Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Saling Menyalahkan Diri Sendiri


__ADS_3

Fahmi terduduk di lantai dan ketika itu juga Abraham baru saja selesai berbicara dengan salah satu sahabatnya untuk mencari keberadaan sang istri tercinta.


“Apa yang kamu lakukan, Fahmi?” tanya Abraham sambil membantu Fahmi untuk bangkit.


“Paman, tolong maafkan Saya yang tidak bisa menjaga keduanya,” tutur Fahmi yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


Abraham hanya diam sambil menuntun Fahmi untuk duduk bersebelahan dengannya.


Keduanya nampak sangat sedih, di dalam Dyah tengah ditangani karena kondisinya cukup kritis dan disisi lain ada Asyila yang menghilang entah kemana.


Abraham kira kehidupan rumah tangganya akan aman. Akan tetapi, dugaannya salah.


“Dok, bagaimana dengan istri saya?” tanya Fahmi ketika seorang dokter keluar dari ruangan istrinya, Dyah.


Dokter wanita itu hanya diam dan terus melenggang pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Membuat Fahmi semakin ketakutan.


“Ya Allah, tolong selamatkan Dyah dan buah hati pertama kami,” ucap Fahmi memohon kepada Sang Pencipta.


Arumi, Herwan serta yang lainnya pun tiba di rumah sakit.


Arumi datang dengan air mata yang terus mengalir deras.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana keadaan Dyah dan juga Asyila?” tanya Arumi meminta penjelasan dari keduanya.


Fahmi yang ingin menjelaskan langsung ditahan oleh Abraham.


“Biar Paman saja yang menjelaskannya,” ucap Abraham.


Abraham meminta Arumi dan Herwan untuk bergeser ke arah lain.


Kemudian, menjelaskan dengan hati-hati yang sebenarnya telah terjadi.


Arumi dan Herwan nampak sangat terkejut mendengar keterangan Abraham.


“Astaghfirullahaladzim, kenapa ini bisa terjadi?” tanya Arumi histeris.


“Ibu tenanglah dulu, tolong tenanglah!” pinta Abraham.


“Bagaimana Ibu bisa tenang? Saat ini Dyah sedang mengandung dan malah mengalami pendarahan. Kemudian, putri Ibu sendirian menghilang entah kemana. Apakah Ibu harus diam saja setelah kejadian seperti ini kembali terulang lagi?” tanya Arumi.


Untuk pertama kalinya, Abraham melihat kemarahan Ibu mertuanya.


Wanita yang begitu lembut sama seperti istrinya, tiba-tiba mengeluarkan taringnya dan membuat Abraham merasa sangat bersalah.

__ADS_1


“Cepat hubungi polisi agar mereka segera menemukan Asyila, Nak Abraham!” pinta Arumi sambil menarik-narik pakaian menantunya itu.


Arumi yang nampak sangat terkejut, tiba-tiba tak sadarkah diri dan dengan cepat Abraham membawa Ibu mertuanya untuk diperiksa.


“Maafkan Abraham, Ayah,” ucap Abraham pada Ayah mertuanya.


Sebagai pria, Herwan lebih memahami kondisi menantunya. Herwan pun mengangguk dan memeluk tubuh menantunya itu.


“Tolong kami ya Nak Abraham, tolong bawa Asyila pulang secepat mungkin. Kasihan Asyila, saat ini Asyila sedang mengandung cucu keempat Ayah,” tutur Herwan.


“Abraham sudah meminta sahabat Abraham yang bekerja di kepolisian. Insya Allah mereka telah bersiap-siap untuk melacak keberadaan Asyila, akan tetapi kami harus menunggu sampai Dyah sadar. Karena Dyah adalah saksi mata,” terang Abraham.


“Itu artinya, jalan satu-satunya adalah menunggu sampai Dyah sadar. Akan tetapi, apakah Dyah bisa sadar secepatnya?” tanya Herwan penuh harap.


“Kita serahkan semuanya sama Allah ya Ayah, hanya Allah yang bisa menjawab do'a-do'a kita,” balas Abraham.


Beberapa jam kemudian.


Dokter kandungan yang menangani Dyah akhirnya keluar juga. Fahmi pun cepat-cepat menanyakan keadaan istri serta buah hati pertamanya yang sedang di kandung oleh istrinya, Dyah.


“Dok, bagaimana keadaan istri dan calon bayi kami? Tolong jawab Dok!” pinta Fahmi yang terdengar sangat memaksa.


“Kondisi pasien saat ini belum stabil. Dan untuk bayi di dalam perut pasien belum dapat dipastikan selamat atau tidaknya, mengingat kondisi Sang Ibu yang masih kritis,” terang dokter wanita tersebut.


Jleb!!!


“Tuan Fahmi tolong bersabar, Maaf saya harus permisi untuk memeriksa pasien yang lainnya,” ucapnya dan melenggang pergi menuju ruangan lainnya.


Yogi membantu Fahmi berdiri, bagaimana pun mereka semua ikut merasakan kesedihan Fahmi dan juga Abraham.


Dua bocah kecil hanya diam tak bersuara, mereka duduk bersebelahan dengan tatapan yang tak mengerti.


Arumi berjalan mendekat ke arah Abraham dengan langkah tak berdaya.


“Nak Abraham, tolong bawa Asyila pulang. Ibu mohon Nak,” tutur Arumi yang tak tahan mengetahui bahwa putri kesayangannya kembali diculik, “Ibu kira masalah kemarin sudah selesai. Ternyata, dugaan Ibu salah besar,” imbuh Arumi yang wajah terlihat sangat pucat karena terlalu memikirkan putri kesayangannya itu.


Abraham bingung harus menjelaskan yang bagaimana lagi. Dikarenakan, ia sendiri tidak tahu dimana istri kecilnya dan para sahabatnya belum juga menemukan petunjuk.


Karena keadaan mulai memanas, Herwan akhirnya mengajak istri dan cucunya untuk pulang ke rumah.


Awalnya, Arumi menolak secara tegas mengenai ajak suaminya. Akan tetapi, Herwan terus memaksa secara tegas bahwa saat itu juga mereka harus kembali ke rumah.


“Jangan menolak ajakan Mas untuk pulang, itu tidak baik,” ucap Herwan yang mulai terpancing emosi karena sang istri enggan pulang bersamanya.


“Maaf Mas,” balas Arumi dan akhirnya ikut pulang bersama suaminya.

__ADS_1


Ternyata, tidak hanya Arumi, Ashraf dan Herwan yang pulang. Akan tetapi, Ema pun ikut dengan membawa buah hatinya, Kahfi.


Dan kini, di rumah sakit tinggallah Abraham, Fahmi dan juga Yogi untuk memantau perkembangan Dyah serta buah hati yang tengah dikandungnya.


Setelah mereka pergi, Abraham mengajak Fahmi dan Yogi sholat Dhuha berjamaah di masjid terdekat, sekaligus memohon kepada Allah agar semua cobaan segera berakhir.


Dyah dan buah hatinya selamat, serta Asyila kembali dengan keadaan baik-baik dan juga buah hati yang tengah dikandungnya.


Beberapa jam kemudian.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.25 WIB. Akan tetapi, Dyah belum juga siuman dan semakin membuat Abraham takut karena sampai sekarang, sang istri belum juga ditemukan oleh para sahabatnya.


“Tuan Fahmi, ayo cepat masuk! Pasien sudah sadar,” seorang perawat datang menghampiri Fahmi dan mengatakan bahwa Dyah sudah siuman.


Fahmi serta kedua pria lainnya, berlari secepat mungkin memasuki kamar Dyah.


“Hiks... Hiks... Maafkan Dyah, maafkan Dyah,” ucap Dyah berkali-kali meminta maaf, “Ini semua salah Dyah, tidak seharusnya Dyah memaksa Aunty untuk ikut menemani Dyah jalan-jalan. Ini semua salah Dyah, ini semua gara-gara Dyah,” imbuh Dyah.


Dyah berulang kali menyalahkan dirinya, ia menangis histeris ketika mengingat kejadian yang menimpa Aunty kesayangannya.


“Tidak. Ini sama sekali bukan kesalahan Dyah, ini adalah kesalahan Mas Fahmi yang tidak mau menuruti keinginan Dyah. Andai saja Mas Fahmi langsung mengiyakan, tidak mungkin hal seperti ini terjadi kepada Dyah dan juga Aunty,” balas Fahmi.


Kedua terus berbicara dengan saling menyalahkan diri mereka masing-masing.


Abraham yang melihat mereka berdebat seperti itu, langsung berteriak.


“Diam!” teriak Abraham dan seketika itu juga keduanya diam seribu bahasa.


Abraham menghela napas panjang dan mendekat.


“Dyah, Paman tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu. Yang Paman butuhkan sekarang adalah informasi Dyah.


Apakah Dyah hafal dengan warna mobil dan merk mobil yang telah menculik Istri Paman?” tanya Abraham penasaran.


Dyah berusaha mengingat kejadian pagi itu dan samar-samar ia mengetahui warna mobil itu.


“Mobil yang menculik Aunty kalau tidak salah warnanya biru tua dan plat nomor kendaraan berasal dari Surabaya,” jawab Dyah.


“Maksud Dyah plat mobil itu adalah L?” tanya Abraham memastikan.


“Iya Paman, Dyah sangat yakin bahwa plat mobil itu berasal dari Surabaya. Dan salah satu dari mereka memakai logat bahasa Jawa yang tidak bisa dipahami oleh Dyah,” terang Dyah.


Abraham seketika itu berlari keluar dan bergegas membuat janji dengan para sahabatnya yang bertugas di kepolisian.


Bagaimanapun caranya, aku harus segera menemukan Asyila. Siapapun orangnya, tidak akan pernah aku maafkan.

__ADS_1


Like ❤️


__ADS_2