
Abraham geleng-geleng kepala melihat tingkah Ibu mertuanya yang pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya.
“Mas.. tolong bantu Asyila mengganti pakaian!” pinta Asyila yang tidak kuat jika harus mengganti pakaiannya sendiri.
“Sebentar,” balas Abraham sembari melangkahkan kakinya mendekati pintu. Kemudian, mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk.
Setelah mengunci pintu, Abraham memfokuskan perhatiannya kepada sang istri.
“Syila mau pakai yang mana?” tanya Abraham sembari menoleh ke arah almari pakaian milik mereka berdua.
“Asyila ikut pilihan Mas saja,” jawab Asyila.
Mendengar jawaban dari sang istri, Abraham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir pakaian mana yang akan digunakan oleh sang istri.
“Mas kenapa bingung?” tanya Asyila yang melihat ekspresi wajah suaminya penuh kebingungan.
“Mas bingung untuk menentukan pakaian mana yang akan dikenakan oleh Syila,” jawab Abraham apa adanya dan sangat jujur.
Asyila tertawa kecil dan meminta pakaian berwarna hitam saja yang akan digunakan untuk pergi ke rumah sakit.
Kenapa Syila meminta maaf hanya karena ini? Justru, suamimu ini senang sekaligus bahagia karena sebentar lagi akan ada keluarga baru di keluarga kita ini,” terang Abraham.
Asyila menangis terharu dan berulang kali mengucapkan terima kasih kepada suaminya.
“Terima kasih karena telah memilih Asyila,” ucap Asyila.
“Jangan berterima kasih kepada manusia seperti ini. Tetapi, berterima kasihlah kepada Allah karena Allah lah yang telah mengizinkan kita menjadi sepasang suami istri di dunia maupun diakhirat kelak,” ungkap Abraham.
“Aamiin,” balas Asyila.
“Ayo Mas bantu pakaikan Syila pakaian.”
“Iya Mas,” jawab Asyila lirih.
Dengan penuh perhatian dan juga kehati-hatian, Abraham mulai mengganti pakaian Asyila dengan pakaian tertutup untuk pergi ke rumah sakit.
Asyila begitu nyaman dengan perlakuan suaminya. Apapun yang sang suami lakukan, dapat membuat Asyila semakin cinta dan sayang kepada pria dihadapannya itu.
“Jangan memandangi suamimu dengan pandangan seperti itu, bukannya kita pergi ke rumah sakit yang ada malah.. hhhmmm..” Abraham memberikan kode dengan lirikan matanya.
“Mas jangan macam-macam,” ucap Asyila karena ia belum sanggup jika harus melayani hasrat suaminya.
Abraham tertawa geli dan mengatakan bahwa ia hanya bercanda saja. Toh, Abraham sangat memahami kondisi sang istri yang tengah hamil muda.
“Alhamdulillah, sudah selesai. Tinggal pakai hijab saja,” ucap Abraham yang telah selesai menggantikan pakaian sang istri.
“Terima kasih, Mas. Mas juga jangan lupa untuk ganti baju,” balas Asyila.
***
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Asyila berjalan keluar kamar sembari dituntun oleh suaminya.
“Apa mau Mas gendong?” tanya Abraham menawarkan diri menggendong sang istri.
Dengan menggelengkan kepala, Asyila menolak tawaran suaminya.
“Tidak usah, Mas Abraham. Asyila masih sanggup berjalan,” jawab Asyila.
Arsyad dan Ashraf datang dengan tatapan sedih melihat Bunda mereka yang tengah sakit.
“Bunda mau kemana?” tanya Arsyad sambil menghalangi jalan kedua orangtuanya.
“Ayah dan Bunda mau ke rumah sakit, Arsyad. Arsyad di rumah dengan adik Ashraf ya,” tutur Abraham mencoba membujuk Arsyad agar tak ikut ke rumah sakit.
Arsyad diam sejenak dan dengan tatapan sedih, ia menyetujui perkataan Ayahnya.
“Sudah jangan sedih. Nanti pulang dari rumah sakit, Ayah akan membawakan jajan untuk kalian. Arsyad dan Ashraf mau dibawakan apa?” tanya Abraham.
“Pie susu!” seru Ashraf yang tiba-tiba teringat dengan iklan di televisi yang menggambarkan sebuah keluarga tengah menikmati pie susu di pantai.
Abraham mengiyakan permintaan Ashraf dengan penuh senyuman.
“Arsyad kenapa diam saja?” tanya Asyila yang penasaran dengan permintaan putra pertama mereka.
“Arsyad tidak mau apa-apa,” jawab Arsyad.
“Kenapa Arsyad?” tanya Abraham dan Asyila secara kompak.
Sontak saja, Arsyad langsung mendapat pelukan hangat dari kedua orangtuanya.
“Iya sayang, Ayah dan Bunda pasti cepat pulang,” ucap Abraham.
Abraham kembali melanjutkan langkahnya menuju luar rumah dengan diikuti oleh kedua putra mereka.
“Apa kabar Pak Eko?” tanya Asyila melihat Eko dihadapannya yang sudah beberapa hari tidak kelihatan.
“Alhamdulillah kabar saya baik, Nona Asyila,” jawab Eko dengan setengah menunduk.
Abraham melirik tajam ke arah sopir pribadinya seakan-akan memberitahukan bahwa Eko tak boleh mengambil kesempatan karena disapa oleh Asyila.
“Mas jangan memandangi Pak Eko dengan tatapan seperti itu,” ucap Asyila sambil menyenggol lengan suaminya.
Abraham cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya.
“Tatapan yang bagaimana? Lihat sekarang Mas sedang tersenyum,” balas Abraham dan tersenyum ramah ke arah Eko.
Asyila geleng-geleng kepala dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
“Syila!” panggil Abraham dan segera masuk ke dalam mobil.
Tak butuh waktu lama, mobil pun pergi menuju rumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatan Asyila serta calon buah hatinya bersama sang suami.
__ADS_1
Arumi dan Herwan berjalan menghampiri kedua cucu mereka.
Sebelumnya, Asyila dan Abraham telah berpamitan kepada mereka berdua.
“Arsyad dan Ashraf kenapa masih berada di luar? Ayo masuk ke dalam, kita nonton kartun lucu bersama-sama!” ajak Arumi.
“Baik Nenek!” seru Arsyad dan Ashraf penuh semangat.
Disisi lain.
Baru saja melakukan perjalanan menuju rumah sakit, Asyila sudah tertidur pulas. Ya bisa dikatakan bahwa tidurnya Asyila ada keinginan dari si jabang bayi yang usianya baru beberapa Minggu.
Abraham terus saja memperhatikan wajah istrinya yang tengah tertidur dan bukannya Asyila yang salah tingkah, justru Eko lah yang salah tingkah.
“Maaf, Tuan muda Abraham,” tutur Eko.
“Ada apa?” tanya Abraham datar.
“Tuan Muda Abraham yang seperti itu, saya yang jadi malu,” terang Eko dengan wajah malu-malu.
Abraham bergidik ngeri dengan ucapan Eko yang membuat telinganya geli sendiri.
“Kamu masih normal'kan?” tanya Abraham serius.
“Tentu saja masih, Tuan Muda Abraham. Apalagi kalau tiap saya pulang ke rumah, pasti saya minta jatah berkali-kali,” jawab Eko dan tertawa lepas.
Asyila yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tawa Eko yang begitu berisik.
“Mas, ada apa ini?” tanya Asyila sambil mengerjapkan matanya berulang kali.
Abraham pun refleks memukul lengan Eko dengan begitu geram.
“Gara-gara kamu istriku jadi bangun,” celetuk Abraham.
Eko menggigit bibirnya sendiri dan berpura-pura mengabaikan keluhan Abraham.
“Syila tidur lagi saja ya, suara tadi itu adalah makhluk halus yang tak kasat mata,” ucap Abraham dengan terus melirik tajam ke arah Eko yang tengah menyetir.
Asyila yang masih mengantuk akhirnya kembali tidur dan tak lupa mengelus-elus perutnya yang masih rata itu dengan penuh cinta.
“Mas, nanti kalau sudah sampai jangan lupa bangunkan Asyila,” tutur Asyila lirih yang tengah bersandar di dada suaminya dan tangan Abraham melingkar sempurna di pinggang Asyila.
“Syila tenang saja, setiba di depan rumah sakit, Suamimu ini akan membangunkan istrinya,” balas Abraham sambil menyentuh pipi sang istri.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih untuk semuanya,” ucap Asyila dengan mata berkaca-kaca.
Abraham tak langsung menjawab, pria itu malah mendelik tajam ke arah Eko yang ternyata tengah melihatnya dari kaca mobil.
Gleg!
Eko cepat-cepat menelan salivanya, akan tetapi rasanya sangat sulit ketika Abraham terus saja mendelik tajam ke arahnya.
__ADS_1
Singa satu ini benar-benar menakutkan. Untungnya saja, istrinya sangat baik dan tidak ikut-ikutan galak.