
Pagi hari.
Abraham sedang berada di kamarnya seorang diri, dikarenakan Sang istri tengah sibuk menyiapkan sarapan bersama Ibu mertuanya di dapur.
Melihat kondisinya yang masih saja berada di kursi roda, membuat Abraham mulai jenuh. Ia ingin kembali seperti sediakala dan jika dihitung-hitung sudah lebih dari 3 bulan lamanya.
“Aku tidak bisa seperti ini terus. Ya Allah, bantulah hamba dan tunjukkan kuasa-Mu Ya Allah!” pinta Abraham sambil menengadah tangannya tinggi-tinggi.
Abraham dengan hati-hati menggerakkan kakinya, ia terus mencoba dan terus mencoba untuk bisa menginjakkan kakinya ke lantai. Setelah perjuangan yang cukup menyakitkan, Abraham pun berhasil menginjakkan kakinya ke lantai.
Pria itu berharap, istri kecilnya tidak cepat-cepat kembali ke kamar sebelum Abraham bisa menggerakkan kakinya.
“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah bantulah hamba,” ucap Abraham dengan penuh keyakinan.
Langkah awal yang Abraham ambil adalah berdiri terlebih dahulu. Ia ingin mengetahui seberapa kuat dan lama untuk kakinya lurus tegak.
Abraham bisa merasakan kakinya gemetaran karena berusaha untuk berdiri, akan tetapi Abraham tak menyerah begitu saja. Ketika ia sudah berhasil berdiri, Abraham perlahan mengangkat kakinya dan mulai melangkah dengan cara menyeret kakinya terlebih dahulu.
Upaya tersebut ternyata berhasil, Abraham sama sekali tak merasa sakit. Justru, keinginan untuk dapat berjalan segera mungkin semakin besar.
Abraham terus menyeret kakinya dan perlahan mengangkat kakinya sedikit demi sedikit. Senyum Abraham seketika itu mengembang sempurna, ia bersyukur dan sangat yakin bahwa sebelum 6 bulan ia sudah bisa berjalan normal seperti biasanya.
“Sayang, jangan lari-lari!” perintah Asyila.
Abraham yang mendengar suara Sang istri seketika itu seperti orang kenakan jenggot, ia bingung harus melakukan apa?
“Mas Abraham, ayo sarapan!” ajak Asyila sambil membuka pintu dan menemukan suaminya yang sudah duduk di kursi roda.
Abraham berusaha mengatur napasnya dan bertingkah seperti tak terjadi apa-apa.
“Mas kenapa bisa di kursi roda?” tanya Asyila kebingungan.
“Bukankah Syila tadi yang sudah membantu Mas duduk di kursi roda?” tanya Abraham balik sambil menatap heran ke arah istri kecilnya.
“Hhhmmm.. Mas jangan berbohong dengan Asyila, Asyila ingat kalau Mas tadi masih berbaring di tempat tidur,” terang Asyila.
“Baiklah, Maaf karena telah berbohong. Kebetulan kursi roda ada didekat tempat tidur dan Mas iseng-iseng mencoba untuk duduk sendiri.”
Asyila tak bertanya lagi, ia hanya diam dan membawa suaminya keluar kamar untuk segera mengisi perut bersama.
“Jangan ngambek seperti itu,” ucap Abraham.
“Asyila tidak ngambek, Mas. Mas pun sudah mengerti jelas apa yang ada di dalam pikiran Asyila, tanpa harus Asyila menjawabnya,” balas Asyila.
Di ruang makan, ternyata semuanya sudah berkumpul untuk menikmati sarapan bersama.
“Selamat pagi, Nak Abraham!” sapa Arumi.
“Pagi juga, Ibu!” seru Abraham.
“Ayah, besok antar Arsyad ke sekolah ya!” pinta Arsyad.
__ADS_1
“Insya Allah, Ayah yang akan mengantarkan Arsyad,” balas Abraham.
“Sudah bosan ya diantar oleh Bunda?” tanya Asyila.
Arsyad menggelengkan kepalanya,“Bunda juga ikut,” balas Arsyad.
“Sudah jangan mengobrol di hadapan makanan, ayo kita sarapan bersama! Arsyad yang pimpin do'a sebelum makan ya!” pinta Arumi.
“Baik, Nek,” balas Arsyad dan mulai memimpin Do'a sebelum makan.
****
Sore hari.
Abraham memiliki kesempatan untuk melatih kakinya, dikarenakan Sang istri sore itu tengah keluar bersama buah hati mereka ke tempat saudara jauh Arumi.
Abraham tidak ingin melewati kesempatan itu, perlahan ia kembali turun dari tempat tidur dan selangkah demi selangkah berjalan menuju tembok di hadapannya.
“Masya Allah, Allahuakbar!”
Pria itu terus melangkah dengan penuh semangat, ia benar-benar puas dengan hasilnya.
Pelan tapi pasti, Abraham sudah bisa menyeret kakinya lebih dari 5 meter di dalam kamarnya.
Beberapa saat kemudian.
Abraham mulai kelelahan, kakinya pun perlahan menimbulkan rasa sakit. Ia akhirnya berisitirahat dan memutuskan untuk melanjutkan latihannya besok pagi.
Disaat yang bersamaan, Abraham sudah tiba setelah mengunjungi saudara jauh dari Ibunya yang baru saja melahirkan.
“Sayang, masuk kamar dan jangan lupa mandi!” perintah Asyila pada Arsyad dan Ashraf.
Keduanya dengan semangat berlari kecil masuk ke dalam kamar. Sementara Asyila, berjalan menuju kulkas dan meletakkan sayuran yang ia beli ketika sedang dalam perjalanan pulang.
“Banyak sekali sayurannya, kamu beli dimana sayang?” tanya Arumi ketika melihat belanjaan putri kesayangannya yang cukup banyak.
“Kebetulan saat perjalanan pulang, Asyila melihat tukang sayur lewat dengan menggunakan motor. Terus, Asyila mampir karena ingat stok di kulkas tinggal sedikit, Ibu.”
“Ya sudah, kamu sekarang mandi! Suamimu pasti sudah menunggu kamu di dalam kamar,” ucap Arumi.
Asyila menepuk dahinya sendiri dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar setelah selesai menata sayuran di dalam kulkas.
“Mas Abraham...” Asyila masuk ke dalam kamar dengan memanggil suaminya.
Wanita muda itu hanya bisa garuk-garuk kepala melihat suaminya yang masih tidur nyenyak.
“Mas, ayo bangun! Ini sudah jam 5,” ucap Asyila yang terpaksa harus membangunkan suaminya.
Abraham menggeliat dan tersenyum tipis sambil menarik tubuh istri kecilnya ke atas tubuhnya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Abraham.
__ADS_1
“Mas menunggu Asyila? Maaf ya Mas, perjalanan ke rumah Bude lumayan jauh,” balas Asyila.
“Ditinggal beberapa jam saja sudah membuat suamimu rindu, Syila tahu 'kan, rindu itu berat?”
Asyila terkekeh geli sembari memukul pelan dada suaminya.
“Asyila juga keluar karena ada kepentingan dan Mas juga mengizinkannya,” terang Asyila.
“Baiklah. Tadi, Syila sudah sholat?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah sudah, Mas. Sama anak-anak juga,” jawab Asyila dan perlahan turun dari tempat tidur.
Asyila berjalan menuju almari pakaian dan mengambil pakaian santainya. Kemudian, Asyila bergegas mengganti pakaiannya tersebut.
“Mas, Asyila mau buat tempe goreng. Mas mau?” tanya Asyila yang tengah menyisir rambutnya yang panjang.
“Apapun yang Asyila buat, Mas tentu saja dengan senang hati memakannya,” jawab Abraham.
“Baiklah, kalau begitu Asyila mau ke dapur dulu. Mas mau ikut?”
“Hmmm... Sebaiknya Mas di dalam kamar saja,” balas Abraham.
Asyila mengangkat kedua alisnya dan bergegas keluar dari kamar.
Tidak biasanya Mas betah di dalam kamar, biasanya kalau aku keluar untuk memasak, Mas Abraham pasti ikut.
Di dapur ternyata sudah ada Arumi yang saat itu tengah merebus jagung manis yang dibeli oleh Asyila.
“Ibu merebus jagung?” tanya Asyila.
“Kok kamu bisa tahu?” tanya Arumi terheran-heran.
“Bau harum dari rebusan jagung tercium, Ibu. Aromanya membuat Asyila lapar,” jawab Asyila sambil menyentuh perutnya.
“Memang tempat bude tadi tidak makan?” tanya Arumi.
“Tidak, Ibu,” jawab Asyila singkat.
Arumi menghela napasnya, saudarinya itu memang sangat cuek terhadap keluarga kecilnya.
“Pasti tadi tidak ditawarkan makan ya?” tanya Arumi.
Asyila geleng-geleng kepala dan mengatakan bahwa dirinya lah yang masih kenyang.
“Tidak perlu kamu berbohong, Ibu sudah tahu sifat budemu itu. Dari dulu 'kan, bude kamu tidak suka dengan kita, terlebih lagi setelah kamu menikah dengan Nak Abraham. Ibu berharap, kedepannya bude mu insyaf dan bisa menerima kita. Sangat beda dengan pakde mu yang begitu baik,” jelas Arumi.
“Ibu, sudah tidak baik bicara seperti itu. Asyila sekarang ingin membuat tempe goreng, Ibu mau membantu Asyila?” tanya Asyila.
“Tentu saja, kalau begitu Ibu yang membuat bumbunya dan kamu yang mengiris tempenya!”
“Baik, Ibu!” seru Asyila dan segera mengambil tempe yang sudah jadi di dalam kulkas. Kemudian, mengirisnya menjadi beberapa irisan tipis agar renyah ketika dimakan.
__ADS_1