
Fahmi hanya membalas pertanyaan istrinya dengan tawa, hingga akhirnya mereka sudah berada di dalam mobil untuk pergi ke kedai milik Fahmi.
Mobil pun satu-persatu meninggalkan area pusat perbelanjaan menuju kedai makanan milik Fahmi, suami dari Dyah.
Abraham duduk sambil memangku Ashraf yang saat itu kembali bersikap manja. Ashraf duduk di paha Ayahnya dengan terus berpelukan pada Sang Ayah.
Arsyad sebenarnya ingin berada dipangkuan Ayahnya, akan tetapi sebagai kakak dirinya haruslah mengalah.
“Arsyad kenapa menatap Ayah seperti itu? Sini duduk di paha Ayah!” Abraham sangat peka dengan tatapan putra pertamanya yang juga ingin berada di pangkuannya, seperti Ashraf.
Arsyad menggelengkan kepalanya karena tak ingin menyulitkan Ayahnya.
“Kenapa tidak mau? Arsyad tenang saja, Ayah kuat memangku kalian berdua. Bahkan, kalau Bunda ikut duduk di paha Ayah, ayah sama sekali tidak keberatan,” terang Abraham dengan melirik istri kecilnya.
Asyila mengernyitkan keningnya dengan tatapan terheran-heran. Bagaimana bisa suaminya itu mengatakan hal seperti itu, disaat semuanya ada di dalam mobil.
Arumi dan Herwan tertawa lepas, begitu juga dengan Pak Udin yang tengah mengemudikan mobil sambil terus membuntuti mobil Fahmi yang berada tepat di depan mereka.
“Mas ini ada-ada saja,” ucap Asyila lirih dan mencubit kesal perut suaminya.
Abraham meringis sebentar dan terkekeh kecil melihat ekspresi wajah istri kecilnya.
***
Kedatangan Abraham serta yang lainnya di kedai Fahmi bertepatan dengan adzan Maghrib. Fahmi bergegas meminta para karyawan serta karyawati untuk segera menyiapkan air mineral dan juga kurma untuk istri serta keluarga yang lainnya.
Setelah berbuka puasa bersama, Abraham dan yang lainnya bergegas untuk melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di masjid.
Ketika suami serta yang lainnya pergi melaksanakan sholat Maghrib di masjid, hanya Dyah yang tak sholat dan tiga karyawati dari suaminya yang berdiam diri di kedai.
Ralat, ada dua bayi yang tengah dijaga oleh Dyah pada saat itu dan untungnya kedua bayi yang berbeda 4 bulan tersebut tidaklah rewel.
“Kalian bertiga datang bulan?” tanya Dyah basa-basi.
Ketiganya dengan kompak mengiyakan pertanyaan dari Dyah.
“Oh,” ujar Dyah singkat.
Dyah meminta salah satu karyawati suaminya untuk menggendong bayi Akbar ke ruang kerja suaminya dan sementara dirinya menggendong putri kecilnya yang tengah terlelap.
“Terima kasih Mbak,” ucap Dyah.
__ADS_1
“Kalau ada apa-apa, Mbak Dyah bisa panggil saya atau yang lainnya. Saya permisi dulu!”
Dyah mengiyakan dan setelah itu dirinya menyandarkan tubuhnya di sofa sembari memperhatikan wajah kedua bayi menggemaskan tersebut.
Perlahan Dyah ikut tertidur karena lelahnya berkeliling.
Beberapa saat kemudian.
Fahmi serta yang lainnya pun kembali ke kedai untuk melanjutkan buka puasa mereka.
“Nining, Istriku mana?” tanya Fahmi pada salah satu karyawatinya.
“Mbak Dyah ada di ruang kerja Pak Fahmi,” jawab Nining.
Fahmi pun bergegas menyusul istrinya dan Asyila ikut masuk ke dalam ruangan Fahmi untuk melihat bayi mungilnya.
“Dyah sayang..” Fahmi mencoba membangunkan istrinya yang tertidur sehalus mungkin agar istrinya tak terkejut.
Dyah pun terbangun dan sedikit terkejut karena Fahmi sudah berada dihadapannya.
“Dyah lelah ya?” tanya Fahmi pada Dyah.
“Oh, tidak. Hanya sedikit mengantuk, Dyah disini saja ya Mas. Mas makanlah bersama Aunty dan yang lain,” tutur Dyah.
Tanpa pikir panjang lagi, Dyah mengiyakan dan Asyila pun kembali bergegas berkumpul dengan yang lainnya untuk segera melanjutkan makan mereka.
“Bagaimana, apakah bayi kita sedang terlelap?” tanya Abraham pada istri kecilnya yang baru saja mendaratkan bokongnya tepat disamping kursi Abraham.
“Iya, Mas. Bayi kita masih tidur,” jawab Asyila.
Fahmi berjalan mendekat karyawannya dan memberi perintah untuk segera menyiapkan hidangan.
Tak butuh waktu lama, hidangan pun siap untuk disantap.
Abraham meminta putra sulungnya untuk memimpin Do'a dan dengan semangat Arsyad mengiyakan.
Usai menikmati hidangan, mereka berbincang-bincang sejenak dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan untuk segera kembali ke rumah.
***
Pukul 21.17 WIB.
__ADS_1
Abraham baru saja menerima pesan dari sahabatnya, Edi. Bahwa di Bandung sedang marak-maraknya perampokan serta penculikan, seperti yang kalian ketahui. Jika Abraham sudah mendapatkan pesan tersebut, sudah pasti Abraham akan pergi karena sahabatnya serta para tim sudah pasti membutuhkan diri. Dan kali ini, tugas Abraham ada menyamar sebagai orang yang akan menjadi korban perampokan.
“Pesan dari siapa, Mas? Kenapa wajah Mas mendadak menjadi serius begitu, apakah Mas akan pergi untuk membantu kepolisian?” tanya Asyila memastikan.
Melihat ekspresi wajah suaminya, Asyila sudah dapat menebak kalau dugaannya 100% benar.
“Kalau Mas mau pergi, ya sudah pergilah. Akan tetapi, Mas harus berjanji untuk segera kembali dalam keadaan baik-baik saja. Asyila tidak ingin Mas terluka sedikitpun, bahkan tergores pun Asyila tidak ingin,” terang Asyila.
Abraham tersenyum senang karena istri kecilnya tak melarangnya untuk pergi.
“Syila sayang, Allah ada bersama kita. Mas akan baik-baik, yang paling penting do'akan Mas agar semua permasalahan ini segera berakhir,” ucap Asyila.
“Tentu saja, Mas. Setiap Asyila berdo'a, Asyila selalu memanjatkan do'a agar kita semua diberikan keselamatan dan juga kesehatan. Asyila sangat mencintai Mas,” tutur Asyila yang telah menangis di dalam pelukan suaminya.
“Mas juga sangat mencintai, Asyila. Syila jangan menangis, bantu Mas bersiap-siap!” pinta Abraham.
Asyila menyeka air matanya dan membantu suaminya menyiapkan pakaian.
Setelah semuanya siap, Abraham pun pamit untuk segera berangkat menuju kota Bandung.
Tidak hanya pamit kepada istri kecilnya, Abraham pun pamit pada seluruh keluarganya yang ada di kediamannya tersebut.
Arsyad memeluk erat Ayahnya karena dirinya masih ingin tidur bersama kedua orangtuanya. Akan tetapi, Abraham berusaha memberi pengertian kepada putra sulungnya agar Arsyad tak cengeng dan akan segera pulang setelah urusannya selesai.
Kepergian Abraham untuk membantu Edi serta para tim hanya diketahui oleh Asyila, sementara yang keluarga lainnya tahu adalah ia pergi karena ada urusan penting di perusahaan.
Abraham bergegas masuk ke dalam mobil setelah pamit kepada istri kecilnya serta yang lain.
“Hati-hati Ayah!” Arsyad dan Ashraf dengan kompak melambaikan tangan mereka pada Ayahnya yang sudah berada di dalam mobil.
Mobil pun perlahan meninggalkan area halaman rumah dan saat itu juga Asyila baru menunjukkan rasa sedih dihatinya karena harus ditinggalkan oleh suaminya.
Ya Allah, berkali-kali hamba meminta kepada Engkau untuk selalu melindungi suami hamba. Semoga urusan suami hamba cepat selesai agar kembali berkumpul bersama kami disini.
Melihat Asyila yang sedih, Dyah segera mendekat dan mencoba menghibur suasana hati Aunty-nya agar sedikit lebih tenang.
“Aunty jangan cemas, Paman hanya pergi karena ada urusan pekerjaan. Aunty jangan sedih begitu dong, mana senyumnya?” tanya Dyah.
Asyila perlahan mengembangkan senyumnya manisnya.
“Kalau begitu Aunty menjadi tambah cantik,” puji Dyah.
__ADS_1
Herwan mengajak semuanya untuk segera masuk ke dalam karena cuaca malam yang benar-benar dingin.