
Asyila berlari kecil menuju ruang rawat suaminya, beberapa saat yang lalu ia mengantarkan putra pertamanya ke sekolah.
Kini, ia harus kembali ke ruang rawat suaminya dan memperhatikan suaminya agar segera kembali ke rumah.
“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila dengan napas terengah-engah dan disaat itu juga Abraham terbangun dari tidurnya.
“Wa'alaikumsalam, Syila kenapa malah terengah-engah seperti itu?” tanya Abraham pada istri kecilnya.
“Mas tadi sedang tidur ya? Maaf ya Mas, karena Asyila Mas jadi terbangun,” ucap Asyila sambil menata napasnya dan melangkah menghampiri suaminya yang tengah berbaring.
“Mas tidak benar-benar tidur, lagi pula Mas ingin selalu melihat wajah cantik Asyila,” ucap Abraham.
“Mas jangan meledek Asyila, sekarang Asyila terlihat tidak terurus,” balas Asyila dan menundukkan kepalanya.
“Ini semua karena suamimu.”
Asyila mendongakkan kepalanya dan segera membantah apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Jangan mengatakan kalau semua ini karena Mas, maafkan perkataan Asyila tadi ya Mas.”
“Hhmmm... Syila mau dimaafkan?” tanya Abraham.
Asyila dengan cepat mengangguk, “Iya Mas.”
“Kalau begitu, belikan Mas sesuatu untuk dimakan dan setelah itu bantu Mas ke. kamar mandi!” pinta Abraham.
“Baik, Mas,” jawab Asyila menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.
Asyila keluar dari kamar inap suaminya dan bergegas mencari makanan, Asyila tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Abraham.
“Asyila! Kamu Asyila, bukan?” tanya seorang wanita yang tengah hamil besar.
“Iya, aku Asyila,” balas Asyila sambil mengingat siapa wanita dihadapannya.
“Ya Allah, kamu sekarang beda banget ya. Aku Lastri, teman SMP kamu dan dulu saat kelas 8 kita pernah satu kelas,” ucap wanita tersebut yang namanya adalah Lastri.
Asyila tidak terlalu hafal dengan teman-teman SMP, ia hanya mengangguk kecil sembari tersenyum lebar.
“Kamu kesini sama siapa? Sekarang apa pekerjaanmu? Kamu pasti kerja di tempat semacam toko-toko begitu ya?” tanya Lastri yang terdengar seperti tengah menjatuhkan Asyila.
“Aku Ibu rumah tangga,” jawab Asyila.
“Oh, jadi kamu tidak bekerja? Pantas saja tampilan mu sangat berbeda,” ucap Lastri yang setiap perkataan terdengar merendahkan Asyila.
“Iya, kalau begitu aku permisi dulu,” tutur Asyila yang tak ingin berlama-lama menghadapi Lastri.
__ADS_1
“Ihhh, kamu jangan pergi dulu dong. Oya, kalau suamimu kerja dimana?” tanya Lastri.
“Suamiku....”
“Pasti kerja jadi buruh ya, seperti kuli bangunan gitu ya,” ucap Lastri memotong ucapan Asyila.
Asyila menghela napasnya dan ia menatap Lastri dengan tatapan menantang.
“Aku tidak tahu apa maksud dari pertanyaan kamu, kalau kamu saja yang malah menjawabnya. Soal kehidupan pribadi atau pekerjaanku, itu tidak ada urusannya dengan mu. Dan tolong sekali lagi, aku harap kamu hanya bertanya ini kepadaku dan jangan ke yang lain, terima kasih. Wassalamu'alaikum,” ucap Asyila.
Lastri mengelus perutnya dengan terus menatap punggung Asyila secara sinis.
“Suami kerja jadi buruh saja sudah sombong, dasar miskin,” hina Lastri dan melanjutkan langkahnya menuju ruang khusus Ibu hamil.
Asyila terus melangkahkan kakinya, ia tidak habis pikir dengan pikiran Lastri. Ia pun mencoba mengingat-ingat wanita yang bernama Lastri.
“Ya Allah, jadi itu Lastri?” Asyila kini ingat siapa wanita tersebut.
Lastri. Dulu Lastri adalah teman sekelas Asyila, di sekolah menengah atas atau biasa disingkat SMP. Lastri dulu memang terkenal sangat sombong, meskipun Ibunya hanya seorang tukang cuci pakaian.
Yang membuat Asyila terheran-heran, cara bicara Lastri dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.
Ya Allah, jangan lagi mempertemukan hamba dengan orang seperti ini. Semoga saja hamba orang terakhir yang ia katakan seperti tadi.
Asyila terus melangkahkan kakinya da akhirnya ia sampai di sebuah warung makan.
“Bu, saya beli nasi dengan lauk perkedel. Oya bu, tolong tambahkan ayam goreng kampung!”
Si pemilik warung mengangguk dan mengambil menu makanan yang dikatakan oleh Asyila. Kemudian, Asyila membayar makanan tersebut.
Lagi-lagi, Asyila bertemu dengan Lastri yang saat itu tengah bersama seorang pria.
“Eh, ketemu lagi dengan orang miskin tapi sombong,” ucap Lastri yang dengan sengaja menghadang jalan Asyila.
“Lastri, jangan bicara seperti itu,” ucap suami Lastri.
“Pak, tolong ajarin istri bapak caranya menghargai antar sesama manusia. Jika ini di dengar oleh orang lain, maka yang akan disalahkan ada Bapak,” tegas Asyila yang secara langsung mengatakan kepada suami Lastri.
Lastri mengangkat tangannya yang ingin menampar Asyila, akan tetapi Asyila dengan sigap menahan tangan Lastri yang telat sedikit saja sudah membuat cap lima jari diwajahnya.
“Asyila, lepaskan tanganku!” teriak Lastri.
“Tolong untuk kali ini anda jangan ikut campur, ini urusan wanita dan bukan laki-laki,” ucap Asyila yang terlihat sangat marah.
“Mas Roy!” teriak Lastri pada suaminya.
__ADS_1
Roy bingung harus bagaimana, perkataan Asyila memang ada benarnya. Akan tetapi, disisi lain Lastri adalah istrinya dan tengah mengandung anak pertama mereka. Roy tidak ingin jika istrinya yang sedang mengandung kenapa-kenapa.
“Pak Roy tenang saja, saya sedikitpun tidak akan melukai Lastri. Akan tetapi, saya ingin Lastri meminta maaf atau istri anda tidak akan saya lepaskan,” tegas Asyila.
Apa yang tengah dilakukan oleh Asyila akhirnya menjadi pusat perhatian, tapi hampir semua orang tahu bahwa yang salah adalah Lastri.
“Sayang, cepat minta maaf saja. Daripada kita mendapatkan masalah,” ucap Roy.
“Tidak mau, aku tidak Sudi jika harus meminta maaf dengan orang miskin seperti ini. Lagipula, dimana-mana itu orang miskin yang meminta maaf kepada si kaya,” balas Lastri yang semakin membuat orang membencinya.
“Dasar sombong!” teriak ibu-ibu yang lainnya mengatakan Lastri sombong.
Lastri bukannya sadar diri, justru dia semakin merasa benar.
Asyila semakin mempererat genggamannya dan akhirnya membuat Lastri menyerah.
“Baiklah, aku menyerah. Tolong lepaskan aku!” perintah Lastri.
Asyila mengangkat sebelah alisnya dan memberi isyarat agar Lastri segera meminta maaf.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Lastri meminta maaf dan saat itu juga Asyila melepaskan tangan Lastri.
“Sayang, sakit banget,” rengek Lastri sambil memperlihatkan tangannya yang merah karena genggaman tangan Asyila yang sangat erat.
“Lain kali, kamu jangan pernah berurusan dengan dia. Sekarang ayo pulang! Lihatlah mereka, mereka semua melihat kamu,” ucap Roy.
“Mereka melihat aku karena aku cantik, lagian seharusnya kamu bangga punya istri cantik seperti aku. Ya sudah ayo pulang, aku tidak mau kulitku menjadi hitam,” ucap Lastri yang masih sombong.
Roy geleng-geleng kepala menghadapi sikap istrinya, sebenarnya Roy tidak mencintai Lastri. Akan tetapi, ia terpaksa menikahi Lastri karena desakan dari orangtuanya yang ingin mempunyai menantu seperti Lastri.
Asyila melanjutkan langkahnya dan berharap hari itu tidak akan pernah terulang lagi, rasanya Asyila ingin sekali membungkam mulut Lastri. Akan tetapi, Asyila sadar diri bahwa ia tidak boleh membalas keburukan orang lain.
“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila.
“Wa'alaikumsalam, Kenapa lama sekali?” tanya Abraham ketika istri kecilnya baru saja masuk ke dalam ruangannya.
“Tadi sedang mengantri, Mas. Mas mau 'kan, lauk perkedel dan ayam goreng kampung?” tanya Asyila.
Abraham tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya tanda bahwa ia menyukai apa yang dibeli oleh istri kecilnya.
“Syila kenapa wajahnya seperti itu?” tanya Abraham yang melihat wajah istri kecilnya tak bersemangat.
“Asyila hanya sedikit kesal saja, Mas. Tapi, sekarang sudah mulai membaik,” balas Asyila.
“Memangnya Syila kesal kenapa dan dengan siapa? Apa dengan suamimu ini?”
__ADS_1
“Hhmmm... Bukan, Mas. Sudahlah lupakan saja, sekarang Mas harus makan dan habiskan makanannya. Setelah itu, Asyila akan membantu Mas ke kamar mandi,” ucap Asyila dan membuka nasi bungkus yang ia beli untuk segera menyuapi makanan kepada suaminya.
Abraham menghela napasnya dan tak lagi bertanya.