Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Selalu Merindukan Sosok Asyila


__ADS_3

“Tentu saja mirip aku. Asyila 'kan, putriku,” jawab Dyah sambil geleng-geleng kepala.


Ema tersenyum bahagia melihat Dyah dihadapannya. Ditambah, kini Asyila kecil sudah kembali ke pelukan orangtuanya.


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Dyah penasaran.


“Apa aku tidak boleh senyum-senyum? Kamu ini,” celetuk Ema dan dengan lembut mencium pipi kemerah-merahan Asyila kecil.


Asyila kecil terbangun dari tidurnya dan seketika itu mulutnya bergerak-gerak seakan ingin mencari ASI.


Dyah mendelik ke arah Ema dan Ema tanpa rasa bersalah kembali menciumi pipi Asyila kecil.


“Kau nakal sekali,” ucap Dyah kepada Ema.


“Biarin,” celetuk Ema.


Ema berlari keluar kamar dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena harus menyiapkan makanan untuk sang suami tercinta.


“Pak Abraham, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum,” ucap Ema sambil menggandeng tangan Kahfi untuk segera keluar dari rumah Abraham.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham.


Melihat istrinya pulang, Yogi memutuskan untuk ikut pulang.


Abraham tertawa kecil melihat Yogi yang seperti anak ayam mengejar induknya.


Ketika Ema baru saja masuk ke dalam rumah, suaminya tiba-tiba datang dan mengusap-usap kepalanya yang tertutup hijab. Kemudian, Ema pun menoleh dan saat itu juga Yogi memberikan kecupan mesra di kening istrinya, Ema.


“Abang Yogi kenapa tiba-tiba bersikap romantis secara tiba-tiba begini?” tanya Ema malu-malu sambil mendorong pelan tubuh Kahfi agar segera masuk ke dalam rumah meninggalkan kedua orang tuanya yang saat itu terlihat menggemaskan.


Kahfi berlari kecil dan memutuskan untuk menonton televisi di kamar orang tuanya.


Yogi tersenyum genit dan mencolek perut istrinya.


“Ah, Abang. Geli tahu,” ucap Ema sambil berusaha menutupi seluruh perutnya agar tak di colek oleh suaminya.


Yogi tertawa lepas dan segera menutup pintu rapat-rapat. Kemudian, mengajak istrinya memasak bersama di dapur.


Malam hari.


Abraham meletakkan ponselnya di tempat tidur begitu saja. Kemudian, ia bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat isya berjama'ah.


“Mau berangkat juga?” tanya Abraham ketika baru saja menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Fahmi.


“Iya, Paman,” jawab Fahmi sambil mengangguk kecil.

__ADS_1


“Dimana Dyah dan Asyila kecil?” tanya Abraham.


“Di dalam kamar, Paman. Dyah sedang menyusui Asyila yang agak rewel,” jawab Fahmi apa adanya.


“Apa sebaiknya bawa Dyah dan Asyila ke rumah sakit untuk diperiksa?” tanya Abraham yang terlihat mengkhawatirkan keponakan serta cucunya.


“Paman tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Dyah dan juga bayi kami. Insya Allah mereka baik-baik saja,” balas Fahmi yang tak ingin merepotkan Abraham lagi.


Bagi Fahmi, sudah mendapatkan izin tinggal di rumah itu saja sudah lebih dari cukup.


“Yakin?” tanya Abraham memastikan.


“Insya Allah,” jawab Fahmi.


“Ya sudah kalau begitu. Ayo ke masjid!” ajak Abraham yang saat itu ingin segera ke masjid untuk mengumandangkan adzan.


Ketika baru saja menginjakkan kakinya ke lantai masjid, para pria berbondong-bondong menghampiri Abraham dan juga Fahmi.


Mereka menyambut kedatangan keduanya dan terlihat sangat jelas bahwa para pria penghuni perumahan Absyil begitu menghormati serta menghargai Abraham.


Abraham membalas sapaan mereka dan bergegas untuk mengumandangkan adzan.


Beberapa saat kemudian.


Akan tetapi, Abraham harus cepat pulang karena di rumah hanya ada Dyah dan juga Asyila kecil.


Abraham dan Yogi masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam secara bersamaan.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan juga Yogi.


“Wa’alaikumsalam,” balas Dyah yang ternyata sedang duduk dengan memangku Asyila kecil di ruang tamu.


“Kamu kenapa duduk disini? Kenapa tidak beristirahat di dalam kamar saja?” tanya Abraham terheran-heran.


“Ya ampun, kenapa Paman ini sudah seperti Mama Yeni saja? Hati-hati, Paman. Bisa-bisa Paman malah jadi perempuan gara-gara banyak bicara,” ucap Dyah dan menggelengkan kepalanya berulang kali melihat kelakuan Pamannya yang mulai cerewet.


“Paman begini-begini juga demi kebaikan kalian berdua,” jawab Abraham.


Dyah membalas ucapan Pamannya dan begitu pun sebaliknya.


Fahmi yang melihat mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Aku disini hanya penonton yang melihat para pemain sedang adu mulut,” ucap Fahmi bermonolog.


Perdebatan keduanya pun berakhir, mana kala Abraham tiba-tiba mengalami sakit perut.

__ADS_1


Abraham berlari terbirit-birit menaiki anak tangga dengan terus memegangi perutnya.


Dyah tertawa meledek melihat Pamannya yang seperti itu. Akan tetapi, ketika Abraham benar-benar tak terlihat lagi.


Dyah secara tiba-tiba terdiam dan air matanya menetes seketika itu juga.


Fahmi tercengang melihat perubahan istrinya yang begitu mendadak.


“Dyah kenapa? Kok tiba-tiba menangis?” tanya Fahmi dan mengambil alih menggendong buah hatinya mereka yang sedang terlelap.


Dyah tak menjawab pertanyaan dari suaminya. Ia melenggang pergi begitu saja untuk segera masuk ke dalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, bukannya berhenti menangis. Dyah malah semakin menjadi-jadi dan semakin membuat Fahmi terkejut sekaligus khawatir.


“Ayo cerita sama Mas. Sebenarnya Dyah mengapa menangis seperti ini? Apa ada yang menyakiti Dyah?” tanya Fahmi secara pelan-pelan. Agar sang istri mau terbuka kepadanya.


“Dyah kangen Aunty Asyila. Dia tadi sempat tidur ketika sedang menyusui bayi ketika. Nah, di dalam mimpi Dyah bertemu dengan Aunty Asyila. Di dalam mimpi itu, Aunty terlihat sangat cantik dan terlihat begitu bahagia. Hiks.. hiks...”


Dyah sebenarnya ingin menceritakan tentang mimpinya itu kepada Pamannya, Abraham. Akan tetapi, Dyah segera mengurungkan niatnya karena tak ingin melihat Pamannya bersedih.


Fahmi memahami maksud dari istrinya dan mencoba menenangkan hati Dyah yang saat itu benar-benar sedih.


“Kita berdo'a kepada Allah untuk kehidupan Paman Abraham. Allah lebih tahu mengenai kehidupan kita daripada siapapun,” tutur Fahmi dan dengan hati-hati meletakkan bayi mungilnya di ranjang.


Dyah tersenyum tipis sambil mencoba menghapus air matanya.


Disaat yang bersamaan, Abraham yang baru saja keluar dari kamar mandi seketika itu juga bergegas menuju tempat tidurnya.


Ia merebahkan tubuhnya dan mencoba merilekskan tubuhnya.


“Kenapa perutku tiba-tiba diare seperti ini?” tanya Abraham dan beranjak sejenak untuk mengambil foto istri kecilnya yang sangat cantik.


Abraham menatap foto istrinya dengan penuh cinta. Tatapan yang sangat hangat seperti yang biasa Abraham lakukan ketika menatap wajah istrinya secara langsung.


“Selamat malam cantik, suamimu yang tampan ini sakit perut. Biasanya Syila lah yang akan merawat Mas sampai sembuh,” ucap Abraham bermonolog dengan mata berkaca-kaca.


Abraham memeluk foto Istrinya dengan sangat erat. Pria itu sangat dan sangat merindukan sosok istrinya yang begitu dicintai oleh seorang Abraham Mahesa.


Cukup lama Abraham berada diposisi itu. Hingga akhirnya ia terlelap karena kelelahan.


Sungguh Abraham yang begitu malang. Kepergian istrinya benar-benar membuat hidupnya menjadi sulit.


Abraham tak bisa menikmati kehidupan di bumi seperti yang kemarin-kemarin. Ketika ada senyum manis dari seorang Asyila.


Wanita cantik dan memiliki kepribadian yang dapat diacungi jempol.

__ADS_1


__ADS_2