Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Sungguh Kasihan


__ADS_3

Pagi hari.


Asyila sedang menyuapi makanan pada suaminya dengan penuh perhatian dan Abraham pun bergantian menyuapi istri kecilnya. Setelah sarapan, Asyila akan pergi sementara waktu untuk mencari keluarga Rahma.


“Mas, yakin Asyila tinggal? Maksud Asyila, kenapa tidak agak siangan saja?” tanya Asyila yang sebenarnya tidak ingin meninggalkan suaminya sepagi itu.


“Suamimu ini tidak apa-apa, pergilah dan ingat pesan Mas! Syila harus hati-hati, kalau ada yang mencurigakan segera berlari dan berteriak sekencang mungkin agar orang lain mendengarnya,” ucap Abraham pada istri kecilnya.


“Baik, Mas,” balas Asyila.


Asyila membereskan ruang rawat suaminya dan setelah semuanya beres, barulah Asyila berangkat untuk mencari keluarga Rahma.


“Oya, Mas. Tadi Dyah mengirim pesan dan katanya sebelum jam 9 Dyah serta anak-anak akan kemari,” terang Asyila yang baru ingat bahwa Dyah mengirim pesan sebelum subuh.


Abraham mengangguk dan memberi isyarat tangan agar istri kecilnya mendekat.


Asyila tersenyum tipis dan segera mendekat ke arah suaminya.


“Mas sangat mencintai Asyila,” bisik Abraham dan menciumi bibir istrinya dengan penuh cinta.


Cukup lama mereka berciuman dan akhirnya Asyila harus pergi meninggalkan suaminya sementara waktu.


Asyila mengucapkan salam kepada suaminya dan melenggang keluar dari ruang inap sang suami tercinta.


“Bismillahirrahmanirrahim, tolong pertemukan hamba dengan keluarga besar mbak Rahma ya Allah,” ucap Asyila sambil mendongakkan kepalanya ke atas.


***


Ternyata perjalanan menuju kediaman Rahma tidak terlalu jauh, sekitar 1 jam dari rumah sakit. Sebenarnya yang membuat lama adalah jalan yang macet. Yups, Jakarta memang sangat terkenal dengan kemacetannya.


“Terima kasih, Pak,” ucap Asyila sambil memberikan uang kepada tukang ojek.


Menuju rumah keluarga Rahma, Asyila harus berganti kendaraan sebanyak 3 kali. Perjuangan yang cukup besar dan Asyila berharap bahwa keinginan untuk bertemu dengan keluarga Rahma tidaklah sia-sia.


“Selamat pagi, assalamu'alaikum,” ucap Asyila ketika sampai disebuah rumah dengan pintu yang terbuka lebar.


Cukup lama Asyila berada di luar dan tak belum juga mendapat balasan dari dalam rumah.

__ADS_1


“Tok! Tok! Tok!”


“Assalamu'alaikum, permisi,” ucap Asyila sekali lagi sambil mengetuk pintu.


Seorang wanita tua berjalan dengan tertatih-tatih keluar dari rumah dengan menggunakan tongkat kayu. Ia berjalan sembari meraba-raba dinding yang artinya bahwa penglihatan wanita tua itu tidak berfungsi dengan baik.


“Kamu siapa?” tanya wanita tua itu yang suaranya sedikit tidak jelas.


Asyila sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah wanita tua itu agar wanita tua dihadapannya mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya.


“Apakah Nenek ini adalah Nenek dari Mbak Rahma?”


“Rahma? Dimana Rahma sekarang?”


Asyila tak tega untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rahma. Dengan berat hati Asyila pun mengatakan bahwa Rahma sedang sakit dan beberapa hari ke depan agar segera pulang.


“Mari masuk!” Nenek dari Rahma pun mengajak Asyila untuk masuk ke dalam rumah.


Asyila melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan betapa terkejutnya Asyila melihat isi dalam rumah tersebut sudah sangat lama.


Ia pun meneteskan air matanya melihat dinding rumah yang sudah rusak ditambah genteng rumah sudah banyak yang rusak.


“Tidak apa-apa, Nek. Maaf Nek, orang tua Rahma sekarang tinggal dimana?” tanya Asyila penasaran karena harus segera menemui kedua orang tua Rahma untuk memberitahukan kondisi Rahma yang sebenarnya.


“Rahma dari kecil sudah tinggal dengan Nenek, kedua orangtuanya sudah lama meninggal. Meskipun begitu, orang tua Rahma cukup kaya sehingga memberikan warisan yang cukup banyak kepada cucu saya. Terlebih lagi, Wahyu adalah pria yang sangat baik,” ucapnya memuji Wahyu suami dari Rahma.


Asyila mengernyitkan keningnya, rupanya Nenek dari Rahma tak mengetahui sifat asli Wahyu. Pria kejam yang tega menyiksa istrinya sendiri.


“Nenek kenapa tinggal disini sendirian? Kenapa tidak ikut dengan Mbak Rahma?” tanya Asyila penasaran.


Sambil tertawa kecil, Nenek itu menceritakan bahwa rumah tersebut adalah rumah yang sangat berharga untuknya. Bahkan, ia ingin mati di dalam rumah tersebut karena banyak hal yang ia lewati bersama mendiang suaminya yang hampir 10 tahun meninggalkannya untuk menghadap Sang Illahi.


Asyila tak bisa menghentikan tangisannya, ia terus menangis mendengar apa yang diceritakan oleh wanita tua dihadapannya. Mengingatkannya akan sosok Sang Nenek, yaitu Erna yang telah meninggalkan dunia beberapa bulan yang lalu.


Nek, nenek sekarang apa kabar di surga? Asyila ingin sekali melihat dan memeluk tubuh nenek.


Cukup lama Asyila berbincang-bincang, sampai akhirnya ia harus kembali ke rumah sakit karena harus segera menemui suaminya.

__ADS_1


“Nek, Asyila pamit pulang dulu. Insya Allah besok siang Asyila akan datang kemari, kalau begitu Asyila pamit. Assalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam,” balasnya.


Asyila keluar dari rumah dan berjalan untuk keluar gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Ia terus berjalan sembari membayangkan kehidupan Rahma yang sungguh kasihan.


Selain memiliki Suami yang jahat, Rahma pun sudah tidak memiliki sanak keluarga. Keluarga satu-satunya pun sudah tua.


Asyila menoleh ke kiri dan kanan setelah melewati gang sempit, ia pun melambaikan tangannya kepada tukang ojek yang berada tak jauh didekat gang sempit tersebut.


“Mau kemana Mbak?” tanya si tukang ojek yang bersiap-siap untuk mengantarkan Asyila ke tempat tujuan.


Asyila pun meminta si tukang ojek itu untuk mengantarkannya ke rumah sakit tempat suaminya tengah di rawat.


****


Beberapa saat kemudian.


Asyila telah sampai tepat di depan rumah sakit, ia pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang kepada tukang ojek tersebut.


“Kembaliannya ambil saja ya pak, terima kasih,” ucap Asyila dan dengan langkah terburu-buru Asyila berjalan memasuki rumah sakit.


Sebelum masuk ke dalam ruangan suaminya, Asyila memutuskan untuk menemui Rahma terlebih dahulu.


“Assalamu'alaikum, Mbak Rahma,” ucap Asyila sambil memegangi tangan kiri Rahma.


Asyila terus saja memandangi wajah Rahma yang sangat kasihan. Wanita muda yang begitu malang karena mendapatkan suaminya berhati iblis seperti Wahyu.


Cukup lama Asyila di dalam ruangan Rahma, sampai akhirnya ia meninggalkan ruangan tersebut untuk segera menemui suaminya.


“Assalamu'alaikum, maaf ya Mas,” ucap Asyila sambil berlari kecil berharap suaminya tidak ngambek karena ia pergi cukup lama.


“Wa'alaikumsalam, bagaimana? Apakah Syila sudah menemukan keluarga besar wanita yang keguguran itu?” tanya Abraham yang juga sangat penasaran dan berharap urusan istri kecilnya segera berakhir.


Asyila menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan Abraham nampak sangat kasihan dengan Rahma.


Sedikitpun, Abraham tak pernah berpikiran untuk menyiksa wanita yang ia cintai.

__ADS_1


“Pria seperti mereka berdua tidak bisa dimaafkan, suatu saat mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah subhanahu wa ta'ala,” ucap Abraham yang terlihat sangat geram dengan apa yang dilakukan oleh Toni serta Wahyu kepada Rahma.


__ADS_2