Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Ulah Ashraf


__ADS_3

Abraham bersama Arsyad dan Ashraf tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Masjid melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Dari kejauhan Asyila terus memandangi punggung suaminya yang perlahan menjauh.


“Kasihan Mas Abraham, semoga saja nanti malam Mas bisa mendapatkan jatah,” ucap Asyila bermonolog dan menutup pintu rapat-rapat.


Asyila, Arumi dan Herwan melaksanakan sholat subuh berjamaah di rumah. Herwan masih belum mampu berjalan jauh dikarenakan kakinya masih belum gesit untuk melangkah.


“Ibu perhatikan dari tadi kenapa kamu senyum-senyum terus?” tanya Arumi penasaran.


“Memangnya Asyila dari tadi senyum-senyum terus ya Ibu?”


“Apa ada hal yang lucu, Nak?”


Asyila menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa tidak ada yang lucu. Tidak mungkin bagi Asyila mengatakan hal yang sebenarnya mengenai Suami serta putra kecilnya, Ashraf.


“Sudah mengobrol nya dilanjutkan nanti lagi, ayo kita sholat sekarang!” ajak Herwan.


***


Pukul 08.25 WIB.


Abraham menghentikan mobilnya tepat dikediaman mertuanya, sudah cukup lama ia tidak menginjakkan kakinya di rumah istri kecilnya dibesarkan.


Arumi masuk terlebih dahulu kemudian disusul oleh yang lainnya.


“Bunda, itu foto Ashraf 'kan?” tanya Ashraf sambil menunjuk ke arah bingkai foto miliknya yang saat itu tengah digendong oleh Neneknya, Arumi.


“Iya sayang, ini foto Ashraf saat berusia 1 tahun,” balas Asyila memperjelas usia putra kecilnya.


Ashraf menatap gambar dirinya dengan penuh kebahagiaan. Seakan-akan ia terpana dengan tubuhnya yang masih sangat kecil.


“Kalau yang itu Bunda?” tanya Ashraf sambil menunjuk ke arah foto bayi yang tengah digendong oleh Kakeknya, Herwan.


“Kalau itu foto Kak Arsyad saat berusia...” Asyila menggantungkan ucapannya sambil berpikir mengenai usia putra pertamanya, Arsyad.


“10 hari istriku,” sahut Abraham dan langsung diiyakan oleh Asyila.


Arumi pamit kebelakang dan Herwan pamit menuju kamarnya yang cukup lama tidak ia masuki.


Diruang tamu, tersisa Abraham, Asyila dan Ashraf yang masih sibuk melihat-lihat potret diri mereka di dinding.


“Ayah, kenapa rumah kita tidak ada foto?” tanya Ashraf membahas rumah yang di Bandung.


Abraham dan Asyila memang sengaja untuk tidak memasang foto mereka di dinding.


“Tidak sayang, kalau Ashraf mau melihat-lihat foto Ayah, Bunda, Kak Arsyad, Ashraf atau yang lainnya. Ashraf bisa melihatnya di album foto di bawah meja ruang keluarga,” jelas Abraham.


“Iya Ayah,” jawab Ashraf yang terdengar sangat menggemaskan.


“Mas, Asyila ke dalam dulu ya. Atau Mas mau lihat-lihat kamar kita dulu?” tanya Asyila.


“Boleh, ayo kalau begitu!” ajak Abraham sambil menggandeng tangan Ashraf dan merangkul pinggang Asyila dengan sangat erat.

__ADS_1


Ketika masuk ke dalam kamar, Abraham tiba-tiba tertawa. Sekilas Abraham teringat akan kejadian yang membuat dirinya malu bukan kepalang.


Asyila terheran-heran dan akhirnya mengerti maksud dari suaminya tertawa. Ia pun tertawa sambil melihat ranjang miliknya yang sebelumnya sudah diganti baru oleh Sang suami.


Ashraf menatap heran pada kedua orangtuanya. Ia yang tak mengerti apa-apa akhirnya tertawa kebingungan.


“Mas, hentikan!” pinta Asyila sambil memegangi perutnya.


Abraham tertawa sampai air matanya keluar, sungguh kejadian beberapa tahun yang lalu membuatnya sangat malu. Apalagi kedua mertuanya melihat ranjang istri kecilnya patah.


“Mau mengulanginya?” tanya Abraham sambil menghapus air matanya karena terlalu lama tertawa.


Asyila dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak, Mas. Kalau sampai ranjang ini benar-benar patah dan Ashraf melihatnya, sudah pasti dia akan bertanya banyak hal. Kita berdua pasti akan bingung menjawab pertanyaan dari Ashraf. Belum lagi jika Ayah dan Ibu meledek kita.”


“Tenang saja, Mas tadi hanya bercanda. Kalau benar patah sudah pasti Ayah dan Ibu akan mengomeli Mas,” sahut Abraham.


Ashraf tidak mengerti dengan perbincangan kedua orangtuanya, ia pun memilih untuk naik ke tempat tidur dan tak butuh waktu lama ia pun tertidur. Sebelum tertidur, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hingga sehelai rambut pun tak terlihat.


Abraham dan Asyila masih asik membahas kejadian lucu mereka. Sampai akhirnya mereka tersadar bahwa putra kecil mereka tidak berada disisi mereka.


“Asyila! Nak Abraham!” panggil Arumi dari luar pintu tanpa berniat untuk masuk ke dalam kamar.


Abraham dan Asyila kompak keluar kamar menghampiri Arumi yang memanggil mereka.


“Ema dan suaminya ada di depan, temui lah mereka! Ibu akan membuatkan teh untuk Ema dan suaminya,” tutur Arumi.


Abraham dan Asyila pun bergegas menghampiri Ema dan Yogi yang ternyata datang tanpa pemberitahuan.


“Ema, kenapa datang tidak bilang-bilang?” tanya Asyila sambil berjabat tangan dengan sahabatnya.


Abraham memeluk sahabatnya sekilas dan mempersilakan Sang sahabat untuk duduk.


“Kenapa hanya berdua saja?” tanya Abraham pada Yogi.


“Kahfi kebetulan sedang main bersama kedua neneknya,” balas Yogi sambil memandangi sekeliling ruang tamu, “Putramu yang kecil dimana?” tanya Yogi karena tak melihat batang hidung Ashraf.


Abraham dan Asyila tersadar ketika Ashraf tidak berada disekitar mereka.


“Biar Asyila saja yang mencarinya,” ucap Asyila dan bergegas masuk ke dalam untuk mencari putra kecilnya.


Arumi yang sedang mengaduk gula agar segera tercampur pada teh buatannya, terheran-heran melihat Asyila yang sibuk sendiri.


“Ada apa sayang?” tanya Arumi.


“Ibu, apakah tadi Ibu melihat Ashraf?” tanya Asyila yang mulai panik.


Arumi dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak. Ibu dari tadi tidak melihatnya. Bukankah Ashraf bersama kalian di dalam kamar.”


“Ashraf tidak ada di dalam kamar. Asyila pikir Ashraf keluar untuk menemui Ibu,” balas Asyila.


Arumi yang tak ingin melihat putri kesayangannya khawatir akhirnya ikut mencari. Bahkan, Arumi mencari didalam kamarnya akan tetapi, hasilnya nihil.


“Sebentar ya sayang, Ibu mengantarkan minuman ini terlebih dahulu,” tutur Arumi dan bergegas membawa nampan ke ruang tamu.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tamu, Arumi langsung menyuguhkan minuman teh buatannya dan permisi ke dalam.


Abraham terkesiap dan menyusul istri kecilnya yang belum juga datang. Abraham penasaran kenapa Sang istri belum juga datang bersama Ashraf.


“Mas, putra kita menghilang,” ucap Asyila panik.


“Hilang?” tanya Abraham yang masih tak percaya.


“Asyila sudah mencari kemana-mana. Tapi. tetap saja Ashraf tidak ada,” jelas Asyila.


Abraham seketika itu berlari keluar rumah dan berharap bahwa putra kecilnya bermain disekitar rumah mertuanya.


Ema dan Yogi pun penasaran mengapa Abraham terlihat sangat panik. Asyila pun datang dan memberitahukan kepada Ema dan Yogi bahwa Ashraf menghilang.


Mendengar kegaduhan, Herwan dengan langkah hati-hati keluar dari kamarnya dan terkejut ketika mengetahui bahwa salah satu cucu kesayangannya menghilang.


Beberapa saat kemudian.


Abraham meminta Asyila untuk mengambil ponselnya yang sengaja ia letakkan di kamar Sang istri. Tanpa pikir panjang, Asyila berlari mengambil ponsel suaminya.


Air matanya terus mengalir karena putra kecilnya menghilang.


“Ya Allah, Nak. kamu kemana sayang?” Asyila sangat ketakutan dan ia pun tidak bisa berpikir jernih.


Sesampainya di dalam kamar, Asyila segera mengambil ponsel Sang suami.


Ia pun tak sengaja menoleh ke arah ranjang tidurnya dan melihat selimut yang terbentang lebar. Namun, terlihat jelas bervolume.


Tanpa pikir panjang, Asyila menariknya dan seketika itu ia tertegun mendapati putra kecilnya tengah tertidur pulas.


“Mas! Ibu!” Asyila memanggil suami serta Ibunya, Arumi.


Ashraf yang tengah tertidur pulas terkejut dan bangun mendengar teriakkan Bundanya.


Abraham dan lainnya kompak berlari menghampiri Asyila yang baru saja berteriak. Kecuali, Herwan yang hanya bisa melangkah pelan karena belum mampu untuk berlari.


“Huwwwaaaa...” Ashraf menangis karena terkejut mendengar teriakkan Bundanya.


Disaat yang bersamaan, Abraham dan lainnya tiba di kamar Asyila.


“Ya Allah, Nak....” Abraham segera menggendong tubuh putra kecilnya ke dalam dekapannya.


Asyila pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan mereka semua yang mendengarkan ikut bernapas lega sekaligus tertawa karena ulah Ashraf, mereka semua panik.


“Maafkan Bunda ya sayang, Bunda tidak sengaja,” ucap Asyila sambil membelai lembut rambut Ashraf yang tengah digendong oleh Suaminya.


“Ashraf benar-benar menguji kita,” celetuk Arumi.


Ema dan Yogi saling tukar pandang sembari tersenyum. Sebelumnya mereka sangat panik mengetahui bahwa Ashraf menghilang dan rupanya, bocah kecil itu tengah tidur dengan seluruh tubuh yang ditutupi selimut.


“Lain kali kalau mau tidur bilang ya sayang!” pinta Abraham.


Ashraf mengangguk kecil dan perlahan ia berhenti menangis.

__ADS_1


Abraham 💖 Asyila


__ADS_2