Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kembali Mendapatkan Teror 2


__ADS_3

Asyila dan Abraham baru saja tiba dari rumah sakit. Tentu saja alasan mereka berdua ke rumah adalah mengantarkan Arumi dan Pak Udin ke rumah. Asyila pun memeriksakan kondisi kesehatan yang sempat mual-mual dan ternyata Asyila hanya mengalami gangguan pencernaan.


“Syila, Mas ke kamar,” ucap Abraham yang ingin bersiap-siap untuk pergi bekerja.


“Baik, Mas. Nanti Asyila menyusul,” balas Asyila pada sang suami.


Setelah Abraham pergi, Asyila fokus pada Ibunya yang berdiri tak jauh darinya.


“Ibu istirahat saja di kamar, biar urusan rumah Asyila saja yang menanganinya,” ucap Asyila meminta Ibunya untuk berisitirahat.


“Ibu sudah tidak apa-apa, biarkan Ibu yang menanganinya,” balas Arumi yang merasa sudah baikan.


“Bunda! Coba lihat ini!” Arsyad datang dan memberikan secarik kertas yang bertuliskan namanya.


Asyila terkejut dan penasaran siapa yang mengajarkan putra pertamanya menulis.


“Masya Allah, siapa yang mengajarkan Ashraf menulis?” tanya Asyila penasaran dan tak lupa mencium kening putra pertamanya.


“Dyah dong Aunty,” sahut Dyah dengan penuh semangat.


“Terima kasih telah mengajarkan Ashraf menulis namanya sendiri,” tutur Asyila mengucapkan terima kasih kepada Dyah.


Dyah nampak malu-malu menerima kata terima kasih dari Aunty-nya itu.


“Bunda, Arsyad mau belajar lagi ya!” Arsyad kemudian mengajak Dyah untuk mengajarinya lagi.


“Dyah ke belakang dulu ya,” ucap Dyah sambil melambaikan tangan.


Setelah Arsyad dan Dyah pergi, Asyila segera mengantarkan Ibunya ke kamar. Asyila ingin Arumi segera berisitirahat agar kondisi Sang Ibu kembali sehat.


“Ya sudah Ibu istirahat dulu, kalau ada perlu apa-apa panggil saja Ibu!” pinta Arumi.


“Ibu tenang saja, kalau Asyila membutuhkan bantuan, Asyila akan memanggil Ibu,” sahut Asyila dan melenggang keluar kamar membiarkan Ibunya beristirahat.


Ketika Asyila hendak menuju ke dapur, ia tak sengaja menabrak tubuh kecil Ashraf. Ashraf pun terjatuh dan tak sampai menangis.


“Ya Allah, sayang. Ashraf kenapa tiba-tiba datang seperti ini? Apakah ada yang sakit?” tanya Asyila memastikan Ashraf baik-baik saja.


Asyila menggelengkan kepalanya dan kembali berlari keluar rumah.


“Sayang, hati-hati!”


Asyila tiba-tiba ingat bahwa sang suami sedang berada di dalam kamar seorang diri, ia pun bergegas untuk menyiapkan keperluan sang suami.


“Tok... Tok... Tok!”


“Masuklah, tidak Mas kunci!” seru Abraham.


“Kok Mas tahu kalau yang mengetuk pintu Asyila?”


Abraham tersenyum dan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


“Karena Mas sangat hafal dengan ketukan Syila,” jawab Abraham yang menggoda Asyila.


Asyila memukul pelan dada suaminya yang kembali menggoda dirinya.


“Sudah jam 9, waktunya bagi Mas berangkat,” ucap Asyila dan melepaskan pelukan Sang suami.


“Lihat! Mas sudah siap, tinggal ini belum,” tutur Abraham sambil menyentuh bibirnya agar segera dicium oleh Asyila.


“Muach!” Asyila mencium sekilas bibir suaminya.


“Yang lama!” pinta Abraham sambil menahan tawanya ketika melihat wajah Sang istri yang tersipu malu.


“Karena keperluan Mas sudah siap, ayo Asyila antarkan ke depan!” ajak Asyila dan memeluk lengan suaminya.


“Istriku ini memang pintar mengubah topik,” celetuk Abraham dan merekapun bersama-sama menuju teras depan.

__ADS_1


Karena Sang suami akan berangkat bekerja, Asyila pun memanggil kedua putra kecilnya.


“Arsyad! Ashraf!” panggil Asyila.


Tak berselang lama, Arsyad dan Ashraf datang menghampiri orangtuanya.


“Ayah mau berangkat, Arsyad dan Ashraf harus ngapain?” tanya Asyila pada kedua putra kecilnya.


“Harus cium Ayah!” seru Ashraf.


“Harus peluk Ayah!” seru Arsyad.


Abraham terkekeh kecil mendengar jawaban dari kedua putra kecilnya.


“Sini Ayah peluk dan cium kalian!” Abraham memeluk mereka secara bergantian dan tak lupa memberikan kecupan hangat di kening dan kedua pipi mereka.


“Hati-hati ya Ayah!” Arsyad dan Ashraf sangat tulus mengucapkan hati-hati kepada Ayahnya tersayang.


“Terima kasih sayang,” balas Abraham dan kedua putra kecilnya mencium punggung tangannya sebelum naik ke dalam mobil.


“Hati-hati Mas, Asyila akan selalu menunggu kedatangan Mas,” ucap Asyila.


“Jangan lupa, nanti malam,” balas Abraham dan tak lupa mencium kening sang istri.


Abraham kemudian masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan dari sopir pribadinya.


Setelah Sang suami benar-benar pergi, Asyila mengajak kedua putra kecilnya masuk ke dalam rumah.


“Oya sayang, Bunda dari tadi tidak melihat kakek kalian, Apakah kalian melihat Kakek Herwan?” tanya Asyila pada Arsyad dan Ashraf.


“Kakek ada di belakang rumah sama Kak Dyah,” jawab Arsyad.


“Ayo kita kebelakang!” ajak Asyila untuk segera menemui Ayahnya, Herwan.


Di belakang rumah lebih tepatnya di kebun anggur, Herwan dan Dyah ternyata sedang mencabuti rumput bersama.


Herwan tertawa kecil dan segera menolak apa yang diucapkan oleh putri kesayangannya.


“Ayah kalau hanya duduk saja merasa kurang sehat, kalau begini sama saja seperti Ayah sedang berolahraga,” jawab Herwan santai.


Melihat Kakek dan Kakaknya, Dyah. Arsyad dan Ashraf penasaran melihat mereka mencabuti rumput, merekapun berinisiatif melakukan hal tersebut.


Asyila merasa tersentuh dengan kedua putra kecilnya dan ia pun akhirnya ikut mencabuti rumput.


“Hihihi... Aunty akhirnya tertular juga,” ucap Dyah dengan senyuman manis.


****


Sore hari.


Herwan sedang berada di halaman depan rumah sembari melihat-lihat tanaman hias yang berada disana. Beberapa tanaman terlihat kurang segar dan Herwan pun berusaha untuk membersihkan rumput-rumput yang membuat tanaman menjadi tidak sehat.


Pak Udin yang sedang berada di pos penjagaan penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Herwan. Pria itu pun mendekat dan ikut bergabung membersihkan tanaman-tanaman hias dari rumput yang meresahkan.


“Saya bantu ya Pak,” ucap Pak Udin dan mulai mencabuti rumput.


“Terima kasih,” balas Herwan karena sudah pasti jika ia menolak, Pak Udin akan bersikeras ikut membantunya mencabuti rumput.


Tak jauh dari tempat Herwan dan Pak Udin mencabuti rumput, rupanya ada dua orang pria yang tengah mengintai kediaman Abraham.


Mereka bahkan terlihat membawa sebuah karung yang entah didalamnya berisi apa.


“Bagaimana? Apakah aman?” tanya salah satu dari mereka yang memakai penutup wajah.


“Sepertinya sudah aman, kita lepaskan sekarang bagaimana?” tanya pria satunya yang mengenakan topi.


“Ayo!”

__ADS_1


Dengan hati-hati mereka melepaskan isi di dalam karung tersebut di halaman rumah Abraham. Setelah semua isi dalam karung keluar bebas, mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu dengan begitu terburu-buru.


Hewan-hewan yang bergerak bebas ternyata adalah ular kobra yang mematikan. Ada sekitar 5 ekor ular kobra dengan panjang sekitar 1-3 meter.


Beberapa ekor ular meliuk-liuk ke dalam tanaman hias dan sisanya meliuk-liuk bebas entah kemana.


“Pak, kenapa tanaman disana bergerak-gerak?” tanya Pak Udin terheran-heran.


Herwan menoleh sekilas dan kembali mencabuti rumput dihadapi.


“Mungkin saja angin,” jawab Herwan.


Pak Udin mengangguk kecil dan kembali mencabuti rumput dihadapannya.


Selang beberapa menit, Pak Udin terkejut ketika mendengar suara ular berdesis.


“Pak Herwan mendengarnya?” tanya Pak Udin setengah panik dan sedikit menjauh dari tanaman hias.


Herwan mengernyitkan keningnya dan sedikit heran dengan apa yang dikatakan oleh Pak Udin.


“Pak Udin memangnya mendengar suara apa?” tanya Herwan penasaran.


Herwan segera membuang jauh-jauh pikirannya mengenai suara ular berdesis. Ia akhirnya memilih mengabaikan suara tersebut.


“Pak Udin!” panggil Herwan karena pria dihadapannya melamun.


“Maaf, Pak Herwan. Mungkin saya salah dengar karena akhir-akhir ini sering bergadang jadinya kebanyakan ngelantur,” ucap Pak Udin dan kembali mencabuti rumput.


Herwan tertawa kecil dan kembali mencabuti rumput.


“Kalau Pak Udin lelah, Pak Udin beristirahat saja. Biar nanti malam saya berjaga-jaga,” ucap Herwan.


Pak Udin segera menggelengkan kepalanya tanda ia tak setuju dengan ucapan Herwan.


“Pak Herwan jangan mengucapkan hal seperti itu, bagaimanapun ini sudah tugas saya untuk menjaga gerbang apalagi sekarang di rumah ini tidak ada pengawal yang berjaga,” balas Herwan.


Herwan sangat salut dengan apa yang diucapkan oleh Pak Udin. Pengabdiannya kepada menantunya benar-benar patut diacungi jempol.


“Ayah! Pak Udin!” Dari kejauhan Asyila memanggil kedua pria yang tengah berada di halaman depan rumah. Perlahan Asyila mendekati mereka dan mengajak keduanya untuk makan bersama.


Herwan yang memang lapar segera menyudahi kegiatannya dan mengajak Pak Udin untuk ikut makan bersama.


Pak Udin yang awalnya menolak akhirnya mengiyakan setelah Asyila maupun Herwan mendesaknya untuk ikut makan.


Ketika mereka bertiga akan melangkahkan kaki menuju rumah, mereka dihadang oleh seekor ular kobra yang sudah siap untuk mematuk salah satu dari mereka.


“Astaghfirullah!”


“Akkkhhhh!”


“Ya Allah!”


Mereka sangat terkejut dengan apa yang ada dihadapan mereka. Asyila bahkan menangis ketakutan melihat ular dihadapannya.


“Pak Herwan dan Nona Asyila tolong mundur secara perlahan-lahan! Biar ular ini saya yang menanganinya,” ucap Pak Udin.


Ketika Asyila dan Herwan perlahan-lahan mundur, ular itu tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan sangat cepat. Dan kalian tahu apa yang terjadi?


Ular itu berhasil menggigit salah satu dari mereka bertiga.


“Ayahhhhhhh!!!!!” Asyila menjerit keras ketika ular kobra berhasil menggigit kaki Herwan.


Arumi, Dyah dan kedua putra kecil Abraham dan Asyila berlari secepat mungkin mendengar teriakkan keras Asyila.


“Aaaakkkkhhhh!” Arumi pun berteriak melihat seekor ular kobra meliuk-liuk dan bersembunyi di pot-pot tanaman hias.


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


Komen dan like 💖


__ADS_2