
Ema sangat senang, ia terus menyentuh perutnya karena tak sabar ingin segera menggendong malaikat kecil mereka.
Kahfi masuk ke dalam kamar dan naik ke tempat tidur orangtuanya.
“Mama, adik bayi lagi bobok ya?” tanya Kahfi sembari memperhatikan perut Ema yang masih rata.
Ema tersenyum lebar dan meletakkan tangan Kahfi ke perutnya.
“Iya, Kahfi. Adik bayi lagi bobok di dalam perut. Kalau adik bayi sudah besar, adik bayi pasti akan keluar dari perut Mama,” jawab Ema.
“Adik bayi perempuan apa laki-laki, Mama?” tanya Kahfi penasaran yang ingin mengetahui jenis kelamin adiknya itu.
“Mama dan Papa belum tahu sayang. Nanti kalau perut Mama sudah besar, Mama akan beritahu Kahfi!”
Kahfi bertepuk tangan dan mencium perut Ema dengan hati-hati.
Ponsel milik Yogi telah aktif kembali dan ternyata sahabatnya telah mengirim resep obat untuk Ema.
“Adik, Abang ke apotek dulu ya. Adik ditinggal sendirian, tidak apa-apa, 'kan?” tanya Yogi yang ingin menebus obat milik istrinya.
“Iya, Abang. Adik tidak apa-apa kok. Boleh belikan Adik sesuatu untuk dimakan!” pinta Ema yang tiba-tiba ingin menikmati rujak buah.
“Adik mau minta apa? Abang akan berusaha mencarinya,” balas Yogi.
“Rujak buah ya Bang!”
“Rujak buah? Baiklah, Abang akan membelinya untuk adik!”
Kahfi memutuskan untuk ikut dengan Papanya dan kini Ema kembali seorang diri di dalam rumah.
Ema mengelus-elus perutnya yang masih rata dan kembali mengucapkan syukur atas hadiah yang tak disangka-sangka oleh Allah untuknya.
“Ya Allah, akhirnya hamba kembali mengandung. Terima kasih karena telah kembali mempercayakan malaikat kecil ini kepada keluarga kami. Berikanlah kami kesehatan agar waktunya nanti kami bisa saling bertemu,” tutur Ema.
***
Malam hari.
Asyila tersenyum penuh semangat ketika melihat hidangan yang berada di atas meja. Hidangan yang ia masak dengan tangannya sendiri tanpa ada bantuan dari Mbok Num atau suaminya.
Asyila memasak makanan sebanyak itu karena ingin merayakan kehamilan kedua pasangan Ema dan Yogi yang telah cukup lama menantikan buah hati kedua mereka.
“Masya Allah, yang hamil Ema tapi yang merayakannya Syila,” ucap Abraham pada istrinya yang memasak makanan cukup banyak.
“Mas, kabar baik ini wajib di rayakan. Besok siang, Asyila ingin berbagi makanan dan sedikit rezeki untuk orang yang tidak mampu. Asyila harus merayakan kehamilan ini dengan berbagi rezeki, agar berkah,” terang Asyila yang sangat bersemangat.
“Masya Allah, istriku benar-benar istri Sholehah. Mas bangga memiliki Asyila yang mengedepankan akhirat,” puji Abraham.
“Mas terlalu berlebih-lebihan, bagaimanapun Asyila masih berusaha untuk menjadi putri yang baik untuk Ayah dan ibu, istri yang baik untuk Mas Abraham dan Bunda yang baik untuk buah hati kita,” terang Asyila.
Samar-samar Abraham mendengar suara ketukan pintu serta salam dari sahabatnya. Abraham mengernyitkan keningnya dan bergegas menuju ruang depan.
“Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru Abraham dengan ekspresi terkejut.
Melihat Ema, Yogi dan Kahfi yang sudah berada dihadapannya, akhirnya Abraham tahu bahwa istri kecilnya lah yang mengundang mereka bertiga.
“Mari masuk!” Abraham mempersilakan sahabatnya dan keluarga kecil sahabatnya untuk segera masuk ke dalam.
__ADS_1
“Syukurlah, kamu sudah datang. Ayo sini duduk di sampingku!” panggil Asyila pada sahabatnya.
“Asyila, sebelumnya aku sangat berterima kasih. Akan tetapi, menurutku ini terlalu berlebihan,” ucap Ema karena tahu bahwa Asyila merayakan kehamilan anak kedua Ema.
“Kamu ini bicara apa? Justru aku sangat senang karena sebentar lagi akan memiliki keponakan baru. Kita tunggu Dyah dan suaminya ya. Sebentar lagi mereka akan sampai,” ungkap Asyila yang juga menunggu kehadiran Dyah serta keluarga kecilnya.
Baru saja Asyila selesai bicara, pintu ruang depan terdengar ada yang mengetuk. Abraham kembali beranjak dari duduknya untuk segera membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum, Paman! Aunty!” panggil Dyah dengan terus mengetuk pintu.
“Dyah, jangan begitu,” ucap Fahmi pada istrinya.
“Wa’alaikumsalam, ayo masuk!” Abraham mempersilakan mereka untuk segera masuk.
“Paman, apakah Ema sudah ada di dalam?” tanya Dyah sembari melenggang masuk ke dalam.
“Sudah. Sekarang lagi berkumpul dengan Aunty mu di ruang makan,” jawab Abraham.
Dyah tersenyum lebar dan berlari kecil untuk segera menemui Ema, sekaligus mengucapkan selamat atas kehamilannya.
“Ema, Masya Allah. Akhirnya kamu hamil juga, aku sangat senang,” ucap Dyah sembari memeluk Ema.
“Aku jadi malu,” sahut Ema yang malah menjadi salah tingkah.
“Apapun itu, intinya aku sangat senang karena Do'a kita akhirnya di kabulkan oleh Allah,” terang Dyah dan mendaratkan bokongnya di kursi tepat di samping suaminya, Fahmi.
Dyah bertepuk tangan dan kembali mengucapkan selamat atas Kehamilan Ema.
“Selamat ya Kahfi, sebentar lagi Kahfi menjadi Kakak,” ujar Dyah dengan melambaikan tangannya pada Kahfi.
“Sudah-sudah, ayo kita makan bersama untuk merayakan kehamilan Ema,” tutur Asyila dengan mengedipkan sebelah matanya pada Ema yang terlihat salah tingkah.
“Terima kasih semuanya, semoga Allah membalas kebaikan kalian,” ujar Ema dengan mata berkaca-kaca.
Abraham meminta Kahfi untuk memimpin Do'a sebelum makan, Kahfi sedikit malu dan untungnya kedua orangtuanya menyemangati dirinya. Kahfi pun mengangkat kedua tangannya dan mulai memimpin Do'a sebelum makan.
Sekitar 45 menit kemudian.
Mereka bersantai sembari berbincang-bincang di ruang keluarga.
“Mbok Num! Ayo duduk sini bersama kami!” panggil Asyila yang saat itu duduk bersebelahan dengan Bela.
“Maaf, Nona Asyila. Kaki Mbok Num agak sakit, boleh Mbok langsung beristirahat saja?” tanya Mbok Num yang memang beberapa hari terakhir sakit dikakinya kumat lagi.
Saat itu juga Asyila beranjak dari duduknya dan berlari kecil untuk mengambil obat salep yang biasa Asyila gunakan untuk mengolesi kakinya yang pegal-pegal.
“Ini buat Mbok Num, dioles ya Mbok di kaki!”
“Terima kasih, Nona Asyila. Kalau begitu, Mbok langsung ke kamar saja.”
“Iya, Mbok. Cepat sembuh ya, besok pagi Mbok Num tidak perlu membuat kue kacang.”
“Kenapa, Nona Asyila? Mbok dipecat?” tanya Mbok Num terlihat panik.
Abraham serta yang lainnya mengerti dengan ucapan Asyila. Akan tetapi, Mbok Num malah mengira dirinya telah dipecat oleh Asyila.
Dyah bangkit dari sofa dan mendekat ke arah Mbok Num untuk menjelaskan maksud dari Aunty kesayangannya.
“Mbok Num jangan salah sangka, maksudnya Aunty itu biar Mbok Num beristirahat dan bukan memecat Mbok Num,” ungkap Dyah.
__ADS_1
“Nah, itu maksud Asyila,” sahut Asyila membenarkan apa yang dikatakan oleh Dyah.
“Alhamdulillah, Mbok kita tidak lagi diperkerjakan disini,” balas Mbok Num.
“Mbok Num jangan berpikiran yang aneh-aneh, sekarang Mbok masuk kamar dan jangan lupa oleskan salep ke kaki Mbok Num. Habis itu, Mbok Num tidur agar pegal-pegal di kaki Mbok bisa segera hilang,” ucap Asyila panjang lebar.
Mbok Num mengiyakan dan pamit menuju kamar.
Asyila dan Dyah saling tukar pandang dengan senyum lebar mereka. Lalu, kembali bergabung dengan yang lain untuk menonton televisi.
“Asyila, apa besok kamu benar-benar akan berbagi makanan serta sedikit rezeki?” tanya Ema memastikan.
“Tentu saja, itu semua aku lakukan untuk merayakan kehamilan mu. Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku melakukan ini juga demi calon keponakan ku,” terang Asyila.
“Asyila, aku tidak ingin merepotkan siapapun termasuk dirimu,” balas Ema.
“Merepotkan yang bagaimana? Bukankah aku juga melakukan ini demi kebaikan kita. Semoga Allah terus memberi berkah untuk keluargaku dan juga keluargamu. Apa yang aku lakukan tidak merugikan siapapun,” ungkap Asyila.
Ema menitikkan air matanya karena terharu dengan apa yang Asyila lakukan padanya.
“Ayolah, kamu sedang hamil muda. Tidak baik untuk kesehatan mu dan bayimu,” ucap Asyila sembari menyeka air mata sahabatnya.
Ema tersenyum lebar begitu juga dengan Asyila.
2 jam kemudian.
Ema, Kahfi dan juga Yogi memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Saat itu juga, Asyila mencegah mereka untuk pulang dan meminta mereka untuk menginap.
Ema tak bisa mengambil keputusan, ia pun bertanya kepada suaminya dan Yogi pun mengiyakan.
Asyila tersenyum bahagia karena Ema serta keluarga kecilnya akhirnya menginap di rumahnya.
“Terima kasih, Pak Yogi,” ucap Asyila dengan senyum manisnya.
Abraham seketika itu mengarahkan wajah istri kecilnya padanya.
“Jangan tersenyum banyak senyum dengan orang lain. Terlebih lagi kepada pria lain,” tegas Abraham yang terlihat sangat cemburu.
Yogi geleng-geleng kepala begitu juga dengan Dyah.
“Mas, apakah senyum juga dilarang?” tanya Asyila terheran-heran.
“Iya, senyum dilarang keras,” tegas Abraham.
“Mas aneh deh,” celetuk Asyila.
“Aneh-aneh begini juga suami Asyila,” balas Abraham dan membuat Asyila tak bisa berkata-kata lagi.
Ema dan Yogi tak bisa menahan tawa mereka, mereka berdua tertawa mendengar perkataan Abraham yang membuat telinga menjadi geli.
Abraham melotot tajam ke arah Ema dan Yogi, seketika itu juga Keduanya berhenti tertawa.
“Sudah malam, ayo kita tidur!” ajak Abraham yang memang sudah waktunya untuk tidur.
Ema dan Yogi melenggang pergi menuju kamar yang biasanya mereka tempati. Sementara Kahfi, tidur di kamar Arsyad dan juga Ashraf.
“Bela, langsung tidur ya!” pinta Asyila pada Bela.
Bela mengiyakan dan berjalan menuju kamar yang sudah menjadi miliknya, bersebelahan dengan kamar yang biasa digunakan oleh Dyah.
__ADS_1