sama untuk mencari es krim yang diinginkan oleh Arsyad.
“Tapi, jangan banyak-banyak ya sayang. Soalnya ini masih pagi,” ucap Abraham.
“Baik, Ayah,” jawab Arsyad.
Abraham menggandeng tangan putra pertamanya dan sesekali Abraham tertawa melihat ekspresi wajah serius Arsyad.
Bruk!
Seorang wanita tiba-tiba menabrak Abraham dan untungnya Abraham tidak terjatuh. Akan tetapi, wanita yang menabraknya justru terjatuh ke lantai.
“Mbak tidak apa-apa?” tanya Abraham tanpa berniat membantu wanita itu.
Wanita itu meringis kesakitan sambil mengulurkan tangannya agar segera dibantu oleh Abraham. Namun Abraham sama sekali tak menghiraukan wanita itu dan hanya berdiri.
“Saya rasa mbak tidak apa-apa, kalau begitu permisi,” ucap Abraham dingin dan kembali melanjutkan langkahnya bersama Arsyad.
Arsyad berjalan dan sesekali melihat wanita yang terjatuh itu.
“Jangan dilihat!” perintah Abraham pada Arsyad.
“Ibu itu bisa berdiri Ayah, malah berlari,” ucap Arsyad menceritakan apa yang dia lihat.
Abraham mengangguk kecil, ia sudah tahu modus-modus dari wanita yang memang sengaja ingin mendekatinya.
“Arsyad mau es krim rasa apa?” tanya Abraham.
“Rasa strawberry dengan taburan choco chips ya Ayah!” pinta Arsyad.
“Hmm.... Sepertinya enak. Ayah juga mau coba yang ada taburan choco chips nya,” balas Abraham.
Arsyad mengedarkan pandangannya dan sedikit merasa risih dengan tatapan dari wanita-wanita yang berada disekitar mereka.
“Ayah, kenapa Ibu-ibu itu melihat kita terus?” tanya Arsyad dengan polosnya.
“Karena Arsyad tampan makanya mereka melihat ke arah kita, ya sudah jangan dilihat lagi. Sini Ayah gendong saja biar cepat sampainya!”
Abraham menggendong Arsyad dan melangkahkan kakinya dengan langkah besar agar segera meninggalkan rumah sakit untuk mencari es krim keinginan putra pertamanya, Arsyad Mahesa.
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1
Terima kasih atas kunjungannya 🙏