
Rumah Sakit.
Abraham malam itu, tengah sibuk membaca kitab Al-Qur'an tepat di samping Ayah mertuanya. Sementara Ibu mertuanya sedang keluar untuk membeli makanan.
Abraham membaca Al-Qur'an dengan begitu serius, suaranya benar-benar menyentuh hati. Bahkan, Herwan yang belum juga sadarkan diri meneteskan air matanya.
“Shadaqallahul-’adzim.”
Arumi ternyata sudah berada di belakang Abraham, ia akan menyapa Abraham setelah menantunya itu selesai mengaji.
“Terima kasih, Nak Abraham,” ucap Arumi.
“Sudah menjadi kewajiban Abraham, Ibu,” balas Abraham dan meletakkan kitab suci Al-Qur'an di atas nakas.
Arumi tersenyum dan memberikan sebungkus nasi yang ia beli di sekitar rumah sakit.
“Makanlah ini, Ibu tahu kamu dari semalam belum makan,” tutur Arumi.
Abraham mengangguk kecil dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Sikap Abraham inilah yang membuat Arumi maupun Herwan bangga memiliki menantu seperti Abraham Mahesa. Selain tampan, baik hati, agamis, Abraham juga memiliki sopan santun yang patut diacungi jempol.
“Abraham makan dulu ya Ibu,” ucap Abraham dan segera duduk di tikar.
Arumi kini bergantian duduk di samping suaminya yang masih belum juga sadarkan diri.
Do'a demi do'a selalu dicurahkan oleh Arumi maupun Abraham kepada Sang pencipta. Mereka yakin bahwa sebentar lagi Herwan akan sadar dan bisa segera pulang.
“Mas, kami akan selalu berdo'a untuk kesembuhan Mas,” ucap Arumi pada suaminya.
“Ibu sudah makan?” tanya Abraham sebelum menikmati makanannya.
“Alhamdulillah Ibu sudah makan, Nak Abraham makanlah dan tidak perlu sungkan dengan Ibu,” jawab Arumi.
Disisi lain.
Asyila malam itu terlihat tak tenang, ia tidak bisa tidur. Berulang kali ia mencari posisi yang bagus untuk segera menelusuri alam bawah sadarnya. Akan tetapi, pikirannya tak tenang dan was-was.
Ia pun beranjak dari tempat tidur dan memutuskan untuk mengambil air wudhu kembali. Ia berharap kali ini dirinya bisa langsung tertidur dan tidak ada drama-drama tidak bisa tidur.
Ketika selesai mengambil air wudhu dan bergegas kembali ke tempat tidur, Asyila tiba-tiba ingin pulang ke rumah Sang suami.
Ada perasaan lain ketika Asyila mengingat rumah tersebut.
“Apa mungkin aku malam ini pulang ke rumah? Sebaiknya aku pulang dan melihat-lihat, mumpung anak-anak sudah tertidur,” ucap Asyila lirih dan mendekati Dyah.
Asyila menggoyangkan pelan tubuh Dyah agar keponakan Sang suami segera bangun. Tak butuh waktu lama, Dyah pun terbangun dan terkejut melihat bahwa Aunty lah yang membangunkan tidurnya.
“Ada apa Aunty?” tanya Dyah dengan suara yang cukup besar.
Asyila dengan cepat membungkam mulut Dyah dengan tangan kanannya.
“Sssuuttt jangan keras-keras, Aunty tidak mau jika Arsyad dan Ashraf sampai terbangun,” ucap Asyila dan Dyah pun mengangguk kecil.
__ADS_1
Asyila melepaskan tangannya dari mulut Dyah dan menjelaskan alasannya membangunkan Dyah. Dyah pun mengetahui apa alasan dari Aunty-nya membangunkan dirinya.
“Aunty benar hanya ke rumah sebentar?” tanya Dyah dengan suara lirih.
“Iya, kamu tenang saja. Kalau salah satu dari mereka terbangun, bilang saja Aunty sedang beli sesuatu dan terburu-buru,” jawab Asyila.
“Lalu, Aunty kesana dengan siapa?” tanya Dyah lagi.
“Aunty akan menggunakan jasa pengemudi online saja, tolong jaga anak-anak!” pinta Asyila dan bergegas mengenakan hijabnya.
Asyila mengambil tas selempang miliknya dan melenggang pergi keluar kamar hotel. Meninggalkan kedua putra kecilnya bersama Dyah.
Wanita muda itu mempercepat langkah kakinya, ia tidak ingin membuang-buang waktu dan berharap ia menemukan jawaban di kediaman Sang suami tercinta.
“Nona Asyila?” tanya pengemudi online.
“Iya benar, tolong antarkan saya sesuai dengan alamat di aplikasi ya Pak!”
“Baik,” jawab Sang pengemudi online tersebut.
Asyila duduk di kursi tengah dan terus berdo'a agar dirinya menemukan jawaban yang tepat.
Beberapa saat kemudian.
Asyila turun dari mobil setelah membayar jasa pengemudi online. Dari depan gerbang rumah, Asyila melihat ada gerak-gerik yang mencurigakan.
Sebuah mobil terparkir tak jauh dari gerbang rumah kediaman Suaminya, terlebih lagi ternyata ada seseorang yang terlihat sibuk memantau sekitar halaman rumah.
“Nona Asyila? Ya Allah ternyata benar ini Nona Asyila, Nona Asyila kenapa malam-malam begini pulang ke rumah?” tanya Pak Udin.
“Ada barang yang ingin Asyila ambil, Pak Udin. Oya Pak, itu mobil siapa?” tanya Asyila menunjuk ke arah mobil sedan berwarna hitam.
“Saya juga tidak tahu, Nona Asyila. Mobil itu dari semalam sudah ada di sana,” jawab Pak Udin.
Asyila semakin curiga dengan mobil sedan berwarna hitam itu. Akan tetapi, Asyila tidak ingin gegabah dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa, Pak Udin akan berjaga-jaga di pos penjagaan miliknya.
“Nona Asyila yakin mau masuk sendirian?” tanya Pak Udin memastikan.
“Pak Udin tenang saja, bukankah rumah ini sudah aman?” tanya Asyila.
“Insya Allah sudah aman, Nona Asyila.”
Asyila mengangguk kecil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dalam hatinya sedikit ada rasa takut ketika menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Asyila masuk dan tak lupa mengucapkan salam, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil peralatan miliknya. Contohnya, seperti ketapel, kelereng, cadar yang biasa ia kenakan dan pakaian yang tentu saja sudah ia simpan untuk berjaga-jaga ketika ia kembali untuk mengatasi orang-orang jahat.
“Sebentar lagi Aku akan kembali menjadi Asyila yang lain, hal ini Aku lakukan agar orang-orang jahat dapat dihukum sesuai dengan perbuatan mereka dan semoga saja setelah mereka dihukum, mereka dapat berubah menjadi orang baik yang berguna,” ucap Asyila sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel berwarna hitam.
Setelah semuanya siap, Asyila bergegas keluar dari rumah itu. Ia memutuskan untuk meminjam motor milik Pak Udin, untungnya Pak Udin mengizinkan dan tak bertanya apa-apa.
“Nona Asyila yakin mau bawa motor malam-malam seperti ini?” tanya Pak Udin.
__ADS_1
“Insya Allah. Lagipula jarak rumah ke hotel tidak terlalu jauh, tolong langsung ditutup ya Pak gerbangnya!” pinta Asyila.
Pak Udin mengiyakan dan bergegas menutup rapat-rapat gerbang rumah tersebut.
Gerbang rumah sudah tertutup, Asyila pun memutuskan untuk menghampiri pemilik mobil itu.
“Bapak siapa ya?” tanya Asyila berani.
Pria itu terkesiap dan menatap tajam ke arah Asyila yang berani mengganggu istirahatnya.
“Ada urusan apa kamu tanya-tanya saya? Pergi saya!” Pria itu bukannya menjawab, justru mengusir Asyila dengan sangat garang.
“Saya hanya bertanya, karena dari kemarin Bapak tidak bergeser kemana-mana,” jawab Asyila yang sama sekali tidak takut dengan pria tersebut.
Pria itu terlihat emosional dan tanpa pikir panjang, ia turun dari mobil. Tanpa rasa bersalah ataupun malu, pria itu mendorong motor yang Asyila naiki.
Otomatis Asyila terjatuh bersama dengan motor tersebut.
“Akkhhh... Kenapa Bapak malah mendorong saya?” tanya Asyila sambil berusaha bangkit.
Mendengar Asyila berteriak, pria itu cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi dengan mobilnya.
Tentu saja Asyila semakin curiga dengan gerak-gerik pria tersebut.
“Sepertinya Bapak-bapak itu salah satu orang yang terlibat dengan kasus ular kobra di halaman rumah. Akan tetapi, Aku tidak bisa langsung menangkapnya karena Aku harus mengumpulkan bukti yang konkret. Ayah, Asyila berjanji akan memecahkan kasus ini dan memberikan mereka ganjaran yang setimpal karena sudah mencelakai Ayah!”
Asyila menoleh ke arah sekitar dan tak ada satupun orang. Ia pun bergegas menuju hotel untuk segera berisitirahat sambil memikirkan bagaimana cara menangkap orang-orang jahat itu.
Asyila mengemudikan motor dengan kecepatan sedang, rasa penasarannya semakin besar dengan pria yang gerak-geriknya mencurigakan. Ditambah, bukannya menjawab pria itu malah mendorongnya.
Aku harus yakin dan harus bisa menangkap mereka semua. Siapapun yang terlibat, mereka harus ditangkap.
Ya Allah bantulah hamba agar kejahatan mereka segera terungkap. Aamiin Allahumma amin.. 🙏
Sesampainya di area parkir, Asyila bergegas menuju kamar hotel. Ia berjalan dengan sangat tergesa-gesa.
“Syukurlah Aunty baik-baik saja,” ucap Dyah yang ternyata menunggu Asyila di depan pintu kamar hotel.
“Te-tentu saja Aunty mu ini baik-baik saja,” jawab Asyila dengan napas terengah-engah, “Apakah Arsyad dan Ashraf bangun?” tanya Asyila.
“Alhamdulillah tidak, Aunty kenapa ngos-ngosan begitu?” tanya Dyah.
“Tadi Aku terburu-buru dan jadinya seperti ini, ayo masuk!” ajak Asyila dengan menggandeng tangan Dyah.
“Itu apa Aunty?” tanya Dyah menunjuk ke arah tas ransel yang dikenakan oleh Asyila.
“Oh, ini bukan apa-apa. Ayo tidur!” ajak Asyila dan meletakkan tas ranselnya di bawah tempat tidur, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Dyah tak banyak bertanya, ia pun bergegas untuk tidur karena sangat mengantuk.
Abraham 💖 Asyila.
Like 💖 komen 👇🙏 💖
__ADS_1