Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Ketidaksukaan Ema Terhadap Salsa


__ADS_3

Pagi hari.


“Sayur mayur! Sayur mayur segar, monggo dibeli dijamin asli!” teriak penjual sayur.


Seorang tukang sayur tengah berteriak di depan gerbang menjajakan dagangannya. Ema yang kebetulan tengah bersantai di teras depan, memutuskan untuk melihat-lihat dagangan tukang sayur tersebut.


“Jualan apa Pak?” tanya Ema sambil melirik ke arah gerobak si penjual sayur.


“Tentu saja sayur, Mbak. Tidak mungkin saya menjual ponsel,” jawabnya bergurau.


“Bapak ini ya lucu, selain berjualan ternyata bisa melawak juga,” celetuk Ema sambil senyum-senyum.


“Ah Mbak ini bisa saja,” jawabnya.


Ema mendekat dan melihat-lihat sayuran yang menurutnya segar-segar.


“Belanja sayur juga mbak?” tanya wanita yang mirip dengan Asyila.


Ema menoleh dengan senyum manisnya. Akan tetapi, senyumnya langsung pudar ketika melihat wanita yang sama sekali tidak disukainya.


“Kalau bukan sayur ya apalagi?” tanya Ema yang terdengar sangat judes.


“Mbak jangan ngegas dong, saya'kan, cuma bertanya,” jawab Salsa yang terdengar sedikit angkuh dari cara bicaranya.


Ema menghela napasnya dan mendekat ke arah telinga Salsa.


“Dengar baik-baik, siapapun kamu sebenarnya dan dari mana asal kamu sebenarnya. Camkan baik-baik perkataan ku ini, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa memasuki kehidupan Pak Abraham.


Dan aku ada penghalang terbesar mu untuk masuk di dalam kehidupan keluarga Pak Abraham, ingat baik-baik ucapan ku,” tutur Ema dan setelah membisikkan kata-kata tersebut. Ema tersenyum manis dan membeli sayur bayam untuk ia masak.


Setelah membayar sayur bayam keinginannya, Ema kembali masuk ke dalam dengan memberikan tatapan sinis kepada Salsa.


“Orang baru ya mbak? Kelihatannya sangat dengan dengan Mbak tadi,” ucap tukang sayur kepada Salsa yang terus memandangi punggung Ema yang semakin menjauh.


“Kelihatan sekali ya Pak?” tanya Salsa dan tertawa kecil.


Sesampainya di dalam rumah, Ema langsung mendaratkan bokongnya di sofa sambil melipat kedua tangannya ke dada.


“Menyebalkan, kenapa wanita itu sangat persis dengan Asyila? Tidak akan aku biarkan dia masuk ke kehidupan suami dari sahabatku. Aku adalah penghalang terbesar bagi wanita itu,” ucap Ema yang ingin sekali menjambak rambut Salsa dengan penuh kekuatan.


“Ada apa, istriku? Kenapa pagi-pagi begini sudah mengomel?” tanya Yogi yang ikut duduk bersebelahan dengan sang istri dan bokongnya begitu dekat dengan bokong istrinya, Ema.


“Pagi ini adik baru saja melihat setan keluyuran di jalan. Rasanya, adik ingin mengirimnya ke neraka,” ucap Ema dan refleks memukul paha suaminya dengan cukup kencang.


“Aaakhhh!” teriak Yogi yang pahanya benar-benar sakit setelah dipukul oleh istrinya.

__ADS_1


“Haduh, maaf ya Mas. Mas juga sih yang salah, kenapa harus duduk dekat-dekat dengan Ema?” tanya Ema yang menyalahkan suaminya karena duduk berdekatan dengannya.


“Iya-iya, Mas yang salah,” balas Yogi mengalah daripada akan panjang ceritanya jika harus berdebat dengan istrinya.


Ema mengomel tak jelas dan semakin membuat Yogi bertanya-tanya mengenai istrinya itu.


Abraham dan kedua bocah sudah terlihat sangat rapi padahal mereka bertiga hanya ingin berenang.


“Kalian sudah siap?” tanya Yogi memastikan.


“Sudah, tinggal berangkat saja. Ya 'kan, anak-anak?” tanya Abraham.


“Iya dong!” seru keduanya secara kompak.


“Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mengambil baju salin dan ikut bersama kalian,” ucap Yogi.


Yogi berlari masuk ke dalam kamar dan mengambil satu setel pakaian yang sebelumnya sengaja ia tinggal karena sewaktu-waktu dapat digunakan dan ternyata bajunya itu pun berguna.


“Mau ikut?” tanya Yogi pada istrinya.


“Hhhmmm... Tidak usah, adik disini saja bersama Ayah dan Ibu,” jawab Ema yang terlihat masih sangat sebal.


“Adik yakin?” tanya Herwan memastikan.


Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, Abraham, Yogi dan kedua bocah kecil berangkat pergi ke kolam renang tanpa ditemani oleh Ema.


Ema dengan penuh semangat melambaikan tangan ke arah dua bocah yang tengah membalas lambaian tangannya.


“Kalian tidak boleh nakal!” teriak Ema dan kembali melambaikan tangannya.


Mobil pun akhirnya pergi menuju kolam berenang.


Beberapa saat kemudian.


Ema tengah bersantai-santai di kursi teras depan dengan dua potong rindu yang berada di piringnya.


Ketika Ema menoleh ke arah gerbang, samar-samar ia menangkap sosok Salsa yang tengah berdiri sambil terus memandanginya.


“Mau apa itu orang? Kenapa terlihat seperti orang ingin maling?”


Ema yang kesal pun terpaksa mendekat untuk segera menghampiri Salsa.


“Kamu ngapain berdiri disini?” tanya Ema sambil berkacak pinggang dengan sangat angkuh.


“Tidak apa-apa, maaf kalau apa yang saya lakukan membuat Mbak risih,” jawab Salsa yang terdengar begitu santai.

__ADS_1


“Kamu baru tahu bahwa kedatangan kamu itu membuatku risih?” tanya Ema sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Ma-maksud Mbak apa ya? Kenapa Mbak terlihat begitu tak menyukai saya?” tanya Salsa dengan wajah sedih.


“Ya. Saya memang tidak suka dengan kamu dan dengan kehadiran kamu ini. Sekarang, kamu pergi dari sini daripada aku berteriak tak jelas,” tegas Ema.


Salsa lagi-lagi memasang wajah memelas dan sebelum pergi, ia melirik tajam ke arah Ema dan Ema sangat jelas melihat bagaimana Salsa meliriknya dengan penuh amarah.


“Lihatlah! Sudah dipancing seperti itu saja, dia sudah kesal denganku. Aku tahu wanita-wanita seperti kamu itu hanya ingin mendekati Pak Abraham dan menarik simpati Pak Abraham agar bisa masuk ke dalam keluarga ini. Sekali lagi, tak akan pernah aku biarkan siapapun masuk ke dalam hidup Pak Abraham,” tegas Ema sambil terus menoleh ke arah Salsa pergi.


Ketika Ema membalikkan badannya ia tiba-tiba hampir saja terjatuh karena Ibu dari sahabatnya muncul begitu saja dibelakangnya.


“Astaghfirullahaladzim!” teriak Ema dan hampir membuat kehilangan keseimbangan.


“Kamu ini kenapa Nak Ema? Kenapa udah beristighfar saja seperti orang yang baru saja melihat hantu?” tanya Arumi terheran-heran.


“Hehe.. hehe.. Ibu jangan salah sangka dulu, Ema tadi sangat terkejut karena tiba-tiba Ibu muncul dibelakang Ema. Untung saja Ema tidak jatuh, hufftt... Untung saja,” terang Ema sambil mengelus-elus dadanya sendiri.


“Tadi Nak Ema berbicara dengan siapa? Kok dari kejauhan Ibu melihat Nak Ema seperti tengah berbicara dengan seseorang?” tanya Arumi memastikan, “Dan kenapa Nak Ema tidak ikut yang lainnya pergi berenang?” tanya Arumi lagi.


“Ibu tidak perlu banyak berpikir, ayo masuk ke dalam!” ajak Ema yang memilih mengajak Arumi masuk daripada harus mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa ia tak ikut serta pergi berenang.


Ema mengendus aroma gosong dan dengan cepat ia berlari ke dapur.


“Ya ampun, gosong,” ucap Ema setelah mematikan kompor yang masih menyala.


Arumi sangat terkejut ketika melihat dapur sudah dipenuhi dengan asap.


“Ya Allah, Ibu benar-benar lupa kalau sedang memasak dan malah jadi gosong seperti ini,” tutur Arumi menyalahkan dirinya yang sangat teledor.


Herwan datang karena mencium bau gosong padahal dirinya berada di halaman rumah paling belakang.


“Siapapun kemari!” panggil Herwan.


Beberapa detik kemudian, dua bodyguard masuk menghampiri Herwan di dapur.


“Tolong urus ini!” pinta Herwan dan membawa dua wanita itu ke luar rumah.


Herwan geleng-geleng kepala mengetahui bahwa masakan gosong tersebut adalah ulah istrinya.


“Dasar tua,” ledek Herwan pada Arumi.


“Enak saja, kalau Ibu tua. Mas juga tua,” balas Arumi yang juga tak mau kalah dari suaminya.


Keduanya terus saja berdebat mengenai umur dan Ema hanya bisa senyum-senyum menyaksikan keduanya yang menurutnya begitu lucu.

__ADS_1


__ADS_2