Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Silaturahmi Bersama Penghuni Perumahan Absyil


__ADS_3

Sore hari.


Satu-persatu penghuni Perumahan Absyil mendatangi kediaman Abraham Mahesa dan istrinya. Kedatangan mereka tentu saja untuk bersilaturahmi sekaligus bermaaf-maafan karena masih dalam rangka hari lebaran idul Fitri.


Abraham dan Asyila menyambut kedatangan mereka dengan penuh sukacita.


“Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumsalam, mari masuk!” Abraham dan Asyila dengan sangat ramah mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


Tak butuh waktu lama, ruang tamu pun sudah dipenuhi oleh para tetangga penghuni perumahan Absyil.


“Tuan Abraham dan Nona Asyila apa kabar?” tanya seorang wanita bernama Iis.


“Alhandulillah, kami baik. Mbak sendiri kabarnya bagaimana?” tanya Asyila kembali.


“Alhamdulillah saya baik,” jawabnya.


“Syukurlah kalau begitu, mari dinikmati cemilannya,” tutur Asyila pada mereka untuk segera menikmati cemilan buatannya yang sebelumnya ia buat bersama dengan Dyah dan juga Ibunya, Arumi pada saat di Jakarta.


“Kue kacangnya enak sekali, ngomong-ngomong ini beli dimana?” tanya salah satu dari mereka memuji kue kacang tersebut.


Asyila dengan malu-malu mengatakan bahwa dirinyalah yang membuat kue kacang tersebut.


“Masya Allah, selain cantik Nona Asyila juga pintar membuat kue kacang ini. Kalau boleh, bisakah saya memesan kue kacang dengan Nona Asyila?” tanya wanita bernama Narti.


Asyila tidak bisa mengiyakan ataupun menolak, ia hanya memberikan nomor teleponnya untuk memastikan kembali permintaan Narti.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Dyah, Fahmi dan putri kecil mereka datang dengan begitu heboh.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru mereka membalas salah dari Dyah dan juga Fahmi.


“Maaf ya Aunty, Dyah baru bisa datang sekarang,” tutur Dyah pada Asyila.


“Iya tidak apa-apa, mari masuk!” Asyila mempersilakan sepasang suami istri itu untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Aunty, Paman mana?” tanya Fahmi yang tak melihat keberadaan Paman dari istrinya, Dyah.


Asyila pun ikut mencari keberadaan suaminya dan ternyata memang suaminya tidak berada di ruang tamu.


“Aneh, tadi Paman mu ada disini,” balas Asyila, “Sebentar ya, barangkali Pamanmu sedang berada di kamar,” sambung Asyila dan melenggang pergi menuju kamar.


Asyila masuk ke dalam kamar dan mendengar suara bunyi air di dalam kamar mandi yang artinya Sang suami sedang berada di dalam kamar mandi.


Saat itu, Asyila tidak langsung keluar dari kamar. Ia terlebih dulu melihat buah hatinya yang sedang berada di ranjang bayi dan ternyata tengah terlelap.


“Bayi pintarnya Bunda,” ucap Asyila sambil menyentuh pipi tembam bayi mungilnya.


“Bayi pintarnya Ayah juga dong!” seru Abraham yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


“Mas, ayo keluar! Di ruang tamu sudah ada Dyah, Fahmi dan cucu kita,” terang Asyila mengajak suaminya untuk menemui keluarga kecil Fahmi.


Sebelum keluar dari kamar, Abraham malah meminta istri kecilnya untuk mencium seluruh wajahnya. Asyila terkejut mendengar permintaan suaminya yang terang-terangan menggoda dirinya.


“Mas, kalau mau menggoda Asyila seharusnya nanti saja. Saat tidak ada orang,” ucap Asyila.


“Kan, memang tidak ada orang? Lihatlah dikamar ini cuma ada Mas, Syila dan Akbar yang sedang tidur,” balas Abraham santai.


“Pintar ya mencari alasan,” celetuk Asyila sambil memukul sekilas dada suaminya karena terlalu genit.


Abraham memasang tampang sedih dan memelas agar istri kecilnya mau mengabulkan permintaannya.


“Hufft... Baiklah, sini menunduk dan pejamkan mata Mas Abraham!” pinta Asyila pada suaminya.


Abraham sedikit membungkuk agar wajahnya bisa dengan mudah dicium oleh istri kecilnya.


Asyila dengan cepat mencium seluruh wajah suaminya mulai dari kening, pipi, hidung dan juga bibir.


“Muach.. muach.. muach... muachhh!” Suara Asyila mencium seluruh wajah suaminya.


Abraham tersenyum dengan sangat puas karena telah mendapatkan apa yang diinginkan olehnya.


“Sudah, 'kan? Apa masih mau lagi?” tanya Asyila dengan pipi yang sudah merah merona.


“Boleh,” jawab Abraham dengan penuh antusias.


Asyila geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari suaminya.


Abraham mendelik tajam mendengar ucapan istri kecilnya, kemudian ia mengangkat tubuh istri kecilnya dan membawanya ke tempat tidur.


“Asyila memang harus dihukum,” ucap Abraham yang sudah berada diatas tubuh Sang istri.


“Ampun Mas, Asyila mengaku salah,” tutur Asyila sambil menahan tawanya karena ulah suaminya yang terus saja menggelitik perutnya.


Saat mereka sedang bersenda gurau, bayi Akbar tiba-tiba terbangun karena ulah kedua orangtuanya yang berisik.


Asyila mendorong suaminya ke arah samping dan bergegas untuk menenangkan bayi mereka agar berhenti menangis.


“Tok... Tok.. tok!” Suara pintu diketuk dari luar kamar.


“Siapa?” tanya Abraham yang masih berada di tempat tidur dengan posisi miring ke kanan.


“Paman, ini Dyah. Tamu yang datang semakin banyak,” ujar Dyah.


Abraham terkejut dan saat itu juga ia bergegas turun dari tempat tidur untuk segera menyambut tamu yang berdatangan.


Asyila geleng-geleng kepala dengan kelakuan suaminya.


“Ini semua karena Ayahmu, sayang. Ayah memang suami yang sangat senang menjahilinya istrinya,” tutur Asyila pada bayi Akbar yang tengah menyusu.

__ADS_1


Di ruang tamu, Abraham nampak cukup terkejut dengan kedatangan para tetangganya yang bisa dikatakan sangat banyak. Bahkan, ruang tamu benar-benar penuh karena kedatangan dari penghuni perumahan Absyil.


Abraham sedikit bernapas lega karena ada Dyah yang membantu dalam menyambut kedatangan mereka. Dyah bahkan menyuguhkan air minum untuk setiap tamu yang datang.


“Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin,” ucap pria yang usianya mungkin dibawah Abraham.


Abraham membalas sapaan mereka dengan sangat ramah. Bahkan, tak sedikit dari para wanita yang melirik ke arah Abraham yang memang terkenal tampan.


Aunty kemana sih? Kenapa belum juga muncul, ini para laron terlihat sangat tertarik dengan Paman Abraham.


Dyah tak bisa diam melihat Pamannya yang terus saja diperhatikan oleh wanita-wanita genit.


“Paman, tolong panggilkan Aunty!” pinta Dyah dengan maksud agar Pamannya segera pergi dari ruang tamu untuk menyusul Aunty kesayangannya.


Abraham tanpa pikir panjang, langsung menyusul istri kecilnya yang berada di dalam kamar. Saat Abraham ingin membuka pintu kamar, rupanya Sang istri lebih dulu membuka pintu kamar tersebut.


“Mas mau ngapain?” tanya Asyila setengah terkejut.


“Mau menyusul Asyila, ayo ke ruang tamu!” ajak Abraham.


Abraham merangkul pinggang istri kecilnya dengan erat dan melenggang bersama-sama menuju ruang tamu. Melihat betapa cantiknya Asyila, saat itu juga mereka menjadi minder.


“Silakan dinikmati,” ucap Asyila dengan senyum manisnya.


Tak sedikit dari mereka terutama para pria yang memuji kecantikan Asyila.


“Ternyata istri Tuan Abraham kalau dilihat secara dekat memang sangat cantik,” puji salah satu dari mereka dan ternyata di dengar oleh Abraham.


Abraham mendelik tajam, bagaimanapun ia tak suka jika ada pria yang memuji kecantikan istri kecilnya. Meskipun, Asyila memang cantik.


“Paman, Aunty! Dyah izin ke kamar ya, Asyila kecil agak rewel,” tutur Dyah.


“Iya Dyah, pergilah ke kamar,” balas Asyila.


Dyah pun melenggang pergi menuju kamar yang biasa ia gunakan.


“Bela sayang, udah makan apa belum?” tanya Asyila pada Bela.


“Belum, Aunty,” jawab Bela yang memang belum makan.


“Mas, Asyila ke dapur dulu ya. Asyila mau menyiapkan makanan untuk Bela,” tutur Asyila pada suaminya.


Asyila tersenyum dan menggandeng tangan Bela untuk segera pergi ke dapur. Asyila memang sangat perhatian dengan Bela dan menganggap Bela seperti buah hatinya sendiri.


“Bela sayang, ini masih ada opo ayam. Bela mau, tidak?”


“Mau Aunty,” balas Bela.


“Paha, dada atau sayap?” tanya Asyila pada Bela.

__ADS_1


“Paha saja, Aunty,” jawab Bela dengan senyum manisnya.


__ADS_2