Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Terima Kasih Ya Allah


__ADS_3

Sehari setelah acara amal tersebut, Dokter Bima mendatangi Asyila dan memberikan sebuah catatan yang sangat detail mengenai uang dari acara amal tersebut.


Asyila sangat senang karena uang tersebut dapat membantu banyak orang yang membutuhkan, terlebih lagi orang-orang yang tidak mampu serta kekurangan biaya pengobatan.


“Terima kasih, Dokter Bima. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih,” ucap Asyila menangis terharu.


“Kami seharusnya yang berterima kasih atas bantuan Nona Asyila, semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah,” balas Dokter Bima.


Dokter Bima pamit untuk menangani hal lain, Asyila pun mengiyakan dan kembali masuk ke dalam ruang rawat suaminya.


Asyila kembali duduk di samping suaminya dan meletakkan pipinya di punggung tangan Abraham dengan hati-hati. Ia memejamkan matanya hingga akhirnya ia tertidur.


Selang beberapa menit, Arumi datang seorang diri dan ia segera mengurungkan ucapan salamnya ketika melihat putri kesayangannya tertidur.


Arumi masuk dengan langkah pelan agar Asyila tidak terganggu karena kedatangannya.


Asyila terkesiap ketika mendengar suara kresek plastik dan ia pun menoleh ke samping.


“Ibu...” Asyila berdiri dan berjalan menghampiri Ibunya.


Arumi merasa tidak enak karena kedatangannya membangunkan putri kesayangannya.


“Maaf, ya sayang. Gara-gara Ibu kamu jadi bangun,” ucap Arumi sambil menyentuh bahu Asyila.


“Tidak apa-apa, Ibu. Arsyad dan Ashraf tahu kalau Ibu kemari?” tanya Asyila.


“Arsyad dan Ashraf sedang diajak jalan-jalan oleh Ema dan suaminya. Kamu sudah makan, Nak?” tanya Arumi sambil membuka sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng untuk Asyila.


Asyila sebenarnya masih kenyang dan tidak nafsu makan. Akan tetapi, ia tidak ingin menolak apa yang diberikan oleh Ibunya dan membuat Ibunya semakin khawatir.


“Ini Ibu yang memasaknya?” tanya Asyila sambil menerima nasi bungkus ayam goreng pemberian Ibunya tercinta.


“Iya nak, Ibu yang memasaknya. Kebetulan tadi pagi Arsyad mau dibuatkan ayam goreng dan ini hasilnya,” jawab Arumi.


“Bu, apakah Arsyad dan Ashraf sering menanyakan Ayahnya?” tanya Asyila yang terlihat nampak sedih sembari melirik ke arah suaminya yang masih belum siuman.


“Mereka anak-anak yang baik dan pengertian. Mereka selama di rumah selalu berdo'a demi keselamatan Ayah mereka, kamu jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang habiskan makananmu!”


Asyila mengiyakan dan memilih duduk si matras untuk segera menikmati masakan Ibunya, Arumi.


Sembari menunggu Asyila selesai makan, Arumi pun memilih untuk mencari kesibukan. Yaitu, beres-beres ruang rawat Abraham.


***


Malam hari.


Asyila baru saja melaksanakan sholat isya bersama Sang Ibu di masjid sekitar rumah sakit. Malam itu, Arumi tidak menginap di rumah sakit karena harus menjaga kedua cucunya di rumah.


Asyila memeluk sekilas tubuh Ibunya yang sebentar lagi akan pulang meninggalkan dirinya bersama Sang suami tercinta.

__ADS_1


“Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Ibu!” pinta Arumi pada putri kesayangannya.


“Ibu tenang saja, Asyila akan langsung menghubungi Ibu kalau ada suatu hal yang terjadi,” jawab Asyila.


“Ibu pulang dulu, jangan tidur malam-malam. Wassalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumsalam,” balas Asyila yang tak lupa mencium punggung tangan Ibunya.


Arumi pun pulang dan kini hanya ada Asyila serta suaminya yang belum juga siuman.


“Mas, Asyila kangen,” ucap Asyila dan mencium sekilas pipi kiri suaminya, “Mas, cepat bangun ya! Asyila benar-benar membutuhkan Mas Abraham,” imbuh Asyila yang terdengar sangat memohon pada suaminya agar segera bangun dari tidur panjang.


Asyila kembali menitikkan air matanya dan tak sengaja air matanya mengenai tangan suaminya. Asyila kemudian dengan hati-hati mengelap air matanya dengan tisu dan hal mengejutkan pun terjadi.


Deg!


Asyila terperangah melihat jari suaminya bergerak-gerak dengan sangat pelan. Namun, Asyila masih bisa melihatnya.


“Dokter! Suster!” Asyila dengan semangat berlari keluar memanggil dokter maupun suster agar segera memeriksa keadaan suaminya


Asyila berharap besar bahwa pergerakan tangan dari suaminya adalah suatu hal yang baik. Suatu hal yang membuat semangat hidup Asyila kembali bangkit.


“Dokter! Suster! Tolong periksa suami saya!” pinta Asyila.


Jantung Asyila berdegup kencang, ia yakin bahwa suaminya agar segera bangun.


“Dok, tolong suaminya!” pinta Asyila mencegat seorang dokter pria.


“Tolong tunggu di luar!” pinta Sang Dokter.


Asyila mengiyakan dan mengikuti perintah dari Dokter agar menunggu diluar. Asyila berjalan bolak-balik dengan begitu gusar, wanita muda itu sangat berharap bahwa ada keajaiban dari Allah subhanahu wa ta'ala.


Beberapa menit kemudian.


Dokter pria itu keluar dengan wajah lesu, Asyila pun segera menundukkan kepalanya dan berpikir bahwa suaminya memang belum siuman.


“Mas Abraham belum bangun ya Dok,” ucap Asyila sambil tersenyum kaku dengan mata berkaca-kaca. Asyila merasa bahwa dirinya sedang berhalusinasi mengenai gerakan jemari tangan suaminya.


“Maaf, lebih baik anda masuk ke dalam dan melihat sendiri kondisi Tuan Abraham,” ucap Sang Dokter dan bergegas meninggalkan Asyila.


Asyila terduduk lemas di kursi untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam ruang rawat suaminya dengan langkah yang sangat lemas.


“Kenapa lama sekali?”


Deg!


Asyila mendongakkan kepalanya ke arah suaminya dan ternyata keajaiban pun terjadi. Suaminya telah sadar dan tersenyum kepadanya.


“Mas Abraham!” teriak Asyila dan tanpa pikir panjang, Asyila naik ke atas ranjang dan memeluk suaminya dengan posisi tengkurap sementara suaminya terlentang.

__ADS_1


Wanita muda itu menangis terharu karena penantiannya akhirnya terjawab sudah. Suaminya yang teramat sangat ia cintai akhirnya bangun dari tidur panjangnya.


“Jangan menangis lagi, Mas dari tadi menunggu Syila datang kemari,” ucap Abraham sambil membelai lembut punggung Asyila.


Asyila masih menikmati tangisannya, ia meluapkan semuanya di pelukan suaminya tersebut.


“Syila sayang,” ucap Abraham.


Tangan Abraham meraba seluruh punggung istri kecilnya dan terkejut ketika mengetahui bahwa istri kecilnya kehilangan berat badan yang cukup drastis. Abraham pun sangat sedih, karena dirinya sang istri menjadi sangat kurus.


“Maaf, karena telah membuat Syila menderita. Maaf, seharusnya Mas tidak seperti ini,” ucap Abraham dan pria tersebut meneteskan air matanya.


Asyila mendongakkan kepalanya dan terkejut mendapati suaminya yang tengah menangis m Dengan hati-hati Asyila turun dari tubuh suaminya dan perlahan turun dari ranjang.


“Mas tolong jangan menangis, Asyila tidak apa-apa. Asyila baik-baik saja,” ucap Asyila sambil tersenyum lebar ke arah suaminya dengan air mata yang masih terus berlinang, “Tolong jangan pernah menyalahkan diri Mas sendiri,” imbuh Asyila memohon dengan sangat agar suaminya berhenti menangis.


“Kalau begitu, berhentilah menangis dan jangan pernah lagi menangis!” perintah Abraham.


Asyila cepat-cepat menghapus air matanya dan kemudian, menghapus air mata suaminya.


“Terima kasih, Suamiku. Terima kasih Ya Allah.”


Asyila bersujud dilantai dengan terus mengucapkan syukur, Allah akhirnya mengabulkan orang-orang yang mendo'akan kesembuhan Abraham.


Abraham sama sekali tidak bisa mengubah posisi tidurnya, ia sudah tahu mengenai kondisi kakinya yang sementara waktu tidak bisa berjalan. Pria itu menerimanya dengan ikhlas, toh kedepannya ia akan kembali berjalan dengan normal dan mungkin untuk sementara waktu Sang pencipta menyuruhnya untuk beristirahat di rumah bersama dengan keluarga kecilnya.


Asyila bangkit dan berkali-kali menciumi punggung tangan suaminya.


“Mas....” Asyila masih saja cengeng, ia menangis terharu dan benar-benar bahagia karena keajaiban pun akhirnya datang kepada suaminya.


Abraham menggerakkan tangannya dan menyentuh pipi istri kecilnya dengan begitu lembut.


“Sudah, jangan menangis lagi. Jangan lagi bersedih dan jangan lagi meneteskan air mata. Sekarang suamimu sudah baik-baik saja, sini naik dan peluk Mas lagi!” pinta Abraham.


Asyila mengangguk kecil dan dengan hati-hati ia naik ke atas ranjang memeluk suaminya


“Ayo tidur sebentar!” ajak Abraham yang sebenarnya tidak mengantuk. Hanya saja, Abraham ingin istri kecilnya yang beristirahat.


“Mas masih mengantuk?” tanya Asyila.


“Iya, Syila ku. Suamimu ini masih sangat mengantuk,” jawab Abraham.


Asyila perlahan memejamkan matanya dan ia pun terlelap di pelukan suaminya. Akhirnya Asyila kembali tidur di tempat ternyaman nya, tempat yang sangat ia rindukan dari beberapa Minggu yang lalu.


Allah, memberikan cobaan kepada hambanya bukan tanpa sebab. Justru, bersyukurlah kalian yang masih merasakan hal-hal seperti ini. Itu artinya, Allah masih sayang dan merindukan hambanya untuk terus bersujud serta mengingat kembali kepada Sang pencipta. Seperti apa yang Asyila dan yang lainnya lakukan ketika sedang ditimpa musibah.


Terima kasih Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menyatukan kami kembali. Terima kasih karena Engkau telah memberikan hamba kesempatan untuk hidup kembali, hidup diantara keluarga kecil kami. Terima kasih karena telah memberikan istri yang sangat luar biasa hebatnya seperti Asyila.


Abraham kembali menetes air matanya, ia sangat bersyukur meskipun kakinya sementara waktu mengalami kelumpuhan dan akan cukup lama memakan waktu hingga Abraham bisa berjalan normal lagi.

__ADS_1


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2