
Dyah merasa sangat sedih ketika menyadari tubuh Aunty-nya begitu kurus hanya dalam hitungan hari. Senyum ceria dibibir istri Pamannya pun tak pernah terlihat lagi, tentu saja hal itu mengganggu Dyah.
“Kamu kenapa betah disini?” tanya Asyila.
“Dyah disini karena mau menemani Aunty,” jawab Dyah.
“Bukankah kamu sudah beberapa hari tidak masuk kerja? Bagaimana jika nanti kamu dipecat?”
“Ya tidak apa-apa, Dyah bisa cari tempat kerja yang lainnya,” jawab Dyah dengan santai, “Sekarang jaman serba canggih, Aunty. Dari sini Dyah bisa mengerjakan pekerjaan kantor dan mengirimkannya lewat file,” imbuh Dyah.
“Iya, terserah kamu saja,” balas Asyila.
Ashraf terbangun dari tidurnya dan segera memanggil Bundanya agar mendekat padanya.
“Bunda, mau pulang!” pinta Ashraf yang terlihat jelas diwajahnya bahwa ia tak suka tinggal di rumah sakit.
“Kesayangan Ayah sama Bunda harus diam disini untuk beberapa hari ke depan,” balas Asyila dengan memberikan senyum hangatnya.
Ashraf menggelengkan kepalanya, ia menolak apa yang dikatakan oleh Bundanya.
“Kemana Ayah, Bunda?” tanya Ashraf yang memang sudah sangat lama ingin bertemu dengan Ayahnya tersayang.
Asyila bingung harus mengatakan apa, ia pun melirik ke arah Dyah supaya keponakan suaminya itu, bisa memberikan alasan yang tepat dan masuk akal agar Ashraf tak lagi menanyakan keberadaan Ayahnya.
“Adik Ashraf telat, seharusnya Ashraf bangun lebih awal,” ucap Dyah.
Ashraf seketika itu juga menoleh ke arah Dyah agar memberikannya ucapan yang jelas.
“Ayah Abraham tadi kesini dan karena Ashraf belum bangun, Ayah pergi kerja lagi,” jelas Dyah.
Asyila terdiam dan beberapa detik kemudian ia menangis dengan begitu menyedihkan.
“Ayah.... Ayah....” Ashraf menangis dengan terus memanggil Ayahnya.
Asyila serta Dyah sangat terkejut dengan reaksi Ashraf yang justru malah menangis.
“Haduh, kamu kenapa malah menangis?” tanya Dyah kebingungan.
“Mau Ayah,” jawab Ashraf disela-sela tangisannya.
Ashraf menangis dan tak sengaja selang infus menyenggol sisi ranjang sehingga tangannya mengeluarkan darah. Asyila pun panik dan berlari keluar untuk memanggil dokter ataupun perawat untuk segera membantu buah hatinya.
Seorang perawat wanita pun datang dan bergegas menangani selang infus Abraham.
“Sudah selesai, Ashraf jangan banyak gerak ya nak,” ucap si perawat.
Ashraf masih merengek meminta agar Ayahnya segera datang, bocah kecil itu begitu merindukan pelukan Sang Ayah.
“Bunda, ayo pulang!” ajak Ashraf yang berpikir dengan dirinya pulang, ia bisa setiap hari bertemu Abraham.
__ADS_1
Asyila sebenarnya sudah tidak kuat jika harus berlama-lama tinggal di rumah sakit, ditambah lagi ia setiap hari harus melihat orang masuk rumah sakit.
“Ashraf sayang, Bunda keluar sebentar ya nak.
Bunda akan bertanya kepada dokter, apakah Ashraf bisa segera pulang atau tidak. Oke!”
Ashraf mengangguk kecil dan memanggil Dyah agar mendekat kepadanya. Sementara itu, Asyila bergegas ke ruang dokter yang menangani Ashraf.
Sambil menunggu Aunty-nya, Dyah pun mengajak Ashraf bermain tebak-tebakan untuk mengusir kesedihan Ashraf.
Dyah langsung menoleh ke arah ponsel Aunty-nya yang tiba-tiba berbunyi.
“Sebentar ya dik,” ucap Dyah dan segera menerima sambungan telepon.
Dari balik telepon, Arumi terdengar menangis histeris. Bahkan, suara Herwan serta Ema terdengar sedang menangis seperti ada suatu hal buruk yang telah terjadi.
“Asyila, ini Ibu,” ucap Arumi dengan suara serak khas orang menangis. Arumi bahkan, tidak mengucapkan salam seperti biasanya.
“Ini Dyah, Nek. Nenek kenapa?” tanya Dyah.
Arumi meminta Dyah untuk segera memberikan ponsel kepada Asyila. Dyah mulai panik dan ketakutan, ia berpikir bahwa sesuatu hal buruk telah terjadi.
“Sebentar Nek...” Dyah bergegas berlari untuk segera menghampiri Asyila yang saat itu tengah berada di ruang dokter.
Asyila terkesiap dan meminta izin untuk berbincang dengan Ibunya, Arumi.
“Assalamu’alaikum, Ibu. Iya Ibu, ada apa?”
“Nak...” Arumi terdengar begitu berat untuk memberitahukan hal buruk kepada Asyila.
Entah kenapa, Asyila sangat takut mendengar apa yang Ibunya katakan. Asyila seakan-akan tak sanggup untuk mendengarkannya.
“Nak...” Arumi sekali lagi memanggil Asyila.
“Ibu kenapa? Kenapa Ibu menangis? Tolong ceritakan kepada Asyila sekarang,” ucap Asyila yang entah kenapa ia pun ikut menangis.
“Su-suamimu,” ucap Arumi terbata-bata.
“Iya, kenapa dengan Mas Abraham? Apakah Mas Abraham sudah siuman?” tanya Asyila dengan penuh antusias.
Samar-samar Asyila mendengar suara Herwan dan juga Ema yang tengah menangis.
“Ibu, apakah yang menangis itu adalah Ayah dan Ema?” tanya Asyila dengan terus meneteskan air matanya.
“Su-suami telah meninggal dunia, nak.”
Deg!
Asyila termangu mendengar kabar yang sangat mengejutkan.
__ADS_1
“Ya Allah, Mas Abraham!” teriak Asyila dan seketika itu juga Asyila pingsan.
Orang-orang yang melihat Asyila terkejut dan tidak sedikit dari mereka yang menghampiri Asyila untuk membantu Asyila.
Dyah menangis dan hatinya benar-benar hancur. Bagaimana bisa, Paman yang ia kenal begitu kuat tiba-tiba meninggal dunia dengan segampang itu.
Asyila dibawa oleh beberapa perawat wanita ke dalam ruangan Ashraf untuk segera berisitirahat.
“Nenek, Paman tidak mungkin meninggal dunia,” ucap Dyah yang sangat tidak terima dengan kenyataan bahwa Pamannya sudah kembali ke sisi Allah.
“Kami pun sangat syok, Dyah. Dokter sendiri yang mengatakannya, tolong jaga Aunty mu disana dan jangan sampai ia melamun!” pinta Arumi dari balik telepon.
“Tidak, pokoknya Paman masih hidup dan Paman tidak mungkin secepat ini meninggalkan kami. Paman jahat!” teriak Dyah dan mematikan sambungan telepon.
Dyah tak peduli dengan tatapan dari orang-orang sekitar, rasanya ia ingin sekali berteriak untuk menegaskan bahwa Pamannya baik-baik saja.
Disisi lain.
Arumi terjatuh begitu saja setelah Dyah memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Herwan cepat-cepat membantu istrinya untuk bangkit.
“Mas, bagaimana dengan putri kita dan juga cucu-cucu kita? Bagaimana bisa Nak Abraham pergi secepat ini?” Arumi memukul-mukul dada suaminya dengan terus menangis.
Ema yang melihat kedua orang tua itu, tak kuasa menahan tangis dan sesaknya dada.
“Ya Allah, kenapa Engkau harus memberikan cobaan kepada Asyila seberat ini?” tanya Ema berteriak kesal.
Seorang perawat datang menghampiri Herwan serta Arumi, untuk menyelesaikan administrasi dan mengurus kepulangan jenazah. Tentu saja hal itu semakin membuat kedua orang tua Asyila semakin sedih.
“Tolong hidupkan kembali menantu saya!” teriak Arumi kepada si perawat. Bahkan, Arumi sampai memegang kedua tangan si perawat dengan tatapan memohon agar Barang dihidupkan kembali.
Si perawat hanya bisa meminta maaf sambil berusaha melepaskan tangan Arumi yang terus memegangi tangannya.
“Suster!” teriak Arumi karena si perawat itu cepat-cepat pergi meninggalkan dirinya.
Arumi melampiaskan kesedihannya dengan cara memukuli dada suaminya berulang kali. Arumi terlihat seperti orang yang kerasukan, ia terus menangis dan terus memukuli suaminya.
Rumah sakit itu akhirnya menjadi ramai karena ulah Arumi, dokter pun berdatangan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa ini? Tolong Ibu jangan membuat keributan disini!” pinta Sang dokter.
Arumi terkesiap dan ia terlihat begitu kesal dengan Sang dokter.
“Dok, kembali menantu saya! Saya tahu bahwa menantu saya adalah pria yang kuat, manusia pasti akan menemui ajalnya. Tapi, belum waktunya bagi menantu saya pergi meninggalkan dunia ini,” ucap Arumi.
Dokter itu menatap heran Arumi dan mencoba menenangkan Arumi yang terlihat begitu marah.
“Tolong tenang dulu, Ibu!” pinta Sang dokter.
Sang dokter pun meminta Arumi serta Herwan untuk ikut ke ruangannya.
__ADS_1
Arumi mengiyakan dan merekapun mengikuti Sang dokter pergi ke ruang dokter.