Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Asyila Ingin Kembali Berjualan


__ADS_3

Malam hari.


“Sudah jam 8, kenapa mereka belum juga pulang?” tanya Asyila yang saat itu tengah menunggu Abraham serta anak-anak d ruang tamu sembari menggendong bayi mungilnya.


“Syila, kenapa duduk disini?” tanya Arumi yang sedang melintas dan memutuskan untuk menemani putri dan juga cucunya.


“Asyila sedang menunggu Mas Abraham dan Anak-anak, sudah jam 8 mereka belum juga kembali,” terang Asyila.


“Kamu jangan terlalu panik, sebentar lagi mereka pasti akan kembali,” balas Arumi.


Baru saja Arumi selesai bicara, mobil Abraham tiba dan berhenti tepat diarea halaman rumah.


“Lihat, baru saja Ibu bilang. Sekarang pergilah menyambut Suamimu dan anak-anak, Akbar biar Ibu yang jaga!”


Asyila menyerahkan bayi mungilnya kepada Sang Ibu, kemudian ia bergegas menyambut suaminya serta anak-anak.


“Mas Abraham!” Asyila berlari kecil dan tak lupa mencium punggung tangan Sang suami yang baru saja pulang.


Abraham tersenyum dan memberikan kecupan mesra di kening Istri kecilnya.


“Kangen ya?” tanya Abraham.


Dengan malu-malu Asyila mengiyakan pertanyaan dari suaminya.


“Ayah, Bunda. Kahfi izin pulang, terima kasih Ayah sudah membelikan Kahfi banyak jajan,” ucapnya yang saat itu menenteng sebuah kantong plastik yang di dalam ada kotak berisi martabak manis.


“Ya ampun, kamu lucu sekali sayang,” ujar Asyila gemas melihat betapa pintarnya Kahfi berbicara.


“Iya sayang, mau Ayah antar?” tanya Abraham sambil menyentuh kepala Kahfi.


“Tidak usah, Ayah. Kahfi pulang, assalamu'alaikum.”


“Wa’alaikumsalam!”


Asyila melambaikan tangannya ke arah Kahfi yang perlahan meninggalkan halaman rumah.


Abraham dan Asyila akan masuk ke dalam rumah setelah Kahfi masuk.


“Pak Abraham, Asyila! Terima kasih atas martabak manisnya,” tutur Ema sembari melambaikan tangannya di depan pintu. Kemudian masuk ke dalam rumah.


“Ayo Mas kita masuk, udara malam ini sangat dingin.”


Abraham dan Asyila masuk ke dalan rumah sembari menggandeng tangan Ashraf.


Pak Udin tersenyum melihat keluarga kecil itu, kemudian ia duduk sembari bersandar di dinding.


“Pak Udin, kalau mengantuk langsung tidur saja yang di dalam. Malam ini saya tidak keluar,” ucap Abraham yang muncul di tengah pintu.


“Baik, Tuan Abraham,” jawabnya.

__ADS_1


Abraham kembali masuk ke dalam rumah dan bergegas menyusul Sang istri yang sudah berada di ruang makan untuk menikmati seblak yang ia beli.


“Wah, porsinya banyak juga Mas. Pokoknya Mas juga harus makan bersama Asyila,” tutur Asyila sambil menumpahkan seluruh seblak ke dalam mangkuk berukuran cukup besar.


“Iya, nanti kita makan bersama. Mas ke depan dulu ya.”


Abraham melangkah menuju ruang tamu untuk menemui Ibu serta Ayah mertuanya.


“Ayah, Ibu. Abrahah tadi membeli seblak, ayo kita makan seblak sama-sama!” ajak Abraham.


“Seblak? Boleh juga. Ayo Bu,” tutur Herwan mengajak istrinya menikmati seblak yang di beli oleh menantu mereka berdua.


***


Tengah malam.


“Oek... Oek... Oek...” Bayi mungil Abraham dan Asyila terbangun serta menangis dengan cukup kencang.


Abraham terkejut dan mencoba menggendong bayi mungil tersebut.


“Cup... Cup... Cup... Sayang, kenapa menangis?” tanya Abraham sambil menepuk lembut bokong bayi Ashraf.


Asyila ikut terbangun dan mencoba menenangkan bayi mungil mereka.


“Mas, biar bayi Akbar sama Asyila. Mungkin bayi kita haus makanya tiba-tiba rewel begini.”


Asyila mengambil bayi dan mencoba memeriksa popok bayi mungilnya itu.


“Sini ambil popok dan lainnya, biar Mas yang menggantikan popok Akbar!”


“Baiklah, Mas,” balas Asyila.


Asyila beranjak dari tempat tidur dan mengambil keperluan bayi mungilnya untuk mengganti popok baru.


Abraham tersenyum dan dengan telaten mengganti popok bayi mungil mereka.


“Terima kasih, Mas,” tutur Asyila pada suaminya yang telah selesai mengganti popok bayi mungil mereka.


“Tidak usah mengucapkan terima kasih, Mas senang kalau Syila juga senang,” tutur Abraham.


Asyila tersenyum manis mendengar perkataan suaminya dan perlahan merebahkan tubuhnya di samping bayi Akbar yang sudah tak menangis lagi.


“Sayang, haus ya?” tanya Asyila dan mulai menyusui bayi Akbar dengan sangat hati-hati.


Abraham bergeser mendekat pada istrinya dan merebahkan tubuhnya bersebelahan dan Sang istri.


Asyila tersenyum bahagia ketika salah satu tangan suaminya melingkar ke perutnya dan perlahan Asyila kembali tertidur dengan sangat nyaman.


Keesokan paginya.

__ADS_1


Asyila dan Arumi tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur, sementara Herwan tengah menjaga cucu keempatnya di ruang tamu.


“Ayah, Akbar biar Abraham saja yang gendong,” ucap Abraham yang baru saja tiba di ruang tamu.


“Tidak apa-apa, biar Akbar sama kakeknya dulu. Saat kami ke Jakarta, pasti kami akan merindukan bayi kecil ini,” tutur Herwan dan tertawa kecil.


“Baiklah, kalau itu mau Ayah,” balas Abraham dan kembali ke kamarnya karena ada beberapa urusan penting yang akan ia kerjakan.


Sesampainya di dalam kamar, Abraham langsung mengambil laptop miliknya dan mengeluarkannya dari tas laptop.


Kemudian, menyalakannya dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Selain itu, Abraham memutuskan untuk mencari tempat untuk menyumbangkan uang-uang milik Mbah Tedjo.


Dua jam kemudian.


Asyila menyusul suaminya yang berada di dalam kamar untuk mengajaknya sarapan. Abraham mengiyakan dan bergegas menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


“Mas, Syila mau aktif jualan lagi boleh?” tanya Asyila sembari menuruni anak tangga.


“Boleh,” jawab Abraham yang sama sekali tak melarang keinginan istri kecilnya itu.


“Terima kasih, Mas. Nanti siang Asyila akan meminta Dyah dan juga Ema untuk kemari,” tutur Asyila.


“Apapun yang Syila lakukan, Mas akan selalu mendukung,” ungkap Abraham.


“Berarti, kalau Asyila ikut membantu Mas Abraham menangkap orang-orang boleh dong?”


Abraham mengernyitkan keningnya dan dengan tegas melarang istrinya untuk melakukan hal yang jelas-jelas sangat berbahaya.


Asyila hanya bisa mengiyakan meskipun di dalam hatinya ia akan selalu membantu suaminya untuk menangkap orang-orang jahat.


Walaupun, tidak untuk dalam waktu dekat ini. Dikarenakan, Asyila masih punya bayi yang juga harus dijaga.


“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Arumi saat Abraham dan Asyila baru tiba di ruang makan.


Asyila hanya tersenyum dan mendaratkan bokongnya di kursi yang biasa ia duduki.


“Ashraf kemana, Ibu?” tanya Asyila karena tak melihat keberadaan putra keduanya.


“Biasalah, Ashraf main sama Kahfi di rumah sebelah,” jawab Arumi.


Asyila mengangguk kecil mendengar Jawa dari Ibunya.


“Nak Abraham harus makan yang banyak! Asyila juga, pokoknya harus makan yang banyak biar ASI nya lancar,” tutur Arumi.


“Baik, Ibu,” jawab Asyila.


Merekapun akhirnya sarapan bersama dan Abraham lah yang memimpin Do'a sebelum makan.

__ADS_1


Saat itu, bayi Akbar tidak berada bersama mereka. Herwan menaruh cucunya dikamar dan berharap cucu keempatnya itu tidak bangun terlalu cepat.


__ADS_2