Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Datangnya Para Keluarga Tercinta


__ADS_3

“Kok Syila malah bilang begitu, apa Syila tidak takut kalau Mas sampai diculik oleh wanita-wanita diluar sana?” tanya Abraham memasang tampang memelas.


“Tidak,” celetuk Asyila.


“Ya sudah, kapan Syila mau melepaskan Mas dijalan?” tanya Abraham menantang istrinya dan memasang tampang yang sangat polos.


Asyila mendengus kesal dan mengarahkan telunjuk tangan suaminya ke arah mulutnya.


“Aww... Suami sendiri malah digigit,” ucap Abraham ketika jari telunjuk baru saja digigit oleh istri kecilnya.


“Rasain, siapa suruh Mas mengatakan hal yang jelas-jelas membuat Asyila cemburu,” celetuk Asyila.


“Cie.. cemburu ya?” tanya Abraham yang malah menggoda istrinya.


Asyila memanyunkan bibirnya dan menggigit telinga suaminya seketika itu juga.


Abraham terkejut dan menciumi bibir istri kecilnya berulang kali.


“Mas, genit banget,” celetuk Asyila.


“Salah siap membangunkan adik kecil Mas,” balas Abraham.


Asyila tertawa kecil dan meminta maaf karena telah melakukan hal yang seharusnya belum bisa ia lakukan.


“Kalau sudah begini, Mas bingung mau ngapain,” tutur Abraham sambil menoleh ke bawah.


“Tunggu seminggu lagi ya Mas, insya Allah Asyila sudah bersih,” bisik Asyila.


Abraham dengan semangat mengiyakan dan tak sabaran menantikan hari dimana istri kecilnya selesai nifas.


Arsyad dan Ashraf berlari menghampiri kedua orang tua mereka dengan pakaian yang sudah berganti dengan pakaian yang lebih santai dari sebelumnya.


“Ayah, kami sudah siap,” ucap Arsyad bersemangat.


“Kalian duduklah dulu, sambil nunggu Pak Eko,” balas Abraham.


Hampir satu jam lamanya, akhirnya Eko datang.


“Mas, sepertinya itu Pak Eko. Asyila ke kamar dulu ya mau ganti baju dan ini tolong gendong Akbar dulu.”


Asyila berjalan setengah berlari kecil untuk segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tertutup.


“Assalamu’alaikum,” ucap Eko sambil mengetuk pintu rumah.


“Arsyad, tolong bukakan pintu ya!”


Arsyad dengan cepat melesat menuju ruang depan.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Arsyad.


“Ayah Abraham mana?” tanya Pak Eko tanpa berniat masuk ke dalam rumah.


“Ada di dalam, sama adik bayi,” jawab Arsyad.


Eko mengernyitkan keningnya, ia masih belum memahami perkataan Arsyad.


“Kenapa lama sekali?” tanya Abraham yang tiba-tiba muncul.


Eko melongo melihat Tuannya yang tengah menggendong seorang bayi yang begitu mungil.


“Tuan Abraham, itu bayi siapa? Apakah Tuan Abraham....”


“Apa yang bagaimana?” tanya Abraham memotong ucapan Eko, “Kau kira aku berselingkuh?” tanya Abraham sambil memberikan tatapan tajam kepada sopir pribadinya yang sudah mengabdi selama belasan tahun kepadanya.


“Tuan Abraham, ini bayi siapa?” tanya Eko yang terlihat panik.


Tiba-tiba Asyila datang menyapa Eko dan seketika itu Eko terkejut hingga ia jatuh.


“Apa kabar Pak Eko!” sapa Asyila sambil menggerakkan tangannya berulang kali dengan sangat ramai.


Eko terjatuh dengan posisi terduduk sambil menyentuh dadanya.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Eko setengah berteriak sembari memejamkan matanya.


“Pak Eko kenapa melihat Asyila seperti melihat hantu? Ini Asyila,” terang Asyila.


Eko perlahan membuka matanya dan bangkit dari jatuhnya.


“Tu-tuan Abraham, apakah benar ini Nona Asyila?” tanya Eko memastikan. Namun, tak berani melihat Asyila yang berdiri tepat disamping Abraham.


“Bukan, itu hantu,” jawab Abraham bermaksud menggoda istri kecilnya.


“Mas Abraham!” Asyila kesal dan mencubit perut suaminya dengan cukup kuat.


“Aku hanya bergurau saja. Ini istriku, Asyila. Bunda dari Arsyad, Ashraf, Azzam dan juga Akbar,” terang Abraham sambil menoleh ke arah bayi mungil yang tengah digendongnya.


“Alhamdulillah, Alhamdulillah. Akkhirnya Nona Asyila kembali, ya Allah rasanya seperti ini. Setiap saya bertemu dengan Tuan Abraham, dada saya selalu sesak. Rasanya sangat sedih karena tak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Tuan Abraham,” terang Eko yang tanpa malu menangis terharu.


“Pak Eko jangan menangis seperti ini, Asyila jadinya terharu,” ucap Asyila sambil menyeka air matanya yang mengalir begitu saja.


“Eko, hentikan air matamu!” perintah Abraham sambil geleng-geleng kepala.


Eko mengangguk sembari menyeka air matanya.


“Ssuutttss.. Istri Mas ini tidak boleh lagi menangis. Sekarang kami berangkat ke pasar, Syila harus diam di dalam rumah dan tak boleh keluar!” perintah Abraham dan dengan hati-hati memberikan bayi mungil mereka ke dalam gendongan Asyila.


“Baik, Mas,” jawab Asyila patuh.


Abraham serta yang lainnya mengucapkan salam untuk segera pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari serta belanja untuk keperluan acara besok.


Asyila membalas salam mereka dan tak lupa melambaikan tangannya.


“Hati-hati Ayah,” ucap Asyila menirukan suara anak kecil. Kemudian, masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.

__ADS_1


Setibanya di pasar, Abraham mengajak Eko untuk ikut bersamanya karena ia akan membeli cukup banyak keperluan untuk acara besok.


“Ya ampun, pagi-pagi begini ada pria tampan. Mau beli apa tampan?” tanya seorang Ibu penjual sayur dengan sangat genit.


Arsyad dan Ashraf dengan cepat pasang badan.


“Ini Ayah kami,” tegas keduanya seakan-akan mereka adalah bodyguard bagi Sang Ayah.


“Udah tampan, anak-anaknya pintar lagi. Pasti Ibu mereka wanita yang cantik dan juga pintar,” puji si Ibu penjual sayur.


Abraham menahan tawanya melihat reaksi dari wanita dihadapannya.


“Saya beli kentang 5 kg, wortel 5 kg dan cabe merah 3 kg saja,” ucap Abraham.


Penjual sayuran tersebut mengiyakan dan mulai menimbang berat sayur yang diinginkan oleh Abraham.


1 jam kemudian.


Abraham menghela napasnya sambil geleng-geleng kepala ketika baru menyadari bahwa dirinya di dalam pasar sudah memakan waktu sebanyak 1 jam.


“Ternyata capek juga ya belanja,” keluh Abraham dan masuk ke dalam mobil untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa panas.


“Ayah, beli es teh!” pinta Arsyad yang ingin sekali minum yang segar-segar.


“Benar, Tuan Abraham. Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mas Arsyad,” sahut Eko dengan penuh semangat.


“Ya sudah kalau begitu, ayo kita cari es teh!” perintah Abraham.


Mereka semua akhirnya masuk mobil dan Abraham mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah kepada tukang parkir yang usianya hampir mendekati sepuh.


“Pak, ini uangnya kebanyakan. Saya tidak ada kembalian,” ucap si tukang parkir.


“Bapak ambil saja, itu adalah rezeki dari Allah untuk Bapak melalui saya,” balas Abraham dan perlahan mobil tersebut melesat meninggalkan area pasar.


Tukang parkir tersebut tercengang melihat uang kertas ditangannya dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Allah dan mendoakan yang terbaik untuk Abraham yang telah memberikannya uang.


Setibanya di rumah, Arsyad dan Ashraf bergegas turun dari mobil. Keduanya mengetuk pintu secara bersamaan agar Bunda mereka bisa segera membuka pintu.


“Assalamu’alaikum, Bunda kami sudah pulang,” ucap Arsyad.


“Iya, Bunda. Buka pintunya Bunda,” ucap Ashraf.


Tak lama, pintu tersebut terbuka dan mereka langsung disambut dengan pelukan hangat dari Sang Bunda.


“Kalian minum es?” tanya Asyila ketika melihat Ashraf yang masih memegang gelas plastik yang isinya adalah es teh.


“Iya, Bunda,” jawab Ashraf malu-malu.


Asyila memanyunkan bibirnya ke arah suaminya dan mencium punggung tangan Sang suami tercinta.


“Mas belanja sebanyak ini?” tanya Asyila setengah melongo ketika Eko mengeluarkan satu-persatu barang belanjaan mereka.


“Sepertinya ini malah kurang banyak. Soalnya, besok yang ada sekitar 2000 orang,” terang Abraham.


“Tentu saja, bahkan Mas akan mengundang anak yatim-piatu dengan jumlah yang banyak,” terang Abraham.


Ekspresi wajah Asyila tiba-tiba berubah menjadi sangat bersemangat.


“Selain anak yatim-piatu, kita undang juga anak-anak atau keluarga yang tidak mampu untuk datang kemari. Intinya, besok siapapun yang datang kita harus menyambut mereka dengan sangat baik,” ujar Asyila bersemangat.


“Nah, itu maksud Mas. Jadi, kemungkinan kita akan berbelanja lagi,” balas Abraham.


“Jadi, kita tidak menggunakan catering Mas?”


“Tidak. Mas ingin meminta bantuan Ibu-ibu yang berada di depan gang depan untuk memasak makanan. Lagipula, dengan seperti itu kita bisa membagikan sedikit uang kita kepada mereka,” terang Abraham.


“Terima kasih ya Mas. Terima kasih selalu mencontohkan yang baik untuk kami,” ucap Asyila.


Siang hari.


Asyila tak sabar menantikan kedatangan Dyah, Fahmi serta yang lainnya. Senyumnya terus saja mekar, meskipun ia juga merasakan kegugupan.


“Kenapa wajahnya terlihat tegang begitu?” tanya Abraham melihat wajah istrinya seperti ada tekanan batin.


“Jujur ya Mas. Asyila tidak sabaran menantikan kedatangan mereka. Akan tetapi, disatu sisi Asyila merasa sangat gugup,” jawab Asyila sambil menyentuh kedua tangan suaminya.


“Oh jadi itu alasannya, kenapa harus gugup? Kalau gugup, Syila tinggal peluk Mas dengan sangat erat.”


“Mas, Syila ini sedang serius. Kenapa Mas malah mengambil kesempatan dalam kesempitan?”


“Ya namanya usaha biar makin dicintai istri sendiri,” balas Abraham sambil memasang wajah ngambek.


“Cie... Gitu saja udah ngambek,” ledek Asyila.


Abraham yang gemas seketika itu mencubit kedua pipi istrinya dengan cukup keras.


“Mas jahat, istri sendiri malah dicubit,” ucap Asyila sambil mengelus-elus kedua pipinya yang sedikit sakit.


“Ya ampun, Mas terlalu kuat ya? Maaf ya istriku.”


Untuk meredakan sakit di kedua pipi Sang istri, Abraham pun mengobatinya dengan cara menciumi pipi kiri serta kanan Sang istri berulang kali.


“Mas, hentikan. Geli tahu,” ucap Asyila sambil tertawa kecil merasakan geli di seluruh wajahnya.


Abraham menghentikan ciumannya dan disaat yang bersamaan, sebua mobil tiba-tiba memasuki area halaman rumah Abraham.


“Mas, sepertinya itu Dyah dan keluarga,” ucap Asyila sambil bangkit dari duduknya.


Abraham pun bergegas menyambut kedatangan keluarga nya.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Abraham dan bersalaman dengan yang lainnya.

__ADS_1


Abraham kemudian mempersilakan mereka untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Paman, katanya ada hal yang penting. Hal penting apa?” tanya tanpa berbasa-basi.


Abraham tersenyum dan menoleh ke belakang, akan tetapi Sang istri rupanya tak ada di ruang tamu.


Kemana Syila, bukankah tadi disini?


“Paman! Kenapa Paman malah kelihatan seperti orang linglung? Arsyad dan Ashraf mana?” tanya Dyah karena tak melihat kedua adiknya.


Temmy dan Yeni menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Dyah.


“Dyah, sopan lah berbicara dengan Pamanmu. Tak baik bicara seperti itu kepada orang yang lebih tua!” perintah Yeni.


“Hehe.. Maaf ya Paman, Dyah sekali lagi minta maaf dan akan berusaha menjaga ucapan Dyah,” ucap Dyah dari hati yang paling dalam.


Abraham hanya mendengus tanpa menjawab ucapan Dyah.


“Asyila, sini sama Kakek!” Abraham tersenyum dan mulai menggendong bayi berusia 4 bulan tersebut.


Asyila kecil tertawa melihat wajah Abraham yang sengaja dijelek-jelekkan.


Disaat yang bersamaan, Arumi dan juga Herwan tiba.


“Nenek dan Kakek juga kesini, Paman?” tanya Dyah ketika melihat mobil Abraham yang lain.


Arumi dan Herwan pun turun dari mobil setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Kedatangan Arumi dan Herwan seketika itu di sambut oleh senyuman Abraham, Dyah, Fahmi serta kedua orang tua Dyah.


“Kakek, Nenek! Apa kabar?” sapa Dyah sembari memeluk tubuh Arumi dan mencium punggung tangan Herwan.


“Alhamdulillah kami sehat,” balas Arumi.


“Ayah dan Ibu silakan masuk!” Abraham mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian. Kemudian, menuntun keduanya masuk ke dalam.


“Pak Udin kenapa hanya berdiri disitu? Ayo masuk!” panggil Dyah.


Akhirnya, mereka semua berkumpul di ruang tamu dan Dyah berinisiatif untuk menyeduh kopi serta teh.


“Maaf semuanya, Dyah kebelakang dulu ya,” tutur Dyah dan bergegas pergi ke dapur.


Disaat yang bersamaan, Asyila baru saja keluar dari kamar mandi karena sebelumnya perutnya tiba-tiba mules. Baru saja keluar dari kamar mandi, Asyila seketika itu menyuruh kedua putranya untuk keluar dan meminta keduanya untuk tak mengatakan masalah dirinya yang telah kembali bersama adik bayi mereka.


“Kalian mengerti maksud Bunda?” tanya Asyila memastikan.


“Mengerti, Bunda,” jawab Arsyad dan Ashraf patuh.


“Bagus. Sekarang kalian turun kebawah, Bunda sebentar lagi menyusul.”


Asyila tersenyum manis melihat kedua putranya dengan semangat keluar kamar.


“Sayang, ayo kita turun ke bawah. Bunda rasanya sangat gugup, seperti demam panggung,” tutur Asyila dan dengan langkah sedikit gemetar, ia berjalan menuju ruang tamu.


Dyah tersenyum sembari meletakkan satu-persatu kopi serta teh buatannya.


“Terima kasih sayang,” ucap Yeni pada putrinya.


“Kenapa hanya Mama saja yang mengucapkan terima kasih? Yang lainnya kenapa malah diam saja?” tanya Dyah protes.


“Terima kasih, Dyah,” ucap mereka kompak.


“Nah, gitu dong,” celetuk Dyah.


Arsyad dan Ashraf akhirnya tiba di ruang tamu.


“Ya Allah, adik-adiknya Kak Dyah kenapa baru kelihatan?” tanya Dyah mencium kening mereka secara bergantian.


“Kak Dyah jangan cium-cium Ashraf,” tegas Ashraf sambil menghapus bekas ciuman Dyah di keningnya.


“Issshh, gitu saja sudah dihapus. Ashraf tidak seru sama sekali,” celetuk Dyah.


Arumi mengernyitkan kening melihat kedua cucunya yang terlihat sangat bahagia. Arumi bahkan meragukan fakta bahwa Abraham telah memberitahukan mengenai Bunda mereka yang telah meninggal dunia.


“Arsyad dan Ashraf kesini!” panggil Arumi.


Keduanya pun mendekat ke arah Arumi.


“Kalian baik-baik saja?” tanya Arumi memastikan.


Keduanya dengan semangat mengiyakan pertanyaan dari Sang Nenek.


“Tidak sedih mengetahui bahwa Bunda Asyila meninggal?” tanya Arumi.


Pertanyaan Arumi seketika itu membuat, Dyah, Fahmi, Temmy, Yeni dan Herwan terkejut.


“Ibu apa-apaan menanyakan hal seperti ini?” tanya Herwan protes.


Dengan santainya Arsyad dan Ashraf tertawa kecil.


Mereka benar-benar terkejut melihat reaksi kakak beradik tersebut.


Akan tetapi, Abraham malah tertawa kecil.


“Nak Abraham, kenapa kamu malah tertawa?” tanya Arumi dengan kesal.


“Assalamu’alaikum, semuanya!” sapa Asyila yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka semua.


Dyah sangat ketakutan dan seketika itu juga ia melafalkan ayat kursi.


Sementara yang lainnya tertegun dengan apa yang tengah mereka lihat.


Abraham ❤️ Asyila


Like ❤️ komen 👇 Vote ❤️

__ADS_1


__ADS_2