Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Salsa Merasa Diabaikan


__ADS_3

Salsa mengernyitkan keningnya dan terlihat sekali bahwa wanita itu begitu panik.


Sebelumnya, ia tidak pernah yang namanya melakukan pekerjaan rumah apalagi memasak.


“Nak Salsa kenapa malah melamun? Ayo cepat diangkat dan taruh di mangkuk. Kemudian, sajikan di atas meja!” perintah Arumi.


Salsa tersenyum manis dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Arumi kepadanya.


Beberapa saat kemudian.


Arumi mendatangi Dyah di dalam kamar untuk mengajaknya menikmati makan sore bersama.


Dyah pun mengiyakan dan mengajak suaminya untuk segera berkumpul di ruang makan.


“Mas, ayo makan! Mumpung Asyila sedang tidur,” ucap Dyah mengajak suaminya untuk segera makan.


Fahmi mengiyakan dan sebelum mereka benar-benar meninggalkan bayi mungil yang tengah tertidur. Fahmi memastikan lagi dan berharap bayi mungilnya tidak bangun untuk sementara waktu.


Keduanya pun bersama-sama melangkah keluar kamar untuk segera tiba di ruang makan.


“Ayo sini duduk!” pinta Arumi pada keduanya.


Dyah dan Fahmi pun duduk bersebelahan.


“Pak Abraham kemana, Bu?” tanya Salsa.


Dyah memutar matanya dengan sangat jengah. Kehadiran Salsa membuat Dyah mendadak kehilangan ***** makan.


Dyah dan Fahmi pun duduk bersebelahan.


“Pak Abraham kemana, Bu?” tanya Salsa.


Dyah memutar matanya dengan sangat jengah. Kehadiran Salsa membuat Dyah mendadak kehilangan ***** makan.


Arumi terkejut dan mencoba menahan Dyah yang ingin meninggalkan ruang makan.


“Nek, tolong jangan cegah Dyah. Dyah tidak ingin makan satu meja dengan dia,” tegas Dyah sambil menunjuk ke arah Salsa.


Dyah melepaskan tangan Arumi dan melenggang pergi menuju kamarnya.


Arumi menghela napasnya dan memilih untuk tidak berkomentar apa-apa.


“Maaf ya Bu, tidak seharusnya Salsa meminta Bu Arumi untuk mengajak Salsa datang kemari,” ucap Salsa.


“Ya, Kamu benar. Tidak seharusnya Ibu mengajakmu kemari,” jawab Arumi yang merasa sangat bersalah dengan Dyah yang tak ***** karena adanya Salsa.


“Ma-maksud Ibu?” tanya Salsa yang berusaha untuk tetap tenang. Walau dalam hatinya ingin sekali membalas tajam ucapan Arumi terhadapnya.


“Haduh, maaf. Tadi Ibu salah bicara saja, Ibu tadi kurang fokus,” tutur Arumi.


Salsa tersenyum manis dan hampir saja ia mengira bahwa Arumi tak lagi menginginkannya untuk diperistri oleh Abraham Mahesa.


“Bu, Pak Abraham mana ya? Kenapa belum juga datang kemari?” tanya Salsa yang sangat ingin sekali makan semeja dengan Abraham.

__ADS_1


“Ibu tadi sudah memberitahukan Nak Abraham. Ya sudah, Ibu ke atas dulu. Barangkali Nak Abraham lupa,” tutur Arumi.


“Biar Mas saja,” ucap Herwan menghentikan langkah istrinya yang ingin menemui menantu mereka.


Herwan beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri Abraham.


“Tok.. tok.. tok!”


“Nak Abraham, ini Ayah,” ucap Herwan.


Abraham yang tengah merebahkan dirinya sambil memeluk foto istrinya pun terkesiap ketika mendengar suara ketukan pintu.


“Sebentar,” balas Abraham.


Abraham membuka pintu kamarnya dan mendapati Ayah mertuanya berdiri dengan tersenyum tipis ke arahnya.


“Iya Ayah, ada apa?” tanya Abraham menanyakan alasan Ayah mertuanya repot-repot menemuinya.


“Ayo turun, kita makan sore bersama!” ajak Herwan.


“Maaf, Ayah. Abraham sedang tidak lapar dan sebentar lagi Abraham ingin keluar bersama dengan Dayat serta Edi,” jawab Abraham.


Abraham sama sekali tidak ingin makan bersama dengan Salsa.


Rasanya sangat aneh jika melihat wajah Salsa yang hampir mirip dengan Istri kecilnya, Asyila.


“Ya sudah kalau memang kamu tidak lapar. Ayah akan menyampaikan hal ini kepada yang lainnya,” ucap Herwan dan kembali turun menuju ruang makan.


“Loh, Nak Abraham mana Mas?” tanya Arumi karena menantunya tak terlihat batang hidungnya.


“Abraham sedang tidak lapar,” jawab Herwan, “Ayo tunggu apa lagi? Mari makan. Kasihan makanan ini kalau lama-lama didiamkan saja,” imbuh Herwan.


Kenapa Abraham tidak ikut makan denganku? Apakah aku kurang cantik bagi dia? Ah, sulit sekali mendapatkan perhatiannya.


Salsa mengunyah makanan cepat-cepat dan setelah makanannya habis, ia langsung beranjak dari duduk untuk segera masuk ke dalam kamar.


Arumi dan Herwan saling tukar pandang ketika melihat Salsa pergi begitu saja.


“Nenek!” Ashraf tiba-tiba datang dan terlihat air matanya yang tengah mengalir.


Arumi terkejut dan segera memeluk cucunya yang saat itu terlihat sangat sedih.


“Ashraf kenapa datang-datang kok malah menangis? Dimana Kahfi?” tanya Arumi karena sebelumnya Ashraf bermain dengan Kahfi.


“Kahfi ada di rumah,” jawab Ashraf.


Ashraf melepaskan pelukannya Neneknya dan memperlihatkan lututnya yang mengeluarkan darah.


“Astaghfirullahaladzim, Ashraf jatuh dimana?” tanya Arumi dan saat itu juga menunda untuk menikmati makanannya.


Arumi menggendong tubuh Ashraf dan membawa cucunya itu ke ruang keluarga.


Melihat lutut Ashraf yang tengah berdarah, Herwan maupun Fahmi cepat-cepat menghabiskan makanannya mereka.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian.


Ashraf berusaha menahan rasa sakit ketika Neneknya membersihkan luka di bagian lututnya dengan cairan pembersih.


Ditahannya rasa sakit itu agar tak semakin memperparah keadaan.


“Ashraf kenapa?” tanya Abraham yang melihat buah hatinya sedang duduk di sofa dan lutut sebelah kiri putra kecilnya sedang diobati oleh Ibu mertuanya.


Arumi menjawab pertanyaan Abraham mewakili Ashraf yang saat itu tengah berusaha untuk tak menangis.


Setelah mendengar penjelasan dari Ibu mertuanya, Abraham langsung mendekati buah hatinya dan menciumi kening putra kecilnya berulang kali.


“Tidak apa-apa, besok pasti sudah sembuh,” ucap Abraham berusaha menyakinkan putra kecilnya bahwa luka itu tak menjadi masalah.


“Ayah tidak marah?” tanya Ashraf lirih.


“Marah? Untuk apa Ayah marah?” tanya Abraham.


Salsa datang dan kedatangannya membuat ruangannya itu benar-benar berisik.


“Ya ampun, Ashraf kenapa? Kenapa bisa terluka seperti ini? Siapa yang sudah jahat kepada Ashraf? Sini biar Tante Salsa balas,” ucap Salsa yang saat itu terdengar sangat berisik.


Ashraf hanya diam dan memeluk lengan Ayahnya.


Abraham tersenyum tipis dan menggendong putra kecilnya untuk segera meninggalkan ruang keluarga.


“Salsa, kamu seharusnya jaga sikap. Kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat begitu agresif,” celetuk Arumi.


“Maaf, Ibu,” balas Salsa sambil memperlihatkan ekspresi menyesal.


Dalam hati Salsa, Salsa sangat jengkel dan muak dengan keluarga itu.


Kalau bukan karena ingin mendapatkan cinta dari seorang Abraham. Tidak akan mungkin ia berkorban seperti itu.


Fahmi masuk ke dalam kamar untuk menemani istri dan juga bayi mungil mereka.


Kemudian, Arumi dan Herwan memilih untuk beres-beres di dapur bersama-sama.


Kini, hanya tersisa Salsa yang merasa sangat diabaikan serta tak dipedulikan.


Sial, kenapa harus aku yang mereka tinggali seperti ini?


Salsa mendaratkan bokongnya di sofa dan memilih untuk menonton televisi.


“Acara hari ini jelek-jelek,” omel Salsa sambil terus mencari acara televisi yang menurutnya cocok untuk ia tonton.


Di dalam kamar, Abraham tengah merebahkan tubuh putra kecilnya di tempat tidur dengan sangat hati-hati. Meskipun, saat itu Ashraf tidak sedang tertidur.


“Sekarang Ashraf disini saja dan tak boleh kemana-mana. Lain kali, Ashraf jangan lagi berlari kesana-kemari. Ingat!”


“Ingat, Ayah,” jawab Ashraf.


“Bagus, itu baru namanya kesayangannya Ayah,” sahut Abraham.

__ADS_1


__ADS_2