Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kedatangan Wanita Hamil


__ADS_3

Asyila tersenyum malu-malu ketika melihat wajah sang suami yang begitu polos. Setelah beberapa malam terlewatkan begitu saja, kini Abraham dan Asyila kembali merasakan hasrat cinta mereka di tempat tidur.


“Mas tampan ya?” tanya Abraham tanpa membuka matanya.


Asyila terkejut dan segera bergeser membelakangi sang suami.


“Iya Mas tahu. Kalau suami Asyila ini sangat tampan,” ucap Abraham dengan penuh percaya diri sambil memeluk tubuh sang istri yang setengah polos.


Asyila hanya diam dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya yang manis.


“Sepertinya kita harus punya baby yang lucu lagi,” tutur Abraham.


Mata Asyila terbelalak lebar dan segera membalikkan badannya menghadap sang suami.


“Sebaiknya kita tunda dulu ya Mas! Bukannya Asyila menolak untuk memiliki baby lagi. Tapi, Ashraf masih kecil dan....”


“Dan apa?” tanya Abraham penasaran.


Asyila masih harus membantu pekerjaan Mas.


Asyila diam melamun ketika mengingat bagaimana sang suami bertaruh nyawa membantu para polisi yang meminta bantuan kepada sang suami.


“Syila!” Abraham memanggil istrinya dan mengecup sekilas bibir manis sang istri.


Asyila tersadar dari lamunannya ketika merasakan bibir sang suami meskipun hanya sekilas.


“Tidak ada apa-apa kok Mas,” jawab Asyila.


“Yakin?”


“Iya Mas.”


“Kalau begitu ayo mandi wajib! Keburu waktu sholat.”


“Siap Mas!”


****


Malam hari.


“Dimana Dyah? Kok jam segini belum juga sampai,” ucap Asyila bermonolog sembari menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Malam itu hanya Asyila dan Ashraf yang ada di rumah. Lalu kemana Abraham?


Kebetulan Abraham sedang ada pekerjaan penting di kantor.


“Tok.. tok!” Suara ketukan pintu.


“Pasti itu Dyah,” ucap Asyila dan segera berjalan menuju ruang tamu.


Betapa terkejutnya Asyila ketika melihat seorang wanita dihadapannya dengan perut besarnya.


Wanita dihadapannya terlihat sangat kasihan, kantung mata serta kelopak matanya bengkak terlihat baru saja habis menangis.


“Maaf, Mbak siapa ya?” tanya Asyila yang belum enggan mempersilakan wanita itu untuk masuk.


Bukannya Asyila tidak mengizinkan wanita itu masuk. Hanya saja, Asyila harus berjaga-jaga dan memastikan apakah wanita dihadapannya benar-benar meminta bantuan atau hanya sebaliknya.


“To-tolong saya Mbak! Tolong saya!” Wanita dihadapan Asyila langsung memohon kepada Asyila agar menolong dirinya.


Disaat yang bersamaan para penjaga perumahan Absyil datang untuk mengusir wanita hamil itu.


“Ternyata kamu disini, pergi dari sini!” Salah satu penjaga mencoba menarik tangan wanita hamil itu agar segera pergi dari perumahan Absyil.


“Berhenti!” perintah Asyila dengan begitu tegas.


“Tapi Nona...”

__ADS_1


“Kalian pergilah! Biar saya mengurus Mbak ini,” ucap Asyila.


Para penjaga perumahan Absyil pun pergi meninggalkan Asyila serta wanita hamil itu.


“Mari masuk!” Karena tak tega, Asyila pun mempersilakan wanita hamil itu untuk masuk ke dalam sekaligus mencari tahu siapa wanita hamil yang tiba-tiba datang.


Asyila tidak langsung bertanya, ia memilih untuk menghubungi keponakan sang suami yang belum juga datang.


Ketika Asyila mengirim pesan, rupanya Dyah mengirimkan pesan singkat yang isinya bahwa ia tidak jadi ke perumahan Absyil.


“Mbak, tolong saya. Saya sedang dalam bahaya,” ucap wanita hamil itu dengan wajah memelas.


Asyila meminta wanita itu untuk tenang terlebih dahulu.


“Sebentar ya Mbak. Saya akan ke dapur dulu untuk membawakan sesuatu untuk Mbak,” ucap Asyila dan bergegas menuju dapur.


Ketika Asyila sudah pergi ke dapur, wanita hamil itu tersenyum licik. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita hamil itu, mungkin saja ada rencana yang ia mainkan.


Di dapur Asyila terdiam sejenak sambil mengingat senyum aneh wanita hamil tersebut. Bagaimana Asyila tahu?


Asyila tidak sebodoh yang dipikirkan, ia sengaja melihat ke arah kaca dan melihat jelas bagaimana wanita itu tersenyum licik ke arah Absyil.


Siapa kamu sebenarnya?


Ada alasan di balik kedatangan kamu.


Asyila tersenyum tipis dan segera kembali ke ruang tamu dengan nampan yang sudah berisi teh hangat dan juga beberapa roti.


“Dinikmati dulu Mbak!” Asyila mempersilakan wanita yang duduk tepat di depan menikmati jamuan yang ia suguhkan.


Wanita hamil itu mengangguk kecil dan dengan hati-hati menyeruput teh buatan Asyila.


“Kalau boleh tahu Mbak tinggal dimana? Kenapa tiba-tiba Mbak bisa sampai ke perumahan Absyil?” tanya Asyila penasaran.


Aku penasaran jawaban apa yang akan diberikan oleh wanita ini.


“Saya tinggal di Cileungsi, Mbak. Saya juga tidak tahu kenapa bisa sampai disini,” jawabnya dengan memasang wajah melas.


“Maksudnya Mbak?” tanyanya seakan-akan tak mengerti apa yang dikatakan oleh Asyila.


“Tidak apa-apa. Oya, nama Mbak siapa? Kenalkan saya Asyila.” Asyila mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


“Nama saya Bunga, Mbak Asyila,” balasnya yang juga berjabat tangan dengan Asyila.


Asyila mengangguk kecil dan perhatiannya teralihkan ketika melihat mobil sang suami baru saja tiba.


“Sebentar ya Mbak. Suami saya sudah pulang kerja,” ucap Asyila dan segera menghampiri sang suami yang baru saja tiba.


Asyila berlari kecil untuk segera sampai pada sang suami.


“Assalamu’alaikum istriku yang cantik! Kenapa belum tidur?” tanya Abraham kemudian mengecup mesra kening Asyila.


“Wa’alaikumsalam Mas!” Asyila begitu bahagia dan tanpa rasa malu memeluk tubuh sang suami.


Dari dalam ruang tamu, Bunga mengintip kemesraan Abraham dan Asyila.


Wajah Bunga malam itu terlihat begitu kesal karena kemesraan yang sengaja ditunjukkan oleh Asyila.


Asyila tersenyum bangga dan terus memeluk tubuh suaminya itu.


“Mas, di dalam ada wanita hamil dan kemungkinan ia mempunyai itikad yang tidak baik terhadap kita,” ucap Asyila berbisik di telinga sang suami.


Abraham mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri.


“Siapa lagi yang coba-coba bermain dengan keluarga kita ini,” tutur Abraham dan mengajak Asyila untuk masuk ke dalam.


Eko yang sedari tadi berada di mobil hanya bisa diam sambil berpura-pura tak melihat kemesraan sepasang suami istri yang semakin hari semakin romantis.

__ADS_1


“Mereka seperti pengantin baru saja, Ya Allah saya sebagai sopir ini bisa apa?” tanya Eko bermonolog dan menepuk jidatnya sendiri.


Abraham dan Asyila berjalan masuk dengan terus bergandengan tangan. Melihat Abraham yang baru saja masuk, Bunga langsung berdiri dan memberikan senyumnya kepada Abraham.


Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Bunga sama sekali tidak membuahkan hasil.


Dikarenakan Abraham adalah pria cuek yang sama sekali tidak ingin memandangi wanita manapun selain sang istri pujaan hatinya.


“Akhhh!” Bunga langsung berakting kesakitan agar Abraham dapat melirik ke arahnya.


“Mbak Bunga kenapa? Mau melahirkan?” tanya Asyila yang sudah tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Bunga hanya akting semata.


Abraham melirik sekilas ke arah perut buncit Bunga yang tertutup oleh daster. Kemudian, ia berlalu begitu saja dan wajahnya terlihat begitu santai.


Bunga menggigit bibirnya dengan begitu kesal dan ia pun tanpa sengaja membuat hentakkan kaki.


“Mbak Bunga kenapa?” tanya Asyila sembari menahan tawanya karena sikap lucu dari Bunga.


“Mbak Asyila, bisakah saya tinggal disini untuk beberapa hari saja? Saya sebenarnya tersesat dan bingung cara pulangnya,” ucapnya.


Alasan Bunga kembali membuat Asyila tertawa di dalam hatinya. Bagaimana bisa alasan Bunga terlihat begitu jelas bahwa dirinya menginginkan tinggal di rumah keluarga kecilnya sekaligus menginginkan perhatian dari sang suami tercinta.


Sudah hampir jam 12 malam, aku sebaiknya mengiyakan keinginan Mbak Bunga dan menggali lebih dalam besok pagi mengenai dirinya.


“Karena waktu sudah sangat malam, Mbak Bunga bisa tidur disini. Mari saya antarkan!” Asyila mencoba memberikan pelayanan terbaik kepada Bunga. Meskipun dalam hatinya muncul beberapa pertanyaan dan keingintahuan yang mendalam kepada seorang Bunga.


Bunga lagi-lagi tersenyum licik dan menyangka bahwa usahanya berhasil.


Bunga sama sekali tidak tahu bahwa Abraham maupun Asyila telah mengetahui itikad yang tidak baik dari dirinya.


“Anggap saja rumah sendiri ya Mbak. Kalau ada apa-apa Mbak minta tolong saja dengan Pak Eko,” tutur Asyila.


Bunga mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Asyila.


Asyila pun pamit untuk bergegas ke kamar dan ketika ingin menaiki anak tangga, Eko menghentikan langkahnya untuk mengetahui siapa wanita hamil tersebut.


“Kita lihat besok saja ya Pak Eko! Tugas Pak Eko adalah mengawasi Mbak Bunga!”


Eko mengangguk dan menuruti perintah dari istri kecil tuan mudanya.


Di dalam kamar.


Abraham sudah berganti pakaian dan sedang memandangi putra kecilnya yang tengah tertidur pulas.


“Lelah ya Mas?” tanya Asyila mendekati sang suami.


“Lelah Mas sudah hilang ketika mendapatkan obat dari Syila,” jawab Abraham dan menarik tubuh Asyila ke dalam pelukannya.


“Akkhh!” Asyila terkejut dan segera menutup mulutnya.


Abraham tertawa kecil dan dengan hati-hati melepaskan hijab yang Asyila kenakan.


“Mas mendapatkan obat apa?” tanya Asyila penasaran.


“Obatnya adalah pelukan dari istri tercinta,” jelas Abraham.


Asyila tersipu malu-malu mendengar perkataan sang suami yang semakin hari semakin mahir dalam urusan menggoda.


“Mas ini pasti setiap harinya menikmati madu.”


“Tidak, kenapa Syila berbicara madu segala?”


“Karena ucapan Mas semakin hari membuat tubuh Asyila melayang,” celetuk Asyila.


Abraham terdiam dan di detik berikutnya ia tertawa lepas.


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa 💖


Jangan lupa like 💖 komen 👇🙏


__ADS_2