Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Penasaran Dengan Sosok Suami Asyila


__ADS_3

Arsyad dan Ashraf bermain monopoli berdua saja di ruang keluarga, mereka terlihat sangat senang dengan mainan mereka. Sementara itu, Rahma terlihat sangat bingung karena tak bisa melakukan apa-apa.


Ia ingin menyapu, tapi lantai sudah bersih. Ia ingin mengepel, tapi lantai pun masih kinclong.


Ia ingin mencuci piring, tapi piring belum ada yang kotor. Akhirnya, ia memilih untuk duduk di teras depan rumah sambil memandangi tanaman-tanaman hias dari teras.


Arumi yang sedang bercengkrama dengan suaminya, Herwan. Memutuskan untuk menghampiri Rahma yang tengah duduk melamun, Arumi takut jika Rahma melamun dan terbesit untuk melakukan hal yang tidak-tidak.


“Nak Rahma,” ucap Arumi sambil menyentuh bahu Rahma.


Rahma terkesiap, tersadar dari lamunannya.


“Kamu kenapa melamun? Sudah makan belum?” tanya Arumi.


“Sudah, Ibu Arumi,” jawab Rahma.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak Rahma?” tanya Arumi penasaran.


Rahma tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan kembali memandangi tanaman-tanaman hias tersebut.


“Kalau ada apa-apa, langsung bilang sama Ibu. Anggap saja Ibu ini seperti Ibu kamu sendiri,” tutur Arumi.


Rahma seketika itu menoleh ke arah Arumi dan tiba-tiba air matanya menetes. Ia teringat akan sosok Ibunya yang sangat menyayangi dirinya.


“Ibu Arumi, apakah benar saya boleh menganggap Ibu Arumi seperti Ibu saya sendiri?” tanya Rahma dengan terus berlinang air mata.


“Tentu saja, sekarang sini peluk Ibu!”


Rahma menangis terharu, ia memeluk erat tubuh Arumi dan menganggap Arumi seperti Ibunya sendiri.


“Sudah, Nak Rahma. Tidak baik kalau menangis terus, sekarang lebih baik kamu pikirkan kesehatanmu.”


Rahma mengangguk kecil, ia menangis terharu dan rasanya ia seperti kembali hidup. Asyila dan keluarganya benar-benar orang yang baik. Bisa dikatakan ia beruntung bertemu dengan Asyila beserta keluarga besarnya.


“Tante, kenapa menangis?” tanya Arsyad penasaran.


Rahma cepat-cepat menghapus air matanya dan berjongkok tepat di depan Arsyad yang tengah memperhatikan dengan penuh kebingungan.


“Tante tidak apa-apa, Arsyad. Arsyad kenapa sendirian? Dimana adik Ashraf?” tanya Rahma penasaran.


“Adik Ashraf sedang di dalam kamar menemani Ayah,” balas Arsyad dan berlari kecil menyusul adiknya yang tengah berada di dalam kamar menemani Ayah mereka.


Rahma terus saja menoleh ke arah Arsyad yang perlahan semakin menjauh hingga benar-benar tak terlihat.


Dari pertama ia tinggal di rumah itu, ia sama sekali belum pernah melihat sosok Abraham. Rahma hanya tahu bahwa suami dari Asyila tengah sakit dan banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar atau mungkin memang setiap hari selalu berada di dalam kamar.

__ADS_1


“Ada apa, Nak Rahma?” tanya Arumi yang melihat Rahma kembali melamun.


Rahma yang sebelumnya berjongkok langsung terkesiap dan kembali duduk di kursi.


“Pak Abraham apa dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan ya Ibu?” tanya Rahma penasaran.


Arumi tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Justru menantu Ibu itu sangatlah sehat, hanya saja untuk beberapa waktu ke depan Nak Abraham tidak bisa berjalan dan mungkin akan banyak menghabiskan waktu di dalam kamar,” jelas Arumi.


“Memangnya Pak Abraham tidak bosan di dalam kamar?” tanya Rahma semakin penasaran.


Rahma dari awal hanya bisa melihat gambar diri Abraham dan itupun foto-foto lama. Itu juga yang membuatnya semakin penasaran dan ingin melihat sosok Abraham secara langsung, sosok yang sangat dicintai oleh Asyila dan sekaligus pria yang sangat beruntung memiliki istri seperti Asyila.


“Ibu mau ke dalam dulu, jangan sering-sering melamun,” ucap Arumi mengingatkan Rahma untuk tidak terlalu sering melamun.


Rahma mengiyakan dengan senyum manisnya.


***


Sore hari.


Arumi baru saja keluar dari kamar menantunya, dikarenakan Abraham harus makan dan juga minum obat tepat waktu. Sore itu, kebetulan Asyila belum juga kembali dan sempat membuat Abraham menunda makan serta minum obat.


“Iya, Nak Rahma. Ibu ke kamar untuk mengantarkan makan serta minum Nak Abraham. Kamu sudah makan?” tanya Arumi.


Rahma dengan cepat menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia belum makan.


“Loh, kenapa belum makan?” tanya Arumi yang terlihat mulai khawatir, “Masakan Ibu tidak enak ya?” tanya Arumi yang terlihat sedih.


“Tidak, bukan masalah itu Ibu. Masakan Ibu tentu saja enak dan Rahma sangat menyukainya. Akan tetapi, Rahma akan makan setelah Asyila pulang,” jelas Rahma apa adanya.


Arumi tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.


“Tadi juga Nak Abraham berkata seperti itu, tapi Ibu langsung membujuknya untuk makan. Kamu juga harus makan, Asyila akan merasa sangat bersalah kalau tahu kamu sengaja menunggunya sampai-sampai menunda waktu makan.”


Rahma berpikir sejenak dan mengerti apa yang dikatakan oleh Arumi. Ia menghela napasnya terlebih dahulu dan memutuskan untuk segera makan.


Disaat yang bersamaan, Arsyad dan Ashraf baru saja selesai mandi. Dengan mengenakan handuk, mereka berlarian kesana kemari.


“Arsyad dan Ashraf tidak boleh seperti itu, ayo cepat pakai bajunya!” perintah Arumi.


“Baik, Nenek,” balas Arsyad dan mengajak adiknya untuk segera masuk kamar untuk mengenakan pakaian.


Disisi lain.

__ADS_1


Asyila telah berada di dalam mobil, sebelumnya ia melaksanakan sholat ashar di masjid terdekat sekitar kantor. Ia akhirnya bisa bernapas lega, rapat-rapat penting yang ia hadiri semuanya berjalan dengan sangat baik. Bahkan, beberapa klien memuji cara kerja Asyila yang sangat cerdas.


“Bagaimana, Nona Asyila! Apakah semuanya berjalan dengan lancar?” tanya Pak Udin penasaran.


“Alhamdulillah, Pak Udin. Berkat Allah dan juga dukungan Mas Abraham, Asyila bisa melakukannya dengan sangat baik. Insya Allah kedepannya Asyila akan melakukan dengan lebih baik dari sebelumnya, do'akan Asyila ya Pak Udin!” pinta Asyila agar Pak Udin mendo'akan kelancaran untuknya.


“Oh, tentu. Pak Udin yakin Nona Asyila dan melakukannya dengan sangat mudah, secara Nona Asyila pintar,” puji Pak Udin dengan penuh semangat.


“Pak Udin terlalu memuji, sebenarnya saya tidak sepintar yang Pak Udin pikirkan,” balas Asyila yang dari dulu selalu rendah hati dan itu juga yang membuat orang-orang disekitarnya terkagum-kagum dengan sosok Asyila.


Beberapa saat kemudian.


Asyila baru saja turun dari mobil dan ternyata sudah ada malaikat kecil yang menyambut dirinya, siapa lagi kalau bukan Arsyad dan juga Ashraf. Kedua berlari secepat mungkin untuk segera memeluk tubuh Ibunya.


“Bunda kenapa baru pulang?” tanya Ashraf yang terdengar sangat sebal dengan Bundanya yang pulang sangat sore.


“Maaf ya sayang, Bunda banyak pekerjaan di kantor dan baru bisa pulang sore,” terang Asyila sambil menyentuh pipi Ashraf.


Arsyad mencium punggung tangan Bundanya dan diikuti oleh Ashraf.


“Assalamu'alaikum, Ibu,” ucap Asyila ketika melihat Ibunya baru keluar dari pintu.


“Wa'alaikumsalam, bagaimana pekerjaanmu hari ini sayang?” tanya Arumi penasaran.


Asyila tersenyum lebar dan menceritakan tentang pekerjaannya di kantor, mulai dari awal ia masuk sampai pulang.


Arumi sangat senang, ia sangat bangga dengan kecerdasan putri kesayangannya.


Herwan pun keluar dari rumah dan menyambut kedatangan putri kesayangannya itu.


“Assalamu'alaikum, Ayah,” ucap Asyila dan mencium punggung tangan Ayahnya.


“Wa'alaikumsalam, melihat senyum putri Ayah yang seperti ini, Ayah yakin kamu bisa melakukan pekerjaan perusahaan Suamimu,” tutur Herwan dengan sangat yakin.


“Alhamdulillah, berkat Allah, Mas Abraham, Ayah, Ibu dan anak-anak,” jelas Asyila.


Arumi menggandeng tangan putri kesayangannya dan membawanya masuk ke dalam. Di dalam rumah, ternyata Rahma tengah mengepel lantai yang beberapa titik ada yang basah ulah dari Arsyad dan juga Ashraf.


“Mbak Rahma sedang apa?” tanya Asyila sambil mengambil alat pel yang dipegang oleh Rahma.


Rahma menjelaskan alasannya mengepel sambil menunjuk ke arah lantai yang basah, Asyila pun mengerti dan mau tak mau membiarkan Rahma untuk mengepel lantai.


“Arsyad dan Ashraf tidak boleh berlarian sehabis mandi, bagaimana jika nanti kalian jatuh? Tolong jangan membuat Bunda dan Ayah khawatir!” pinta Asyila khawatir.


Keduanya kompak meminta maaf dan berjanji tidak akan berlarian seperti tadi. Asyila pun memaafkan mereka dan setelah itu, ia bergegas kembali ke kamar untuk segera bertemu dengan sang suami tercinta.

__ADS_1


__ADS_2