Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Sahur Pertama Penuh Dengan Makna


__ADS_3

Tak terasa waktu mengobrol sudah sangat lama dan waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB.


Sudah waktunya bagi mereka untuk tidur karena beberapa jam lagi mereka akan menikmati makan sahur bersama.


Abraham lebih dulu beranjak dari sofa untuk melihat apakah Ashraf dan juga Bela sudah tidur apa belum.


Sementara Asyila, serta kedua orangtuanya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.


“Alhamdulillah, ternyata mereka berdua sudah tidur,” ucap Abraham ketika melihat keduanya dari balik pintu.


Setelah memastikan keduanya tidur lelap, Abraham pun berlari kecil untuk menyusul Sang istri tercinta.


“Apakah anak-anak sudah tidur, Mas?” tanya Asyila pada suaminya yang baru saja memasuki kamar.


“Alhamdulillah sudah, Mas sedikit tak menyangka melihat kedekatan keduanya. Asyila tahu sendiri, kalau Ashraf susah didekati,” terang Abraham.


“Iya Asyila tahu, memangnya ada apa sampai membuat Mas Abraham berkata seperti itu?” tanya Asyila penasaran yang saat itu tengah menyisir rambutnya yang hitam panjang.


“Tadi Mas melihat bahwa Ashraf dan juga Ashraf tidur bersama,” jawab Abraham.


Asyila terkejut dan seketika itu menoleh ke arah suaminya.


“Benarkah?” tanya Asyila memastikan.


“Tentu saja, sebelumnya Mas mengira kalau mereka berdua tidak bisa akur.”


“Masya Allah, ini tentu saja kabar baik,” tutur Asyila dengan senyum manisnya.


Abraham mendekat, lalu mendekap erat tubuh istri kecilnya dengan penuh cinta.


“Mas, ayo tidur. Sudah jam segini, Asyila takut malah kita susah bangun,” ucap Asyila mengajak suaminya untuk bergegas tidur.


“Baiklah, Mas Mas ganti pakaian dulu,” balas Abraham sembari melepaskan dekapannya.


“Asyila langsung ngambil air wudhu kalau gitu ya Mas.”


“Ok, siap Nyonya Abraham!”


Asyila terkekeh geli dan membaringkan tubuhnya di tempat untuk segera beristirahat.


Kemudian, Abraham masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu.


Usai mengambil air wudhu, Abraham pun bergegas menuju tempat tidur dan memejamkan matanya seketika itu juga dengan memeluk tubuh istri kecilnya dari belakang.


Asyila tersenyum dan merasa sangat nyaman bila dipeluk oleh Sang suami dari belakang.


“Tidurlah yang nyenyak istriku, besok kita akan sahur bersama dan setelah itu suamimu ini tidak akan bisa mengganggu istriku ini, sampai waktunya kita berbuka puasa,” terang Abraham berbicara ditelinga istri kecilnya.


“Mas juga harus tidur,” balas Asyila yang terlihat sangat nyaman berada di dekapan suaminya.


Beberapa jam kemudian.


Abraham dan Asyila masih saja tertidur, keduanya terlihat begitu nyaman satu sama lain.


Cinta keduanya semakin besar dan semakin besar, meskipun waktu terus saja berjalan.


“Tok... Tok... Tok!!” Suara pintu diketuk berulang kali.


“Bunda, Ayah. Ayo bangun kita sahur bersama!” panggil Ashraf yang terus mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya.


Panggilan Ashraf belum juga dijawab, itu artinya kedua orangtuanya belum juga bangun.


“Ayah! Bunda!” panggil Ashraf setengah berteriak dan semakin keras mengetuk pintu kamar keduanya orangtuanya.


Panggilan Ashraf kali ini terdengar oleh Asyila dan seketika itu juga Asyila terbangun dari tidurnya.


“Iya sayang, Bunda sudah bangun!” seru Asyila yang belum sepenuhnya sadar.


“Iya Bunda,” jawab Ashraf dan setelah itu dirinya pergi menjauh dari kamar kedua orangtuanya.


Asyila terduduk dan bersandar di kepala ranjang. Kemudian, ia mencoba membangunkan suaminya yang masih saja terlelap.


“Mas, bangun! Ayo sahur!” Asyila menggoyangkan tubuh suaminya berulang kali, akan tetapi suaminya enggan untuk bangun.


Karena suaminya belum juga bangun, Asyila pun memakai cara yang efektif. Yaitu, menciumi bibir suaminya berulang kali dan apa yang dilakukannya pun berhasil.


“Istri genit,” ucap Abraham yang masih memejamkan matanya.


“Ya mau bagaimana lagi, habisnya Mas Abraham susah sekali dibangunkan. Giliran dicium saja, langsung bangun,” sahut Asyila yang wajahnya begitu dekat dengan wajah suaminya.


Abraham perlahan membuka matanya dan menatap lekat sepasang mata indah milik istri kecilnya.


“Masya Allah,” ungkap Abraham dengan tatapan takjub.


Asyila pun menjadi salah tingkah karena ucapan dari suaminya.


“Mas, ayo bangun. Ashraf dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita. Dan satu lagi, Asyila juga harus menyusui bayi Akbar terlebih dahulu,” tutur Asyila sembari menoleh ke arah bayi mungil mereka yang tengah terlelap di ranjang bayi.


“Masih ada waktu untuk kita bermesraan sejenak, sini peluk suamimu dengan erat!” Abraham menarik tubuh istri kecilnya dan mendekapnya dengan sangat erat.


“Uhuk... Uhuk... Mas mau Asyila pingsan gara-gara sesak napas?” tanya Asyila terbatuk-batuk.


Abraham seketika itu melonggarkan dekapannya dan meminta maaf atas apa yang baru saja ia lakukan terhadap Sang istri tercinta.

__ADS_1


Asyila memaafkan suaminya dan memutuskan untuk mandi agar tubuhnya bisa segar kembali.


“Tunggu, ayo mandi bersama!” pinta Abraham yang ingin mandi bersama istri kecilnya.


“Ya sudah, ayo kita mandi bersama!” seru Asyila dan keduanya pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi bersama.


Beberapa saat kemudian.


Abraham dan Asyila akhirnya tiba di ruang makan. Saat itu, Asyila tidak mengenakan hijab miliknya dikarenakan rambutnya masih basah dan hanya keluarga inti saja yang berada di ruang makan.


Sementara Pak Udin, Eko dan para bodyguard menikmati sahur di pos penjaga milik Pak Udin.


“Bela makan yang cukup ya, Bela puasa penuh atau puasa setengah hari?” tanya Asyila pada Bela.


“Insya Allah Bela puasa penuh Aunty. Tapi, sebelumnya Bela tidak pernah puasa. Apakah perut Bela nanti sakit?” tanya Bela penasaran.


“Sekalipun?” tanya Arumi yang benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bela.


“Bapak sama Ibu juga tidak pernah puasa, kata Bapak sama Ibu kalau kita puasa, perut kita akan sakit dan cepat mati,” jawabnya dengan begitu polos.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Arumi serta yang lainnya.


“Orang tua kamu itu sebenarnya manusia apa bukan? Kenapa ajaran mereka seperti bukan orang Islam,” celetuk Arumi yang sangat geram dengan kedua orang tua Bela.


“Sssuutt... Jangan berkata yang tidak baik seperti itu,” tutur Herwan mengingatkan istrinya.


“Lalu, harus berkata yang seperti apa, Mas? Kenyataannya memang mereka mengajarkan hal sesat seperti itu kepada putri mereka,” sahut Arumi yang terpancing emosi.


“Ibu, tolong jangan berkata seperti itu. Biar Asyila menjelaskan baik-baik makna dari berpuasa di bulan Ramadhan kepada Bela,” tutur Asyila dengan lembut.


Arumi menghela napasnya dan berusaha untuk menstabilkan emosi dalam dirinya.


“Bela sayang, apa yang dikatakan oleh Bapak dan Ibu Bela bukanlah hal yang tepat. Puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib dan tidak menyebabkan sakit perut, justru kita akan mendapatkan pahala,” terang Asyila perlahan-lahan agar Bela mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istri dari Abraham Mahesa tersebut.


“Pahala itu apa, Aunty?” tanya Bela penasaran karena belum tahu arti dari kata pahala.


“Pahala adalah ganjaran baik dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia di dunia ini. Pahala tidak hanya didapatkan dari kita berpuasa saja. Berkata baik, jujur, bersedekah serta perbuatan lainnya itu semua akan mendapatkan ganjaran baik berupa pahala. Akan tetapi, kalau kita melakukan sebaliknya kita akan mendapatkan dosa,” ungkap Asyila.


“Dosa itu apa Aunty?” tanya Bela semakin penasaran.


“Dosa adalah perbuatan yang melanggar hukum Allah serta Agama. Seperti yang Aunty jelaskan tadi, kalau kita berbuat atau melakukan hal baik kita akan mendapatkan pahala. Akan tetapi, kalau kita melakukan hal buruk dan tidak baik kita akan mendapatkan dosa,” jawab Asyila.


“Itu artinya, Bela melakukan hal dosa ya Aunty karena tidak pernah puasa?” tanya Bela.


“Bela sayang, kalaupun kita melakukan dosa baik yang disengaja ataupun tidak. Kita seharusnya bertaubat dan meminta maaf kepada Allah, Insya Allah dosa kita diampuni asal kita bersungguh-sungguh bertaubat,” ungkap Asyila.


“Apa sama seperti neraka dan surga?” tanya Bela sekali lagi.


“Bela mau tahu lebih banyak?” tanya Asyila penasaran.


“Kalau Bela mau tahu lebih banyak, sebaiknya kita sahur dulu. Aunty akan memberitahukan semampu Aunty dan kalaupun Aunty tidak tahu, Aunty akan menanyakan kepada orang yang lebih paham mengenai pertanyaan Bela.”


“Baik, Aunty,” balas Bela.


Asyila tersenyum dan menoleh ke arah suami serta kedua orang tuanya.


Disaat itu juga, mereka bertepuk tangan karena takjub dengan apa yang dijelaskan oleh Asyila.


“Masya Allah, istriku ini luar biasa hebat,” puji Abraham di depan kedua mertuanya, Ashraf dan juga Bela.


“Mas, hentikan. Ayo kita sahur!”


Asyila menunduk malu atas tepuk tangan serta pujian dari suaminya.


Abraham tertawa kecil dan meminta putra keduanya untuk memimpin Do'a niat puasa.


Ashraf yang sudah hafal pun tanpa rasa malu mulai memimpin Do'a dan diikuti oleh kedua orangtuanya, Kakek Neneknya serta Bela.


***


Usai sahur bersama, Arumi serta Asyila menyibukkan diri di dapur. Sementara Abraham dan Herwan berbincang-bincang di ruang tamu seperti biasanya.


“Ashraf ayo kita nonton televisi!” ajak Bela.


Ashraf mengiyakan dan keduanya pun bergegas menonton televisi yang kebanyakan menanyakan acara mengaji.


“Asyila sayang, pergilah ke kamar. Coba tengok itu cucu Ibu, siapa tahu bangun,” tutur Arumi.


“Sebentar ya Ibu, Asyila selesaikan dulu menyusun alat makan ini ke dalam rak piring,” balas Asyila.


“Tidak perlu, Asyila tinggalkan saja. Lagipula ini tinggal sedikit, cepat tengok cucu Ibu!” perintah Arumi yang tidak bisa ditunda lagi.


“Baiklah, Bu. Asyila ke kamar dulu,” balas Asyila yang tak ingin jika Ibunya terus saja meminta dirinya untuk menengok bayi mungilnya.


Asyila berjalan menuju kamarnya dan ternyata apa yang dikatakan oleh Ibunya memanglah benar. Bayi mungilnya bangun dan untungnya tidak menangis.


“Kesayangan Bunda ternyata sudah bangun, ayo kita keluar sayang. Kak Ashraf dan juga Kak Bela pasti sedang menonton televisi, ayo kita temani mereka,” tutur Asyila dan dengan hati-hati menggendong bayi mungilnya. Kemudian, membawa bayi mungilnya ke ruang keluarga.


Di ruang keluarga, ternyata ada Arumi yang baru saja selesai beres-beres dapur.


“Benar 'kan, apa yang Ibu katakan. Sini, biar Ibu saja yang menggendong Akbar!”


Asyila tersenyum dan memberikan bayi mungilnya ke pangkuan Ibu tercintanya.

__ADS_1


“Aunty, kenapa anak kecil itu bisa hafal Al-Qur'an?” tanya Bela sambil tangannya menunjuk ke arah televisi yang saat itu tengah menayangkan acara seorang anak yang umurnya sekitar 6 tahun sudah hafal Al-Qur'an.


“Baiklah, Aunty akan menceritakan bagaimana orang-orang bisa menghafal ayat-ayat kita suci Al-Qur'an,” balas Asyila.


Asyila menjelaskannya dengan sangat hati-hati, apa yang pernah ia pelajari ia sampaikan kepada Bela. Ashraf ikut menyimak apa yang dikatakan oleh Bundanya, begitu juga dengan Arumi yang terlihat sangat serius dengan apa Asyila katakan.


Arumi merasa sangat bangga karena putri tunggal kesayangannya, lumayan banyak memahami mengenai ajaran agama Islam.


Beberapa saat kemudian.


Suara adzan subuh berkumandang yang artinya waktu subuh sudah tiba.


Abraham, Herwan dan Ashraf pun bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.


Kini, hanya ada Arumi, Asyila, bayi mungil dan juga Bela yang berada di dalam rumah.


Meskipun begitu, mereka melaksanakan sholat subuh berjama'ah di rumah.


“Sayang, Bunda sholat dulu ya. Akbar jangan nangis, ok!”


Asyila perlahan kembali meletakkan bayi mungilnya di ranjang bayi dan bergegas melaksanakan sholat bersama Ibu serta gadis kecil tersebut.


Usai melaksanakan sholat subuh, Asyila memutuskan untuk membaca kitab suci Al-Qur'an bersama dengan Ibunya, Arumi. Sementara Bela yang baru belajar membaca iqro, hanya duduk terdiam sambil mendengarkan ayat-ayat suci yang dilantunkan oleh Asyila maupun Arumi.


Tak terasa matahari mulai terbit, Asyila dan Arumi akhirnya menyudahi membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Mereka baru menyadari bahwa Bela tertidur dengan posisi duduk.


“Biar Ibu saja yang membangunkan Bela,” tutur Arumi ketika Asyila ingin membangunkan Bela.


Baru saja Arumi menyentuh pundak Bela, tiba-tiba gadis kecil itu terbangun dengan setengah terkejut.


“Maaf, tadi maksud Nenek ingin membangunkan Bela dan malah Bela terkejut karena ulah Nenek,” tutur Arumi meminta maaf.


Bela hanya tersenyum dan memutuskan untuk keluar dari kamar Asyila.


“Ibu juga mau keluar, sebentar lagi mereka pulang.”


“Iya, Ibu.”


Arumi beranjak dari duduknya dan masih mengenakan mukena. Kemudian, ia keluar dari kamar putri serta menantu idamannya itu.


Beberapa menit kemudian, Abraham pun tiba dan masuk ke dalam kamar.


“Kenapa Mas baru pulang?” tanya Asyila karena saat itu matahari sudah cukup terang.


“Tadi Mas sempat mengobrol dengan Bapak-bapak di masjid,” jawab Abraham apa adanya.


“Memangnya, Mas mengobrol apa saja dengan mereka?” tanya Asyila penasaran.


“Sebenarnya Mas lebih banyak diam, hanya saja mereka banyak bertanya. Seperti masalah perusahaan, apalagi ya.. Mas sedikit lupa karena mereka cukup banyak bertanya,” jawab Abraham apa adanya.


Asyila menghela napasnya dan memutuskan untuk tak lagi bertanya.


Ashraf tiba-tiba masuk ke dalam kamar orangtuanya dan merebahkan dirinya di tempat tidur.


“Bunda, tadi Ashraf jatuh,” ucap Ashraf.


“Jatuh dimana sayang?” tanya Asyila yang terlihat khawatir.


“Jatuh di depan, tapi tidak apa-apa,” jawab Ashraf.


“Apakah ada yang terluka?” tanya Asyila.


Ashraf dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Bunda, Ashraf ngantuk. Puk-puk!” pinta Ashraf dan menepuk pelan bokongnya berulang kali.


Asyila terkekeh dan perlahan menepuk-nepuk bokong putra keduanya agar segera tidur.


Abraham terkejut melihat bagaimana Ashraf begitu manjanya dengan istri kecilnya itu.


“Agak kuat Bunda!” pinta Ashraf.


“Sayang, ini saja menurut Bunda sudah cukup kuat,” tutur Asyila.


Ashraf tertawa kecil dan perlahan ia pun terlelap.


“Kalau dilihat-lihat, perilaku Ashraf sama persis dengan Mas. Manjanya juga iya, benar-benar Ayah dan Anak,” tutur Asyila.


“Ya mau bagaimana lagi, namanya juga Ayah dan Anak,” balas Abraham membela diri.


Abraham tersenyum manis dan keluar dari kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Asyila memanyunkan bibirnya karena Sang suami tiba-tiba keluar begitu saja.


“Ciee... Cemberut,” ucap Abraham yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamar.


Asyila terkejut dan hampir saja membuat bantal melayang ke wajah suaminya.


“Tidak kena,” celetuk Abraham yang berhasil menangkap bantal yang baru saja dilempar oleh Asyila.


Abraham ❤️ Asyila

__ADS_1


Like ❤️


__ADS_2