
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup menyita waktu, Fahmi dan yang lainnya tiba di rumah sakit tempat dimana Abraham dirawat. Yeni dan Temmy turun duluan, meninggalkan Dyah dan juga Fahmi.
Fahmi tertawa kecil melihat Dyah tengah tertidur dengan mulut menganga, Fahmi ingin membangunkan calon istrinya yang tengah tertidur. Akan tetapi, Fahmi bingung karena takut jika membuat Dyah marah.
Ketika Fahmi ingin menyentuh bahu calon istrinya, Dyah langsung terbangun dan refleks memukul wajah calon suaminya.
“Aaakk!” Fahmi setengah berteriak sambil menyentuh wajahnya terutama hidungnya yang sangat sakit.
“Ya ampun, Maaf Mas Fahmi. Lagi pula, Mas Fahmi mau ngapain?” tanya Dyah.
“Aku hanya ingin membangunkan kami, kita sekarang sudah berada di area parkir rumah sakit” jelas Fahmi yang masih menyentuh hidungnya.
Dyah terkesiap dan menoleh ke arah sekitar. Kemudian, ia menoleh ke arah kursi tengah dan tak menemukan keberadaan kedua orangtuanya.
“Loh, Mama dan Papa dimana? Kenapa menghilang?” tanya Dyah panik.
“Mama dan Papa sudah pergi duluan, ayo turun!” ajak Fahmi.
Gadis muda itu mengucek matanya dan dengan langkah lemas ia keluar dari mobil. Tiba-tiba, kakinya mati rasa dan sangat sulit untuk mengerakkan kakinya.
Fahmi yang melihat calon istrinya seperti sedang menahan sakit, cepat-cepat keluar dan mendekati Dyah.
“Apa ada yang sakit?” tanya Fahmi setengah panik.
“Ternyata Mas Fahmi peka juga ya,” balas Dyah dan berusaha untuk melangkahkan kakinya. Meskipun, dengan langkah kecil dan lambat.
Fahmi mencoba mengikuti Dyah dari belakang sambil berjaga-jaga, jika nanti Dyah tiba-tiba kehilangan keseimbangannya.
“Mas Fahmi!” panggil Dyah tanpa menoleh ke belakang dan terus melangkahkan kakinya.
“Iya, Dyah. Kenapa?” tanya Fahmi.
“Apakah Mas tidak ada niat menikah untuk waktu dekat?” tanya Dyah penasaran.
“Sebenarnya sudah ada, tapi belum bisa,” jawab Fahmi dan Dyah pun senyum-senyum kegirangan.
“Memangnya kenapa? Apakah Mas Fahmi belum mendapatkan calon?” tanya Dyah semakin penasaran dan ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Fahmi.
“Sebenarnya sudah ada, tapi bagaimana ya....” Fahmi sangat gugup sekaligus canggung diintrogasi oleh calon istrinya sendiri.
“Bagaimana apanya Mas Fahmi?” tanya Dyah yang kini berbalik menghadap Fahmi.
Deg!
Pikiran Fahmi langsung buntu seketika itu juga. Bibirnya kaku dan tubuhnya gemetar, Dyah benar-benar membuatnya kehilangan akal.
“Mas, ayo katakan!” pinta Dyah mendesak Fahmi agar segera mengutarakan isi hati Fahmi kepada Dyah.
Fahmi terkesiap, pertanyaan Dyah lebih sulit dari ujian dadakan dan lebih rumit dari tugas-tugas yang diberikan dosennya dulu.
__ADS_1
“Apakah Mas telah memiliki calon istri?” tanya Asyila penasaran sambil menahan tawanya ketika melihat Fahmi mati gaya.
Mulut Fahmi tak bisa digerakkan, ia sangat kebingungan.
“Mas, jawab pertanyaan Dyah. Apakah Mas sudah memiliki calon istri? Apakah calon istri Mas Fahmi jelek? Gendut? Hitam?” tanya Dyah.
Dyah menghentakkan kakinya dan berbalik badan. Ia berpura-pura ngambek karena Fahmi tidak menjawab pertanyaannya.
“Allahu Akbar,” ucap Abraham sambil menepuk dadanya dan mengejar Dyah.
Fahmi berlari dan segera menghadang Dyah yang ingin pergi meninggalkan dirinya.
“Sebenarnya.....” ucap Fahmi.
“Iya, sebenarnya apa Mas?” tanya Dyah yang tak sabar ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Fahmi.
“Sebenarnya....” Lagi-lagi Fahmi menghentikan ucapannya karena terlalu gugup.
Dyah melipat tangannya ke dada dan berjalan mendekat ke arah Fahmi. Fahmi pun refleks dan mundur selangkah demi selangkah mengikuti langkah kaki Dyah.
“Kalau Mas Fahmi tidak ingin bicara, lebih baik jangan pernah bertemu dengan Dyah lagi,” tegas Dyah.
Kenapa ini mulut sangat kaku untuk berucap. Ayolah, mohon kerjasamanya.
“Bismillahirrahmanirrahim, Dyah maukah kamu menjadi istriku dan menjadi Ibu dari anak-anak Ku?” tanya Fahmi dan menghela napasnya.
Deg! Deg!
Cukup lama Dyah diam mematung dan akhirnya ia tertawa lepas. Pria dihadapannya benar-benar sangat lucu dan juga menggemaskan.
“Apakah sangat sulit untuk mengatakan kalimat seperti tadi?” tanya Dyah dan kembali tertawa.
Dyah menoleh ke arah sekelilingnya, ia tidak pernah menyangka ada seorang pria yang melamarnya di tempat yang seharusnya. Jika orang lain mengutarakan serta menyatakan cintanya di tempat romantis, lain halnya dengan Fahmi yang menyatakan cinta di area parkir rumah sakit.
“Seharusnya aku bertanya di tempat yang tepat,” ucap Dyah lirih agar tak di dengar oleh Fahmi.
“Dyah, aku buka tipe pria yang romantis. Satu yang perlu kamu tahu, aku ingin menikahi kamu dan menjadikan kamu sebagai separuh hidupku,” jelas Fahmi dengan sangat serius sembari menatap Dyah dengan penuh cinta.
Dyah menjadi salah tingkah, ia pun berlari meninggalkan Fahmi yang belum selesai menyatakan cintanya.
Gadis itu berlari secepat mungkin, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia pun menangis, bukan tangisan kesedihan melainkan, tangisan kebahagiaan.
“Assalamu'alaikum,” ucap Dyah dan berlari ke dalam pelukan Yeni, Mamanya tersayang.
Dyah menangis di pelukan Mamanya dan membuat seisi ruangan terheran-heran.
“Mama...” panggil Dyah lirih.
Dyah dari dulu tidak pernah menangis, meskipun ia menangis itu disaat keluarganya sedang mengalami musibah. Akan tetapi, tangisan Dyah kali ini berbeda dari biasanya.
__ADS_1
“Assalamu'alaikum,” ucap Fahmi yang datang dan terlihat seperti orang yang habis menangis.
“Nak Fahmi, kenapa Dyah menangis?” tanya Temmy.
Fahmi terlihat ketakutan, ia seperti orang yang tengah terpojokkan dan membuat anak gadis orang menangis.
“Dyah, kamu kenapa? Ada masalah apa?” tanya Asyila mendekati Dyah dan mencoba menenangkan Dyah.
Dyah melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah Fahmi.
“Ini gara-gara Mas Fahmi,” ucap Dyah.
Fahmi terkejut sambil menunjuk dirinya sendiri, “Aku memangnya salah apa?” tanya Fahmi ketakutan.
“Pokoknya kalian harus menceritakan Dyah semuanya masalah Mas Fahmi yang telah melamar Dyah, pokoknya tidak boleh ada yang disembunyikan,” terang Dyah.
Fahmi terkejut, ia sama sekali belum memberitahukan bahwa dirinya telah melamar Dyah. Akan tetapi, Dyah sudah mengetahuinya dan itu membuat Fahmi terheran-heran.
“Tidak ada satupun dari Mama, Papa, Aunty, Paman apalagi Mas Fahmi yang menceritakan masalah lamaran tersebut. Pokoknya Dyah mau mendengarkan bagaimana Mas Fahmi bisa melamar Dyah dan bagaimana kalian sengaja membohongi Dyah,” ucap Dyah sambil menghapus air matanya.
“Maaf, kami sengaja tidak memberitahu kamu sayang. Papa, Mama dan lainnya ingin kamu menjalani hubungan lebih dekat dengan Fahmi apa adanya. Papa tahu kamu orang yang seperti apa, makanya Papa menyetujui keinginan Fahmi. Toh, Pamanmu dan Aunty Mu juga pernah seperti ini. Jadi, kalau mau lebih mengetahui secara detail, kamu tanyakan saja dengan calon Suamimu,” jelas Temmy secara baik-baik agar putri kesayangannya mengerti.
Dyah menoleh sekilas ke arah Fahmi yang terus menatapnya dengan tatapan hangat.
“Dyah tidak mau,” ucap Dyah sambil memalingkan wajahnya.
Fahmi seketika itu lemas, ia pikir usahanya akan membuahkan hasil. Ternyata, Dyah menolak lamarannya.
“Sayang, coba kamu pikirkan lagi! Kamu masih ada waktu untuk lebih mengenal Nak Fahmi, tolong jangan membuat Mama dan Papa kecewa. Mama dan Papa ingin kamu hidup bahagia sayang, yang terpenting adalah kamu memiliki suami yang benar-benar mencintai kamu apa adanya dan buka ada apanya,” terang Yeni.
Dyah terdiam sejenak dan ia pun berjalan ke arah pintu keluar.
“Maaf semuanya, Dyah ingin beli es krim dulu. Tolong antar Dyah, Mas Fahmi!” pinta Dyah dengan wajah datar.
Fahmi langsung mengiyakan dan bergegas mengantarkan Dyah untuk membeli es krim. meskipun, saat itu ia baru saja ditolak oleh Dyah.
Asyila menggenggam erat tangan Yeni dan mengatakan bahwa Dyah akan menerima lamaran dari Fahmi.
Yeni berharap bahwa Dyah menerima lamaran tersebut. Dikarenakan, ia sudah sangat cocok dengan Fahmi yang sudah dianggap seperti menantunya.
“Syila, apakah Dyah benar-benar akan menerima Nak Fahmi?” tanya Yeni ragu-ragu.
“Mbak, Asyila sudah mengenal Dyah dengan cukup lama. Dyah adalah gadis yang usil, kemungkinan ucapan Dyah hanya untuk mengetes respon dari Fahmi. Insya Allah, sepulangnya mereka kita akan mendapatkan kabar baik.”
“Aaamiiin Ya Allah.”
Asyila tersenyum lebar ke arah suaminya dan Sang suami menggerakkan telunjuknya, isyarat agar istri kecilnya mendekat ke arahnya.
“Iya, Mas Abraham,” ucap Asyila sambil mendekatkan wajahnya di wajah suaminya.
__ADS_1
Abraham tak berkata apa-apa lagi, ia hanya memandangi wajah istri kecilnya.
Asyila mencubit pelan pipi suaminya yang terus saja memandangi wajahnya.