Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Pelaku Teror Kembali Meloloskan Diri


__ADS_3

3 hari kemudian.


Arumi telah kembali ke rumah menantunya, kondisinya pun sudah sangat membaik dan sudah boleh menikmati makanan seperti biasanya. Ia bersyukur karena hanya dirinya yang memakan donat serta nasi kuning yang sengaja diracuni itu. Kalau saja yang lainnya ikut terkena, sudah pasti ia menyalahkan dirinya sendiri.


“Ibu mau ngapain di dapur?” tanya Asyila ketika melihat Ibunya memasuki dapur.


“Ibu ingin membuat makanan, kamu mau Ibu buatkan apa sayang?” tanya Arumi dan mengelus perut putri kesayangannya yang masih rata.


“Ibu sebaiknya berisitirahat saja atau bersantai-santai di ruang keluarga, urusan dapur biar Asyila saja yang menanganinya,” balas Asyila yang tak ingin jika Ibunya kelelahan karena harus banyak berisitirahat.


“Justru kamu sayang yang harusnya banyak istirahat, Oya kamu sudah memeriksa usia calon cucu Ibu?” tanya Arumi penasaran.


“Astaghfirullahaladzim, Asyila lupa Ibu. Asyila maupun Mas Abraham lupa kalau kami belum memeriksakan kehamilan Asyila ini,” jawab Asyila sambil menyentuh kepalanya.


“Kalau begitu, temui suamimu dan ajaklah suamiku ke rumah sakit!”


“Tapi, Ibu bagaimana?”


“Sudah, kamu tidak perlu memikirkan Ibu. Ibu sudah berpengalaman dalam urusan dapur dan banyak hal lainnya yang sudah Ibu lewati, kamu sekarang pergi dan temui suamimu. Kalian hari ini juga harus pergi ke rumah sakit, takutnya kalian lupa dan Ibu pun ikut lupa,” ucap Arumi sambil mendorong kecil tubuh putri kesayangannya agar segera menemui menantu idamannya.


Asyila masuk ke dalam kamar dan terkejut mendapati suaminya yang tengah berdiri.


“Mas Abraham!” teriak Asyila panik.


Abraham terkejut dan untungnya ia langsung berpegangan pada sisi meja.


“Astaghfirullahaladzim, Syila kenapa datang seperti hantu begitu?” tanya Abraham.


“Mas kenapa tadi berdiri seperti itu? Mas tahu 'kan, kalau hal yang seperti itu belum diperbolehkan oleh dokter Bayu?”


Seketika itu juga Asyila menangis dan memeluk tubuh suaminya. Dengan kesal, Asyila memukul dada suaminya yang telah membuatkan ketakutan sekaligus khawatir.


“Mas Abraham jangan melakukan hal seperti ini lagi, atau jangan-jangan Mas sudah seringkali melakukan hal seperti ini tanpa sepengetahuan Asyila?” tanya Asyila.


“Tidak, Mas melakukan hal ini baru sekali,” jawab Abraham yang terdengar sangat santai meskipun saat itu istri kecilnya menangis.


“Baru sekali? Itu artinya Mas Abraham akan mencoba terus menerus ketika Asyila tidak ada di rumah? Mas jahat, kalau begitu Asyila tidak akan memberi jatah Malam untuk Mas,” ancam Asyila sambil menggigit dada suaminya yang tertutup baju.


Bukannya sakit, Abraham malah tertawa lepas. Apa yang dilakukan istri kecilnya malah membuatnya geli.


“Mas, ayo ke rumah sakit. Asyila ingin tahu usia calon bayi kita!” ajak Asyila.


“Ya Allah, Mas lupa kalau seharusnya beberapa hari yang lalu kita memeriksakan kandungan Syila. Maaf ya istriku, tidak seharusnya Mas lupa,” ucap Abraham menyesal.


“Mas tidak perlu minta maaf, Asyila bahkan lupa kalau seharusnya kita dari kemarin-kemarin memeriksa kandungan Asyila,” jawab Asyila.


“Sekali lagi, Maaf. Kalau begitu, bantu suamimu ini ke kasur!”


Dengan hati-hati, Asyila membantu suaminya kembali merebahkan diri di tempat tidur.


Sebelum berangkat ke rumah sakit, Asyila lebih dulu menghubungi Dokter spesialis kandungan.

__ADS_1


“Bagaimana?” tanya Abraham ketika istri kecilnya meletakkan ponsel itu ke nakas.


Asyila menjelaskan dan akan tiba di rumah sakit sebelum jam 2 siang. Karena waktu masih sangat panjang, Asyila pun memutuskan untuk kembali membantu Ibunya di dapur.


“Siapa Mas?” tanya Asyila ketika baru ingin membuka pintu kamar, ponsel suaminya tiba-tiba berbunyi.


Abraham mengarahkan ponsel ke arah Asyila dan membuat Asyila mengernyitkan keningnya.


“Pak Dayat?” tanya Asyila penasaran dan bergegas mendekat ke arah Suaminya untuk mengetahui alasan dari Dayat menghubungi suaminya sepagi itu.


Abraham menerima sambungan telepon dan tak lupa mengucapkan salam.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, iya ada apa?”


“Wa'alaikumsalam, Tuan Abraham!”


Abraham dan Asyila saling tukar pandang, suara Dayat saat itu terdengar sangat panik seperti sedang terjadi sesuatu hal yang buruk.


“Ada apa, Dayat?” tanya Abraham penasaran.


“Celaka, Tuan Abraham. Orang-orang yang meneror Nona Asyila telah kabur, kami mendapat kabar bahwa salah satu polisi terkena luka tusuk karena ketiga pelaku teror itu. Untuk itu, kami sangat mengharapkan agar Anda dan keluarga untuk saat ini tetap berada di rumah. Secepat mungkin, kami akan mengirim orang-orang untuk sementara waktu berjaga di sekitar rumah sampai ketiga pelaku teror itu tertangkap,” terang Dayat.


Seketika itu juga, Abraham maupun Asyila lemas dibuatnya.


“Syila, tolong beritahu Ayah, Ibu, dan anak-anak untuk tetap di dalam rumah. Selama ketiga pelaku teror itu belum tertangkap, kita tidak boleh ke luar rumah dan untuk sementara waktu orang luar tidak boleh datang ke rumah. Kecuali, orang-orang yang bertugas untuk menjaga sekitar rumah kita,” tutur Abraham.


Asyila terlihat sangat ketakutan, ia tidak habis pikir dengan orang-orang jahat itu. Entah sampai kapan Asyila dan keluarganya akan hidup dalam ketakutan terus-menerus. Asyila sangat ingin hidup normal seperti kebanyakan orang. Akan tetapi, ada saja, orang-orang yang sengaja ingin mencelakakan keluarganya.


Asyila berjalan keluar kamar dan memanggil kedua orangtuanya serta kedua buah hatinya untuk berkumpul karena ada sesuatu hal yang penting.


Herwan dan Arumi menatap Asyila dengan penuh pertanyaan. Seperti ada sesuatu hal yang buruk tengah terjadi.


“Kenapa Bunda?” tanya Arsyad penasaran.


“Arsyad mau jadi anak penurut dan masuk surga?” tanya Asyila dan dengan cepat Arsyad mengiyakan, “Kalau begitu, Arsyad harus mendengarkan kata Bunda. Ini berlaku juga untuk Ashraf, kalian berdua tetap harus berada di dalam rumah. Toh, didalam rumah banyak mainan. Kalau kalian bosan, kalian masuk ke kamar dan tidurlah. Atau, kalian bisa belajar bersama-sama di ruang keluarga. Intinya, Bunda tidak ingin kalian ke luar rumah untuk sementara waktu, tolong patuhi perintah sekaligus permintaan Bunda ini!”


Arsyad dan Ashraf langsung mengiyakan, merekapun bergegas ke ruang keluarga untuk bermain ular tangga.


Setelah kedua bocah itu pergi, Arumi dan Herwan langsung menghujani berbagai pertanyaan yang intinya tetap sama, yaitu kenapa mereka harus tetap berada di dalam rumah?


“Sebenarnya, Asyila beberapa hari yang lalu mendapat teror dari orang jahat berupa pesan singkat. Pesan itu kebanyakan berisi tentang ancaman mengambil nyawa keluarga ini, Asyila sebelumnya menyimpan rapat-rapat hal ini. Akan tetapi, Asyila akhirnya memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Ayah dan Ibu pasti tahu mengenai luka punggung Asyila, luka itu sebenarnya disebabkan oleh orang yang mengirim pesan ancaman itu,” tutur Asyila sambil menahan air matanya, air mata ketakutan karena Kedua orang tuanya dan juga buah hatinya ikut menjadi korban kekejaman dari si pelaku teror.


“Setelah Asyila menceritakan hal itu, Mas Abraham langsung menghubungi Pak Dayat dan meminta Pak Dayat untuk melacak keberadaan pelaku teror lewat nomor telepon. Dan dalam waktu kurang dari 24 jam mereka akhirnya berhasil ditangkap, penangkapan itu sontak saja membuat Asyila maupun Mas Abraham senang sekaligus tenang. Akan tetapi, rasa senang dan ketenangan itu langsung hilang, ketika kami mendapat kabar bahwa pelaku teror yang jumlahnya sebanyak tiga orang berhasil kabur dan salah satu polisi kini dalam keadaan kritis, karena mendapatkan luka tusuk yang cukup banyak dari mereka,” terang Asyila dan kini menangis histeris.


Arumi dan Herwan benar-benar sangat terkejut, mereka tidak habis pikir dengan pemikiran orang jahat itu. Bagaimana bisa, mereka mengancam putri kesayangannya mereka dengan begitu keji.


“Tidak bisa dibiarkan, kalau sampai mereka kesini, Ayah akan langsung membunuh mereka,” ucap Herwan yang terlihat sangat marah. Sampai-sampai rahangnya terlihat mengeras dan urat-urat disekitar dahinya tercetak jelas.


“Ayah tidak boleh bicara seperti itu, tolong Ayah jangan terpancing emosi. Asyila tidak ingin Ayah maupun keluarga kita kenapa-kenapa. Jadi, untuk beberapa hari ke depan tetaplah di dalam rumah!” Asyila memohon dan berharap kedua orangtuanya menuruti permintaannya itu.


Arumi menarik tubuh putri kesayangannya ke dalam pelukannya, Ibu dan Anak itu menangis bersama-sama.

__ADS_1


Herwan akhirnya tersadar dan mengurungkan niatnya untuk menbunuh para pelaku teror.


“Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim.” Herwan berulang kali mengucapkan istighfar agar perasaannya kembali tenang.


Beberapa saat kemudian.


Para polisi yang bertugas menjaga kediaman Abraham akhirnya datang, mereka dengan sepenuh hati akan menjaga kediaman Abraham sampai ketiga pelaku teror tersebut berhasil ditangkap.


Pak Udin yang tidak tahu apa-apa, langsung berlari ketakutan masuk ke dalam rumah.


“Pak Udin, kenapa seperti habis melihat hantu?” tanya Herwan.


“Rumah ini sedang dikepung, Pak Herwan. Diluar banyak orang-orang berbadan tegap dengan senjata berdiri mengepung rumah ini. Ya Allah Gusti,” ucap Pak Udin ketakutan.


“Pak Udin tidak perlu takut, mereka semua adalah polisi yang bertugas menjaga rumah ini. Tolong Pak Udin jangan panik dulu ya!”


“Polisi? Menjaga rumah ini? Maksud Nona Asyila apa?” tanya Pak Udin yang terlihat kebingungan.


Asyila pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan setelah mendengar hal itu, Pak Udin langsung bergidik ngeri. Pak Udin terheran-heran dengan pemikiran orang-orang jahat itu, ia tidak habis pikir mengapa keluarga sebaik mereka selalu saja mengalami hal-hal di luar dugaan.


Ada saja yang ingin menjatuhkan dan mencelakakan mereka.


“Pak Udin sekarang diam saja di kamar, Pak Udin. Kalau Pak Udin lapar, langsung saja kemari. Diluar sudah ada yang menjaga dan insya Allah semuanya aman terkendali,” ucap Asyila.


Setelah mengatakan hal itu, Asyila bergegas masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Tidak seperti biasanya, kini hanya Abraham dan Asyila yang sholat di kamar mereka.


Sementara Arumi, Herwan dan kedua cucu mereka sholat diruangan khusus untuk sholat.


Usai melaksanakan sholat Dzuhur, Abraham dan Asyila memilih merebahkan tubuh mereka ditempat tidur.


“Ayo tidur, meskipun tidak nyenyak setidaknya kita harus berisitirahat. Terlebih lagi, Syila sekarang sedang hamil. Kasihan calon bayi kita,” ujar Abraham sambil menyentuh perut rata istri kecilnya.


Asyila terdiam dan memejamkan matanya.


Ya Allah, tolonglah kami. Jangan biarkan kami hidup dalam ketakutan seperti ini Ya Allah.


“Sudah, tidurlah. Tidak baik kalau Syila berpikir keras mengenai masalah ini, tolong jaga kondisi Syila dan juga calon bayi kita!” pinta Abraham dan mengecup pelan pipi istri kecilnya.


Keduanya kompak melafalkan Do'a sebelum tidur dan akhirnya mereka berdua tertidur dengan posisi saling memeluk.


Diruang keluarga, Arumi dan Herwan masih kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh putri kesayangannya mereka. Sesuatu hal yang bisa dikatakan sangat membuat siapapun yang mendengar dan mengalami akan sangat ketakutan.


“Mas, apakah ketiganya berhasil ditangkap?” tanya Arumi sambil memegangi tangan suaminya dengan sangat erat.


“Insya Allah, Mas juga sangat ketakutan sama seperti Ibu dan yang lainnya. Akan tetapi, kita harus percaya dan yakin bahwa Allah lah sumber penolong kita. Allah tidak tidur, semua ini Insya Allah dapat terlewatkan,” jelas Herwan.


Arsyad dan Ashraf yang sudah puas bermain, memilih untuk masuk ke dalam kamar. Sudah menjadi rutinitas mereka untuk selalu tidur siang.


“Nenek, temani!” pinta Ashraf yang terlihat sangat manja.


Arumi mengiyakan dan bergegas menuju kamar kedua cucunya kesayangannya.

__ADS_1


“Nenek, tidur disini ya!” pinta Ashraf setengah merengek.


Arumi dengan senyum manisnya mengiyakan dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Ashraf. Ukuran tempat tidur itu sangatlah besar, sehingga muat untuk tiga orang bahkan lebih.


__ADS_2