Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Datang Menjenguk Abraham


__ADS_3

Sore hari.


Arsyad, Ashraf dan kedua orang tua Asyila telah pulang sekitar dua jam yang lalu dan kini hanya ada Asyila serta Abraham di ruangan tersebut.


Asyila saat itu tengah menyiapkan air hangat untuk mengelap tubuh suaminya dengan handuk kecil milik Asyila.


“Mas, besok pagi Asyila akan pulang ke rumah. Mas tidak apa-apa 'kan disini seorang diri?” tanya Asyila sambil mengelap dada suaminya dengan handuk basah.


“Memangnya mau ngapain Syila pulang ke rumah?” tanya Abraham penasaran sambil menikmati apa yang tengah dilakukan oleh istri kecilnya.


“Arsyad besok pagi 'kan, harus sekolah Mas. Asyila juga ingin mengantarkan Arsyad ke sekolah, ya meskipun hanya mengantar saja dan tidak menjemputnya,” jawab Asyila.


“Kenapa tidak sekalian menjemput Arsyad?”


“Asyila juga tidak bisa hanya memfokuskan diri kepada satu obyek saja, Mas. Ada Mas juga yang harus Asyila perhatikan, lagipula ada Ibu dan Ayah yang bisa menjemput Arsyad. Asyila sangat yakin bahwa Arsyad bisa mengerti keadaan kita yang sekarang ini,” ucap Asyila dan kini membersihkan wajah suaminya.


Abraham menghentikan tangan istri kecilnya dan dengan sekali gerakan tubuh Asyila sudah menempel di dada suaminya.


“Mas,” ucap Asyila dengan ekspresi terkejut.


“Begini-begini, suamimu masih kuat,” ucap Abraham dengan penuh percaya diri.


Jantung Asyila berdegup kencang ketika merasa detak jantung suaminya yang juga berdegup kencang. Ia pun segera menjauh dan berusaha terlihat tidak gugup dihadapan suaminya.


Asyila kembali terkejut ketika ponsel miliknya berbunyi, ia pun segera merogoh ponselnya di saku rok miliknya dan menerima sambungan telepon yang ternyata dari keponakan suaminya Dyah.


“Hallo, assalamu'alaikum. Iya Dyah, ada apa?” tanya Asyila penasaran karena jika Dyah menelepon, sudah pasti ada hal yang sangat penting.


“Wa'alaikumsalam, Aunty. Begini Aunty, malam ini akan ada orang-orang kantor Paman yang ingin menjenguk Paman di rumah sakit,” terang Dyah dari balik telepon.


“Tunggu sebentar, Aunty akan bertanya dengan Pamanmu dulu,” ucap Asyila dan mengatakan apa yang dikatakan oleh Dyah.


Abraham terdiam sejenak dan ia pun mengizinkan karyawan dan karyawatinya datang untuk menjenguk dirinya. Meskipun Abraham ingin sekali mengatakan bahwa mereka tidak perlu repot-repot mengunjungi dirinya di rumah sakit.


“Pamanmu mengizinkannya,” ucap Asyila.


“Ok, Aunty!” seru Dyah dan mengucapkan salam sebelum mengakhiri sambungan telepon.


Wanita muda itu membalas salam dari Dyah dan kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.


“Mas, Syila mau ke kamar mandi dulu,” ucap Asyila yang telah selesai mengelap tubuh suaminya.


“Jangan lama-lama,” balas Abraham sembari tersenyum menggoda.


Asyila bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu melaksanakan sholat ashar.


Meskipun Abraham sedang sakit, ia masih mampu untuk melaksanakan sholat di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


***


Malam hari.


Asyila sudah sangat mengantuk dan beberapa kali ia ketiduran dengan posisi duduk tepat di samping suaminya. Akan tetapi, ia tidak bisa langsung tidur karena para bawahan Abraham akan datang menjenguk suaminya.


“Assalamu'alaikum,” ucap seorang pria muda sambil membawa parsel buah.


Asyila terkesiap dan dengan senyum ramahnya ia membalas salam serta menyambut kedatangan mereka.


Ketika salah satu pria itu masuk, tiba-tiba yang lainnya masuk dan ternyata orang yang menjenguk Abraham cukup banyak. Sekitar 20 orang yang datang dan membuat ruang rawat Abraham dipenuhi oleh mereka.


Satu persatu dari mereka menyapa Abraham serta Asyila. Dan tak lupa, mereka memberikan banyak sekali aneka makanan yang mereka bawa.


Abraham dan Asyila mengucapkan terima kasih karena perhatian mereka serta kunjungan mereka.


“Pak Abraham, insya Allah saya bulan depan akan menikah,” ucap salah satu pria muda dan dengan malu-malu menyerahkan undangan pernikahannya.


Abraham tersenyum tipis sambil menerima undangan pernikahan tersebut.


“Alhamdulillah, kau yakin sudah siap?” tanya Abraham dan seketika itu yang lalu pun tertawa.


Pria muda yang baru saja memberikan undangan pernikahan kepada Abraham hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Semuanya silakan duduk!” Asyila mempersilakan mereka untuk duduk.


“Pak Abraham meskipun sakit masih saja tampan,” celetuk salah satu karyawan Abraham.


Abraham tersenyum dengan penuh percaya diri sembari melirik ke arah istri kecilnya yang terus memandangi.


“Iya, Mas memang sangat tampan,” ucap Asyila dengan bahasa bibir.


Perbincangan terus saja berlanjut sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


“Maaf, Pak Abraham dan juga Nona Asyila. Karena keasikan mengobrol sampa lupa waktu, kami semua permisi untuk pulang,” ucap pria muda yang sebelumnya memberikan Abraham sebuah undangan pernikahan.


“Kalian langsung pulang atau menginap di hotel?” tanya Abraham penasaran.


“Kami langsung pulang ke Jakarta saja, Pak Abraham,” jawabnya.


“Pulanglah dengan hati-hati dan jangan mengebut. Ingat! Di rumah ada keluarga kalian yang menunggu,” ucap Abraham mengingatkan bawahannya untuk tidak mengebut dalam berkendara.


“Siap, Pak Abraham!” seru mereka dan dengan kompak mereka mengucapkan salam.


“Wa'alaikumsalam,” balas Abraham dan juga Asyila kompak.


Mereka pun akhirnya benar-benar pergi dan suasana ruangan tersebut kini sudah tidak ramai lagi.

__ADS_1


Asyila menelan saliva nya dengan susah payah ketika melihat banyak sekali buah-buahan, roti dan lain-lain yang ternyata sangat banyak.


“Mas, ini terlalu banyak. Tidak mungkin Mas menghabiskannya,” ucap Asyila.


Abraham mengiyakan apa yang dikatakan oleh istri kecilnya.


“Begini saja, kita ambil secukupnya untuk orang rumah. Sisanya, bisa kita berikan kepada orang lain,” ucap Abraham.


“Asyila bangga dengan suami seperti Mas Abraham, terima kasih banyak sudah mengajarkan banyak hal. Maafkan Asyila yang seringkali membuat Mas tidak senang,” ucap Asyila sambil memegang tangan kanan suaminya.


“Seringkali? Kenapa Syila mengatakan hal seperti tadi? Dari dulu sampai sekarang, Syila lah yang membuat Mas semangat. Jadi, tolong jangan mengatakan hal seperti itu lagi!” pinta Abraham dan mencium punggung istri kecilnya.


Asyila melebarkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya.


“Sekarang Mas tidurlah, Asyila akan beres-beres ruangan ini dulu,” ucap Asyila dan segera bersih-bersih ruang tersebut. Mulai dari gelas Aqua yang berserakan hingga piring-piring yang sudah kosong bekas para karyawan suaminya.


Usai beres-beres, Asyila tak lupa mencuci tangannya dan mengambil air wudhu untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.


“Kenapa disana?” tanya Abraham ketika melihat Asyila naik ke ranjang lainnya.


“Asyila ingin Mas tidur lebih leluasa, sekarang Mas tidurlah!” pinta Asyila yang terlihat sangat mengantuk.


Abraham sebenarnya ingin tidur bersama istri kecilnya dalam satu ranjang. Akan tetapi, Abraham segera mengurungkan keinginannya karena Sang istri terlihat begitu mengantuk.


“Ya sudah, tidurlah yang nyenyak,” ucap Abraham.


Asyila mengangguk kecil dan tak butuh waktu lama, wanita muda itu tertidur dengan sangat pulas.


“Benar-benar mirip dengan Ashraf,” ucap Abraham ketika melihat wajah Asyila.


Leher Abraham sedikit pegal karena terus menoleh ke arah istri kecilnya, ia pun dengan hati-hati mencoba memiringkan tubuhnya agar lebih leluasa memandangi wajah istri kecilnya yang tengah tertidur.


Ya Allah, terima kasih karena telah memberikan istri dan juga anak-anak yang baik.


Setiap hal yang Abraham lakukan selalu yang namanya melibatkan Allah subhanahu wa ta'ala. Ia yakin bahwa seluruh tubuh serta hatinya adalah milik Allah dan ia berharap hidupnya di muka bumi selalu bermanfaat untuk orang-orang sekitar termasuk keluarga kecilnya yang sangat ia cintai.


“Mas kenapa belum tidur?” tanya Asyila yang tiba-tiba bangun.


“Nanti saja, Mas ingin melihat wajah Syila,” balas Abraham.


Asyila yang sangat mengantuk hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya dan akhirnya kembali memejamkan matanya.


“Menggemaskan,” ucap Abraham.


Disaat yang bersamaan, ponsel Abraham berbunyi dan dengan hati-hati Abraham meraih ponselnya. Akhirnya, ia mendapatkan ponselnya dan ternyata itu adalah pesan dari sahabatnya, Dayat.


Isi pesan singkat itu adalah permintaan Dayat yang tidak bisa datang untuk waktu dekat, dikarenakan Dayat serta rekan-rekannya yang lain untuk beberapa hari ke depan ada misi yang cukup membahayakan sehingga mereka harus lebih konsentrasi dalam menangkap buronan.

__ADS_1


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2