Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Bertemu Wanita Bercadar


__ADS_3

Abraham terus saja melangkah masuk ke dalam hutan dan bukannya menemukan para sahabatnya, Abraham justru melihat sebuah gubuk yang ukurannya cukup besar di dalam hutan tersebut.


“Didalam hutan seperti ini, siapa yang tinggal di gubuk itu?” tanya Abraham sambil mengernyitkan keningnya dengan rasa penasaran yang cukup besar.


Pria tampan itu berjalan mendekat dengan langkah hati-hati dan tanpa sengaja melihat sesosok wanita berpakaian serba hitam berdiri di dekat pohon.


Wanita itu lagi? Wanita yang sama persis ketika membantu kami melawan para musuh.


Yups, Abraham ingat jelas wanita itu. Akan tetapi, sampai detik ini pun Abraham belum juga mengetahui bahwa wanita bercadar itu adalah istri kecilnya, Asyila.


Asyila tak sengaja menoleh ke arah lain dan samar-samar melihat suaminya yang terus zaja memandanginya dari kejauhan.


Ya Allah, itu Mas Abraham. Apa Mas Abraham mengenali hamba?


Ketika Asyila ingin pergi, Abraham langsung memberikan isyarat agar Asyila diam di tempat. Mau tak mau, akhirnya Asyila mengangguk setuju.


Saat Abraham ingin mendekat, tiba-tiba empat orang secara kompak keluar dari gubuk dan membuat sepasang suami istri itu bersembunyi di tempat yang menurut mereka aman.


Sebenarnya, siapa wanita itu? Kenapa dia harus datang ke tempat berbahaya seperti ini?


Abraham tak habis pikir dengan pemikiran wanita bercadar itu. Di hutan lebat seperti itu, seorang wanita berani masuk ke dalam dan entah apa yang ingin dilakukan oleh si wanita bercadar tersebut.


“Hutan ini sepertinya sudah tidak aman lagi, bisa saja polisi yang lain datang kemari dan menangkap kita semua,” ucap salah satu dari mereka dan menghisap rokok dengan begitu serius.


“Lalu? Apa kita harus cabut dari sini sekarang juga? Bagaimana dengan senjata api yang sudah kita kumpulkan selama ini? Dan, bagaimana dengan wanita-wanita yang ada di dalam? Bukankah salah satu dari mereka saat ini tengah mengandung,” ucap salah satu dari mereka panjang lebar.


Asyila yang mendengar perbincangan mereka, seketika itu terkejut. Ternyata di dalam gubuk itu ada wanita-wanita yang tengah mereka sekap.


Akan tetapi, Asyila tidak bisa langsung menyerang mereka. Dikarenakan, Asyila tidak tahu seberapa banyak para mafia itu di dalam gubuk.


Abraham dari kejauhan terus saja memperhatikan apa yang ingin dilakukan oleh wanita bercadar itu. Sampai akhirnya, wanita bercadar itu tak terlihat lagi.


Haaa? Kemana perginya wanita itu?


Abraham ingin sekali mendekat ke arah gubuk itu. Akan tetapi, tidak bisa dikarenakan cukup banyak mafia yang tengah berada diluar dan tengah bercengkrama.

__ADS_1


“Hei! Siapa disana?” Salah satu mafia tiba-tiba berteriak ketika tak sengaja senter yang ia genggam menyorot ke arah Abraham.


Abraham seketika itu panik dan mencoba kabur sementara waktu dari tempat itu. Namun sayangnya, ketika Abraham ingin lari dari tempat itu dia sudah dipergoki dan sudah diketahui oleh para mafia.


“Siapa kamu?” tanya seorang pria sambil menarik kerah baju Abraham.


Abraham memilih untuk diam. Akan sangat buruk, jika sampai para mafia itu mengetahui siapa dirinya.


“Sepertinya kamu datang kemari ingin mencari mati,” ucap salah satu dari mereka sambil mengarahkan pistol ke arah kening Abraham.


Melihat suaminya dalam bahaya, Asyila tanpa pikir panjang langsung berlari untuk menyelamatkan suaminya.


“Jauhkan pistol itu!” teriak Asyila dan dalam gerakan cepat, Asyila sudah mengambil alih pistol yang sebelumnya mengarah ke kening suaminya.


Sontak saja, apa yang dilakukan Asyila membuat yang lainnya terkejut. Termasuk Abraham yang tak bisa berkata-kata lagi karena keberanian wanita bercadar dihadapannya.


Untungnya saja, ketika Asyila berteriak Abraham tidak mengenali suara sang istri. Dikarenakan, Asyila sedikit merubah gaya suaranya.


“Jangan ada yang mendekat!” perintah Asyila dengan mengubah suaranya seperti suara laki-laki.


Akan tetapi, apa yang Asyila pikirkan sebelumnya adalah kesalahan besar. Justru, dengan begitu mereka kesempatan besar untuk membunuh Abraham maupun Asyila. Yaitu, dengan cara mengambil senjata api yang berada di dalam gubuk yang cukup lama mereka tempati untuk menyembunyikan hasil pencurian mereka dan juga para wanita yang sengaja mereka jadikan wanita penghibur.


“Kau terlalu gegabah,” ucap Abraham pada wanita bercadar yang berdiri tepat dihadapannya.


Dari balik cadarnya, Asyila terlihat nampak kesal dengan suaminya yang mengejeknya seperti itu.


“Sebaiknya kita harus pergi dari sini terlebih dahulu, sepertinya mereka akan bersiap-siap untuk membunuh kita,” ucap Abraham dan bergegas lari menjauh area tersebut.


Bukannya mengikuti langkah suaminya yang menjauh dari area tersebut, Asyila malah mendekat dan mencari tempat bersembunyi agar tak diketahui oleh mereka.


Asyila tidak akan pernah tenang selama para wanita yang disekap oleh para mafia itu masih di dalam.


“Siaaalll! Kemana perginya mereka berdua?” tanya seorang mafia dengan begitu marah.


“Tidak mungkin kalau mereka pergi secepat ini, sebaiknya kita berpencar dan tangkap mereka bagaimana pun caranya!”

__ADS_1


Merekapun dengan kompak berpencar untuk segera menemui Abraham dan juga Asyila yang menurut mereka adalah pengganggu.


Disaat yang bersamaan, Abraham terus saja berlari dan akhirnya ia tersadar bahwa wanita bercadar yang telah menyelamatkan dirinya tidak berada di belakangnya.


“Astaghfirullahaladzim, kemana wanita itu? Apa aku berlari terlalu cepat?” tanya Abraham panik.


Abraham tak bisa pergi begitu saja, ia pun kembali mendekat ke arah gubuk untuk mencari wanita bercadar tersebut.


Wanita itu kenapa harus berada di dalam hutan seperti ini? Apa yang sebenarnya tengah ia cari?


Dalam benak Abraham, Abraham terus saja bertanya-tanya alasan si wanita bercadar tersebut yang masuk ke dalam hutan seorang diri.


Kenapa gerak tubuh wanita itu sangat tidak asing untukku?


Astagfirullahaladzim... Sadar Abraham, kau tidak seharusnya memikirkan gerak tubuh wanita itu.


Disisi lain, Asyila bersiap-siap untuk masuk ke dalam gubuk. Asyila sangat yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja, selama pistol masih berada di genggamannya.


“Aku harus cepat-cepat masuk ke dalam gubuk itu,” ucap Asyila lirih sambil mengendap-endap mendekati gubuk.


Dooorrrr!


Baru saja ingin mendekat, tiba-tiba sebuah peluru melayang ke arah dan untuknya saja peluru itu hanya melewatinya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” Seorang pria yang baru saja melepaskan tembakan ke arah Asyila berteriak ke Asyila yang ingin masuk ke dalam gubuk.


Ketika Asyila ingin membuka mulut, beberapa mafia sudah datang dan berdiri mengelilinginya.


“Hahaha... hahahaha! Sekarang kamu mau lari kemana? Selangkah pun, kamu tidak akan bisa,” ucap salah satu dari mereka.


Asyila mulai panik dengan apa yang tengah ia hadapi. Pistol yang berada ditangannya seakan-akan tak berfungsi.


“Ja-jangan mendekat! Atau kalian ku tembak,” ucap Asyila mengancam mereka.


“Kau ingin menembak kami? Lihat saja tanganmu yang gemetaran seperti itu! Hahahaha!!!”

__ADS_1


Tangan Asyila memang tengah gemetaran. Hal tersebut, dikarenakan Asyila tidak ingin jika dirinya salah tembak dan membahayakan nyawa mereka.


__ADS_2