
Tidak. Aku tidak boleh lemah untuk urusan seperti ini. Aku bisa, aku harus bisa.
Dengan penuh percaya diri, Asyila mencoba melawan rasa takutnya dan dengan hati-hati mengarahkan senjata api yang berada digenggaman nya ke arah para mafia.
Dor!!! Dor!!!
Dengan dua kali tembakan, Asyila sudah berhasil melumpuhkan dua mafia.
Teriakkan kesakitan mereka mulai bersahutan manakala kaki mereka mendapatkan tembakan mematikan dari Abraham.
“Jangan pikir karena aku adalah wanita, aku tidak bisa melawan para bandit seperti kalian ini. Lihatlah! Siapa nanti yang akan kalah,” ucap Asyila menantang.
“Hei wanita sial*n, apa mau mu sebenarnya?” tanya salah satu dari mafia yang ternyata telah bersiap-siap untuk membalas tembakan Asyila kepada kawannya yang sebelumnya telah ditembak oleh Asyila.
Asyila tak menjawab pertanyaan tersebut. Justru, Asyila bergerak cepat dan dengan kelincahannya, ia mulai menghajar satu persatu mafia tersebut. Bisa dikatakan, saat ini Asyila sudah sangat hebat dengan ilmu beladiri yang ia pelajari. Maklum saja, sejak kejadian satu tahun yang lalu, dirinya terus melatih diri serta melatih kemampuannya agar bisa lebih mudah bergerak serta mengalahkan lawannya. Sekalipun lawannya adalah orang yang tangguh dan juga berbadan besar.
“Hyak! Hyak!” Teriakkan Asyila semakin lama semakin lantang, seiring dengan kecepatannya dalam menghajar para mafia.
Beberapa saat kemudian.
Abraham tiba dengan tatapan melongo tak percaya melihat banyaknya mafia yang sudah tergeletak di tanah.
“Apakah wanita bercadar itu yang melakukannya?” tanya Abraham tak percaya.
Ketika Abraham ingin melangkah mendekat, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dan hal yang tak terduga pun terjadi.
Dor!!
Sebuah peluru tiba-tiba mengenai lengan kiri Abraham, hingga akhirnya darah segar mengalir dari lengan pria tampan tersebut.
Bugh!
Baru saja Abraham terkena tembak, kini punggungnya kembali dipukul oleh seseorang yang sama sekali tak dikenali oleh Abraham. Hingga akhirnya Abraham pun tumbang tak sadarkan diri.
“Hahaha... Matilah kau!” teriak seorang pria yang ternyata adalah pelakunya.
Ketika pria itu ingin membunuh Abraham dengan pistolnya, tiba-tiba ia diserang oleh Asyila dengan cukup ganas.
Asyila melampiaskan kemarahannya pada pria yang telah menyakiti suaminya.
Berulang kali pria itu meminta ampun agar Asyila menghentikan pukulannya. Akan tetapi, bukannya berhenti Asyila malah justru memukuli pria itu hingga tak sadarkan diri. Setelah puas memberikan pelajaran terhadap pria tersebut, Asyila langsung memfokuskan perhatiannya kepada sang suami.
__ADS_1
Asyila merobek hijab miliknya dan mengikat lengan suaminya agar darah segar berhenti mengalir. Kemudian, Asyila kembali masuk ke dalam gubuk tersebut untuk menyelamatkan para wanita yang telah disekap oleh para mafia.
Ketika masuk ke dalam, Asyila sangat terkejut dan juga kasihan. Sungguh sangat miris nasib para wanita yang disekap tersebut.
Tubuh mereka dipenuhi dengan luka lebam dan sangat acak-acakan. Ada salah satu wanita yang mencuri perhatian Asyila, yaitu seorang wanita yang tubuhnya paling kecil sendiri akan tetapi, perut terlihat membuncit.
“Mbak sedang hamil?” tanya Asyila sambil menahan air matanya.
Dengan lemas, wanita itu mengangguk. Sementara yang lainnya, memohon kepada Asyila untuk segera menyelamatkan mereka dari kejahatan para mafia.
Dilain sisi, Asyila mengkhawatirkan suaminya yang tengah pingsan dan kehilangan banyak darah.
Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi berbunyi yang artinya bahwa sudah ada pihak berwajib yang mengetahui lokasi mereka.
“Maaf semuanya, saya harus pergi sekarang. Kalian tidak perlu takut dengan polisi diluar sana,” ucap Asyila dan dengan cepat Asyila berlari meninggalkan gubuk tersebut.
Asyila berlari sekuat tenaga dan melemparkan senjata api ditangannya begitu saja ke tanah.
Untungnya saja, Asyila menggunakan sarung tangan dan sangat tidak mungkin jika dirinya ketahuan.
Asyila terus saja berlari dan terus berlari meninggalkan suaminya yang tengah tak sadarkan diri. Asyila percaya bahwa suaminya akan baik-baik saja dan sangat tidak mungkin jika semuanya tahu indentitas Asyila yang sebenarnya.
***
Asyila mendapat telepon dari Edi bahwa Abraham tengah berada di rumah sakit dan dalam kondisi baik-baik saja. Tanpa pikir panjang, setelah menerima telepon tersebut Asyila langsung berangkat menuju rumah sakit, tempat dimana suaminya di rawat.
Baru saja melangkahkan kakinya keluar dari rumah, Arumi sudah datang menghampiri putrinya tersebut.
“Kamu mau kemana, Asyila?” tanya Arumi penasaran.
“Asyila ada perlu, Ibu. Kalau Ashraf sudah pulang dan menanyakan kemana perginya Asyila, tolong jawab bahwa Bundanya tengah mencari es krim,” terang Asyila sambil menyentuh kedua tangan Ibunya tercinta.
“Ada perlu apa? Tidak biasanya kamu keluar sepagi ini? Apakah mengenai Nak Abraham?”
“Hmm.. Bisa dibilang begitu,” jawab Asyila yang tak menjelaskan mengenai suaminya yang tengah dirawat di rumah sakit.
“Kalau memang begitu, pergilah sekarang. Kamu pergi diantar Pak Udin 'kan?” tanya Arumi.
“Asyila naik motor saja, Bu. Lagipula Asyila hanya pergi sekitar sini saja,” balas Asyila.
Arumi mengangguk dan Asyila pun pamit untuk segera meninggalkan rumah.
__ADS_1
Diperjalanan, Asyila terus saja memikirkan masalah semalam. Asyila berharap, suaminya serta yang lainnya tak mengetahui siapa wanita bercadar tersebut.
Sekitar satu jam perjalanan menuju rumah sakit, hingga akhirnya Asyila sampai dan di depan pintu masuk rumah sakit sudah ada istri dari Edi yang menunggunya.
“Nona Asyila, apa kabar?” tanya wanita yang usianya jauh diatas Asyila.
“Alhamdulillah, Asyila baik-baik saja Bu. Ibu apa kabar?” tanya Asyila yang tak kalah ramah.
Mereka pun berbincang-bincang sambil berjalan menuju ruang rawat Abraham.
“Lihat, istrimu sudah datang,” ucap Edi ketika Asyila masuk ke dalam ruangan tersebut.
Karena Asyila sudah berada di ruangan itu, mereka yang sebelumnya berada di dalam cepat-cepat keluar dan memberikan waktu untuk sepasang suami istri tersebut.
“Assalamu'alaikum, Mas.” Dengan lemah lembut, Asyila mencium punggung tangan suaminya.
“Wa’alaikumsalam, istriku,” balas Abraham dan memberikan kecupan mesra di kening sang istri.
“Mas baik-baik saja? Ini kenapa lengan Mas diperban?” tanya Asyila yang terlihat panik.
Abraham dengan tenang menceritakan apa yang terjadi semalam dan menceritakan tentang wanita bercadar tersebut.
“Mas berpikir, bahwa wanita itu selalu berada disekitar kami. Apa mungkin wanita bercadar itu adalah pasukan khusus?” tanya Abraham yang ingin mengetahui pendapat dari istri kecilnya.
“Pasukan khusus? Maksudnya Mas Abraham?” tanya Asyila penasaran dan juga berusaha untuk tetap terlihat tenang dihadapan suaminya.
“Bisa dikatakan, wanita itu memiliki kemampuan bela diri yang hebat. Apalagi yang dia lakukan seperti orang yang sangat profesional,” balas Abraham.
Abraham terus saja menceritakan tentang wanita bercadar tersebut dan menceritakan keinginan para sahabatnya untuk menemukan keberadaan wanita bercadar tersebut.
“Wanita itu sangatlah misterius dan menghilangnya dia membuat kami ingin sekali menemukannya,” ucap Abraham yang terlihat sangat gigih untuk menemukan sang wanita bercadar.
Asyila cepat-cepat menampilkan wajah cemburunya, wajah yang memang sangat jarang diperlihatkan Asyila.
“Kenapa wajah Syila tiba-tiba seperti itu?” tanya Abraham penasaran.
“Mas kenapa dari tadi membahas wanita bercadar itu? Apa karena dia sangat cantik dan juga pintar bela diri? Asyila kemari karena mengkhawatirkan kondisi Mas Abraham dan Mas malah membahas wanita lain,” terang Asyila.
“Maaf, Mas tidak akan membuat Asyila cemburu seperti ini lagi, tutur Abraham.
“Cem-cemburu? Si-siapa yang cemburu?” tanya Asyila dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.
__ADS_1
Abraham geleng-geleng kepala melihat istri kecilnya yang cemburu sementara Asyila tengah menata ketakutan serta kegugupannya di dalam kamar mandi.
“Tidak boleh, pokoknya mereka tidak boleh tahu siapa wanita bercadar itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk hal tersebut,” ucap Asyila bermonolog di dalam kamar mandi.