
Abraham terbangun dari mimpinya dan ternyata Ayah dan Ibu mertuanya sudah berada di hadapannya.
“Ayah, Ibu,” ucap Abraham terkejut.
Arumi menggigit bibirnya dan di detik berikutnya ia menangis tanpa mengeluarkan suara.
Kedua orang tua Asyila sudah tahu mengenai kabar putri tunggal mereka yang telah meninggal.
“Ayah...” Abraham memanggil Ayah mertuanya tanpa berani menatap mata sang mertua.
Herwan mendekat dan memeluk menantunya.
“Kami sudah tahu, Nak Abraham. Kami sudah tahu bahwa Asyila putri kami telah meninggal,” ucap Herwan yang tak bisa menahan air matanya untuk tidak menangis.
“Ba-bagaimana dengan anak-anak kami Yah? Bagaimana cara Abraham untuk memberitahukan mereka bahwa Bunda mereka telah pergi untuk selama-lamanya,” ujar Abraham yang terlihat begitu terpukul atas kepergian sang istri tercinta.
“Untuk sementara ini kita tidak boleh memberitahukan Arsyad maupun Ashraf tentang meninggalnya Asyila. Ayah tidak sanggup melihat mereka menderita karena kehilangan Bunda mereka disaat usia mereka yang masih sangat kecil,” terang Herwan.
“Ya Allah, kenapa Engkau mengambil Asyila secepat ini? Kenapa tidak Kau ambil nyawa hamba yang sudah tua ini?” tanya Arumi sambil menoleh ke arah.
Dayat datang menghampiri mereka dan meminta Abraham untuk segera pulang ke rumah. Keadaan lebih buruk jika Abraham tak kembali pulang ke rumah.
“Tidak, aku tetap ingin mencari istriku sampai ketemu. Bila perlu, aku akan menyusul istriku pergi ke akhirat,” tegas Abraham.
“Sadarlah Abraham, sadarlah dengan ucapan mu itu. Ada Arsyad dan Ashraf yang masih sangat membutuhkan dirimu, tolong tarik perkataan mu itu Nak Abraham,” ucap Arumi memohon kepada menantunya untuk tak mengatakan hal buruk seperti itu.
“Asyila... Jangan tinggalkan Mas sendirian. Mas tidak bisa hidup tanpamu istriku...” Derai air mata terus saja membasahi pipi Abraham, pria yang tampan nan gagah itu terlihat begitu lemah tak berdaya setelah kehilangan sang istri tercinta.
Herwan dengan sekuat tenaga menuntun Abraham turun dari ranjang dan membawanya pulang. Meskipun, Abraham berulang kali menolak untuk pulang ke rumah.
“Tolong lepaskan Abraham, Ayah. Abraham harus mencari Asyila dan membawa Asyila pulang,” ucap Abraham berusaha melepaskan diri dari Ayah mertuanya.
“Berhentilah mengatakan kalimat tersebut, Nak Abraham. Biarkan Asyila tenang di lautan lepas itu. Ada Allah yang terus menemani Asyila disana,” balas Herwan yang berusaha mengikhlaskan kepergian putri tunggalnya.
“Ayah salah. Asyila disana masih hidup dan sedang menunggu Abraham untuk menjemputnya!” teriak Abraham.
“Berhentilah mengatakan hal itu Abraham, ikhlaskan istrimu,” sahut Herwan.
“Selamanya Abraham tidak akan mengikhlaskan kepergian Asyila,” tegas Abraham.
Herwan meminta Dayat untuk membantunya membawa masuk Abraham ke dalam mobil agar mereka segera pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian.
Setelah perjalanan yang cukup panjang dari Surabaya ke Surabaya, akhirnya mereka tiba dan kedatangan Abraham langsung disambut oleh tangisan putra kecilnya, Ashraf.
“Ayah, Bunda mana?” tanya Ashraf sambil terus menangis.
__ADS_1
Abraham seketika itu, memeluk dan mencium wajah buah hatinya dengan derai air mata.
Perasaannya begitu hancur ketika buah hatinya menanyakan keberadaan sang istri yang telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
“Bunda lagi ada urusan, Nak. Kalau urusan Bunda sudah selesai, Bunda akan pulang dan berkumpul kembali bersama kita,” ucap Abraham yang terpaksa membohongi buah hatinya.
“Bunda kemana Ayah? Ashraf mau Bunda!” teriak Ashraf yang terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sang Ayah.
Arumi dan Herwan terus saja menangis melihat bagaimana Ashraf begitu menginginkan Bundanya ada dihadapannya.
Ema yang melihat ekspresi wajah kedua orang tua sahabatnya merasa sangat curiga. Tangisan keduanya seperti tangisan seperti orang yang tengah kehilangan.
“Ibu, ada apa dengan Asyila?” tanya Ema mendekati Arumi.
Dengan menangis sesenggukan, Arumi menarik tangan Ema dan membawa Ema masuk ke dalam rumah.
“Asyila... Asyila putri kami,” ucap Arumi yang tak kuasa melanjutkan ucapannya.
“Iya Ibu, ada apa dengan Asyila?” tanya Ema sambil memegang erat kedua tangan Arumi.
“Asyila telah meninggalkan kita untuk selamanya,” terang Arumi.
Mulut Ema terbuka lebar dan kedua matanya mulai mengeluarkan air mata.
“Tidak, ini tidak mungkin!” teriak Ema yang tak mempercayai perkataan Ibu dari sahabatnya.
Ema terus berteriak dan dengan cepat Yogi menenangkan istri tercintanya itu.
“Tolong beritahu Ema, kalau pendengaran Ema salah,” tutur Ema sembari memukul dada suaminya berulang kali.
“Maksudmu apa Dik?” tanya Yogi terheran-heran.
“Tolong jangan berteriak lagi Nak Ema, Ibu tidak ingin Ashraf sampai mengetahui mengenai kematian Bundanya,” pinta Arumi kepada Ema.
Yogi sangat syok mendengar kabar kematian Asyila yang sangat-sangat mendadak.
“Tidak, tidak mungkin!” teriak Ema dan seketika itu ia pingsan karena hatinya yang begitu terguncang.
Dengan tangan gemetar dan hati yang begitu sedih, Yogi mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“Ya Allah, kenapa harus seperti ini? Kami semua benar-benar tak bisa mempercayai bahwa Nona Asyila telah meninggalkan kami,” ucap Yogi yang sudah berderai air mata.
Malam hari.
Ashraf tiba-tiba demam tinggi, berulang kali ia selalu memanggil Bundanya dalam keadaan mata tertutup. Dan untungnya, Ema telah memanggil seorang dokter untuk menangani Ashraf yang tengah demam.
Abraham yang menyaksikan buah hatinya seperti itu, begitu menderita dan berharap bahwa rasa sakit sang buah hati berpindah padanya.
__ADS_1
“Bu, Abraham tak sanggup melihat Ashraf seperti ini,” ucap Abraham dan berlari keluar kamar karena tak sanggup melihat penderitaan buah hatinya.
Arumi memukul kepalanya sendiri dan seketika itu juga Herwan menahan tangan istri yang berusaha menyakiti dirinya sendiri.
“Lepaskan tangan aku, Mas. Biar aku mati saja,” ucap Arumi.
“Cukup!” teriak Herwan pada Arumi dan disaksikan oleh Ema, Yogi dan dokter wanita yang saat itu tengah memeriksa kondisi kesehatan Ashraf, “Apa Adik juga ingin keluarga ini tambah berantakan?” tanya Herwan yang terlihat sangat marah kepada istrinya.
Arumi terdiam dan terduduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir tanpa ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.
Sang dokter pun telah selesai memeriksa keadaan Ashraf. Dan dengan wajah canggung nya, dokter itu mendekat ke arah Ema.
“Saya sudah memeriksa kondisi kesehatan adik Ashraf, ini adalah resep untuk adik Ashraf. Akan tetapi, yang lebih manjur adalah mempertemukan Adik Ashraf dengan Bundanya,” terang Sang dokter yang sama sekali tidak tahu bahwa Bunda yang dimaksud oleh Ashraf adalah wanita yang sudah meninggal. Dan, malah mengira bahwa Ashraf adalah korban broken home.
Ema kembali meneteskan air matanya dan membisikkan sesuatu ditelinga sang dokter. Dokter wanita itu pun terkejut dan berulang kali meminta maaf karena ucapannya tersebut.
“Maaf, saya benar-benar tidak tahu kalau...”
“Tolong, jangan diteruskan Dok!” pinta Ema karena tak ingin bila Ashraf sampai mengetahui bahwa Bundanya telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Dokter itu kembali meminta maaf dan izin untuk pergi dari rumah itu. Ema mengiyakan dan tak lupa membayar biaya pengobatan Ashraf.
“Terima kasih, tolong segera tebus resep obatnya,” ucap sang dokter dan berpamitan pada mereka semua. Kemudian, melenggang pergi meninggalkan kediaman Abraham Mahesa.
Herwan membantu istrinya bangkit dan mengajaknya masuk ke kamar mereka. Kemudian, Abraham masuk ke dalam untuk menemani buah hatinya tidur.
“Ayo, Abang!” ajak Ema untuk membeli obat Ashraf di apotek.
“Bagaimana dengan Kahfi yang sedang tidur?” tanya Yogi yang tak tega meninggalkan buah hatinya tidur seorang diri di dalam kamar.
“Tidak apa-apa, Abang. Kahfi sudah besar, ayo kita pergi sekarang,” ucap Ema dan keduanya pun keluar kamar meninggalkan Abraham yang tengah mendekap buah hatinya.
Ema berjalan dengan langkah lebar dan tiba-tiba ia berteriak ketika sudah berada di depan rumah.
“Aaaaaaaa!” teriak Ema menumpahkan semua kesedihannya. Sekaligus, meluapkan emosi dihatinya karena ia telah kehilangan sahabat yang sangat berarti untuknya.
“Asyila, kamu bukan hanya sahabatku. Kamu adalah saudariku yang benar-benar aku sayangi!” teriak Ema.
Yogi segera memeluk istrinya dan membiarkan tubuhnya menjadi sasaran pelampiasan sang istri.
Berulang kali Ema memukul dada suaminya dengan derai air mata yang begitu menyedihkan.
Cukup lama Ema memukul suaminya sampai akhirnya ia berhenti sendiri.
“Maaf,” ucap Yogi dan memberikan kecupan lembut di kening Ema.
“Abang, apakah semua ini benar-benar terjadi?” tanya Ema.
__ADS_1
Yogi hanya diam dan menarik tangan istrinya masuk ke dalam mobil.
Setelah itu, mobil pun melaju menuju apotek untuk membeli resep obat Ashraf.