
Malam hari, di kota Bandung.
Hujan deras dan angin kencang tengah melanda Kota Bandung.
Ternyata, tidak hanya kota Bandung saja yang mengalami hujan deras dan angin kencang. Akan tetapi, hati Abraham juga merasakannya.
Abraham duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah luar rumah, biasanya sang istri lah yang melakukan kebiasaan seperti itu. Kemudian, dari belakang Abraham memeluk tubuh istrinya dan berkata kata-kata cinta yang akan membuat malam mereka penuh dengan cinta serta gairah.
Saat ini, Abraham hanya bisa menumpahkan kesedihan lewat air mata. Ia tidak ingin berteriak apalagi melampiaskan amarahnya dengan marah-marah tak jelas. Karena Ia tahu, bahwa sang istri tak menyukai hal-hal seperti itu.
Ketika Abraham sedang menangis, Abraham teringat sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan untuk sang istri.
Ia pun terdiam sejenak dan memutuskan untuk turun dari kamar menemui Fahmi dan juga Dyah yang saat itu tengah duduk di ruang keluarga.
“Paman,” ucap Dyah terkesiap melihat Pamannya datang menghampiri mereka berdua.
“Ada hal yang ingin Paman sampaikan,” tutur Abraham.
“Apa Paman?” tanya keduanya penasaran.
Abraham mendaratkan terlebih dahulu di sofa dengan wajah tanpa ekspresi.
“Besok sebelum Dzuhur, Paman ingin kita mengadakan Do'a bersama. Akan tetapi, Paman tidak ingin para tetangga tahu mengenai Aunty kalian. Kalau ada dari mereka yang mempertanyakan kemana pergi istri Paman, tolong jawab saja bahwa Aunty Asyila sedang pergi ke rumah saudaranya!” pinta Abraham yang masih belum siap untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada sang istri.
Dyah dan Fahmi memahami maksud dari perkataan Abraham. Mereka pun mengiyakan dan akan menuruti apa yang diperintahkan oleh Abraham kepada mereka.
Setelah mengatakan hal itu dan keduanya setuju, Abraham memutuskan untuk menyibukkan dirinya di dapur. Ia ingin makan dengan masakannya sendiri.
Dyah pun menyusul Pamannya dan menawarkan diri untuk memasak makanan keinginan Abraham. Akan tetapi, Abraham menolak dan meminta Dyah untuk meninggalkannya sendirian di dapur.
Dengan wajah sebal, Dyah mengiyakan perintah dari Pamannya.
“Ada apa?” tanya Fahmi ketika istrinya kembali duduk dengannya.
“Hmmm... Paman di dapur memasak sendirian. Maksud Dyah 'kan, baik Mas,” terang Dyah.
Fahmi tersenyum kecil dan menciumi kening istrinya.
“Sudah, tidak apa-apa. Seharusnya Dyah senang, Paman akhirnya memutuskan untuk makan. Meskipun, mengolah makanannya sendiri,” balas Fahmi yang kini tengah mengelus-elus perut Dyah yang membuncit.
“Ya ampun, kenapa Dyah tidak kepikiran ya?” tanya Dyah sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
Fahmi menoleh ke arah luar dan mengajak istrinya untuk segera tidur karena hujan semakin deras serta angin yang semakin kencang.
“Ayo tidur, hujan semakin deras dan angin semakin kencang. Tidak baik untuk anak kita,” ucap Fahmi sambil menyentuh perut istrinya.
“Baik, Mas,” jawab Dyah.
Keduanya bergegas masuk ke dalam kamar, terlihat sekali bahwa Fahmi melindungi istri dan calon buah hati mereka.
Tanpa mereka ketahui, Abraham tengah memandangi mereka berdua dan berharap kedepannya hubungan mereka terus langgeng sampai ke Jannah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
“Sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkan pasangan yang berselingkuh,” tegas Abraham yang masih teringat dengan pasangan selingkuh Calvin dan Anggraini.
Abraham masih sibuk mengolah masakannya. Malam itu, ia memutuskan memasak tumis sawi dengan bumbu pedas dan telur dadar balado.
Hampir 30 menit lamanya, masakan Abraham akhirnya siap untuk dinikmati.
Meskipun masakannya sudah siap untuk dinikmati, Abraham masih merasa ada yang kurang. Yaitu, kehadiran dari sang istri tercinta. Bertahun-tahun lamanya, Abraham selalu makan sepiring berdua dengan sang istri. Tak pernah sekalipun Abraham makan seorang diri dengan sang istri.
Sebelumnya, ia memilih tidak makan daripada tidak makan sepiring berdua dengan sang istri.
“Paman masak apa?” tanya Dyah tiba-tiba muncul dan hampir membuat wajah di tangan Abraham jatuh.
“Astaghfirullahaladzim, bagaimana bisa kamu muncul begitu saja?” tanya Abraham terheran-heran.
“Yeeaayyy, dari tadi Dyah berdiri disini. Paman saja yang kebanyakan melamun,” celetuk Dyah.
“Kamu mau juga? Panggil suamimu biar sekalian makan bersama!”
__ADS_1
Dyah mengiyakan dan memanggil suaminya begitu saja.
“Mas Fahmi!” panggil Dyah tanpa menghampiri suaminya.
“Dyah, tidak boleh seperti itu. Datangi suamimu dan ajaklah kemari,” tegas Abraham yang tak suka dengan cara Dyah memanggil suaminya.
Dyah merasa bersalah dan meminta maaf kepada Pamannya.
“Maaf ya Paman,” ucap Dyah.
”Jangan meminta maaf sama Paman. Mintalah maaf sama suamimu,” jawab Abraham.
Dyah tertunduk malu dan memutuskan untuk menyusul suaminya.
Dyah menghampiri suaminya yang baru saja dari kamar mandi dan memeluk tubuh seketika itu juga.
“Maafin Dyah ya Mas. Tadi Dyah kurang sopan memanggil Mas dan tidak menghampiri Mas ke kamar,” terang Asyila yang masih memeluk tubuh suaminya.
Fahmi mengernyitkan keningnya, ia benar-benar tak mendengar suara panggilan Dyah.
“Memangnya Dyah tadi memanggil Mas Fahmi?” tanya Fahmi.
“Mas Fahmi tidak dengar?” tanya Dyah memastikan.
“Tidak,” jawab Fahmi singkat.
“Intinya Dyah minta maaf dan Mas Fahmi harus memaafkan Dyah. Sekarang, kita ke ruang makan. Paman masak enak dan Dyah ingin makan masakan Paman,” terang Dyah.
Fahmi tertawa mendengar ucapan istrinya yang terdengar seperti memaksa.
“Mas Fahmi kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Dyah terheran-heran.
“Ada, istriku ini,” jawab Fahmi dan mencium sekilas bibir ranum sang istri.
Di ruang makan, Abraham telah mempersiapkan semuanya dan tinggal menunggu kedatangan sepasang suami istri yang masih di dalam kamar.
“Kalian ngapain saja? Ayo duduk dan nikmati masakan Paman!” ajak Abraham mempersilakan keduanya untuk segera duduk.
“Kamu kenapa?” tanya Abraham melihat wajah Fahmi yang malu-malu.
“Kalau tahu begini, seharusnya Fahmi langsung saja ke dapur membantu Paman memasak,” jawab Fahmi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Sudah, tidak apa-apa. Ayo pimpin Do'a!” pinta Abraham pada Fahmi.
Fahmi mengiyakan dan memimpin Do'a sebelum makan. Kemudian, tak menunggu lama merekapun makan malam bersama dengan hujan deras dan angin kencang.
Dyah dan Fahmi tanpa canggung menunjukkan kemesraan mereka selama di meja makan.
Abraham yang melihat mereka sama sekali tak terganggu. Justru, Abraham senang melihat keduanya yang selalu romantis seperti itu.
Tanpa sadar, Abraham tersenyum ketika membayangkan bagaimana dirinya dan sang istri bermesraan selama di meja makan dengan saling suap makanan satu sama lain.
Usai menikmati makan malam bersama, Fahmi mengambil alih untuk membersihkan bekas mereka makan dan meminta Abraham untuk tak melakukan apapun.
Abraham awalnya menolak, dikarenakan sudah menjadi kebiasaan untuk membersihkan meja dan mencuci alat makan.
Akan tetapi, setelah Fahmi bersikeras untuk melakukannya sendirian, Abraham pun mengalah dan masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di kamar, Abraham mengganti pakaiannya dengan piyama yang biasa ia kenakan. Kemudian, bersih-bersih sebentar di dalam kamar.
Barulah setelah itu ia tidur di ranjang yang menjadi tempat menumpahkan hasratnya bersama sang sang istri.
“Selamat tidur istri kecilku,” tutur Abraham sambil memandangi gambar diri istri kecilnya.
Abraham tersenyum dan menciumi bingkai foto istrinya. Sembari membayangkan kalau sang istri benar-benar ada dihadapannya.
Disaat yang bersamaan, Dyah dan Fahmi sedang bermesraan di dapur. Keduanya saat itu tengah berciuman dengan penuh cinta.
“Istriku yang cantik, ayo kita lanjutkan di dalam kamar!” ajak Fahmi.
__ADS_1
Dengan malu-malu Dyah mengiyakan ajak suaminya masuk ke dalam kamar.
Keesokan paginya.
Abraham keluar dari kamar dengan setelan rapi. Pagi itu, ia ingin pergi ke perusahaan bersama dengan Yogi dan akan pulang lebih awal untuk melakukan do'a bersama di rumah.
“Paman mau kemana? Bukankah sebelum Dzuhur kita akan mengadakan Do'a bersama?” tanya Dyah pada Abraham yang baru saja menuruni anak tangga.
“Iya, Paman tahu. Akan tetapi, saat ini Paman harus pergi dan akan segera kembali sebelum jam 10 pagi,” jawab Abraham.
“Paman yakin? Kenapa tidak ditunda saja perginya?” tanya Dyah dengan wajah kecutnya.
“Inginnya begitu, tapi ada masalah darurat di perusahaan dan harus Paman sendiri yang turun tangan,” jawab Abraham.
Mau tak mau akhirnya Dyah mengiyakan ucapan Pamannya.
“Ya sudah, Paman pergi dulu. Masalah makanan, Paman ingin Dyah dan Fahmi yang mengurusnya. Nanti, Paman akan mentransfer uang ke rekening Dyah,” ucap Abraham dan tak lupa mengucapkan salam sebelum meninggalkan rumah.
Dyah membalas ucapan salam dari Pamannya dan kembali masuk ke dalam kamar untuk memberitahukan suaminya agar segera mempersiapkan segala keperluan untuk Do'a bersama di rumah.
“Kamu diam saja di rumah, pagi ini aku pergi dengan Yogi,” ucap Abraham ketika Eko mendekat ke arahnya.
“Terus, saya ngapain disini Tuan Muda Abraham?” tanya Eko yang tak ingin bersantai-santai saja.
“Kamu sebaiknya diam saja di rumah, sebentar lagi Dyah dan Fahmi membutuhkan kamu untuk mengantarkan mereka berbelanja,” terang Abraham.
“Baik, Tuan Muda Abraham,” jawab Eko.
“Abraham!” panggil Yogi sambil mengangkat tangannya.
Abraham tersenyum dan menghampiri sahabatnya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Kedua pria itu pergi meninggalkan perumahan Absyil.
********
Dyah memanyunkan bibirnya karena Paman yang dinanti-nantikan belum juga datang.
“Sudah jam 10 lebih, kenapa Paman belum juga sampai?” tanya Dyah kesal.
“Sabar, sebentar lagi Pak Abraham pasti akan datang,” balas Ema yang turut hadir dalam Do'a bersama di rumah Abraham.
Hampir semua penghuni perumahan Absyil di undang ke rumah untuk melakukan do'a bersama.
Dan banyak dari mereka yang mempertanyakan keberadaan Asyila yang cukup lama tidak pernah terlihat.
Seperti yang sudah disepakati, Fahmi dan Dyah kompak mengatakan bahwa Asyila sedang pergi ke rumah saudaranya dan akan kembali dalam kurun waktu yang belum dapat dipastikan.
Selama ini, Yogi maupun Ema memilih bungkam mengenai Asyila. Mereka pun sepakat untuk tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada istri dari Abraham Mahesa itu.
Hal tersebut, dikarenakan keduanya tidak ingin menyakiti perasaan Abraham yang begitu menderita karena kehilangan belahan jiwanya.
“Alhamdulillah, karena Paman pulang,” ucap Dyah lega.
Abraham dan Yogi sama-sama turun dari mobil. Kemudian, keduanya masuk ke dalam rumah untuk melakukan do'a bersama.
Para wanita yang masih lajang dan ada beberapa yang berstatus janda, merasa tertarik dengan wajah Abraham.
Mereka menatap Abraham dengan penuh kekaguman dan membuat Abraham risih dengan tatapan tersebut.
“Maaf semuanya, kita disini akan melaksanakan Do'a bersama dan bukan mencari jodoh ya,” tegas Dyah yang tanpa rasa takut mengucapkan kalimat tersebut, “Apalagi memandangi lawan jenisnya secara intens seperti itu,” sambung Dyah yang merasa sangat marah dengan wanita-wanita yang memandangi Pamannya.
Enak saja memandangi Pamanku seperti itu. Perlu kalian tahu, yang berhak memiliki Pamanku seutuhnya hanyalah Aunty Asyila seorang.
Do'a bersama pun dimulai, Abraham memimpin Do'a dan meminta semuanya yang hadir untuk ikut mendoakan rumah tangannya.
Abraham sengaja tidak mengundang Ayah dan Ibu mertuanya. Bukan apa-apa, Abraham tidak ingin melihat wajah sedih dari kedua orang tua istrinya. Belum lagi, pertanyaan-pertanyaan dari buah hatinya yang membuat hatinya semakin sakit.
“Mama, kenapa Ashraf tidak kesini?” tanya Kahfi yang merindukan sahabatnya.
__ADS_1
“Ashraf di Jakarta sangat sibuk sayang, kalau sudah waktunya Ashraf pasti kemari dan bermain dengan Kahfi,” jawab Ema dan mencium kening buah hatinya.