
Hujan deras tiba-tiba turun bercampur dengan angin kencang.
Membuat Asyila tak tenang karena yang berada di dalam rumah hanyalah dirinya dan juga bayi mungilnya.
“Ya Allah, Mas Abraham dan yang lainnya saat ini pasti berada di Masjid. Ya Allah, redakan sejenak hujan ini agar Mas Abraham serta yang lainnya bisa pulang ke rumah,” tutur Asyila sembari memeluk bayi mungilnya yang agak rewel.
Asyila mencoba menenangkan bayi mungilnya dan tiba-tiba suara gemuruh terdengar dengan cukup keras.
“Mas Abraham!” Asyila terkejut karena tiba-tiba suaminya masuk ke dalam kamar dengan kondisi basah kuyup, “Mas menerjang air hujan?” tanya Asyila dan meletakkan bayi Akbar seketika itu.
“Mas terlalu khawatir, jadinya tak peduli dengan hujan Mas langsung pulang ke rumah. Meskipun, harus basah kuyup seperti ini,” terang Abraham.
Asyila tersentuh dengan tindakan dari suaminya yang memilih kehujanan daripada membiarkan istri serta bayi mereka diam rumah sendirian.
“Sekarang Mas mandilah, Asyila tidak ingin Mas sakit. Ayah, Ibu, Ashraf dan Bela apakah masih disana?” tanya Asyila sambil memberikan handuk kepada suaminya.
“Tentu saja, mereka masih di Masjid. Ada beberapa bodyguard juga yang berada di Masjid,” ungkap Abraham.
Abraham kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Asyila menyiapkan pakaian untuk suami tercintanya itu.
Tak butuh waktu lama, Abraham pun selesai membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar sempurna di pinggang Abraham.
“Sekarang Mas cepat pakai baju, Asyila tidak ingin sampai Mas Abraham masuk angin. Hujan kali ini benar-benar menakutkan,” tutur Asyila.
Sebelum mengenakan pakaian yang sebelumnya telah disiapkan oleh Asyila, Abraham lebih dulu mengucapkan terima kasih. Walaupun hanya kata terima kasih, akan tetapi itu bisa membuat Asyila bahagia mendengarnya.
Setelah Abraham mengenakan piyama yang sama dengan istri kecilnya, pria itu memutuskan untuk berbaring menemani Sang istri yang tengah menyusui bayi mereka.
Baru saja Abraham berbaring, tiba-tiba suara putra kedua mereka terdengar dan memanggil mereka berdua.
“Ayah! Bunda!” panggil Ashraf dengan terus mengetuk-ngetuk pintu orangtuanya.
Abraham seketika itu terkesiap dan bergegas membukakan pintu untuk Ashraf.
“Ashraf kenapa hujan-hujanan begini, ayo masuk ke kamar!” Abraham menuntun putra keduanya masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mandi.
“Ayah, mandikan Ashraf!” pinta Ashraf.
Abraham tak bisa menolak, saat itu juga ia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh putra keduanya bersama Sang istri tercinta.
Tak butuh waktu lama, Abraham dan Ashraf keluar dari kamar mandi. Ashraf menggigil kedinginan, untungnya Asyila telah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Ashraf.
“Sini Ayah pakaikan,” ucap Abraham sambil menggandeng tangan Ashraf membawanya mendekat ke pakaian piyama yang telah disiapkan oleh Asyila.
Abraham membantu Ashraf mengenakan pakaiannya, sementara Asyila telah terlelap lebih dulu.
“Nenek, Kakek dan Kak Bela apakah kehujanan?” tanya Abraham pada Ashraf yang telah selesai mengenakan pakaian piyamanya.
“Iya, Ayah. Kami semua kehujanan. Ayah, malam ini Ashraf tidur sama Ayah dan Bunda ya!” pinta Ashraf sambil memasang wajah memelas agar Ayahnya segera menyetujui keinginannya itu.
Abraham terdiam sejenak dan menoleh ke arah istri kecilnya yang ternyata sudah terlelap.
“Lihat Bunda, Bunda sudah tidur. Sebaiknya Ashraf tidur dikamar Ashraf sendiri ya,” balas Abraham dan berharap agar Ashraf tak jadi tidur bersama mereka.
Ashraf menundukkan kepalanya dan tiba-tiba menangis dengan suara yang sakit kecil.
Abraham yang mendengar suara tangisan dari putra keduanya itu akhirnya mengiyakan.
“Sudah jangan nangis, Ashraf boleh kok tidur disini sama Ayah dan Bunda,” tutur Abraham sambil menyeka air mata putra keduanya, Ashraf.
Ashraf mendongakkan kepalanya dengan senyum manisnya. Kemudian, cepat-cepat naik ke tempat tidur untuk segera bergabung dengan Bundanya tercinta.
“Sssuuttt, pelan-pelan sayang. Adik bayi masih tidur disitu, biar Ayah yang pindahkan Adi bayi terlebih dulu,” ujar Abraham dan dengan hati-hati menggendong bayi mungilnya. Kemudian, meletakkannya ke ranjang bayi mungilnya.
****
Asyila terbangun dari tidurnya dan entah kenapa ia merasakan sesak napas yang begitu berat.
Ya Allah, kenapa tiba-tiba sesak nafas begini? 😭
Wanita muda itu menoleh sejenak ke arah jam dinding yang ternyata masih menunjukkan pukul 23.10 WIB.
__ADS_1
“Sebaiknya aku keluar mencari udara segar,” tutur Asyila bermonolog.
Asyila mengenakan hijabnya dan melangkah mendekati pintu dengan sangat hati-hati. Sampai akhirnya ia berhasil keluar dan kini sudah berada di teras depan rumah.
Beberapa bodyguard ternyata masih berjaga-jaga dan entah kenapa Asyila malah berjalan hingga keluar dari gerbang rumah.
“Nona Asyila mau kemana?” tanya salah satu bodyguard yang ternyata mengikuti Asyila.
“Saya ingin mencari udara segar saja disekitar sini, tolong jangan ikuti saya!” pinta Asyila.
“Tetapi,....”
“Saya tidak kemana-mana, hanya disini saja. 10 menit lagi saya akan masuk ke dalam,” ucap Asyila.
Bodyguard itu undur diri dan kembali berjaga-jaga di sekitar area rumah.
“Udaranya lumayan segar setelah turun hujan,” tutur Asyila dan menghirup udara segar dengan begitu semangat.
Ketika Asyila tengah berjalan-jalan sedikit menjauh dari area rumah, samar-samar ia mendengar suara teriakkan wanita.
“Tolong! Tolong!” Suara teriakkan itu nyaris tak terdengar oleh Asyila.
Asyila panik dan berlari secepat mungkin mengikuti instingnya yang memang cukup kuat.
“Hai, siapa kalian?” tanya Asyila dengan berteriak ketika melihat dua orang pria yang akan menodai seorang wanita muda yang usianya jauh sekitar 17 tahunan.
Asyila sangat terkejut melihat wanita yang sudah berada di atas tanah dan akan dinodai oleh kedua pria yang bisa dikatakan masih remaja.
“Kamu jangan ikut campur urusan kami, sekarang kamu pergilah!” teriak salah satu dari mereka yang terlihat tengah dipengaruhi oleh alkohol.
Saat Asyila ingin mendekat, tiba-tiba sebuah mobil datang dan seketika itu membawa masuk wanita malang tersebut. Ternyata tidak hanya wanita itu saja, Asyila bahkan dibawa masuk oleh mereka.
Asyila sama sekali tak memberontak, justru Asyila berpura-pura terlihat lemas agar Asyila tahu kemana merek akan membawa dirinya pergi.
Bodyguard yang sebelumnya berbicara kepada Asyila, merasa ada yang tidak beres. Karena sudah satu jam lamanya, Nona nya itu tak kunjung masuk ke dalam.
Karena tak ingin sesuatu hal buruk terjadi, bodyguard itu memutuskan untuk menyusul istri dari Tuannya, Abraham Mahesa.
Bodyguard itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ia pun berlari mencari ke sekitar. Akan tetapi, Asyila tak kelihatan batang hidungnya.
Bodyguard itu panik dan meminta rekannya yang lain untuk segera menemukan keberadaan Asyila. Akan tetapi, setelah setengah jam lamanya Asyila tidak dapat ditemukan.
“Kalian teruslah mencari, aku akan melaporkan hal ini kepada Tuan Abraham!”
Pria muda bernama Alif, berusia 28 tahun terlihat begitu panik. Tidak seharusnya ia menuruti perintah dari Asyila kalau tahu akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini.
“Assalamu’alaikum, Tuan Abraham! Tuan Abraham!” Alif terus memanggil Tuannya agar pintu tersebut segera dibuka.
Pintu akhirnya terbuka, akan tetapi yang membuka bukanlah Abraham. Melainkan, Herwan Ayah mertua dari Abraham Mahesa.
“Ada apa malam-malam begini kamu memanggil Nak Abraham?” tanya Herwan yang belum sepenuhnya sadar karena baru saja bangun dari tidurnya.
“Maafkan saya, Pak Herwan. Saya tidak pantas dimaafkan, Nona Asyila saat ini menghilang,” ucap Alif yang mengakui kesalahannya.
“Apa?” Herwan terkejut dan seketika itu juga ia berlari ke arah kamar menantunya untuk memastikan apakah yang dikatakan oleh Alif adalah kebenaran.
Herwan mengetuk pintu kamar Abraham berulang kali dan memanggil-manggil menantunya agar segera keluar dari kamar.
“Nak Abraham! Nak Abraham!” panggil Herwan yang tak sabaran.
“Ada apa Ayah?” tanya Abraham sambil mengucek matanya sendiri.
“Asyila mana?” tanya Herwan.
“Itu, ada di dalam,” jawab Abraham sambil menoleh ke arah ranjang tempat tidur, “Asyila tidak ada Ayah,” imbuh Abraham.
“Sekarang ayo kita cari Asyila!” ajak Herwan panik.
“Memangnya Asyila kemana Ayah?” tanya Abraham yang belum mengerti maksud dari ajakan Ayah mertuanya itu.
“Untuk lebih jelasnya, Nak Abraham tanyakan sendiri pada Alif.
__ADS_1
Abraham mulai panik dan tanpa pikir panjang lagi, dirinya melenggang pergi untuk menemui Alif, salah satu bodyguard-nya.
“Alif, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Abraham.
Arumi serta Bela pun akhirnya terbangun karena mendengar suara teriakkan dari Herwan.
“Tua Abraham, semua ini salah saya. Sekitar jam 10 tadi, Nona Asyila keluar dari gerbang rumah dan saya pun menghampiri Nona Asyila. Saat itu saya berniat untuk menemani Nona Asyila karena saya tidak ingin Nona Asyila kenapa-kenapa. Akan tetapi, Nona Asyila memerintahkan saya untuk masuk karena Nona Asyila mengatakan bahwa ia hanya sebentar saja dan hanya 10 menit saja berada di luar gerbang. Saya pun mengiyakan dan kembali berjaga-jaga,” terang Alif merasa bersalah.
Rasa takut Abraham kembali muncul, begitu juga rasa takut dari kedua mertuanya.
Mereka tidak ingin hal-hal buruk kembali terjadi kepada Asyila.
“Kalian carilah kembali, bagaimanapun istriku harus segera ketemu!” tegas Abraham.
Kepala Abraham tiba-tiba pusing dan tubuhnya seketika itu menjadi lemas tak berdaya. Ia jatuh begitu saja dan dengan cepat Herwan membantu Menantunya untuk bangkit.
“Tidak!” teriak Abraham.
Teriakkan Abraham membangunkan Ashraf dan juga bayi Akbar. Keduanya menangis seketika itu juga.
“Astaghfirullahaladzim!” Arumi terkejut dan segera berlari menuju kamar Asyila serta menantunya.
Bela pun ikut berlari mengikuti Arumi yang lebih dulu berlari menuju kamar Asyila dan Abraham.
“Hiks... Hiks...” Ashraf menangis karena terkejut dengan teriakkan Ayahnya, Abraham. Begitu juga dengan bayi mungil yang berada di ranjang bayi.
“Cucu Nenek tidak boleh menangis,” ucap Arumi yang lebih dulu menggendong bayi mungil tersebut.
“Ashraf jangan nangis,” ucap Bela mencoba menenangkan Ashraf agar segera menghentikan tangisannya.
“Bunda mana?” tanya Ashraf yang tak melihat sosok Bundanya.
Bela bingung harus menjawab apa, karena yang ia dengar bahwa Asyila saat itu tengah menghilang.
“Ashraf jangan nangis lagi, malu sama adik bayi. Bunda sedang ada urusan, sebentar lagi pulang,” tutur Arumi yang terpaksa berbohong.
Bela tahu bahwa Arumi berbohong, akan tetapi ia hanya bisa diam karena jika sampai Ashraf tahu, Ashraf pasti akan terus menangis.
Abraham masih belum tenang, ketakutannya kini semakin besar. Ia sangat tahu kejadian pahit yang menimpa istri kecilnya kembali terulang lagi.
“Ya Allah, ujian apalagi ini? Kenapa lagi-lagi seperti ini?” tanya Abraham.
Beberapa saat kemudian, Alif serta rekannya kembali tanpa membawa Asyila. Yang artinya Asyila benar-benar telah menghilang.
Abraham tak bisa menahan tangisnya, ia menangis dan pikirannya menjadi buntu.
Alif merasa sangat bersalah, ia tidak seharusnya menuruti perintah dari Asyila.
Seharusnya ia tetap berdiri di dekat istri dari Tuannya itu, agar kejadian buruk itu tak terjadi lagi.
“Kamu mau kemana Nak Abraham?” tanya Herwan ketika Abraham tiba-tiba bangun dari sofa.
“Abraham ingin mencari Asyila, bagaimanapun Asyila harus Abraham temukan. Abraham tidak ingin kejadian menyedihkan itu kembali terulang. Tolong jaga anak-anak!” pinta Abraham.
“Ayah ikut,” ucap Herwan yang ingin ikut mencari putri kesayangannya.
“Ayah sebaiknya diam di rumah saja,” balas Abraham yang ingin mencari istri kecilnya seorang diri.
Abraham berlari keluar rumah dan meminta salah satu bodyguard nya untuk mengambil kunci mobil. Kemudian, ia masuk ke dalam mobil dan mengemudikan seorang diri.
Saat itu, Pak Udin maupun Eko tidak ada di pos penjagaan. Mereka berdua sedang ada urusan, sehingga mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Asyila.
“Alif dan Agus pergilah ikut menantuku!” perintah Herwan.
Alif dan Agus mengiyakan perintah Herwan. Kemudian, mereka pergi dengan menggunakan kendaraan roda dua untuk mengikuti kemana Tuan mereka pergi.
Herwan berharap bahwa putri kesayangannya tidak mengalami hal sulit seperti sebelumnya.
Ia berserah diri, meminta pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang maha pengasih.
Abraham terus saja mengemudikan mobilnya ke tempat yang menurutnya sepi dan juga rawan kejahatan. Pria itu sangat berharap bahwa istri kecilnya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1