Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Akbar Diculik


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


Asyila berlari kecil mengejar Akbar yang kini sudah berusia 4 tahun. Akbar Mahesa, terlihat sangat bahagia ketika ia berusaha berlari agar tidak tertangkap oleh Bundanya.


Arumi dan Herwan kini tinggal di Bandung, bersama dengan putri tunggal kesayangan mereka dan juga menantu idaman mereka.


“Akbar, jangan lari dari Bunda!” Asyila terus mengejar putra kecilnya yang berusaha lari darinya.


Abraham tiba-tiba datang dan menangkap tubuh kecil putranya, Akbar Mahesa.


“Akkkhhh!” Akbar berteriak karena terkejut dengan sosok Sang Ayah yang tiba-tiba muncul. “Ayah!” teriak Akbar dengan begitu semangat.


Asyila menghampiri suaminya dengan mata berkaca-kaca.


“Alhamdulillah, akhirnya Mas kembali. Kami semua, rindu dengan Mas Abraham yang sudah seminggu tidak pulang,” tutur Asyila.


Abraham menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya. Kemudian, mengecup kening Sang istri.


Akbar memanyunkan bibirnya dan dengan tangan kecilnya, ia menghapus bekas kecupan di kening Bundanya.


Abraham tercengang melihat bagaimana nakalnya Akbar.


“Bunda punya Akbar,” tegas Akbar yang sudah bisa mengucapkan huruf R dengan baik.


“Syila, bayi kita ini ternyata sudah bisa mengucapkan huruf R,” tutur Abraham dengan ekspresi tercengang.


“Mas jangan kaget begitu, bagaimanapun Akbar juga sudah besar dan bukan bayi lagi,” sahut Asyila.


Disaat yang bersamaan, Kahfi datang bersama adik laki-lakinya bernama Fauzi.


Fauzi begitu mirip dengan Ema, sementara Kahfi perpaduan antara Ema dan juga Yogi.


“Bunda, Fauzi ingin bermain dengan Akbar,” tutur Kahfi yang mengantarkan adiknya untuk bermain dengan Akbar.


Saat itu juga, Abraham menurunkan Akbar agar bisa menemani Fauzi bermain.


Abraham berjalan menghampiri mertuanya dan mencium punggung tangan mertuanya itu secara bergantian.


Selama seminggu, Arumi dan Herwan hanya tahu bahwa Abraham sedang ada pekerjaan penting di luar kota. Sementara fakta sebenarnya adalah Abraham pergi karena ada misi yang harus ia selesaikan bersama dengan tim yang lain.


Asyila pun sudah terbiasa dengan misi suaminya yang harus merelakan Sang suami pergi menghadapi tantangan diluar sana.


“Nak Abraham, bagaimana bisnisnya?” tanya Herwan.


“Alhamdulillah, berjalan dengan sangat baik,” jawab Abraham.


“Ayo kita masuk ke dalam!” ajak Arumi.


Mereka pun melenggang masuk ke dalam rumah, begitu juga dengan Fauzi yang sudah terbiasa keluar masuk rumah tersebut.


“Kahfi tidak ikut masuk?” tanya Asyila.


“Tidak, Bunda. Kahfi harus mengerjakan pr sekolah, soalnya besok harus dikumpulkan,” jawab Kahfi yang sekarang sudah kelas 4 SD.


“Semangat belajar kesayangannya Bunda, Bunda tahu kalau Kahfi anak yang pintar,” tutur Asyila menyemangati Kahfi.


“Terima kasih, Bunda. Bunda, Kahfi pulang dulu ya, wassalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Asyila sembari melambaikan tangannya ke arah Kahfi yang perlahan menjauh dan akhirnya masuk ke dalam rumah.


Asyila masuk ke dalam rumah untuk melayani suaminya yang baru saja pulang.


“Mas Abraham, Mas sudah makan?” tanya Asyila yang baru memasuki kamar.


“Belum, Mas ingin makan masakan yang dimasak oleh Asyila,” jawab Abraham. “Akan tetapi, sebelum makan Mas ingin mandi terlebih dahulu,” imbuh Abraham.


“Mau mau mandi air hangat atau air biasa? Asyila siapkan ya?”


“Sudah, tidak usah. Mas siapkan saja sendiri, Asyila masak saja ya!” pinta Abraham.


“Kalau Mas maunya begitu, baiklah. Asyila ke dapur dulu ya, Mas mau Asyila masakin apa?”


“Hhhmm... Terserah Asyila saja, yang penting Asyila lah yang memasak,” jawab Abraham.


“Hufftt.. Dari dulu sampai sekarang Mas tidak pernah berubah,” celetuk Asyila.


“Memangnya Mas harus berubah menjadi apa?” tanya Abraham terheran-heran.


“Ya tidak berubah menjadi apa-apa, Mas. Sudahlah, Asyila ke dapur dulu,” ujar Asyila dan bergegas keluar dari kamar untuk menyiapkan makan buat suaminya.


Akbar dan Fauzi tengah bermain bola kecil-kecil di ruang tamu.


“Adik Fauzi, sini jangan mau jauh-jauh!” panggil Akbar pada Fauzi.


Fauzi tidak bicara, mungkin karena ia belum fasih dalam mengucapkan sesuatu yang ingin ia ucapkan.


“Mama...” Fauzi tiba-tiba menangis memanggil Mamanya.


Akbar tentu saja terkejut sekaligus panik, karena Fauzi yang tiba-tiba menangis tanpa sebab.


“Fauzi mau pulang?” tanya Akbar pada Fauzi yang masih menangis.


Fauzi dengan cepat menganggukkan kepalanya dan dengan cepat menghentikan tangisannya.


“Ayo, kak Akbar antar,” sahut Akbar.


Sebelum Akbar mengantarkan Fauzi pulang, Akbar terlebih dulu membereskan mainannya.


Setelah mainannya sudah tertata rapi di tempat semula, Akbar menggandeng tangan Fauzi untuk mengantarkan Fauzi pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Arumi tersenyum lebar ketika melihat Akbar menggandeng erat tangan Fauzi.


“Akbar, cucu kesayangannya Nenek! Akbar mau kemana sama adik Fauzi?” tanya Arumi menghentikan langkah kedua bocah yang ingin menuju pintu keluar.


“Mau mengantarkan Adik Fauzi pulang Nek,” jawabnya.


“Kalau begitu, Ayo Nenek temani Akbar mengantarkan Fauzi!”


Akbar mengiyakan dan merekapun bersama-sama keluar rumah untuk mengantarkan Fauzi pulang.


Asyila tengah sibuk di dapur, ia saat itu membuat telur puyuh sambal balado untuk suaminya dan berharap suaminya menyukai telur puyuh bumbu balado masakannya.


Selain teluh puyuh sambal balado, Asyila juga menggoreng ikan lele dan sayur bening.


“Akkhhhh!” Asyila terkejut ketika sepasang tangan tiba-tiba memeluk perutnya. “Astaghfirullahaladzim, Mas Abraham hampir membuat Asyila jantungan,” tutur Asyila dan menjewer telinga suaminya.


“Aww.. aww, iya ampun, ampun,” ujar Abraham memohon ampun kepada istri kecilnya.


“Mas masih mau membuat Asyila terkejut seperti tadi?” tanya Asyila.


“Tidak lagi,” jawab Abraham.


“Yakin tidak lagi?” tanya Asyila memastikan.


“Tapi, kalau khilaf ya jangan salahkan Mas,” balas Abraham.


Herwan datang ke dapur untuk mengambil air minum, saat itu juga Abraham dan Asyila kompak bergeser satu langkah.


“Ayah mau apa?” tanya Asyila pada Ayahnya.


“Oh, Ini Ayah hanya ingin mengambil air minum!”


“Ayah mau makan bersama kami?” tanya Asyila.


“Tidak usah, Ayah belum lapar. Ayah ke ruang tamu ya,” sahut Herwan yang telah mengambil segelas air minum dan melenggang pergi menuju ruang tamu untuk kembali bersantai.


Asyila melirik sekilas ke arah suaminya dan kembali fokus dengan masakannya. Abraham menghela napasnya dan memilih duduk di kursi sembari menunggu Sang istri selesai memasak.


Beberapa menit kemudian.


Asyila akhirnya selesai memasak dan saat itu juga Akbar berlari menghampiri Ayahnya yang tengah duduk sembari memperhatikan Asyila.


“Ayah!” panggil Akbar.


Abraham menoleh ke arah Akbar yang tiba-tiba muncul.


“Ada apa Akbar?” tanya Abraham.


“Mau ke pasar malam, Ayah,” jawab Akbar yang tiba-tiba ingin ke pasar malam.


“Pasar malam? Memangnya Akbar tahu dari mana?” tanya Abraham penasaran.


Abraham tersenyum dan mengangkat tubuh Akbar ke dalam pangkuannya. Kemudian, mengeluarkan ponselnya untuk melihat apakah ada pasar malam disekitar daerah tempat mereka tinggal.


Senyum Abraham merekah sempurna ketika mengetahui bahwa ada pasar malam dan jaraknya sekitar 20 menit jika menggunakan kendaraan roda empat.


“Bagaimana, Mas? Apakah ada Pasar malam yang dimaksud oleh Akbar?” tanya Asyila sembari mendekat ke arah suaminya.


“Alhamdulillah ada. Nanti malam kita akan pergi kesana, kita pergi sehabis sholat isya,” terang Abraham.


“Horeeee! Terima kasih Ayah,” ujar Akbar yang tak lupa Mengucap terima kasih kepada Ayahnya, Abraham.


“Iya, Akbar sayang. Sama-sama, Oya adik Fauzi mana? Kok tidak ada bersama Akbar?” tanya Abraham.


“Adik Fauzi sudah pulang, Ayah,” jawabnya.


“Mas, masakan Asyila sudah siap. Asyila mau ke depan dulu, memanggil Ibu barangkali Ibu ingin makan bersama kita,” ujar Asyila dan melenggang menuju ruang tamu.


Setibanya di ruang tamu, Asyila langsung menanyakan kepada Ibunya ingin makan bersama atau tidak. Arumi yang masih kencang pun, menolak secara halus. Asyila bisa memaklumi dan kembali melenggang menuju ruang makan.


“Bagaimana?” tanya Abraham pada Sang istri.


“Ibu kebetulan masih kenyang, Mas.”


“Ya sudah, tidak apa-apa. Kita bertiga saja yang makan bersama,” sahut Abraham.


Malam hari.


Akbar saat itu tengah mengenakan jaket bulu yang dibeli oleh Bundanya ketika beberapa bulan lalu pergi ke daerah Bogor, jaket bulu yang begitu menggemaskan bila dikenakan oleh Akbar.


Mbok Num, telah meninggal dunia satu tahun yang lalu tanpa gejala apapun. Kematian Mbok Num, membuat Asyila serta yang lain sedih. Meskipun begitu, mereka senang karena keinginan Mbok Num yang ingin dimakamkan di kota Madiun, akhirnya terwujud juga.


Akbar sendiri masih ingat baik dengan sosok Mbok Num yang sudah seperti Nenek baginya.


“Bunda, Akbar tampan seperti Ayah?” tanya Akbar sembari berpose setampan mungkin.


“Akbar sayang, tentu saja lebih tampan Akbar dibandingkan Ayah,” sahut Asyila.


“Karena Ayah sudah ada rambut putih ya Bunda?”


Deg!


Ucapan Akbar seakan-akan mengatakan bahwa Ayahnya memang sudah tua.


Asyila tak bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi wajah suaminya yang begitu tercengang dengan perkataan buah hati mereka.


“Maafkan anak kita ya Mas, Akbar suka kebablasan kalau ngomong,” ujar Asyila.


Abraham mengelus-elus dadanya sendiri berusaha untuk tidak menangis dengan perkataan nyelekit dari Akbar.

__ADS_1


“Ayah, jangan marah ya. Nanti rambut putih Ayah semakin banyak,” celetuk Akbar.


Kalau bisa dilihat dengan kasat mata, rambut Abraham seperti mengeluarkan asap yang begitu banyak.


“Ayah, ayo kita pergi!” pinta Akbar dan keluar dari kamar begitu saja.


Asyila mengelus dada suaminya dan mengecup lembut pipi Sang suami.


“Sabar ya Mas, namanya juga anak kecil,” tutur Asyila dan menggandeng tangan suaminya agar segera keluar dari kamar.


Mereka berjalan keluar untuk segera masuk ke dalam mobil. Sebelumnya, mereka telah berpamitan kepada Arumi dan juga Herwan yang memang memutuskan untuk tidak ikut karena udara malam yang cukup dingin.


“Pak Eko, ayo pergi!” pinta Akbar yang tak sabar ingin bergegas melihat pasar malam yang begitu ramai.


Eko mengiyakan dan langsung tancap gas untuk segera sampai di pasar malam.


Baru saja mereka keluar dari area Perumahan Absyil, ternyata ada sebuah mobil yang perlahan mengikuti mereka. Sepertinya, mereka sudah mengintai Perumahan Absyil dari depan gerbang masuk Perumahan Absyil tersebut.


Abraham, Eko maupun Asyila sama-sama tidak menyadari bahwa mobil yang berada tepat di belakang mereka tengah mengikuti mereka secara perlahan.


“Akbar sayang, jaketnya jangan dilepas ya. Udara Bandung saat ini sedang dalam cuaca dingin, Bunda tidak ingin sampai Akbar masuk angin,” tutur Asyila.


“Iya, Bunda,” jawab Akbar dengan suara yang begitu menggemaskan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di pasar malam yang sangat diinginkan oleh Akbar.


Akbar melompat kegirangan melihat pasar malam yang begitu ramai.


“Ayah, mau naik itu,” ujar Akbar menunjuk ke arah biang Lala.


“Akbar berani naik biang Lala?” tanya Abraham memastikan.


“Ayah dan Bunda juga naik,” sahut Akbar yang tentu saja tidak berani jika harus naik seorang diri.


Asyila agak sesak melihat orang yang berhimpitan melewati pintu masuk menuju pasar malam tersebut.


“Mas, kenapa pasar malamnya begitu ramai? Apakah kita bisa menikmati pasar malam ini?” tanya Asyila.


“Ya mau bagaimana lagi, ini keinginan Akbar. Bagaimanapun, kita tidak boleh pilih kasih kepada anak-anak kita,” terang Abraham.


“Ini bukan masalah pilih kasih, Mas. Akan tetapi, Asyila takut kalau Akbar tidak bisa menikmati kebahagiaan pasar malam ini,” ungkap Asyila.


“Sudah jangan berpikiran seperti itu, ayo kita masuk ke dalam!” ajak Abraham.


Ketika Abraham ingin menggendong Akbar, saat itu Akbar langsung menolak dan mengatakan keinginannya untuk berjalan kaki saja.


“Kalau Akbar mau jalan kaki, Akbar harus pegang kuat-kuat tangan Ayah dan juga Bunda!” perintah Abraham pada putra kecilnya.


“Baik, Ayah,” jawab Akbar.


Eko pun ikut masuk ke dalam pasar malam tersebut.


Saat mereka tengah berjalan untuk menuju pintu masuk, tiba-tiba ada seseorang yang mendorong Abraham dan juga Asyila. Untungnya, mereka tak terjatuh, akan tetapi mereka kehilangan Akbar.


Abraham menoleh ke arah belakang dan berusaha mencari Akbar, barangkali Akbar berada di belakangnya. Asyila pun ikut mencari begitu juga dengan Eko.


Mereka akhirnya menyadari bahwa Akbar menghilang.


Ketika Asyila menoleh ke arah lain, ia melihat seorang anak kecil yang mengenakan jaket bulu tengah dibawa kabur oleh tiga orang.


“Mas, itu Akbar!” teriak Asyila.


Asyila berlari mencoba mengejar, begitu juga dengan Akbar dan Eko.


Akan tetapi, mereka kehilangan jejak karena banyaknya orang di tempat tersebut.


“Mas, bagaimana ini? Sepertinya, dari tadi kita diikuti oleh mereka,” tutur Asyila panik.


Abraham pun panik, ia berlari kembali mengejar. Akan tetapi, mereka benar-benar telah kehilangan Akbar.


“Mas ingat sekarang, mereka adalah orang yang berhasil kabur ketika ada penangkapan besar-besaran. Terlihat jelas dari tato yang ada di lengan salah satu dari mereka,” tutur Abraham.


Saat itu juga, Abraham menghubungi sahabatnya untuk membantunya mencari keberadaan Akbar.


“Syila sekarang pulanglah bersama Eko, Mas akan pergi mencari Akbar!” perintah Abraham.


“Tidak, Mas. Asyila pokoknya harus ikut dengan Mas Abraham,” tegas Asyila.


“Syila, ini sangat berbahaya. Mas tidak ingin terjadi sesuatu kepada Akbar maupun Asyila, lebih baik Asyila pulang dan tolong jangan pergi kemana-mana!”


“Tapi, Mas....”


“Syila, ini perintah dari suami untuk istrinya!” tegas Abraham.


Asyila tertunduk lemas dan perlahan berjalan menuju mobil bersama dengan Eko, sopir pribadi suaminya yang sudah setia selama puluhan tahun.


Di dalam mobil, Asyila terus menangis karena tak kuasa membayangkan bagaimana nasib Akbar, putra kecilnya yang teramat ia sayangi.


Eko hanya diam dan bergegas menuju Perumahan Absyil dengan kecepatan lumayan tinggi.


Abraham terlihat begitu marah, ia ingin sekali membunuh mereka yang telah menculik Akbar Mahesa, putra kecilnya bersama Sang istri.


Dayat kembali menghubungi Abraham dan mengatakan bahwa mereka tengah dalam perjalanan menuju ke lokasi tempat dimana Abraham berdiri sekarang ini.


Akbar yang sudah berada di dalam mobil, hanya bisa menangis merasakan sakit di pergelangan tangannya yang telah diikat kencang.


“Diam! Kamu bisa diam, tidak? Mau saya bunuh?” Pria yang duduk di samping Akbar, menodongkan senjata tajam ke arah Akbar.


Akbar pun menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2