
“Mas penasaran dengan jenis kelamin bayi kita?” tanya Asyila dan tersenyum manis.
“Tentu saja,” balas Abraham dan menyentuh lembut pipi bayi mungilnya.
“Bayi kita berjenis kelamin laki-laki, Mas,” ungkap Asyila.
“Masya Allah, Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya bayi ke-empat kami laki-laki lagi. Allahu Akbar,” ucap Abraham dan seketika itu bangkit dengan penuh semangat.
Asyila menyeka air matanya yang tersisa dan tertawa kecil melihat suaminya yang begitu semangat.
“Siapa nama bayi laki-laki kita?” tanya Abraham.
“Mas baru saja menyebutkan nama bayi kita,” jawab Asyila dan tersenyum lebar.
Abraham mengernyitkan keningnya, “Maksud Syila?”
“Nama bayi kita adalah Akbar Mahesa. Asyila ingin buah hati ke-empat kita memiliki hati yang besar dan masalah apapun yang menerpanya dikemudian hari, Asyila ingin Akbar bisa melewatinya sama seperti saat Akbar berada di kandungan Bundanya,” ungkap Asyila.
Abraham tertegun sejenak dan dengan sangat bahagia ia menangis terharu.
“Akbar sayang, sama Ayah dulu ya.” Asyila menyudahi menyusui buah bayi mungilnya dan memberikannya kepada Abraham.
“Akbar, kesayangan Ayah. Terima kasih ya sayang sudah mau bertahan di perut Bunda dan akhirnya datang ke dunia ini. Ayah berjanji dan akan selalu melakukan yang terbaik untuk pertumbuhan mu. Sekarang, Akbar akan tinggal disini bersama Ayah, Bunda, Kak Arsyad dan juga Kak Ashraf,” tutur Abraham dengan tatapan penuh kebanggaan.
Abraham mendekatkan mulutnya ditelinga bayi mungilnya dan membaca ayat suci Al-Quran dengan cukup lama.
Asyila menyentuh dadanya sendiri merasakan kenikmatan dari Allah untuk keluarga kecilnya.
“Shadaqallahul 'adzim,” ucap Abraham dan memberikan buah hati mereka kepangkuan Asyila.
“Terima kasih, Mas,” tutur Asyila karena apa yang telah dilakukan oleh Abraham kepada bayi mungil mereka.
“Sssuutt... Jangan mengatakan ucapan yang seharusnya tidak Syila ucapkan. Suamimu inilah yang seharusnya mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dilakukan oleh Syila semasa mengandung Akbar. Bahkan, Mas tidak berani membayangkan bagaimana Asyila bertahan dan melewati hari-hari tanpa kehadiran Mas,” terang Abraham dan dengan tangan gemetar membelai lembut rambut panjang istrinya.
Disaat yang bersamaan, terdengar suara ketukan pintu dan dibarengi dengan suara memanggil Abraham dan juga Asyila.
“Ayah, Bunda!” Panggilan itu ternyata dari Ashraf yang mencoba masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya.
Asyila tertawa kecil melihat wajah kecut Abraham.
“Lihatlah, baru saja ditinggal anak itu sudah datang mengganggu kita,” celetuk Abraham dan berlari kecil untuk membuka pintu.
Ketika pintu itu baru saja terbuka, Ashraf nyelonong masuk tanpa rasa bersalah. Ia masuk dan naik ke tempat tidur dengan santainya.
__ADS_1
“Ashraf tidur sama adik bayi,” ucap Ashraf dengan mata terpejam dan di detik berikutnya suara dengkuran halus pun terdengar.
Abraham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah sedikit masam.
“Sudah tidak apa-apa, masih ada hari esok untuk kita berdua,” ujar Asyila dan tertawa kecil seakan mengejek suaminya.
Abraham tersenyum aneh dan membuat Asyila seketika itu tahu bahwa suaminya tengah menyusun rencana.
“Mas sedang merencanakan Apa?” tanya Asyila penasaran.
Abraham melirik ke arah pintu dan kedua alisnya naik turun membuat Asyila akhirnya mengerti dengan isyarat suaminya.
“Kalau Ashraf bangun dan menangis bagaimana, Mas?” tanya Asyila.
“Tenang, semua bisa diatur. Ayo ke kamar sebelah, kasihan Akbar kalau tidak segera ditidurkan,” ajak Abraham.
Suami istri itu pun bersama-sama melenggang pergi meninggalkan Ashraf dan berpindah tempat tidur di kamar milik Arsyad serta Ashraf.
“Akbar sayang, tidur yang nyenyak ya. Malam ini Ayah dan Bunda ingin mengobrol banyak hal, yah anggap saja mengganti waktu Ayah dan Bunda yang tertunda cukup lama,” ucap Abraham dan mengambil alih menggendong bayi Akbar dan dengan hati-hati meletakkannya di tempat tidur.
Usai meletakkan bayi mungilnya, Abraham ikut merebahkan diri dan meminta Sang istri untuk segera datang ke pelukannya.
Asyila tersipu malu dan mengiyakan permintaan suaminya.
“Baiklah, sekarang kita sudah bisa mengobrol lagi. Insya Allah besok Mas akan memberitahukan yang lainnya bahwa Syila telah kembali dan memperkenalkan anggota baru keluarga kita kepada saudara serta para penghuni perumahan Absyil lainnya,” terang Abraham.
“Tenang saja, sampai detik ini pun mereka tidak tahu berita Asyila meninggal. Bahkan, Abang Temmy dan Mbak Yeni tidak tahu masalah ini. Insya Allah semuanya aman,” jawab Abraham.
“Mas, bolehkah kalau besok hanya saudara terdekat kita yang hadir dan baru lusa adalah para tetangga kita,” pinta Asyila.
“Hhmmm.. Begini saja, bagaimana kalau lusa kita mengadakannya Do'a bersama juga? Kita juga akan mengundang anak yatim-piatu untuk meramaikan acara bayi Akbar?”
“Sepakat!” seru Asyila.
Abraham mencium sekilas kening Asyila dan meminta Asyila untuk melanjutkan kejadian yang telah dialami istri kecilnya.
“Mas yakin mau mendengarkan cerita Asyila selanjutnya?”
“Tentu saja, bila perlu Mas akan membawa mereka semua yang telah menolong Syila,” jawab Abraham.
Asyila tersenyum dan wajahnya berubah menjadi sangat serius.
“Asyila cerita mulai dari Asyila di rawat di klinik ya Mas!”
__ADS_1
“Iya,” balas Abraham dengan tampang yang begitu serius.
“Jadi, Asyila di rawat di salah satu klinik kecil di kota Surabaya sekitar 3 hari. Itupun, Asyila belum sadar dan kebetulan Pak Antok adalah seorang guru TK. Karena uang yang semakin menipis, Pak Antok pun akhirnya pulang daerah asalnya di Salatiga Jawa tengah,” terang Asyila.
“Haa? Dari Surabaya ke Jawa tengah?” tanya Asyila setengah tak percaya karena saat itu istrinya sedang kritis.
“Iya, Mas. Ibu Puji menganggap Asyila seperti adiknya yang telah meninggal, Ibu Puji mengatakan kalau wajah Asyila mirip sekali dengan almarhumah adik dari Ibu Puji dan Mas Kiki. Sebenarnya, Ibu Puji dan Mas Kiki itu adik kakak. Hanya saja, Asyila lebih nyaman memanggil sebutan Ibu Puji dan Mas Kiki,” tutur Asyila sambil senyum-senyum. 😅
Mendengar penuturan dari istri kecilnya, wajah Abraham tiba-tiba berubah menjadi masam.
“Bukan karena pria yang bernama Kiki itu, tampan 'kan?” tanya Abraham yang terlihat sangat cemburu.
“Hayo, Mas cemburu ya?” tanya Asyila sambil menahan tawanya.
“Oh sudah jelas, tidak perlu ditanyakan lagi,” celetuk Abraham.
“Mas Abraham jangan berpikiran yang tidak-tidak, Asyila sampai kapanpun akan selalu mencintai Mas,” ucap Asyila dengan sangat serius bahkan, tak segan-segan memberikan tatapan penuh cinta pada suaminya.
Sekali lagi hati Abraham meleleh dan membuat kedua pipinya memerah.
“Pipi Mas merah lah lagi,” goda Asyila dan menyentuh kedua pipi suaminya.
“Ya habisnya digodain terus,” celetuk Abraham.
“Memangnya siapa yang mau godain Mas?” tanya Asyila dan tak henti-hentinya tertawa.
“Asyila,” celetuk Abraham dan menciumi bibir suaminya dengan penuh semangat.
Beberapa saat kemudian.
Akbar mungil kembali terbangun dan membuat Abraham serta Asyila menghentikan keromantisan mereka saat itu juga.
“Iya sayang, maafin Ayah dan Bunda ya. Kalau sudah besar, Akbar hanya mengalahkannya Ayah yang nakal ini. Ok!”
Asyila dengan hati-hati kembali menyusui bayi mungilnya.
“Akbar sayang, yang nakal itu Bunda Asyila. Bunda dengan genitnya menggoda Ayah,” tutur Abraham.
“Mas...” Asyila pun memberikan tatapan tajam pada suaminya.
Abraham tersenyum dan memberikan kedipan mata genit pada istrinya.
“Dasar,” celetuk Asyila karena kelakuan suaminya yang begitu menggemaskan.
__ADS_1
Abraham ❤️ Asyila
Like ❤️ komen 👇