Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Akhirnya Identitas Wanita Bercadar Terungkap


__ADS_3

Akhirnya, waktu yang mereka tunggu-tunggu tiba juga. Malam itu, sekitar pukul 9 mereka tengah memantau aktivitas orang-orang yang tinggal di Perumahan Absyil. 1 jam lagi, mereka akan datang untuk menculik Abraham sekaligus untuk menghilangkan nyawa Abraham Mahesa yang telah memenjarakan bos mereka.


Gara-gara bos mereka yang tak lain adalah pria berkalung rantai, mereka mengalami kerugian sebesar 1 milyar.


“Kita harus tetap berjaga-jaga, jangan sampai ada yang mencurigai kita. Bukankah kita berlima? Tidak mungkin, bila kita kalah dari pria itu. Bukankah, pria itu saat ini sedang dalam kondisi sakit parah?”


Disaat yang bersamaan, Asyila merasa ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Akan tetapi, saat itu suaminya ada di rumah dan sedang tidur tepat disampingnya. Lalu, sesuatu hal buruk apa yang akan terjadi?


“Syila, kenapa terlihat gelisah seperti itu? Apa yang sedang mengganggu pikiran Asyila?” tanya Abraham pada istri kecilnya.


“Entahlah, Mas. Asyila juga tidak tahu. Rasanya begitu mengganjal seperti ada hal buruk yang akan terjadi,” jawab Asyila apa adanya.


“Sudah, Asyila yang tenang. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, sebaiknya kita beristirahat saja,” tutur Abraham.


Saat itu, Akbar tidak tidur bersama kedua orangtuanya. Justru, Akbar tidur bersama Kakek dan Neneknya.


“Mas, Asyila mau ke dapur dulu. Mau mengambil air minum,” ujar Asyila dan perlahan turun dari tempat tidur.


“Mas ikut!” seru Abraham yang juga ingin minum.


“Mas tidak perlu ikut, biar Asyila saja yang ke belakang. Nanti, Asyila akan membawakan Mas air minum,” terang Asyila pada suaminya.


“Syila, Suamimu ini sudah tidak apa-apa. Lihatlah, bahkan luka di tubuh Mas sudah mengering,” sahut Abraham yang memang lukanya sudah mengering dengan sangat cepat.


“Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke dapur.”


Mereka berdua pun bersama-sama menuju dapur untuk menyegarkan tenggorokan mereka.


Setelah itu, mereka memutuskan untuk bersantai sejenak di ruang keluarga.


Mereka berbincang-bincang dan sesekali tertawa ketika membahas tentang hal yang lucu-lucu.


1 jam kemudian.


Asyila samar-samar mendengar suara ketukan pintu dari ruang depan. Ia pun cepat-cepat mengenakan hijabnya sebelumnya membukakan pintu.


Asyila yang sudah mengenal hijabnya, berlari kecil menghampiri suaminya, sebelum dirinya menuju ke ruang depan.


“Mas tunggu disini dulu, Asyila mau ke depan,” tutur Asyila pada suaminya.


“Ayo, Mas temani. Lagipula, siapa yang malam-malam begini bertamu ke rumah kita? Atau mungkin, itu Yogi?” tanya Abraham menduga-duga.


“Bisa jadi itu Pak Yogi,” sahut Asyila dan mengintip ke arah luar melalui jendela.


Asyila melihat seorang pria berdiri membelakangi pintu.


Abraham perlahan membuka pintu tersebut untuk melihat siapa yang datang. Pria itu berbalik dan tiba-tiba memukul Abraham, Abraham pun terjatuh dan masih sadarkan diri.


Ketika Asyila ingin melawan, hidungnya tiba-tiba di bekap oleh kain. Kemudian, Abraham pun di bekap hingga keduanya pingsan tak sadarkah diri.


“Mantap, kita mendapatkan istrinya juga. Ayo kita bawa mereka pergi dari sini, sebelum yang lain melihat kita,” ujar salah satu dari mereka.


Abraham dan Asyila akhirnya masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil itu pun pergi meninggalkan Perumahan Absyil.


Beberapa menit kemudian.


Herwan keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar diluar, ketika ia ingin melangkah ke ruang depan, Herwan melihat pintu rumah yang telah terbuka lebar.


“Aneh, kenapa pintu ini bisa terbuka? Apakah Nak Abraham ada di luar?” tanya Herwan bermonolog.


Herwan berjalan keluar dan tak melihat siapapun di teras depan.


Saat itu juga, Herwan berlari secepat mungkin menuju kamar Asyila serta Abraham. Ketika ia membuka kamar tersebut, rupanya tak ada siapapun. Kemudian, Herwan berlari menuju ruang keluarga dan dapur, akan tetapi keduanya tidak ada.


Herwan pun masuk ke dalam kamarnya untuk menghubungi ponsel Asyila dan juga Abraham, ternyata ponsel mereka berada di dalam kamar.


Herwan pun mengecek Cctv untuk melihat apakah Asyila dan Abraham keluar untuk mencari udara segar, ataukah mereka berdua memang telah diculik.


“Astaghfirullahaladzim, Ya Allah!” Herwan menjerit keras melihat Abraham dan Asyila ternyata memang diculik.


Arumi yang mendengar teriakkan suaminya, kaget seketika. Ia dengan cepat berlari untuk menghampiri suaminya.


Teriakkan Herwan tidak hanya didengar oleh Arumi dan juga Akbar. Akan tetapi, di dengar oleh Yogi dan juga Ema, serta beberapa tetangga yang lain.


Disaat yang bersamaan, para penculik tertawa lepas karena dengan mudahnya membawa sepasang suami istri tersebut.


“Kita akan membawa mereka jauh dari tempat ini,” ujar salah satu dari mereka.


Beberapa jam kemudian.


Pukul 02.15 WIB.


Byurrrrr!!!!!!


Seember air menyiram seluruh tubuh Abraham dan juga Asyila. Perlahan mereka terbangun setelah beberapa jam tak sadarkan diri karena bius yang mereka berikan.


Saat itu, hanya Abraham saja yang diikat. Sementara Asyila, sama sekali tak diikat karena mereka tahu bahwa Asyila adalah wanita lemah yang tak akan berani melawan.


“Mas tidak apa-apa?” tanya Asyila mengkhawatirkan Suaminya yang terikat dengan sangat kencang.


“Mas tidak apa-apa, Syila ada yang terluka?” tanya Abraham yang lebih mementingkan kondisi istri kecilnya.

__ADS_1


“Mas Abraham tidak perlu khawatir, Asyila baik-baik saja,” jawab Asyila yang memang baik-baik saja.


Abraham dan Asyila menoleh ke arah sekitar, mereka terkejut ketika melihat ada 7 orang berpakaian kekar sedang memperhatikan mereka.


Saat itu juga, Abraham begitu takut. Bila mereka malah mencelakakan istri kecilnya.


“Hidupmu kali ini tidak seberuntung kemarin. Istrimu ternyata sangat cantik, akan sangat indah bila kami....”


“Hentikan omong kosong kalian!” teriak Abraham yang sangat jijik mendengar perkataan dari pria tersebut.


“Kamu memang harus diberi pelajaran!” teriak pria itu dan berlari menghampiri Abraham. Kemudian, menampar wajah Abraham sebanyak lima kali.


Asyila tak tahan melihat bagaimana Suaminya diperlakukan dengan sangat kasar dihadapannya, ia pun bangkit dan mematahkan tangan pria itu dengan sekali pukulan.


“Aakkkhhhhh!” Pria itu berteriak kesakitan.


Abraham tercengang dan juga terkejut melihat apa yang baru saja dilakukan oleh istrinya.


Abraham seperti melihat sosok lain pada diri Sang istri.


“Mas jangan takut, Asyila akan baik-baik saja,” ujar Asyila dengan tatapan penuh amarah.


Asyila berbalik badan dan menatap satu-persatu ke arah mereka yang telah membuat suaminya kembali terluka.


“Siapapun kalian majulah dan hadapi aku. Kalau kalian tidak berhasil mengalahkan ku, kalian semua adalah pengecut!” teriak Asyila.


Asyila akhirnya menunjukkan keahliannya di depan suaminya. Entah apa yang akan Abraham lakukan ketika menyadari bahwa istri kecilnya adalah wanita bercadar tersebut.


Salah satu dari mereka maju mendekat ke arah Asyila, pria itu tertawa meremehkan Asyila yang menurutnya hanya pandai berbicara saja.


“Syila, apa yang akan Syila lakukan? Asyila!” teriak Abraham yang begitu panik karena mengira bahwa istri kecilnya tak akan sanggup melawan pria berbadan kekar tersebut.


Asyila menoleh ke arah suaminya sembari tersenyum manis.


“Mas tak perlu khawatir, bukankah Mas sudah sering melihat bagaimana Asyila melawan orang seperti mereka?” tanya Asyila dan kini menatap pria yang sudah berada dihadapannya.


Abraham berpikir keras dengan apa yang dikatakan oleh istri kecilnya itu.


Deg!!!!!


Abraham akhirnya mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Sang istri. Saat itu juga, Abraham tahu bahwa istri kecilnya adalah wanita bercadar.


“Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?” tanya Abraham berusaha untuk tak mempercayai pikirannya yang mengira bahwa Asyila adalah wanita bercadar yang selama ini banyak membantu dirinya dan telah menyelamatkan buah hatinya.


Asyila mengatur napasnya terlebih dahulu. Kemudian, memasang kuda-kuda dengan terus menatap tajam ke arah lawan.


“Hyaaakkk!” Asyila berteriak dan dengan gesit memukul, menendang dan mematahkan pergelangan tangan dengan gerakan yang sangat cepat.


Abraham melongo tak percaya, ia terkejut, tercengang, terperangah dan benar-benar bingung harus merespon apa yang ia lihat di depan matanya itu. Istri kecilnya yang dikenali Abraham dengan sosok lembutnya, ternyata adalah sosok wanita yang begitu kuat dan penuh kejutan yang tak terduga.


Mereka berteriak keras dan tak terima dengan apa yang telah Asyila lakukan kepada salah satu komplotan mereka.


“Dasar wanita tak tahu diri,” hardik salah satu dari mereka.


Asyila tak membalas ucapan dari pria tersebut, justru ia melirik ke arah yang lain untuk melihat siapakah dari mereka yang tengah memegang senjata. Akhirnya, Asyila menemukan seorang pria yang saat itu tengah memegang senjata api.


“Kamu yang pakai baju biru, kemarilah dan lawan aku!” Asyila menantang pria berbaju biru tersebut untuk datang melawannya.


Pria berbaju biru tersebut, langsung terpancing dengan tantangan dari Asyila.


Pria itu berjalan mendekat ke arah Asyila dan dengan gerakan gesit, Asyila berhasil mengambil senjata api tersebut.


Dengan lihai, Asyila menembakkan tulang kering mereka dengan begitu luar biasa hebatnya.


Sekitar 5 orang penjahat yang berhasil Asyila lumpuhkan dan sisanya Asyila melakukannya dengan tangan kosong.


Abraham tak berkedip ketika melihat bagaimana lincah, gesit serta cepatnya Sang istri dalam mengeluarkan jurus-jurus ilmu bela diri tersebut.


Abraham akhirnya percaya bahwa wanita bercadar yang selama ini menjadi malaikat untuknya serta buah hatinya adalah istrinya sendiri.


Tak butuh waktu lama, Asyila berhasil membuat mereka lemas tak berdaya dan bahkan mereka sudah pingsan tak sadarkan diri.


Asyila yang telah berhasil melumpuhkan lawan tanpa terluka sedikitpun, bergegas menuju suaminya untuk melepaskan tali yang mengikat tubuh Sang suami tercinta.


Setelah tali yang mengikat tubuh Abraham lepas, saat itu juga Abraham memeluk istrinya dengan begitu erat dan menangis.


“Kenapa? Kenapa Asyila harus menyembunyikan hal seperti ini? Kenapa Asyila begitu berani mempertaruhkan nyawa Syila untuk kami?” tanya Abraham dengan mulut gemetar.


“Mas, Asyila tidak bermaksud untuk menyembunyikan identitas Asyila. Akan tetapi, bukankah dulu Mas pernah melarang Asyila untuk tidak melakukannya hal seperti ini? Apakah Mas masih ingat?”


“Ya Allah, saat itu Mas sama sekali tidak berpikir bahwa perkataan Asyila adalah perkataan serius. Ternyata selama ini, Asyila yang telah.....” Abraham tak sanggup meneruskan perkataannya, bibirnya seakan-akan telah membeku.


“Mas, tolong jangan bicara dulu. Ayo Asyila bantu, sebaiknya kita harus segera pergi dari sini,” ujar Asyila dan terlebih dulu mengambil salah satu ponsel dari mereka untuk menghubungi polisi agar segera menangkap para penjahat yang ingin membunuh suaminya dan juga dirinya.


Setelah berhasil menghubungi polisi, Asyila memapah suaminya berjalan meninggalkan tempat tersebut.


“Mas, sebaiknya kita naik mobil ini saja menuju rumah sakit. Saat ini, Mas harus segera dirawat agar segera sembuh,” tutur Asyila dengan terus memapah suaminya menuju mobilnya.


Untungnya mobil itu tidak terkunci dan kunci mobil tersebut masih menancap di dalam mobil.


Asyila pun membantu suaminya masuk ke dalam dan dengan perlahan ia mengemudikan mobil tersebut.

__ADS_1


“Syila mulai kapan berani mengendarai mobil?” tanya Abraham dengan tatapan terkagum-kagum.


Abraham terpukau, terkagum-kagum dan benar-benar tercengang dengan keahlian Bela diri istri kecilnya yang bisa dikatakan setara dengan keahlian yang dimiliki olehnya.


“Soal berani atau tidak, sebenarnya Asyila sudah berani dari dulu. Hanya saja, Asyila tidak bisa mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi,” jawab Asyila apa adanya.


“Sejak kapan Asyila berlatih ilmu bela diri?” tanya Abraham penasaran.


“Mas, Asyila akan menjawab pertanyaan Mas Abraham, begitu Mas sudah sembuh. Jadi, untuk sekarang lebih baik Mas simpan dulu pertanyaan-pertanyaan itu!” pinta Asyila.


Abraham mengangguk setuju dan tiba-tiba ia tak sadarkan diri. Untungnya, Asyila telah memakaikan suaminya sabuk pengaman, sehingga Sang suami tidak akan jatuh.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Saat itu juga, Asyila keluar dari mobil dan berteriak meminta agar suaminya segera ditangani.


Beberapa bulan kemudian.


Akbar terlihat sangat bahagia bermain bersama kedua kakaknya, yaitu Arsyad dan juga Ashraf.


Bela yang telah diangkat anak oleh Ibu Khadijah, sudah dua hari menginap di Perumahan Absyil. Membuat rumah kembali ramai seperti dulu.


Bahkan, kebahagiaan itu akan segera datang ketika bayi mungil diperut Asyila lahir. Dikarenakan saat ini Asyila tengah mengandung anak ke-lima bersama Sang suami tercinta.


Semenjak Abraham mengetahui identitas istri kecilnya, Abraham perlahan mulai mengurangi aktivasinya yang membantu para anggota polisi. Dikarenakan, Abraham tidak ingin membuat Asyila sampai turun tangan seperti yang sudah-sudah.


Perumahan Absyil pun kini diperketat, bila ada mobil atau siapapun yang memasuki area Perumahan Absyil, langsung diperiksa saat itu juga. Bagi yang ingin masuk, harus mematuhi peraturan tersebut. Jika tidak, maka tidak diizinkan masuk ke dalam area Perumahan Absyil.


“kak Arsyad, jangan cepat-cepat! Kasihan adik Akbar kalau terus berlari mengejar Kak Arsyad,” tutur Asyila pada putra sulungnya.


Arsyad mengiyakan dan memperlambat larinya agar Akbar bisa menangkapnya.


“Horeeee! Akbar akhirnya berhasil menangkap Kak Arsyad!” teriak Akbar dengan penuh semangat.


Ashraf beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya. Kemudian, ia berlari kecil menuju Bundanya yang sedang duduk manis di teras depan rumah bersama Sang Ayah.


“Hallo, adik bayi. Cepat besar ya, Kak Ashraf ingin mengajak adik baik bermain bola,” ujar Ashraf pada adiknya yang masih berada di dalam kandungan Bundanya.


“Dua bulan lagi adik akan lahir, Kak Ashraf. Tunggu adik bayi ya,” sahut Asyila dengan menirukan suara anak kecil.


Ashraf tertawa kecil dan perlahan mencium perut buncit Bundanya. Kemudian, Ashraf berlari untuk bermain dengan Kakak serta adiknya.


Abraham mengecup lembut pipi Sang istri yang terlihat tembam.


Kehamilan Asyila kali ini sedikit berbeda dari kehamilan sebelumnya. Jika dulu, berat badannya tidak terlalu bertambah. Akan tetapi, kehamilan kali ini Asyila sudah bertambah berat badan menjadi 10 kilogram.


“Wanita bercadar ku sekarang semakin gendut seperti bolak,” tutur Abraham yang sangat senang menggoda Sang istri.


“Mas, yang membuat Asyila menjadi seperti bola ini siapa? Bukankah itu Mas?” tanya Asyila dengan kesal.


Abraham tertawa lepas mendengar pertanyaan dari istri tercintanya itu.


“Wanita Bercadar ku,” ucap Abraham yang semakin sering memanggil Asyila dengan panggilan wanita bercadar ku.


“Hentikan, Mas. Asyila tidak ingin ada yang mendengar panggilan itu. Bagaimanapun, yang hanya tahu identitas Asyila adalah Mas Abraham dan juga Ashraf,” ujar Asyila yang malah keceplosan.


Abraham mengernyitkan keningnya mendengar ucapan istrinya itu. Kemudian, ia memanggil Ashraf untuk memastikan hal tersebut.


“Ashraf! Sini sayang!” panggil Abraham.


Saat itu juga, Ashraf datang menghampiri Ayahnya yang terus memanggil dirinya.


“Ashraf jawab pertanyaan Ayah dengan jujur, Ashraf tahu siapa wanita bercadar yang pernah menyelamatkan Ashraf pada saat Ashraf diculik?” tanya Abraham penasaran.


Saat itu juga Ashraf mengatakan tidak dan matanya justru melirik ke arah Bundanya. Abraham pun akhirnya tahu bahwa Ashraf memang sudah lebih dulu tahu mengenai identitas asli dari wanita bercadar tersebut.


Arumi, Herwan, Dyah dan juga Asyila baru saja tiba dari pasar. Mereka berempat dengan kompak turun dari mobil.


“Asyila, lihat Ibu bawa apa? Ibu membawa manisan buah salak yang kemarin diinginkan oleh Syila,” tutur Arumi pada putri kecilnya.


Saat itu juga Asyila beranjak dari duduknya untuk segera mengambil manisan buah salak yang sangat ingin ia nikmati.


“Terima kasih, Ibu. Akhirnya Asyila bisa makan manisan buah salak juga,” ujar Asyila sembari mengelus perutnya yang buncit.


Arumi, Herwan, Dyah dan juga putri kesayangan Dyah melenggang pergi masuk ke dalam rumah.


“Aunty, nanti malam film kesukaan kita tayang, pokoknya Aunty harus nonton,” tutur Dyah sebelum melewati pintu masuk.


“Siap, nanti malam kita begadang!” seru Asyila dengan senyum manisnya.


Ema datang bersama kedua putranya dengan membawa brownies panggang permintaan Asyila yang tengah ngidam.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ema, Kahfi dan juga Fauzi.


“Wa’alaikumsalam, wah sepertinya brownies panggang yang aku inginkan telah jadi, terima kasih Ema,” tutur Asyila menerima brownies panggang tersebut.


Asyila mengajak Ema untuk masuk ke dalam dan berbincang-bincang sejenak.


Abraham pun memutuskan untuk masuk dan memanggil ketiga putranya untuk ikut masuk ke dalam rumah.


Cinta Abraham dan Asyila akan terukir selamanya di dalam hati kalian semua.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2