
Sudah hampir seminggu lamanya, Asyila belum juga bangun dari komanya dan itu semakin membuat Abraham frustasi.
Belum lagi, jika kedua putra mereka bertanya terus menerus tentang keberadaan Bunda mereka yang masih belum bisa menemui mereka berdua.
Dyah tengah duduk seorang diri di kebun milik Almarhumah Nenek buyutnya. Semilir angin pagi pun berkali-kali menabrak tubuhnya kala itu.
“Nek, sebenarnya hari ini adalah hari dimana Dyah menjadi seorang istri. Akan tetapi, hal ini tidak membuat Dyah sedih sama sekali karena pernikahan Dyah dan Mas Fahmi tertunda. Justru yang sangat Dyah sesali sampai hari ini adalah tidak bisa bertemu dengan Aunty meskipun hanya sebentar.”
Dyah terus saja berbicara, seolah-olah Nenek buyutnya sedang duduk disampingnya sambil mendengarkan setiap perkataannya.
Abraham menghela napasnya ketika melihat Dyah berada di kebun anggur milik Almarhumah Sang Nenek. Beberapa menit yang lalu, Abraham mencari keponakannya dan mengira bahwa sang keponakan tengah pergi. Dan ternyata, keponakannya ada di tempat menenangkan tersebut.
“Dyah!” panggil Abraham yang saat itu menggerakkan kursi rodanya tanpa bantuan orang lain.
Dyah pun menoleh dan berlari kecil menghampiri Pamannya.
“Iya Paman, ada apa memanggil Dyah?” tanya Dyah penasaran.
“Kamu ingin bertemu dengan Aunty Asyila?” tanya Abraham.
Dyah melebarkan senyumnya dan dengan semangat mengiyakan bahwa ia ingin segera bertemu dengan istri kecil dari Pamannya.
“Sekarang bersiaplah, Paman akan menunggumu di dalam mobil. Dan jangan sampai Arsyad maupun Ashraf mengetahui bahwa kamu ingin ke rumah sakit. Paman tidak ingin mereka tahu apalagi ikut pergi ke rumah sakit,” terang Abraham.
Dyah tersenyum lebar, ia sangat bahagia akhirnya bisa menemui Aunty-nya yang tengah berada di rumah sakit.
Gadis itu berlari kecil menuju kamar dan cepat-cepat mengganti pakaiannya. Rasa bahagia melebihi rasa bahagia bertemu dengan calon suaminya, Fahmi.
“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Alah terima kasih sudah mendengarkan Do'a hamba yang ingin segera bertemu dengan Aunty!”
Usai mengganti pakaiannya, Dyah bergegas keluar dari kamar sambil celingak-celinguk ke arah sekitar berharap Arsyad dan Ashraf tidak melihatnya.
Setelah dirasa aman, Dyah pun melesat cepat ke arah depan rumah dan masuk ke dalam mobil.
“Huh, Akhirnya bisa keluar juga,” ucap Dyah bernapas lega.
Eko langsung tancap gas dan membawa keduanya bergegas ke rumah sakit.
“Paman, bagaimana kondisi Pak Udin? Apakah Pak Udin baik-baik saja?” tanya Dyah penasaran.
“Soal Pak Udin, Paman belum tahu pasti. Tapi, kemungkinan keadaan Pak Udin lebih parah dari keadaan Aunty mu,” jawab Abraham.
__ADS_1
Sampean detik itu, Abraham belum mengetahui bahwa istri kecilnya mengalami luka tusuk di bagian perut dan juga mengalami keguguran. Yang Abraham tahu adalah Sang istri koma karena terkena pukulan.
Entah apa jadinya, ketika Abraham tahu kondisi sang istri yang sebenarnya.
Dyah terus saja memanjatkan Do'a untuk Aunty-nya tersayang, berharap kedatangannya membuat Asyila bisa sadar.
Setibanya di rumah sakit, Dyah langsung turun dan membantu Pamannya turun dari mobil.
“Biar Eko saja yang membantu Paman,” ucap Abraham.
Dyah mengangguk kecil dan bergeser menjauh agar Eko dapat membantu Pamannya untuk turun dari mobil dan tak butuh waktu lama, Abraham pun telah berada di kursi rodanya.
“Biar saya saja, Mbak Dyah,” ucap Eko dan mulai mendorong kursi roda Abraham menuju ruangan Asyila.
Jantung Abraham berdebar kencang, untuk pertama kalinya ia akan bertemu dengan istri serta calon buah hati mereka yang ketiga setelah kejadian malam yang mengerikan tersebut.
Ketika sedang dalam perjalanan menuju ruang rawat Asyila, dokter Faisal tak sengaja melihat temannya itu. Tanpa pikir panjang, dokter Faisal langsung menghampiri Abraham.
“Assalamu'alaikum, apa kabar Tuan Abraham?” tanya dokter Faisal.
“Wa'alakumsalam, seperti yang kamu lihat! Aku belum sepenuhnya sembuh,” balas Abraham.
“Apakah kedatangan anda kemari ingin bertemu dengan Nona Asyila?” tanya Sang dokter berseragam serba putih.
Dokter Faisal terdiam sejenak dan beberapa detik kemudian, pria itu mengiyakan dan mengambil alih untuk membawa Abraham masuk ke ruangan Asyila.
Sesampainya di ruangan Asyila, Abraham langsung meneteskan air matanya. Istri kecilnya benar-benar sangat menyedihkan dan beberapa luka lebam bisa terlihat di bagian pergelangan tangan serta disekitar wajah istri kecilnya.
Dyah tak bisa menyembunyikan kesedihannya, seketika itu juga ia menangis dan tak bisa berkata-kata lagi. Kondisi Aunty jauh dari perkiraannya, terlihat sekali bahwa Aunty-nya mengalami kesakitan yang sangat parah.
“Apakah anda siap mendengarkan sesuatu yang lain?” tanya dokter Faisal yang tak bisa menyembunyikan mengenai kegugurannya Asyila.
Abraham dan Dyah kompak menoleh ke arah dokter Faisal.
“Beritahu apa yang sebenarnya terjadi kepada istriku, apapun itu aku akan berusaha menerimanya,” tutur Abraham.
“Nona Asyila mengalami luka tusuk di bagian perutnya dan hal yang paling buruk adalah....” Dokter Faisal seketika itu menghentikan ucapannya, rasanya sangat berat untuk berkata jujur dengan apa yang telah terjadi kepada calon buah hati Abraham dan Asyila.
“Dokter, katakan yang sebenarnya! Jangan membuat kami semakin sedih,” ucap Dyah yang mulai kesal dengan Dokter tersebut.
“Nona Asyila mengalami keguguran,” jelas dokter Faisal.
__ADS_1
Deg!
Abraham tertegun mendengar berita duka tersebut, perasaannya sangat hancur. Buah hati yang sangat ia harapkan ternyata sudah lebih dulu diambil oleh Sang Maha Pencipta, sama sekali tak memberikan Abraham kesempatan untuk merawatnya.
Pria itu kembali menangis, susah payah ia menahan tangisannya dan ternyata ia gagal. Ia terus menangis sampai-sampai dokter Faisal ikut menangis.
Dyah menatap wajah Aunty-nya dan menyentuh tangan istri dari Pamannya.
Gadis bermata sipit itu bingung harus mengatakan apa, karena perasaannya ikut hancur. Baru beberapa hari yang lalu ia mengetahui bahwa Aunty-nya sedang mengandung, itu artinya ia akan memiliki adik lagi. Namun takdir berkata lain, belum sempat melihat wajah calon adiknya rupanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala lebih sayang kepada calon adiknya itu dengan cara mengambilnya.
Dokter Faisal mendorong kursi roda Abraham lebih dekat lagi dan Dyah pun memutuskan untuk keluar dari ruangan, membiarkan sepasang suami istri itu di dalam berdua saja.
“Syila, ini suamimu. Maaf karena tidak bisa melindungi Asyila dan calon bayi kita, sekali lagi Mas minta maaf,” tutur Abraham sambil menyentuh pelan perut sang istri.
Suara tangisan Abraham benar-benar menyedihkan, siapapun yang mendengarnya pasti ikut menangis.
Dokter Faisal akhirnya keluar dari ruangan itu, ia pun bergegas ke ruangan lain dengan air mata yang terus menetes. Sebenarnya, bukan hal baru lagi bagi Dokter Faisal melihat secara langsung orang-orang yang dipanggil oleh Allah. Bahkan, dokter Faisal sering kali menangani kasus yang lebih menyedihkan dari ini. Meskipun begitu, dokter Faisal tetaplah manusia biasa yang memiliki kesedihan ketika melihat orang-orang yang keluar masuk rumah sakit meninggal dunia.
Cukup lama Abraham di dalam ruangan istri kecilnya sampai hal tak terduga pun terjadi. Sang istri tiba-tiba terbangun dari komanya dan Abraham masih belum menyadari hal tersebut.
Asyila perlahan membuka matanya, ia merasa sekujur tubuhnya sakit. Dengan sekuat tenaga, Asyila menggerakkan tangannya dan menyentuh kepala suaminya.
Abraham seketika itu terkesiap, ia sangat terkejut melihat istri kecilnya siuman setelah beberapa hari tidak sadarkan diri.
“Dyah! Dyah!” panggil Abraham.
Dyah yang menangis di luar ruangan, terkesiap dan seketika itu masuk ke dalam.
“Aunty!” teriak Dyah mendapati Aunty-nya telah sadar dari koma.
“Cepat panggilkan dokter!” perintah Abraham.
Dyah secepat mungkin berlari untuk memanggil siapapun orang yang menurutnya adalah dokter.
“Dokter, Aunty saya sudah sadar!” teriak Dyah yang justru membuatnya menjadi pusat perhatian seketika itu juga karena teriakkan Dyah yang begitu keras.
Dyah tak peduli, ia langsung menyeret salah satu dokter yang lewat dan membawanya masuk ke dalam ruangan Aunty-nya. Untungnya saja, dokter yang diseret oleh Dyah adalah dokter yang menangani Asyila.
“Syukurlah,” ucap Sang dokter, “Tolong tinggalkan kami berdua!” perintah dokter tersebut.
Dyah dan Abraham pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Meskipun Abraham sangat sedih karena kehilangan calon bayi mereka, akan tetapi disaat yang bersamaan ia bisa bernapas lega karena sang istri sudah siuman dari komanya.