Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Antara Percaya Dan Tidak Percaya


__ADS_3

Salsa terus menyiksa Asyila sampai akhirnya Asyila kembali tak sadarkan diri.


“Jadi, cuma segitu ketahanan mu?” tanya Salsa dengan tersenyum menyeringai.


Karena Asyila sudah tak sadarkan diri, Salsa pun memutuskan untuk melepaskan tali yang melilit tubuh Asyila. Setelah itu, Salsa akan memanggil dua orang suruhannya untuk memberitahu perhitungan kepada Asyila.


“Susah sekali membuka tali ini,” ucap Salsa yang berusaha melepaskan tali yang melilit tubuh Asyila secepat mungkin.


Tanpa disadari oleh Salsa, sebenarnya Asyila sama sekali tidak pingsan. Asyila berpura-pura pingsan untuk mengelabui Salsa agar mau melepaskan tali yang melilit tubuhnya.


Saat Salsa baru saja berhasil melepaskan tali tersebut, Asyila tiba-tiba bangun dan menendang wajah Salsa hingga Asyila jatuh tersungkur.


Salsa merasakan sakit di wajahnya, terutama di bagian hidung yang ternyata mengeluarkan darah segar akibat tendangan dari Asyila.


“Kamu tahu apa akibatnya menyakitiku?” tanya Salsa dengan tatapan penuh dendam pada Asyila.


Asyila seketika itu beranjak dan mengenakan kembali Ciput ninja miliknya. Kemudian, memungut hijab miliknya yang sudah robek menjadi dua. Asyila tidak kehilangan akal, karena hijab miliknya benar-benar jumbo dan tak sulit untuk Asyila mengikat hijab terus untuk menutup rambutnya.


“Kamu kira aku selemah kemarin?” tanya Asyila dengan terus berjalan mendekat. “Karena kita sama-sama perempuan, maka akan aku tunjukkan cara memukul yang baik dan benar,” imbuh Asyila.


Asyila tak bisa menahan amarahnya lagi, karena jika ia melembut. Salsa akan kembali mengganggu rumah tangganya dan mungkin saja Salsa akan mencelakai anggota keluarganya, terlebih lagi buah hatinya bersama Sang suami.


Salsa pun bangkit dan mengambil potongan kayu untuk melumpuhkan lawan alias Asyila.


“Malam ini, kamu harus mati!” teriak Salsa dan berlari mendekat sembari mengarahkan kayu tersebut ke arah wajah Asyila.


Bukan Asyila namanya kalau tidak bisa menghindar, Asyila menghindar dan meninju bagian perut Salsa hingga Salsa berteriak kesakitan.


Tak hanya itu saja, Asyila mendekat dan menjambak rambut Salsa. Kemudian, memberikan tamparan keras sebanyak tiga kali di pipi Salsa.


“Aku rasa, tamparan ini tidak akan cukup dengan kamu membuat putra kami menangis. Berapa banyak air mata yang sudah suamiku tumpahkan karena berpisah dariku!”


Salsa benar-benar terkejut ketika tahu bahwa wanita dihadapannya ternyata wanita yang kuat. Sebelumnya, Salsa pikir bahwa Asyila hanya wanita lemah lembut yang tidak akan memberi perhitungan padanya.


“Aakkkhhhh!” Salsa berteriak kesakitan setelah mendapatkan tamparan keras dari seorang Asyila.


“Kenapa berteriak? Apakah sakit?” tanya Asyila dan kembali menampar wajah Salsa.


Diluar pintu, kedua suruhan Salsa berteriak agar pintu tersebut dibuka. Akan tetapi, mereka tentu saja tidak bisa masuk karena Salsa sedang dihajar habis-habisan oleh Asyila yang menumpahkannya seluruh kekesalan kepada Salsa yang menjadi bom waktu bilamana dibiarkan begitu saja tanpa memberi perhitungan terlebih dahulu.


Salsa yang sudah babak belur karena Asyila, saat itu juga memohon ampun. Asyila seketika itu menghentikan pukulannya dan apa yang tak diinginkan pun terjadi, Salsa yang bermuka dua saat itu juga melemparkan sebuah batu bata ke arah kepala Asyila dan menyebabkan kepala Asyila mengeluarkan darah segar hingga hijab yang ia kenakan berlumuran darah.


“Mati kau!” teriak Salsa.


Asyila mengalami sakit yang luar biasa dibagian kepalanya, akan tetapi ia mencoba untuk tetap sadarkan diri dan membalas perbuatan Salsa dengan meninju wajah Salsa sekuat mungkin.


Salsa lagi-lagi terjatuh dan saat itu juga Asyila memukul bagian tengkuk leher Salsa, sampai akhirnya Salsa tidak sadarkan diri.


Saat Salsa sedang dalam keadaan tak sadarkan diri, Asyila memutuskan untuk cepat-cepat mengikat Salsa dengan tali yang sebelumnya menjerat tubuh Asyila.

__ADS_1


“Ya Allah, tolong berikan hamba kekuatan,” pinta Asyila sembari terus mengikat tubuh Salsa.


Setelah tubuh Salsa diikat dengan tali, Asyila pun berusaha mengambil ponsel yang berada di kantong baju Salsa. Kemudian, menghubungi nomor telepon suaminya agar segera datang menjemputnya.


Asyila mencoba dan terus mencoba menghubungi suaminya. Akan tetapi, Sang suami selalu menolak panggilan dari Asyila.


“Ya Allah, Mas pasti mengira kalau nomor telepon yang menghubunginya adalah orang tak dikenal. Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Asyila bermonolog.


Tak kehilangan akal, Asyila pun mengirim pesan ke nomor telepon suaminya dan saat pesan tersebut terkirim, Suaminya langsung menghubungi Asyila.


“Ya Allah, Asyila dimana sekarang?” tanya Abraham panik.


“Asyila tidak tahu dimana, Mas. Tempat ini terasa asing untuk Asyila,” jawab Asyila yang memang tidak tahu tempat tersebut.


Bruk!!! Bruk!!! Bruk!!! Suara dari balik pintu yang sedang berusaha menghancurkan pintu.


“Mas, tolong cepat kemari. Asyila takut, diluar pintu ada dua pria yang ingin mencelakai Asyila,” ucap Asyila.


“Asyila yang tenang, sekarang Asyila kirim lokasi Asyila sekarang di WhatsApp!”


“Baik, Mas,” balas Asyila yang memang saat itu pikirannya buntu, karena panik yang luar biasa.


Baru saja Asyila mengirim lokasinya, tiba-tiba dua orang suruhan Salsa berhasil masuk ke dalam dan terkejut ketika melihat Salsa yang sudah terikat dengan wajah babak belur.


“Hei jal*ng, kamu apakan Salsa?” tanya salah satu dari mereka.


Asyila sama sekali tak takut dengan kedua pria dihadapannya. Sebelum-sebelumnya dia sudah lebih dulu menghampiri banyak pria yang ingin mencelakai dirinya.


“Mau mati saja banyak bicara,” celetuk salah satu dari dua pria tersebut.


“Jaga ucapanmu, yang bisa mengambil nyawa seseorang adalah Allah dan bukan manusia. Kalau kalian benar laki-laki, maka majulah satu-persatu!” tegas Asyila.


Asyila mengepalkan tangannya kuat-kuat dan sedikit mengangkat gamisnya agar bisa lebih mudah bergerak. Tentu saja apa yang dilakukan Asyila tak mengurangi sedikitpun cara berpakaian, karena Asyila menggunakan celana panjang yang sama sekali tak ketat sehingga tak mempertontonkan bagian lekuk kakinya.


Keduanya tertawa lepas menganggap remeh perkataan Asyila yang menurut mereka Asyila itu adalah wanita yang sangat lemah.


Asyila tak bisa diam begitu saja ketika dirinya ditertawakan, terlebih lagi dirinya harus tetap terjaga dan berusaha menahan sakit di kepalanya.


Asyila mengambil sebuah kayu yang sebelumnya akan digunakan oleh Salsa untuk memukulnya. Kemudian, dengan gerakan cepat Asyila memukul bagian perut salah satu dari mereka.


“Apa yang kau lakukan?” tanya pria yang bagian perutnya baru saja dipukul oleh Asyila.


Asyila kembali memukul pria tersebut bagian tengkuknya dengan cukup keras dan tak butuh waktu lama. Pria tersebut jatuh pingsan dan membuat Asyila sedikit bernapas lega.


“Besar juga nyalimu ya,” ucap pria yang masih berdiri sehat dan bersiap-siap untuk menghajar Asyila.


Disaat yang bersamaan, Abraham sedang mengendarai motor menuju lokasi istri kecilnya diculik. Abraham mengendarai motor dengan kecepatan tinggi agar bisa segera tiba di lokasi tersebut.


Aku bersumpah, sampai istriku kenapa-kenapa. Aku tak akan memberi ampun siapapun yang terlibat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian.


Abraham pun tiba disebuah gedung rumah sakit yang sudah terbengkalai. Ia berlari secepat mungkin untuk menemukan keberadaan istri kecilnya itu.


Asyila terlempar dan tubuhnya membentur dinding dengan cukup keras. Akan tetapi, Asyila tidak menyerah begitu saja.


Ia berpura-pura tak sadarkan diri dan ketika pria itu sudah mendekat ke arahnya, dengan gerakan cepat Asyila mematahkan jemari tangan pria dihadapannya.


Tak hanya itu saja, Asyila menghajar wajah pria itu dengan lututnya sebanyak 3 kali. Ternyata tidak sampai disitu, Asyila menarik kepala pria tersebut dan membenturkannya ke dinding sebanyak dua kali.


“Asyila!” Abraham tiba dengan tatapan terkejut melihat bagaimana istri kecilnya menghajar pria yang hampir setara dengan tubuh Abraham.


Abraham antara percaya dan tidak percaya melihat istri kecilnya yang jauh dari kata lemah lembut. Melihat istri kecilnya yang sekarang, Abraham merasa seperti melihat sosok wanita lain karena tindakan Sang istri yang bisa dikatakan sangat berani.


Abraham berjalan perlahan dan melihat ke arah Salsa dan bergantian melihat ke arah dua pria yang sudah tak sadarkan diri.


“Mas Abraham,” ucap Asyila berusaha bangkit agar bisa memeluk suaminya.


Abraham tak bisa berkata-kata, mulutnya menganga lebar melihat tiga orang di dalam ruangan itu sudah tak sadarkan diri lagi.


“Mas, Asyila takut,” ucap Asyila yang kini sudah memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


“Asyila baik-baik saja?” tanya Abraham dengan membalas pelukan istri kecilnya.


“Asyila baik-baik saja, Mas. Untung Mas datang, Asyila sangat takut,” jawab Asyila.


“Asyila takut sampai-sampai membuat mereka bertiga pingsan?” tanya Abraham yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Iya, Mas. Asyila sangat takut, untungnya saja Asyila bisa sedikit bela diri karena sebelumnya Asyila berlatih di Jawa tengah,” balas Asyila yang sengaja berbohong karena belum siap untuk memberitahukan kebenaran mengenai dirinya dan sosok wanita bercadar yang sebelumnya pernah Abraham lihat.


“Dalam keadaan hamil?” tanya Abraham memastikan.


“Iya, Mas. Dalam keadaan hamil Asyila juga sering berlatih,” jawab Asyila yang memang sepenuhnya perkataannya mengenai berlatih bela diri dalam keadaan hamil adalah nyata.


ketika Asyila mengandung, Asyila sedikit-demi sedikit memperdalam ilmu beladiri nya untuk persiapan hari esok barangkali ia mengalami hal sulit.


Haaa??? Ternyata istriku ini juga bisa bela diri.


“Mas, kita pulang ayo,” pinta Asyila yang tiba-tiba menangis dipelukan suaminya. “Asyila sangat takut, Mas. Asyila takut jika hal buruk terjadi kepada Asyila dan membuat Mas kembali sedih,” imbuh Asyila.


“Ssuuttss... Kenapa Syila berkata seperti itu? Kita tunggu polisi datang dan Asyila ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka, mengerti!”


“Mengerti, Mas.”


Asyila sedikit menyesali apa yang telah ia lakukan. Seharusnya, ia tidak terlalu menonjolkan ilmu beladiri yang ia miliki karena takut usahanya menyembunyikan kemampuannya selama ini bisa diketahui oleh Sang suami tercinta.


Dalam hati Abraham, ia masih bertanya-tanya dengan apa yang telah dilakukan oleh istri kecilnya.


Saat sedang hamil Asyila belajar ilmu beladiri? Akan tetapi, apa mungkin bisa semahir ini? Kalaupun ia, itu artinya Asyila adalah istri yang hebat dan juga kuat.

__ADS_1


__ADS_2