
Usai sarapan, Dyah tiba-tiba ingin berjalan-jalan sekitar daerah itu. Akan tetapi, suaminya tidak bisa menemaninya pergi jalan-jalan karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikannya pagi itu juga.
“Maaf ya istriku, Mas sedang tidak bisa menemani istriku ini jalan-jalan. Ada data-data yang harus Mas kirim pagi ini juga,” terang Fahmi yang tengah berkutat dengan laptop miliknya.
Dyah terdiam sejenak dan tiba-tiba ingat bahwa Aunty-nya pasti akan mengiyakan ajakannya.
“Ya sudah kalau tidak bisa. Dyah minta Aunty saja yang menemani Dyah jalan-jalan,” ucap Dyah dan melenggang keluar dari kamar dengan langkah kaki yang sengaja ia bunyikan.
Dyah berjalan ke arah luar dan melihat Ema yang tengah sibuk menemani Ashraf dan juga Kahfi bermain.
“Ema, kamu bisa menemani aku jalan-jalan sekitar sini?” tanya Dyah yang sebenarnya sudah tahu bahwa Ema pasti akan menolak ajakannya.
“Maaf, aku saat ini sedang sibuk menemani dua bocil ini bermain,” jawab Ema menolak secara halus.
Dyah mengangguk kecil, ia sudah tahu bahwa kalimat itu akan terlontar dari mulut Ema.
“Aunty dimana?” tanya Dyah karena tak melihat Asyila.
“Aku dari tadi tak melihat dimana Asyila dan Pak Abraham,” jawab Ema apa adanya.
Dyah mengangkat kedua alisnya dan memutuskan untuk mencari Aunty-nya.
“Sabar ya sayang, Mama akan mencari Nenekmu dulu,” ucap Dyah sambil mengelus-elus perutnya.
Dyah berjalan ke arah luar terlebih dahulu, akan tetapi diluar rumah tidak ada siapapun. Kecuali, Pak Udin yang tengah bersantai-santai di pos penjagaan.
“Aunty dan Paman belum sarapan, terus kemana perginya?” Dyah bertanya-tanya dengan terus melangkah menuju halaman belakang rumah.
Disaat yang bersamaan, Abraham dan Asyila sedang duduk di kursi halaman belakang sambil menikmati cemilan roti bakar yang dibuat oleh Arumi sebelumnya.
“Mas, Asyila sama sekali tidak merasa mual,” tutur Asyila setelah menikmati sepotong roti bakar rasa strawberry.
“Alhamdulillah, itu artinya buah hati kita menyukai roti bakar dan juga menikmatinya,” balas Abraham dan menciumi perut rata istri kecilnya berulang kali.
“Aunty!” Dyah memanggil Aunty-nya dengan penuh semangat sambil terus berjalan mendekati sepasang suami istri yang tengah bermesraan.
Dyah datang disaat yang tidak tepat dan membuat Abraham nampak kesal.
“Dyah mengganggu ya?” tanya Dyah yang merasa bersalah karena kedatangannya benar-benar tidak tepat.
“Sudah, tidak apa-apa. Abaikan saja Pamanmu itu,” balas Asyila dan mempersilakan Dyah untuk duduk bersamanya.
Abraham melirik tajam ke arah Dyah dan dengan cepat Asyila meminta suaminya untuk meninggalkan keduanya.
Mau tak mau Abraham akhirnya menuruti keinginan istri kecilnya. Meskipun, dengan perasaan yang sangat terpaksa.
“Aunty, temani Dyah berkeliling sekitaran sini ya! Ayolah, Aunty! Ini permintaan dari cucu Aunty,” pinta Dyah dengan memasang wajah memelas.
“Harus sekarang?” tanya Asyila memastikan.
“Mumpung masih pagi, Aunty. Udaranya masih segar,” balas Dyah sambil menggenggam erat tangan Asyila.
__ADS_1
Asyila sebenarnya ingin menolak ajak Dyah. Akan tetapi, Asyila tidak bisa dan akhirnya menyetujui ajakan Dyah.
“Ya sudah, ayo! Aunty pamit dulu pada Pamanmu, takut nantinya Pamanmu mencari Aunty,” tutur Asyila.
Wanita muda itu memutuskan untuk mengiyakan ajakan Dyah dan tak lupa meminta izin kepada suaminya.
Awalnya Abraham sempat menolak keinginan Asyila untuk menemani Dyah, akan tetapi Asyila terus saja memohon hingga akhirnya Abraham menyetujui kedua wanita yang tengah hamil itu berkeliling sekitar rumah.
“Ingat! Kalau sudah berkeliling, langsung pulang dan tak boleh mampir. Dan satu lagi, jangan terlalu jauh berjalan-jalan di daerah sini!” tegas Abraham.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila dan tak lupa memberikan kecupan mesra di pipi suaminya sebagai hadiah karena telah menyetujui keinginannya.
Beberapa saat kemudian.
Asyila dan Dyah bersama-sama melangkah keluar rumah dengan perasaan begitu bahagia.
Dyah sesekali mengajak buah hati perutnya berbicara.
“Aunty, kapan kembali ke Bandung?” tanya Dyah.
“Insya Allah secepatnya,” balas Asyila.
“Aunty, kita lewat sana ya!” pinta Dyah menunjuk ke arah selatan.
“Boleh, kamu yang hati-hati. Ada banyak kerikil dijalan ini,” tutur Asyila.
Tanpa diketahui oleh Asyila maupun Dyah, ternyata dari kejauhan ada sebuah mobil yang tengah mengikuti mereka.
Tanpa pikir panjang, Dyah langsung mengiyakan karena kakinya sudah terasa pegal dan harus berisitirahat.
Ketika tengah dalam perjalanan pulang, dua orang pria keluar dari mobil dan menarik Asyila masuk.
“Aaaahhh!” teriak Asyila sambil mencoba melepaskan tangan kedua pria yang berusaha membawakan masuk ke dalam.
Dyah dengan sekuat tenaga memukul wajah salah satu dari mereka dengan tangannya. Akan tetapi, Dyah malah terlempar ke tanah dengan cukup keras.
“Aaahhh!” Dyah merasakan sakit dibagian perutnya dan Untungnya saja perutnya tidak sampai mengenai tanah.
“Tolong!” teriak Dyah ketika Aunty-nya sudah dibawa masuk ke dalam mobil dan mobil itupun sudah pergi menjauh.
Orang-orang yang mendengar teriakkan Dyah, seketika itu menghampiri diri dan mengerumuni Dyah.
“Ya Allah, mbak pendarahan,” ucap salah satu wanita tua.
Dyah menoleh dan ternyata benar, ia mengalami pendarahan.
“Tolong panggilkan Mas Fahmi dan juga Paman Abraham!” pinta Dyah sembari menangis histeris.
Salah satu dari mereka langsung mengendarai motornya secepat mungkin untuk menyusul Abraham dan juga Fahmi, orang yang dimaksud oleh Dyah.
Di daerah itu, siapa yang tidak mengenal Abraham maupun Fahmi. Keduanya bisa dibilang adalah orang baik.
__ADS_1
“Kamu siapa?” tanya Pak Udin menghadang pria yang ingin masuk ke area rumah Abraham Mahesa.
“Saya tidak punya waktu untuk meladeni Bapak. Sekarang saya harus bertemu dengan Mas Fahmi dan juga Tuan Abraham, dikarenakan Mbak Dyah saat ini tengah pendarahan,” terangnya.
Pak Udin panik dan berlari secepat mungkin untuk memberitahukan apa yang sedang terjadi.
“Pak Udin kenapa lari-lari begini?” tanya Fahmi.
“Mas Fahmi sekarang pergilah bersama pria disana, Mbak Dyah mengalami pendarahan,” ucap Pak Udin sambil menarik tangan Fahmi untuk segera naik motor bersama dengan pria tersebut.
“Ayo Mas!”
Fahmi panik dan dari kejauhan ia melihat banyaknya orang yang tengah mengerumuni sesuatu.
Setelah sampai, Fahmi cepat-cepat mendekati kerumunan itu dan melihat sang istri yang sudah tak sadarkan diri.
Disaat yang bersamaan, mobil Abraham berhenti tepat di hadapan Fahmi. Dan dengan panik, Fahmi masuk sang istri.
“Cepat, Pak Udin!” perintah Fahmi.
Abraham mengernyitkan keningnya dan terlihat jelas bahwa ia pun panik.
Kemudian, ia menyadari bahwa sang istri tidak ada di lokasi kejadian.
“Dimana Asyila?” tanya Abraham panik.
Dyah perlahan membuka matanya dan dengan ucapan yang terbata-bata, ia memberitahukan bahwa Asyila dibawa kabur oleh orang yang mengenakan penutup wajah.
“Ma-maafkan Dyah, Paman. Maafkan Dyah yang tidak bisa menjaga Aunty,” ucap Dyah dengan berlinang air mata dan ia pun kembali tak sadarkan diri.
Abraham refleks membenturkan kepalanya ke jendela. Pria itu benar-benar tak tahu harus berbuat apa, dikarenakan sang istri tengah mengandung dan dia tidak tahu siapa lagi musuhnya yang ingin membalas dendam terhadap keluarga kecilnya.
Ujian apabila yang tengah Engkau berikan kepada keluarga hamba ya Allah? Saat ini Asyila tengah mengandung, tolong jangan Engkau berikan kami ujian seberat ini kepada kami dan juga calon buah hati kami.
Fahmi hanya bisa menangis sambil terus memeluk istrinya. Disamping itu juga, Fahmi merasa bersalah karena menolak ajakan sang istri.
Sesampainya di rumah sakit.
Dyah langsung mendapatkan perawatan intensif dari dokter kandungan.
“Kamu tunggu disini, Paman ingin menghubungi seseorang untuk melacak keberadaan Istri Paman,” ucap Abraham.
Fahmi hanya bisa diam seribu bahasa, ia bingung harus mengatakan apa. Gara-gara dirinya lah, sang istri dan juga Asyila mengalami hal buruk.
“Semua ini salahku, kenapa aku sebagai suami begitu ceroboh? Sampai-sampai Aunty menjadi sasarannya,” ucap Fahmi menyalahkan dirinya sendiri.
Fahmi menangis sejadi-jadinya, ia tidak peduli dengan pandangan orang lain yang menatapnya dengan tatapan aneh.
Saat ini, di dalam sang istri tengah dan buah hatinya tengah dalam masa kritis.
Belum lagi Asyila yang saat ini entah berada dimana. Rasanya, Fahmi ingin berteriak sekeras mungkin karena kecerobohannya.
__ADS_1
Lanjut? Jangan lupa like dan komen dulu 😘