Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Salah Sasaran


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan oleh keduanya, Asyila dan Ema setelah melaksanakan sholat subuh mereka berdua bersama-sama pergi ke pasar. Tanpa ditemani suami ataupun buah hati mereka.


Asyila pergi dengan membawa motor matiknya suaminya dan memboncengi Ema yang kebetulan belum pandai dalam mengendarai sepeda motor.


“Wah, pasarnya ramai sekali,” ucap Ema yang memang jarang sekali pergi ke pasar dan yang hanya ia tahu bahwa pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli.


“Kamu mau beli apa dulu, Ema?” tanya Asyila sambil menenteng tas belanjaannya.


“Haduh, melihat pasar yang sangat ramai begini aku jadi bingung. Bagaimana kalau kita berkeliling sebentar?”


“Boleh. Ayo kalau begitu!” seru Asyila.


Kedua sahabat itu melangkah bersama menelusuri pasar, Ema terlihat sangat fokus mengamati penjual dan pembeli yang ia lihat.


Sementara Asyila, mencari-cari sayur mana yang akan ia beli untuk dimasak dirumah.


”Syila, udang ini segar tidak?” tanya Ema yang tidak terlalu paham dengan udang yang masih segar atau yang sudah tidak segar lagi.


Asyila tak langsung menjawab, ia memperhatikan udang yang dipegang oleh Ema dan memberikan gerakan bibir bahwa udang tersebut sudah tidak segar lagi.


Karena udang dalam kondisi tak segar, Ema pun mengajak Asyila untuk melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi pasar.


Ema menggandeng tangan sahabatnya dengan senyum yang terus mengembang sempurna.


“Kamu kenapa melihatku dengan tatapan seperti itu?” tanya Asyila terheran-heran.


“Tidak apa-apa, aku hanya sangat senang karena persahabatan kita luar biasa kuatnya. Dan sekarang, anak-anak kita yang akan meneruskan persahabatan kita,” terang Ema.


Asyila tertawa mendengar keterangan Ema, “Kamu sangat senang?”


“Tentu saja, aku pun tahu kamu juga sangat senang!” seru Ema.


2 jam kemudian.


Asyila akhirnya bisa bernapas lega setelah mereka keluar dari pasar. Sungguh, Ema benar-benar membuatnya kewalahan karena permintaan kadangkala tidak masuk akal ketika ingin membeli sesuatu.


“Huh... Akhirnya bisa menghirup udara segar juga,” ucap Asyila.


“Hehehe... Maaf ya sahabatku. Oya, kamu tunggu disini aku mau kesana dulu,” tutur Ema sambil menunjuk ke arah warung kecil penjual gorengan.


“Baiklah,” jawab Asyila yang memang tak sanggup lagi jika harus mengikuti langkah kaki Ema.


Tanpa disadari oleh Asyila, sebenarnya dari saat Asyila dan Ema keluar area perumahan Absyil, sudah ada mobil yang mengikuti mereka.


Dan kini, mereka memiliki niat untuk menculik salah satu dari mereka yaitu, Asyila.


Akan tetapi, mereka tidak terlalu mengenali wajah Asyila sehingga mereka mengira bahwa wanita muda yang berjalan ke arah warung adalah Asyila.


Ema masuk ke dalam warung dan membeli gorengan. Akan tetapi, ketika ia ingin menghampiri Asyila tiba-tiba ada orang yang tak dikenal membekapnya dan tak butuh waktu lama Ema kehilangan kesadaran.


Dua bungkus gorengan yang Ema beli pun jatuh berserakan.


“Cepat bawa dia!” Karena sekitar tempat itu tidak terlalu ramai, mereka dengan mudah membawa Ema masuk ke dalam mobil. Kemudian, membawa Ema ke tempat yang sudah ditentukan.


Disisi lain, Asyila mulai tak sabaran menunggu sahabatnya. Ia pun bergegas menyusul Ema agar segera kembali ke rumah.

__ADS_1


Akan tetapi, ketika Asyila bertanya kepada penjual gorengan, penjual gorengan itupun mengatakan bahwa Ema telah pergi dari tadi setelah membeli gorengan.


Asyila menyadari ada sesuatu hal yang tidak beres, ia melihat aneka macam gorengan berserakan dimakan oleh beberapa kucing liar dipasar.


Ia berusaha berpikir keras dan mencoba untuk tetap tenang. Ia pun mencoba menghubungi nomor telepon sahabatnya, akan tetapi yang menerimanya bukanlah Ema. Melainkan, suami Ema yaitu Yogi.


Asyila mulai panik karena sahabatnya tiba-tiba menghilang. Rasa cemas mulai menggerogoti perasaan Asyila, ia yakin bahwa sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


“Aku harus segera pulang,” ucap Asyila dengan tubuh gemetar.


Tanpa pikir panjang, Asyila tancap gas dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli jika harus melanggar aturan jalan raya, baginya adalah ia harus memberitahukan kepada Abraham dan juga Yogi.


Abraham yang sedang menyirami tanaman hias istri kecilnya terkejut karena melihat gelagat istri kecilnya yang aneh. Ditambah, Asyila hanya pulang seorang diri tanpa membonceng Ema.


Ia pun bergegas menghampiri istri kecilnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Sang istri terlihat begitu cemas.


“Mas, Ema menghilang,” ucap Asyila yang sudah menangis dengan begitu panik.


“Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa Ema bisa menghilang?” tanya Abraham yang juga ikut panik.


“Dugaan Asyila seperti Ema diculik, Mas. Soalnya gorengan yang dibeli oleh Ema telah berserakan di tanah, Mas kita harus menemukan Ema. Asyila tidak ingin hal-hal buruk terjadi kepada Ema!” pinta Asyila panik.


Abraham berlari secepat mungkin menghampiri sahabatnya yang kebetulan masih berada di rumah. Yogi pun keluar rumah ketika mendengar suara Abraham yang terus memanggil namanya.


“Ada apa?” tanya Yogi terheran-heran.


Abraham pun menceritakan apa yang baru saja diceritakan oleh istri kecilnya. Setelah mendengar hal itu, Yogi benar-benar panik. Bagaimana mungkin istrinya diculik padahal ia tidak pernah menyinggung seseorang. Ataupun orang itu sengaja menculik Ema untuk meminta tebusan seperti kebanyakan penculik lainnya.


Yogi sangat panik, ia meminta agar Abraham menghubungi pihak berwajib untuk mengusut tuntas serta menemukan istrinya, Ema.


“Mas, bagaimana ini? Asyila benar-benar takut,” ucap Asyila yang merasa tidak bisa melakukan apapun. Dikarenakan ema menghilang begitu saja dan tak ada jejak sedikitpun kecuali, gorengan yang berserakan di tanah.


Abraham yang baru saja menghubungi sahabatnya langsung menarik tubuh Asyila kedalam pelukannya.


“Syila jangan banyak berpikir, kita harus berdo'a agar Ema segera ditemukan dan memberikan hukuman kepada orang yang menyembunyikan ema.”


Yogi telah berada di depan pintu rumah Abraham dan terus memanggil sahabatnya agar segera keluar untuk menemuinya.


Mendengar namanya dipanggil, Abraham pun turun dan tak lupa membawa istri kecilnya untuk turun menghampiri Yogi.


“Ba.. bagaimana? Apakah Dayat ataupun yang lainnya sudah diberitahu?” tanya Yogi yang terlihat sangat panik.


Abraham menepuk bahu sahabatnya dan meminta sahabatnya itu untuk tenang. Meskipun Abraham sendiri sangat panik karena hal ini menyangkut keselamatan Ema.


“Beberapa polisi dikirim ke tempat lokasi kejadian, sementara itu Dayat dan Edi kurang dari 1 jam akan datang kemari,” jelas Abraham.


Kahfi datang menyusul karena Yogi tidak ada dirumah.


“Kahfi kenapa kesini?” tanya Yogi.


“Sudah biarkan saja, biar Kahfi main dengan Ashraf di kamar,” ucap Abraham dan menyuruh Kahfi naik ke kamar Ashraf.


****


Ema perlahan tersadar ketika percikan air mengenai wajahnya. Betapa terkejutnya Ema ketika melihat dua orang didepannya memandanginya dengan tatapan tajam dan Ema baru menyadari bahwa tubuhnya kini telah diikat.

__ADS_1


“Si..siap kalian?” tanya Ema ketakutan.


Plak! Satu tamparan keras mendarat di wajah Ema dan semakin membuat Ema ketakutan hingga ia menangis histeris.


“Diam!” teriak salah satu pria didepannya.


Ema tetap saja menangis, bagaimana mungkin ia diam saja ketika tahu bahwa dia ada di tempat yang salah. Tempat yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, tempat yang nyaris sama seperti yang ada di film-film ketika sedang diculik.


“Diam! Suamimu yang sok berani itu ternyata memiliki istri yang sangat lemah,” hardik si penculik.


“Me...memangnya apa yang Abang Yogi lakukan ke kalian?” tanya Ema tanpa berani menatap pelaku yang menculik dirinya.


“Yogi?” Dua pelaku penculikan Ema saling bertukar pandang. Mereka ingat bahwa yang mereka targetkan adalah istri Abraham dan bukan istri dari Yogi.


“Sial!” teriak salah satu dari mereka dengan begitu marahnya.


Pria itu kemudian, menekan kedua pipi Ema dengan sangat keras sampai-sampai Ema merasakan sakit dibagian rahang serta kedua pipinya.


“Bukankah kamu istri si br*ngsek Abraham?” tanya nya dengan sorot mata yang begitu menyeramkan.


Ema menangis merasakan sakit dan dengan pelan ia menggelengkan kepalanya.


Plak! Lagi-lagi tamparan keras mendarat di pipi Ema. Kini Ema merasakan wajahnya sangat panas.


Kedua pelaku itu akhirnya cek-cok dan adu mulut. Mereka saling menyalahkan karena salah sasaran, wanita yang seharusnya mereka culik bukanlah Ema melainkan Asyila.


Niat mereka untuk membuat Abraham menyerah malah membuat mereka kebingungan.


Apa yang harus mereka lakukan kepada wanita dihadapan mereka? Target yang sebenarnya adalah Asyila.


Abang, tolong selamatkan Ema. Ema sangat takut, Abang.


Ya Allah, kenapa ini bisa terjadi? Jadi, orang yang ingin mereka culik adalah Asyila. Jika ini memang terjadi kepada Asyila, pasti Asyila pun sama ketakutannya seperti yang aku rasakan saat ini.


Dua penculik itu memang agak sulit membedakan yang mana yang Asyila dan mana yang Ema. Dikarenakan, keduanya sama-sama mengenakan gamis dan berhijab syar'i.


“Sekarang kita apakan wanita ini?” tanya salah satu dari dua pelaku penculikan.


“Kita tidak bisa langsung melepaskannya, biarkan saja dia disini. Barangkali ada yang mencarinya dan kita bisa meminta tebusan yang banyak!”


Mereka pun pergi setelah mengatakan hal itu, meninggalkan Ema di ruangan yang sangat gelap dan berbau.


“Tolong! Siapapun, tolong saya. Saya diculik!” teriak Ema berharap ada orang yang mendengar teriakannya.


Tak berselang lama, salah satu dari mereka datang dan kembali menampar wajah Ema sebanyak 2 kali. Kini lengkap sudah rasa sakit yang diderita dan dirasakan oleh Ema. Darah segar pun mengalir diujung bibir Ema, sungguh nasib yang begitu malang yang tengah dialami oleh Ema.


“Sekali lagi kamu teriakkan, habislah kamu!” Pria itu mengancam Ema dengan begitu menyeramkan.. Kemudian, menutup mulut Ema dengan lakban hitam agar Ema tak bisa lagi berteriak meminta pertolongan.


Meskipun tidak dilakban, dapat dipastikan tidak akan ada seorangpun yang bisa mendengar teriakkan Ema. Hal itu dikarenakan tempat yang sedang dipijak oleh Ema adalah gedung tua yang sudah tak berpenghuni. Disekitarnya pun hanya ada lahan kosong yang terbengkalai dengan waktu yang cukup lama.


Kini Ema tak bisa melakukan apapun, kaki serta tubuhnya diikat. Dan mulutnya pun sudah tertutup, satu-satunya harapan Ema adalah keajaiban dari Allah.


Ya Allah, jangan ambil nyawa hamba seperti ini. Hamba masih memiliki tanggungjawab kepada Abang Yogi dan juga Kahfi. Tolong selamatkan hamba Ya Allah.. Tolong....


Ema sangat berharap bahwa ada orang yang menyelamatkan dirinya. Ia belum ingin mati sia-sia karena ulah dari si penculik yang salah sasaran. Dan iapun berharap agar Asyila tidak mengalami hal sama seperti yang Ema rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2