
“Asyila, coba dengar itu suara siapa?” tanya Dyah yang samar-samar mendengar suara Ema.
“Mama, itu suara Mama Ema,” jawab Asyila ketika mendengar suara salam dari Ema.
Dyah berlari kecil bersama putri kecilnya menuju ruang depan.
“Dyah, dimana Asyila? Dimana yang lain?” tanya Ema yang terlihat panik dan juga sedih.
“Ema, kamu kenapa sepagi ini kelihatan panik sekali?” tanya Dyah penasaran.
“Ibu mertuaku masuk rumah sakit, karena mengalami serangan jantung,” jawab Ema dengan mata berkaca-kaca.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun, terus siapa yang saat ini berada di rumah sakit?” tanya Dyah yang juga ikut panik.
“Suamiku dan kedua anakku. Tolong, panggilkan Asyila dan juga Pak Abraham!” pinta Ema.
“Kamu masuklah dulu, aku akan memanggilkan Aunty dan juga Paman!” Dyah mempersilakan Ema untuk masuk ke dalam.
Dyah berlari secepat mungkin untuk memanggil Aunty dan juga Pamannya yang sedang berada di dalam kamar.
“Aunty, Paman!” panggil Dyah sembari mengetuk pintu kamar Aunty dan juga Pamannya.
“Iya Dyah, ada apa memanggil kami?” tanya Abraham dari dalam kamar.
“Paman, di depan ada Ema. Mertua Ema, saat ini sedang masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung,” terang Dyah.
“Apa?” tanya Asyila yang sangat terkejut.
“Dyah, sebentar lagi kami menyusul. Kamu, temani lah Ema di depan!” perintah Abraham pada keponakannya.
“Baik, Paman. Kalau begitu, Dyah langsung ke depan,” sahut Dyah dan bergegas menuju ruang depan untuk menemani Ema yang sedang sedih karena Ibu mertuanya masuk rumah sakit.
Abraham dan Asyila buru-buru keluar dari kamar untuk menemui Ema.
“Ema!” Asyila mendekat pada sahabatnya, Ema.
“Asyila, aku minta tolong antar aku ke rumah sakit. Sebelum subuh, Ibu mertuaku mengeluh kepadaku kalau kepala beliau pusing dan juga sesak nafas. Karena aku tak ingin, Ibu mertuaku kenapa-kenapa aku saat itu juga meminta Ibu mertuaku untuk istirahat di kamarnya. Ibu Wati, kemudian mengiyakan dan masuk ke dalam kamarnya saat itu juga. Salahnya aku, seharusnya aku ikut masuk ke dalam kamar untuk memastikan apakah Ibu Wati dapat beristirahat ataukah tidak,” terang Ema yang telah menangis.
“Ema, kamu bicaralah secara perlahan kami akan mendengarkannya,” sahut Asyila.
“Saat Abang Yogi, masuk ke dalam kamar, Ibu Wati sudah berada di lantai. Aku merasa sangat bersalah, Asyila. Kalau sampai Ibu Wati kenapa-kenapa aku harus bagaimana? Abang Yogi pasti menyalahkan aku karena tidak becus,” ungkap Ema yang terlihat sangat panik sekaligus ketakutan.
“Ema, aku lebih dulu mengenal pribadi Yogi. Yogi bukan pria yang seperti itu, kamu tenanglah. Justru, Yogi tidak ingin kalau kamu merasa bersalah. Ayo, aku antar kamu ke rumah sakit!”
“Mas, Asyila juga ikut ya!” pinta Asyila.
“Apakah Asyila kuat? Mas hanya tidak ingin Asyila kenapa-kenapa,” sahut Abraham.
“Mas tenang saja, punggung Asyila sudah baikan setelah diberi salep oleh Mas Abraham,” jawab Asyila.
“Paman, Dyah juga mau ikut!” pinta Dyah.
“Kalau kamu ikut, bagaimana dengan cucu kami? Bukankah Fahmi sedang pergi?”
Dyah akhirnya memutuskan untuk tidak ikut dan diam di rumah bersama putri kecilnya.
Rumah Sakit.
__ADS_1
Yogi dan kedua putranya tengah duduk di jejeran kursi tunggu, ketiganya terlihat begitu panik mengenai kondisi Ibu kandung dari Yogi.
“Papa, apakah Nenek Wati baik-baik saja di dalam?” tanya Kahfi pada Ayahnya.
“Papa juga tidak tahu, Kahfi. Yang terpenting sekarang adalah kita harus banyak-banyak berdo'a agar Allah memberikan keajaiban untuk Nenek Wati,” jawab Yogi pada putra pertamanya.
Yogi juga tengah memikirkan istrinya, Ema. Yogi tahu, bahwa Ema tengah menyalahkan dirinya sendiri.
Yogi sama sekali tak berpikir seperti apa yang dipikirkan oleh Ema. Justru, apa yang dialami oleh Ibu kandungnya sudah menjadi bagian takdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
“Papa, Mama kenapa tidak kesini?” tanya Kahfi.
“Kahfi, sebentar lagi Mama juga kesini,” jawab Yogi.
Yogi sendiri tidak tahu bahwa istrinya telah meminta bantuan dari Abraham serta Asyila untuk mengantarkan Ema ke rumah sakit, tempat dimana Ibu Wati tengah di rawat.
Kahfi menoleh ke arah kanan dan melihat Mamanya yang datang bersama orang tua dari sahabatnya, Ashraf.
“Papa, itu Mama Ema bersama dengan Ayah Abraham dan juga Bunda Asyila,” terang Kahfi sembari menunjuk ke arah mereka bertiga.
Yogi pun menoleh dan saat itu juga bangkit dari duduknya.
“Abang, maafkan Ema,” ucap Ema yang merasa bersalah.
“Ema sayang, kenapa dari tadi mengucapkan kata maaf. Abang sama sekali tak menyalahkan Ema,” terang Yogi yang sudah tidak memanggil Ema dengan sebutan Adik.
Yogi memeluk istrinya dan mencoba untuk menjelaskan bahwa Ema tak perlu menyalahkan dirinya secara pelan-pelan, agar Ema bisa memahaminya maksud dari perkataan yang di sampaikan oleh Yogi.
Ema perlahan mulai tenang ketika mendengar semua penjelasan dari suaminya dan tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri.
Ema tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa menangis di pelukan suaminya, Yogi.
1 jam kemudian.
Seorang dokter wanita keluar dari ruang rawat Ibu Wati dengan ekspresi wajah sedih.
“Dok, apa Ibu saja baik-baik saja?” tanya Yogi.
“Dengan besar hati, kami mengucapkan turut berdukacita sedalam-dalamnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi Tuhan lebih sayang Ibu Wati,” ungkap Dokter tersebut.
Saat itu juga, Ema pingsan tak sadarkan diri. Sementara Kahfi dan Fauzi menangis histeris mendengar bahwa salah satu Nenek mereka telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun,” ucap Abraham dan Asyila.
Yogi membawa istrinya untuk segera diperiksa, karena mungkin Ema mengalami syok berat setelah mendengar kabar bahwa Ibu mertuanya telah meninggal dunia.
Yogi berusaha untuk ikhlas dan mencoba menghubungi Ibu mertuanya serta saudara yang lain untuk datang ke Bandung secepat mungkin karena penguburan almarhumah Ibu waktu akan dilangsungkan hari itu juga.
Abraham pun menghubungi Dyah, untuk memberitahukan bahwa Ibu kandung Yogi telah meninggal dunia.
Beberapa jam kemudian.
Perumahan Absyil.
Jenazah almarhumah Ibu Wati telah selesai dimakamkan setelah sholat Dzuhur, Ema saat itu masih terpukul begitu juga dengan kedua buah hatinya bersama Yogi.
Icha, sebagai Mami dari Ema berusaha untuk menenangkan putri kesayangannya itu.
__ADS_1
Bahkan, Icha mengatakan bahwa dirinya juga bisa tiba-tiba meninggal dunia, karena setiap manusia yang hidup pasti akan mati dan akan kembali ke Sang pencipta.
“Mami, jangan mengatakan hal seperti itu. Kehilangan Ibu Wati saja sudah membuat Ema sangat terpukul, apalagi ditambah Ema kehilangan Mami. Kalau Mami bilang seperti itu lagi, Ema tidak akan mau menemui Mami lagi,” tegas Ema yang begitu sedih.
Mami Icha memeluk putrinya dan mengatakan bahwa dirinya akan selalu baik-baik saja. Mendengar hal tersebut, Ema sedikit lebih tenang dari yang sebelumnya.
Yogi mengucapkan terima kasih kepada penghuni Perumahan Absyil dan juga para saudaranya yang telah hadir untuk mendo'akan almarhumah Ibunya, Wati.
“Nak Yogi, maaf karena Mami datang disaat-saat seperti ini,” ucap Mami Icha pada menantunya.
“Tidak apa-apa, Mami. Yogi sangat memaklumi pekerjaan Mami di Jakarta, melihat Mami datang seperti ini sudah membuat Yogi jauh lebih baik. Karena, Yogi bingung bila melihat Ema menangis terus-menerus. Mami, tolong Yogi untuk membuat Ema ceria kembali. Lagipula, Yogi sudah ikhlas atas meninggalnya Ibu Wati,” ungkap Yogi pada Ibu mertuanya.
Asyila yang duduk tak jauh dari Ema, terlihat begitu pucat. Abraham yang melihat wajah Sang istri yang tak memungkinkan, memutuskan untuk pamit dan menjelaskan bahwa Asyila saat itu tengah sakit.
Yogi, Ema dan juga Mami Icha memaklumi keadaan Asyila yang memang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Untuk berjalan saja, Asyila dibantu Abraham karena Asyila tidak kuat jika harus berjalan seorang diri tanpa dibantu oleh suaminya.
Ema bahkan mengkhawatirkan kondisi kesehatan Asyila yang sangat jelas bahwa Asyila sedang sakit.
Arumi dan Herwan yang juga berada di kediaman Yogi, terlihat mengkhawatirkan kondisi putri kesayangan mereka.
“Mas, sepertinya Asyila sakit. Haduh, Ibu jadi khawatir begini,” ujar Arumi.
“Kita tetap harus berada disini, bagaimanapun sudah ada Nak Abraham yang merawat putri kita,” balas Herwan pada istrinya.
Abraham dan juga Asyila akhirnya sampai di rumah. Hari itu, Asyila sengaja meliburkan semua karyawatinya karena Ibu mertua dari sahabatnya meninggal dunia.
Bagaimanapun, rezeki masih bisa dicari lain hari. Yang terpenting, adalah bagaimana kita sebagai manusia harus saling menghargai satu sama lain.
“Syila, beristirahatlah di kamar. Mas akan membuatkan makanan untuk Asyila,” ucap Abraham dan tiba-tiba ingat bahwa Asyila serta dirinya belum sarapan.
Pantas saja Asyila begitu lemas tak berdaya, rupanya sejak pagi istri kecilnya belum sarapan.
“Ya Allah, maafkan suamimu ini istriku. Ayo kita makan bersama!” ajak Abraham.
Saat itu juga, Abraham menggendong istri kecilnya untuk segera ke ruang makan agar ada makanan yang bisa segera masuk ke dalam mulut Sang istri.
Asyila juga baru ingat bahwa dirinya belum sarapan. Mungkin, karena ia sedang dalam keadaan berkabung atas meninggalnya Ibu mertua dari sahabatnya, Ema.
“Mas, tolong suap makanan ke mulut Asyila ya!” pinta Asyila. “Tangan Asyila tiba-tiba gemetaran,” imbuh Asyila memperlihatkan tangannya yang memang gemetaran efek dari pagi sampai siang belum makan.
“Syila, setelah kita makan. Mas akan memanggilkan dokter untuk Asyila,” tutur Abraham yang sangat panik dengan keadaan istri kecilnya.
“Tidak usah, Mas. Asyila hanya perlu istirahat saja,” balas Asyila yang tidak ingin diperiksa oleh dokter.
“Yakin hanya cukup dengan istirahat?” tanya Abraham memastikan.
“Iya, Mas. Sekarang ayo suapi Asyila!” pinta Asyila pada suaminya.
Disaat mereka sedang makan bersama, ada Akbar yang tengah memperhatikan kedua orangtuanya dan perlahan berjalan menuju ruang makan.
“Akbar juga mau makan, Bunda,” tutur Akbar yang memang sangat lapar, karena tadi pagi ia hanya sarapan tiga sendok makan saja.
“Iya sayang, sini duduk sama Bunda!” seru Asyila yang ingin memangku tubuh Akbar.
“Akbar mau sama Ayah saja, Bunda sedang sakit sama seperti Akbar,” terang Abraham yang tahu jika Bundanya tengah sakit.
__ADS_1