
“Sepertinya ada hal serius yang sedang diobrolkan, kalau boleh tahu apa?” tanya Arumi.
“Begini Ibu, insya Allah besok kita akan mengadakan acara di rumah ini. Bisa dikatakan acara ini dikhususkan untuk bayi Akbar, semacam aqiqah,” terang Abraham.
Arumi tersenyum lebar mendengar cucu keempatnya akan di aqiqah.
“Alhamdulillah, kalau begitu kita hari ini akan sibuk berbelanja,” balas Arumi.
“Ayah...” Arsyad mendekat pada Ayahnya dengan wajah sedih.
“Ada apa sayang? Kenapa wajahnya sedih begini?” tanya Abraham.
“Iya, apa Arsyad tidak senang?” tanya Arumi.
Arsyad dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Bukan itu. Tetapi, besok Arsyad sudah harus kembali ke pondok,” ungkap Arsyad yang kini menyembunyikan wajahnya di dada Sang Ayah karena ia tengah menangis.
Mata Abraham terbelalak lebar ketika mengingat bahwa besok adalah hari dimana Arsyad harus kembali ke pondok.
“Ya Allah, iya Nak. Besok sudah waktunya bagi Arsyad kembali ke pondok. Tenang ya sayang, Ayah akan mencoba menghubungi pihak pondok agar Arsyad kembali ke pondok besok lusa,” tutur Abraham.
“Jangan Ayah, besok Arsyad harus kembali ke pondok. Tidak apa-apa kalau Arsyad tidak bisa mengikuti acara adik Akbar,” tutur Arsyad.
Penuturan Arsyad seketika itu juga membuat yang lainnya menoleh ke arah Arsyad dengan sangat serius.
“Arsyad, kalau Arsyad mau tetap disini sampai lusa, Ayah tidak masalah. Ayah hanya tinggal menghubungi pihak pondok dan insya Allah pihak pondok memakluminya.”
“Jangan Ayah. Arsyad juga harus belajar,” balas Arsyad.
“Arsyad yakin mau belajar? Tidak sedih karena harus kembali ke pondok?” tanya Abraham memastikan.
“Arsyad pasti sedih, Ayah. Tapi, Arsyad juga harus kembali karena harus patuh dengan peraturan di pesantren,” jawab Arsyad.
Abraham kembali memeluk putra sulungnya yang sangat bijak.
“Masya Allah, ini baru cucu Kakek,” sahut Herwan.
“Cucu Nenek juga dong!” seru Arumi.
Ashraf memanyunkan bibirnya sembari melipat kedua tangannya ke dada.
“Kak Arsyad disayang, Ashraf tidak,” celetuk Ashraf dengan wajah ekspresi wajah kesal.
Mengetahui Ashraf cemburu dengan Kakaknya, mereka pun tertawa.
“Sini sayang, siapa yang bilang kalau Ayah tidak sayang dengan Ashraf? Ayah sayang sama anak-anak Ayah. Begitu pun dengan Bunda yang menyayangi kalian semua. Kalau Bunda mengetahui Ashraf sedih karena ini, pasti Bunda juga ikut sedih. Ashraf mau Bunda menjadi sedih lagi?” tanya Abraham.
Ashraf dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak mau, Bunda harus bahagia terus,” balas Ashraf.
“Kalau begitu, Ashraf tidak boleh mengatakan kalimat seperti tadi.”
“Maaf, Ayah,” tutur Ashraf.
Arumi tersenyum melihat wajah cucunya dan memutuskan untuk sibuk di dapur.
“Ibu mau kemana?” tanya Yeni.
“Mau menyiapkan makan siang,” jawab Arumi.
__ADS_1
“Ayo, Bu. Saya juga mau menyiapkan makan siang,” sahut Yeni sembari beranjak dari duduknya.
“Dyah ikut!”
“Dyah, kamu diam disini saja. Lihat itu Asyila masih ingin bermain dengan Mamanya.”
“Iya deh, Dyah disini.”
Arumi dan Yeni pun bergegas pergi ke dapur.
“Ternyata Asyila sudah masak, ada ayam goreng, oseng tempe, perkedel dan ikan goreng,” tutur Arumi ketika melihat hidangan di meja.
“Sepertinya kurang lengkap, Bu,” sahut Yeni.
“Terus, apa yang lengkap?”
“Sambal bawang,” jawab Yeni.
“Ya ampun, Ibu sampai lupa. Baiklah, Ibu yang akan membuat sambal bawang.”
“Saya yang menyiapkan bahan-bahannya ya Bu.”
“Terima kasih, Mbak yeni.”
Beberapa saat kemudian.
Di dalam kamar, Asyila tengah mengganti popok bayi mungil. Setelah itu, Asyila kembali menyusui bayi Akbar yang terlihat sangat haus.
“Tok... Tok...”
“Ini Ibu, Nak. Ayo turun, kita makan siang bersama-sama!” ajak Arumi tanpa membuka pintu kamar Putrinya.
“Iya, Ibu. Sebentar lagi Asyila menyusul!” seru Asyila.
“Ya sudah, Ibu tinggal ya.”
“Iya, Ibu!”
Asyila tersenyum dan kembali fokus menyusui bayi mungilnya.
Ema kemana ya? Kenapa belum datang juga, padahal aku sangat merindukannya.
Asyila teringat tertawa kecil ketika mengingat kelakuan ceroboh sahabatnya itu.
“Semoga saja Ema tidak lagi ceroboh seperti dulu,” tutur Asyila bermonolog.
Keluarga yang lainnya sudah berkumpul di ruang makan, hanya kurang Asyila saja yang belum berkumpul.
“Maaf semuanya,” tutur Asyila dan mendaratkan bokongnya di kursi kosong samping Sang suami.
“Karena sudah lengkap, ayo kita makan!” ajak Arumi.
“Arsyad, pimpin Do'a sebelum makan ya!” pinta Abraham.
Arsyad mengiyakan dan dengan serius melafalkan niat do'a sebelum makan.
Usai makan siang bersama, mereka pun kembali berkumpul dan kini mereka berkumpul bukan lagi di ruang tamu. Melainkan, di ruang keluarga sembari menonton acara kartun kesukaan anak-anak.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum!”
“Assalamu’alaikum!”
Fahmi mengernyitkan keningnya ketika samar-samar ia mendengar suara orang yang tengah mengucapkan salam. Tak ingin mati penasaran, ia pun bergegas ke ruang depan untuk melihat memastikan bahwa pendengarannya masih normal.
“Wa’alaikumsalam, ternyata kalian. Mari masuk!” Fahmi dengan senyum lebarnya mempersilakan keluarga kecil Yogi untuk segera masuk ke dalam.
“Wah, sepertinya di dalam sangat ramai ya. Itu bukannya mobil Pak Abraham yang di Jakarta ya? Apa Pak Herwan dan Ibu Arumi di dalam?” tanya Ema panjang lebar.
“Hhmmm.. Mbak Ema bisa lihat sendiri di dalam,” jawab Fahmi yang tidak ingin memberitahukan bahwa ada Asyila di dalam. Hal tersebut, karena Fahmi ingin memberi kekuatan kepada Ema dan keluarga kecilnya.
Kahfi dengan semangat masuk ke dalam untuk bertemu dengan Arsyad serta Ashraf.
“Kahfi!” Arsyad dan Ashraf dengan semangat menyambut kedatangan Kahfi yang baru saja tiba di ruang keluarga.
melihat putra kecil dari sahabatnya, Ema. Asyila terkesiap dan meminta suaminya untuk menggendong bayi mereka agar Asyila lebih mudah menyambut kedatangan sahabatnya itu.
Baru saja Ema melangkah masuk ke ruang keluarga, ia tiba-tiba terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Matanya terbelalak lebar melihat wanita dihadapannya yang tengah tersenyum lebar ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ema!” sapa Asyila sambil melambaikan tangannya ke arah Ema.
Masih masih terdiam dan mulutnya menganga lebar dibalik kedua telapak tangannya.
“As-asyila?”
“Iya, Ema. Ini aku Asyila,” jawab Asyila dan perlahan menghampiri Ema yang berdiri mematung dengan tatapan penuh keterkejutan.
Ema masih saja tertegun, sampai akhirnya Asyila tersenyum dan memeluk sahabatnya.
“Ini aku Asyila, Ema. Kenapa kamu diam saja?”
Perlahan Ema mengedipkan matanya dan di beberapa detik kemudian, ia menangis histeris.
“Hiks... Hiks... Asyila. Kamu benar Asyila ku. Kamu kemana saja? Hiks.. hiks...” Ema menangis sembari membalas pelukan sahabatnya.
Melihat kedekatan dua wanita yang saling berpelukan itu, yang lainnya pun menangis terharu. Mereka sangat salut dengan persahabatan Asyila dan Ema yang kental seperti darah.
“Kamu jahat, bagaimana bisa kamu menghilang dan kami mengira kalau kamu sudah meninggal. Kamu jahat,” ucap Ema yang tentunya ucapan tersebut bukanlah ucapan kebencian.
“Aku tidak bermaksud melakukan hal itu, Ema.”
“Pokoknya kamu jangan kemana-mana, kalau kamu ingin keluar ajaklah aku. Kalau kamu bosan, kamu panggil lah aku. Aku pasti akan datang untuk mengusir kebosanan mu. Intinya, kamu jangan menghilang lagi dan tetaplah bersama kami,” ungkap Ema yang tak ingin kehilangan sahabatnya lagi.
“Aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap bersama denganmu dan yang lainnya,” balas Asyila.
Keduanya menangis dengan saling berpelukan.
Sementara Arsyad, Ashraf dan juga Kahfi malah fokus menonton kartun kesukaan mereka.
“Lihat mereka bertiga, para orang tua sedang menangis terharu. Mereka bertiga malah santai menonton televisi,” ucap Dyah sambil menyeka air matanya.
Abraham ❤️ Asyila
Like ❤️ komen 👇 Vote ❤️
__ADS_1