
Beberapa jam kemudian.
Asyila menoleh ke arah jam di ponselnya yang sudah jam 2 lebih, yang artinya ia harus segera pulang karena tak ingin membuat Akbar menangis di rumah.
“Mas, Asyila harus pulang sekarang. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Asyila ya Mas,” tutur Asyila yang sebenarnya tidak ingin meninggalkan suaminya di rumah sakit.
Abraham menyentuh tangan istrinya dengan cukup kuat. Seakan-akan, ingin meminta Sang istri untuk tetap bersamanya.
“Mas, Asyila sebenarnya ingin sekali menemani Mas Abraham di rumah sakit. Akan tetapi, bagaimana dengan keluarga di rumah? Melihat kondisi Mas yang seperti ini saja, membuat Asyila sedikit lebih tenang. Meskipun, ada rasa sesak dihati karena Mas Abraham sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja,” ungkap Asyila pada suaminya sembari menangis tangisnya.
Mereka berdua saling berpelukan sebelum akhirnya berpisah.
“Insya Allah, besok pagi Asyila akan datang kemari lagi,” tutur Asyila dan mencium punggung Sang suami.
Tak butuh waktu lama, Asyila akhirnya melenggang pergi meninggalkan ruangan itu dan bergegas untuk pulang karena tak ingin membuat Akbar menangis menanti Bundanya yang belum juga tiba di rumah.
Asyila berjalan menuju area parkir dan akhirnya ia pun meninggalkan rumah sakit tersebut.
*****
Asyila akhirnya tiba di Perumahan Absyil dengan membawa buah durian kesukaan Akbar Mahesa.
“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila sembari mengetuk pintu.
Akbar berlari dengan penuh semangat menghampiri Bundanya yang baru saja tiba.
“Wa’alaikumsalam, Bunda!” seru Akbar dan mencium punggung tangan Bundanya tercinta.
“Lihatlah ke garasi, apa yang telah Bunda bawa!”
Saat itu juga, Akbar berlari menuju garasi dan ternyata sudah dua buah durian dengan ukuran jumbo.
Ashraf berlari kembali masuk ke dalam rumah untuk meminta Kakeknya mengangkat durian berukuran jumbo itu ke dalam rumah.
“Kakek! Kakek!” panggil Akbar pada Kakeknya yang tengah bersantai di ruang keluarga.
“Iya, cucu Kakek yang lucu ini. Ada apa?” tanya Herwan.
“Bunda sudah datang dan sudah membawa buah durian. Kakek tolong angkat ke dalam ya!” pinta Akbar.
Asyila tiba di ruang keluarga dan tak lupa mencium tangan Sang Ayah.
“Ayah, Ibu kemana kok tidak kelihatan?” tanya Asyila karena tak melihat batang hidung Ibunya, Arumi.
“Ibumu sedang berada di rumah Dyah,” jawab Herwan sembari beranjak dari duduknya untuk mengambil buah durian yang dimaksud oleh Akbar Mahesa.
Akbar dengan semangat membuntuti Kakeknya ke garasi.
“Syukurlah Ayah tidak menanyakan apa-apa, sebaiknya aku segera mandi dan beristirahat sebentar,” ujar Asyila bermonolog.
Herwan membawa dua buah durian berukuran jumbo ke dapur untuk segera dibelah karena Akbar sudah tak sabar ingin mencicipinya.
“Kakek, ditaruh sini ya!” pinta Akbar yang telah memegang sebuah piring plastik.
“Iya, cucu kesayangan Kakek. Kakek Herwan belah dulu ya, ayo Akbar sedikit!” perintah Herwan.
Akbar dengan patuh melangkah mundur beberapa meter dan saat itu juga Herwan membelah buah durian tersebut dengan sebuah golok.
“Alhamdulillah, sepertinya manis,” ucap Akbar yang tak lupa mengucapkan syukur Alhamdulillah ketika melihat buah durian yang begitu menggoda.
Herwan tertawa kecil melihat wajah Akbar yang terus memperhatikan buah durian tersebut.
“Akbar, ayo sini! Mana piringnya, biar Kakek taruh piring,” panggil Herwan.
Saat itu, para pekerja sudah pulang dan tentu saja rumah menjadi sepi.
“Kakek, Akbar mau mencoba satu,” ucap Abraham dan dengan tangan kecil ia mengambil durian tersebut, kemudian memasukkan ke dalam mulut. “Kakek, bijinya kecil sekali,” imbuh Akbar memperlihatkan biji yang hanya sebesar jempol tangannya, sementara daging duriannya begitu tebal.
Di dalam kamar, Asyila yang telah selesai membersihkan dirinya, saat itu sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
Saat Asyila tengah sibuk mengeringkan rambutnya yang basah, Akbar datang dengan senyum cerianya.
“Bunda!” panggil bocah kecil itu.
Asyila seketika itu juga mematikan hair dryer miliknya.
“Iya sayang, bagaimana? Akbar suka dengan durian ya Bunda beli?” tanya Asyila dan mencubit gemas pipi putra kecilnya.
“Sangat suka, Bunda. Terima kasih sudah membelikan Akbar buah kesukaan Akbar, Bunda juga harus coba. Ayo Bunda!” ajak Akbar pada Bundanya agar segera menikmati buah durian di ruang keluarga.
“Sebentar ya sayang, Bunda mau mengeringkan rambut dulu. Akbar tunggu Bunda di ruang keluarga!”
Akbar mengiyakan dan segera keluar dari kamar orangtuanya.
Keinginan Asyila untuk beristirahat akhirnya pupus sudah, ia harus segera menemani putra kecilnya di ruang keluarga.
__ADS_1
Asyila kembali menyalakan hair dryer tersebut untuk segera mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Di ruang keluarga, Akbar tengah menikmati buah durian kesukaannya itu. Sampai akhirnya, Sang Nenek tiba bersama dengan keluarga kecil Dyah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Arumi serta yang lain.
“Wa’alaikumsalam,” balas Akbar sedikit terkejut karena tiba-tiba Nenek serta yang lain sudah berada di ruang keluarga.
“Nenek dari tadi mengucapkan salam di depan pintu ruang depan, tapi tidak ada yang menjawab. Kakek kemana? Dan, Bunda Asyila apakah belum pulang?” tanya Arumi yang terus melempar pertanyaan kepada Akbar.
“Nenek, Akbar sedang makan buah durian. Kalau Akbar banyak bicara, Akbar nanti tersedak. Siapa yang sakit? Jelas Akbar, bukan Nenek,” terangnya.
Arumi, Dyah dan juga Fahmi melongo mendengar penjelasan Akbar yang begitu tidak ingin diganggu ketika sedang menikmati buah kesukaannya.
Arumi bahkan, tak bisa berkata-kata lagi. Ia pun melenggang pergi menuju kamar untuk menghampiri suaminya.
Sementara Dyah, Fahmi dan putri mereka, memilih untuk masuk ke dalam kamar.
“Mas dengar tadi apa yang dikatakan Akbar? Akbar memang menggemaskan. Akan tetapi, semakin dia pintar bicara semakin kita dibuat melongo,” ucap Dyah yang terus berjalan menuju kamar yang biasa mereka tempati.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula, tidak seperti hari Akbar menyebalkan seperti itu,” sahut Fahmi pada istrinya.
Asyila telah selesai mengeringkan rambutnya dan kini ia semakin cantik, ketika mengenakan hijab berwarna hitam.
“Akbar sayang, kok duduk sendirian? Kakek mana?” tanya Asyila pada Akbar yang tengah menonton kartun.
“Bunda, Akbar tadi makan durian dan Nenek banyak bicara,” balas Akbar yang mengadu kepada Bundanya.
“Akbar sayang, kenapa Akbar bicara seperti itu? Bunda tidak suka kalau Akbar membicarakan nenek Arumi seperti itu,” sahut Asyila dengan tatapan serius.
Akbar menunduk karena tidak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu kepada Neneknya.
“Akbar tahu kesalahan Akbar sekarang?” tanya Asyila.
“Tahu, Bunda. Gara-gara Akbar mengatakan Nenek Arumi banyak bicara,” jawabnya.
“Karena Akbar sudah mengetahui kesalahan Akbar, Bunda menganggapnya sebagai penyesalan. Sekarang, Bunda mau Akbar menemui Nenek Arumi dan meminta maaf kepada Nenek Arumi dengan tulus!” perintah Asyila yang sangat tegas, jika putra kecilnya melakukan kesalahan.
“Baik, Bunda. Bunda jangan marah ya sama Akbar!” pinta Akbar.
“Tidak, Bunda sama sekali tak marah. Bunda hanya menjelaskan bahwa ucapan Akbar tadi tidaklah pantas, sekarang temui Nenek Arumi!”
“Baik, Bunda,” balas Akbar dan saat itu juga ia berjalan menuju kamar Neneknya untuk segera meminta maaf.
Akbar akhirnya tiba di depan kamar Nenek dan juga Kakeknya.
Tak butuh waktu lama, Arumi membukakan pintu dengan senyum ramahnya.
“Loh, cucu Nenek disini? Ada apa kesayangannya Nenek?” tanya Arumi yang terlihat seperti biasanya.
Akbar memegang tangan Arumi dan mencium punggung tangan Neneknya itu.
“Nenek, maafkan Akbar karena perkataan Akbar tadi. Nenek jangan marah ya, Akbar salah,” ucap Akbar meminta maaf pada Neneknya.
Saat itu juga, hati Arumi terasa begitu tenang dan juga adem.
Arumi berjongkok dan memeluk tubuh kecil Akbar, kemudian mengecup pipi cucu kecilnya itu.
“Iya sayang, Nenek maafkan,” balas Arumi.
“Terima kasih, Nenek,” sahut Akbar yang senyumnya kembali mengembang sempurna, layaknya bunga mawar yang mekar di pagi hari.
Akbar tersenyum bahagia dan pamit untuk segera ke ruang keluarga, karena Bundanya sedang menunggu dirinya.
“Bunda, Nenek sudah memaafkan Akbar,” terang Akbar kemudian memeluk Bundanya yang saat itu tengah duduk.
“Syukurlah, sekarang Akbar duduk sini di samping Bunda!”
Asyila menoleh ke arah piring plastik yang hanya ada 3 biji durian.
“Akbar sayang, duriannya yang lain kemana? Kenapa bijinya hanya ada 3 saja?” tanya Asyila penasaran.
“Yang lainnya Akbar taruh kulkas Bunda, nanti malam buat salad buah ya Bunda, dicampur sama buah durian biar tambah sedap,” sahut Akbar yang ingin menikmati salad buah dengan campuran buah durian.
“Baiklah, sesuai dengan keinginan Akbar!” seru Asyila.
Dyah datang bersama dengan Fahmi, sementara putri mereka tengah tertidur di kamar.
“Hei, kalian dari mana saja?” tanya Asyila ketika melihat Dyah dan juga Fahmi.
“Dari kamar, Aunty. Ngomong-ngomong, Akbar suka kebablasan ya kalau bicara,” tutur Dyah dan melirik sekilas ke arah Akbar.
Meskipun begitu, Dyah sangat menyayangi adik kecilnya itu.
“Dyah, tolong dimaafin ya kalau Akbar suka kebablasan dan jangan lupa diingatkan,” pinta Asyila.
__ADS_1
Dyah tertawa kecil dan saat itu duduk tepat di samping Akbar. Ia dengan semangat mencubit pipi Akbar yang begitu menggemaskan.
Akbar malah tertawa lepas karena cubitan Dyah malah membuat pipinya menjadi geli.
“Kak Dyah, ampun.” Akbar tak bisa tertawa terlalu lama, perutnya akan sakit.
Saat itu juga, Dyah menghentikan cubitannya dan mencium seluruh wajah Akbar dengan sangat gemas.
Malam hari.
Asyila merindukan suaminya, ia ingin sekali bertemu dengan Sang suami tercinta yang saat ini masih berada di rumah sakit.
Entah kapan, suaminya bisa segera pulang ke rumah dan bisa berkumpul lagi dengannya serta keluarga yang lain.
“Mas, Asyila merindukan Mas Abraham. Rasanya, menunggu besok pagi itu begitu lama, Ya Allah tolong sembuhkan lah Mas Abraham secepatnya,” pinta Asyila.
Asyila menghela napasnya dan segera melepaskan mukena yang ia gunakan untuk melaksanakan sholat isya.
Setelah itu, Asyila mengenakan hijabnya dan bergegas menuju dapur untuk membuatkan salad yang sebelumnya diinginkan oleh putra kecilnya, Akbar Mahesa.
Akbar, Fahmi dan juga Herwan akhirnya tiba di rumah setelah melaksanakan sholat isya berjama'ah di Masjid.
Akbar mulai merindukan Ayahnya, karena biasanya Sang Ayah yang mengimami sholat di masjid.
Akbar berlari kecil masuk ke dalam kamar dan tak menemukan Bundanya. Ia pun melepaskan peci serta sarung kecilnya miliknya, lalu meletakkannya di tempat semula. Setelah itu, Akbar berlari kecil menuju dapur, karena kemungkinan Bundanya saat ini berada di dapur.
“Bunda!” Akbar berlari menghampiri Bundanya yang saat itu tengah mengambil buah durian yang sudah di kupas oleh Kakeknya di dalam kulkas.
“Hallo sayang, sudah pulang dari Masjid ternyata,” sahut Asyila.
“Iya dong Bunda,” balas Akbar dan mencium punggung tangan Bundanya. “Mau buat salad buah ya Bunda?” tanya Akbar dan duduk di kursi meja makan.
“Iya sayang, bukankah tadi sore Akbar yang meminta dibuatkan salad buah campur durian oleh Bunda?”
“Hehe.. Iya Bunda, Bunda! Ayah kapan pulang? Akbar kangen, mau main sama Ayah, main lari-larian,” tanya Akbar yang memang sangat merindukan sosok Ayahnya.
“Sabar ya sayang, Bunda juga kangen sama Ayah. Tapi, Bunda harus sabar karena disana Ayah masih sangat sibuk,” jawab Asyila yang berbohong kepada Akbar.
“Ayah sibuk cari uang ya Bunda? Bukannya uang Ayah dan Bunda banyak sekali? Kenapa harus cari uang lagi?” tanya Akbar penasaran.
“Hhmm... Kalau itu, Bunda agak sulit menjelaskannya. Kalau Akbar sudah besar, pasti Akbar akan mengerti kenapa Ayah dan juga Bunda sibuk mencari uang, meskipun uangnya sudah banyak,” terang Asyila pada Akbar.
Akbar langsung mengiyakan dan mengambil durian yang berada di piring tersebut, kemudian menikmatinya dengan penuh semangat.
Mas, lihatlah putra kita ini. Dia sangat merindukan Mas Abraham. Akan tetapi, Asyila tidak ingin sampai Akbar tahu bahwa Mas sedang berada di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian.
Salad buah dengan campuran buah durian keinginan Ashraf, akhirnya jadi juga. Asyila membuatnya dengan porsi besar, agar bisa di nikmati oleh Dyah serta yang lain.
“Horeee, salad buah akhirnya jadi juga!” Akbar dengan berteriak dengan semangat.
“Sssuttss, ini sudah malam. Tidak baik kalau berteriak, sekarang harus Bunda taruh ke dalam kulkas biar dingin. Setelah itu, kita makan sama-sama,” ujar Asyila dan meletakkan baskom berisi salad buah ke dalam kulkas.
Asyila menutup kembali pintu kulkas dan mengajak Akbar untuk bersantai-santai sejenak di ruang keluarga sembari menunggu salad buahnya menjadi dingin agar semakin nikmat dinikmati.
“Asyila, kamu makan apa?” tanya Akbar kepada keponakan, putri dari Dyah dan juga Fahmi.
Mungkin terdengar aneh. Akan tetapi, kalau dilihat dari silsilah kelahiran ya tentu saja Akbar adalah Paman dari Asyila atau yang kini lebih sering dipanggil Lala.
“Lala sedang makan cokelat, Paman Akbar mau?” tanya Asyila pada Akbar.
Akbar langsung menolak dan memutuskan untuk duduk di samping Bundanya.
“Mama, temani Lala cuci tangan!” pinta Asyila pada Mamanya, Dyah.
“Ayo, Mama temani!” seru Dyah pada putrinya.
“Dasar penakut,” celetuk Akbar pada keponakannya.
Asyila hanya melirik sinis ke arah Akbar yang baru saja mengatakan dirinya penakut.
“Ssuttss, Akbar tidak boleh seperti itu kepada Asyila!” perintah Asyila.
“Bunda, kenapa nama Asyila sama seperti nama Bunda? Kalau begitu, Akbar memanggilnya Lala saja, agar tidak sama seperti nama Bunda,” terang Akbar.
“Akbar sayang, suatu saat nanti Bunda akan memberitahukan mengapa nama Asyila ada pada Lala,” sahut Asyila dan mencium kening putra kecilnya.
Bagaimanapun, Asyila tidak akan lupa dengan peristiwa mengeringkan tersebut dan hampir merenggut nyawanya serta nyawa janin di dalam kandungannya, yang kini sudah menjadi putra kecil yang menggemaskan.
Arumi menyentuh tangan putrinya sembari tersenyum.
“Asyila, Bunda masih ingat peristiwa kelam itu. Bahkan, gara-gara itu putri kesayangan Ibu masih takut dengan lautan,” ujar Arumi dan tiba-tiba meneteskan air matanya.
“Ibu, tolong jangan menangis!” pinta Asyila sembari menyeka air mata Ibunya.
__ADS_1
Asyila tidak ingin melihat orang tuanya menangis apalagi sampai mengingat kembali kejadian yang dulu sempat membuat semua orang mengira bahwa dirinya telah meninggal dunia.