Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Menunggu Kabar Dari Sang Suami


__ADS_3

Bayi mungil itu terus saja menangis dan menolak untuk minum ASI.


“Sayang, tolong jangan rewel seperti ini. Tolong jangan membuat Bunda semakin panik dan juga sedih,” tutur Asyila pada bayi mungilnya yang terus saja menangis.


Karena bayi mungilnya tak kunjung diam, Asyila pun akhirnya ikut menangis dan berharap ia bisa mendengar suara suaminya. Meskipun, hanya lewat telepon seluler.


“Hiks.. hiks...” Asyila menangis karena bingung harus apa, kondisinya saat itu benar-benar tak memungkinkan jika harus pergi mencari keberadaan suaminya.


Tak butuh waktu lama, bayi mungil yang tadinya menangis, perlahan-lahan mulai menghentikan tangisannya dan tidur terlelap.


“Alhamdulillah, terima kasih sayang sudah mau mengerti dengan kondisi Bunda sekarang ini,” tutur Asyila sembari menyeka air matanya dan memutuskan untuk memejamkan matanya agar bisa segera tertidur.


Hampir 10 menit lamanya, Asyila tak kunjung tertidur dan malah perasaannya semakin khawatir tak karuan karena suaminya tak juga menghubungi dirinya.


“Lebih baik aku membaca kitab suci Al-Qur'an saja,” tutur Asyila bermonolog dan bergegas mengambil air wudhu untuk segera membaca kitab suci Al-Qur'an, Asyila berharap dengan begitu perasaannya bisa menjadi tenang.


Keesokan paginya.


Asyila belum juga mendapatkan kabar dari suaminya, bahkan Asyila mencoba menghubungi suami serta sahabat suaminya, Edi. Akan tetapi, nomor telepon keduanya berada diluar jangkauan alias tidak aktif.


“Aunty kenapa terlihat sangat sedih?” tanya Dyah yang saat itu tengah menggoreng ikan untuk sarapan mereka.


Asyila terkesiap dan menyembunyikan kesedihannya dengan senyum manisnya. Akan tetapi, Dyah tidak bisa dengan mudahnya percaya akan senyuman yang terpancar di wajah Aunty kesayangannya itu.


“Aunty tak bisa membohongi Dyah dengan tersenyum seperti ini. Katakan yang sejujurnya, apa yang membuat Aunty menjadi sedih seperti ini?” tanya Dyah penasaran.


“Aunty sedih karena Pamanmu sampai sekarang belum ada kabar. Aunty sudah mencoba menghubungi Pamanmu tapi sampai sekarang belum bisa dihubungi,” terang Asyila.


“Aunty jangan terlalu memikirkan hal yang berat-berat. Bagaimanapun, Paman pasti baik-baik saja dan akan segera kembali bila urusan Paman selesai,” tutur Dyah yang tak ingin jika Aunty-nya sampai sakit karena memikirkan Paman kesayangannya itu.


“Semoga saja Pamanmu baik-baik saja disana dan segera menghubungi Aunty.”


“Aamiin, saat urusan Paman sudah selesai, Paman pasti akan langsung menghubungi Aunty!” seru Dyah.


Bela tengah menonton televisi sembari menjaga bayi mungil Abraham dan Asyila yang saat itu tengah terlelap.


“Adik Akbar sangat lucu,” puji Bela dan dengan hati-hati menyentuh pipi kemerah-merahan bayi mungil tersebut.


Beberapa saat kemudian.


Sarapan pun siap untuk disantap dan Dyah dengan penuh semangat berlari menuju ruang keluarga untuk memberitahukan kepada Bela bahwa sarapan sudah siap untuk disantap bersama-sama.


“Bela, ayo ke ruang makan!” ajak Dyah.


Bela menoleh ke arah kereta bayi Akbar untuk memastikan apakah bayi mungil itu masih terlelap ataukah sudah bangun.


“Bayi Akbar tidur tidak?” tanya Dyah.


“Tidur, Kak Dyah,” jawab Bela dengan senyum manisnya.


“Ya sudah tinggal saja, ayo sarapan!” ajak Dyah dan merangkul lengan Bela.


Keduanya pun bergegas menuju ruang makan dan lagi-lagi Dyah melihat Aunty-nya yang sedang melamun dengan penuh kesedihan.


“Aunty!” Dyah mendekat sembari menyentuh bahu Asyila.


Asyila tersadar dari lamunannya dan kembali tersenyum semanis mungkin.


“Aunty tidak apa-apa, kenapa melihat Aunty dengan tatapan seperti itu? Ayo duduk kita sarapan bersama-sama,” tutur Asyila dan mulai mengisi piring Bela dengan nasi.


Bela yang tak tahu apa-apa, hanya tersenyum dan mengira bahwa semuanya baik-baik saja.


“Bela mau lauk yang mana?” tanya Asyila pada gadis kecil itu.


“Ikan laut sama sambal terasi,” jawab Bela dengan malu-malu.


Asyila tertawa kecil dan mengambil ikan laut goreng serta sambal terasi keinginan Bela.


“Ini untuk Bela, makan yang cukup ya sayang!”


“Terima kasih, Aunty,” balas Bela yang terlihat sangat bahagia karena akhirnya ia bisa makan enak setiap hari dan tak perlu mencari uang dengan cara yang sangat berbahaya seperti sebelumnya.


Dyah menggigit bibirnya sembari memandangi wajah Aunty-nya.


Paman kenapa membuat Aunty sedih begini? Awas saja kalau Paman sudah pulang, Dyah akan membuat perhitungan kepada Paman karena sudah membuat Aunty kesayangan Dyah sedih. 😒


“Kenapa malah melamun? Ayo cepat ambil nasinya,” tutur Asyila menyadarkan Dyah dari lamunannya agar segera menikmati sarapan.


“Maaf Aunty,” balas Dyah dan cepat-cepat mengisi piringnya dengan nasi serta lauk yang sebelumnya ia masak bersama dengan Aunty kesayangannya itu.

__ADS_1


“Maaf kenapa, kamu ini membuat Aunty bingung saja.”


***


Sore hari.


Asyila duduk merenung seorang diri di ruang tamu sembari terus memandangi arah luar halaman berharap bahwa suaminya tiba-tiba datang.


“Sudah jam segini, Mas Abraham belum juga ada kabarnya. Ya Allah, tolong berikanlah hamba kekuatan untuk bisa melewati ini semua dan tolong jangan lagi membuat hidup kami was-was seperti yang sebelumnya,” tutur Asyila bermonolog.


Tanpa Asyila sadari, ia sudah menetaskan air matanya.


“Cengeng,” ucap Asyila mengejek dirinya sendiri sembari menyeka air matanya yang jatuh begitu saja.


Dyah pun datang menghampiri Aunty-nya sembari menggendong putri kecilnya, Asyila.


“Aunty, kami pulang dulu ya. Mas Fahmi sudah menunggu Dyah dan juga putri kecil kami di rumah,” tutur Dyah yang sebenarnya ingin sekali tidur di kediaman keluarga kecil Pamannya, Abraham Mahesa.


Asyila yang sebelumnya membelakangi Dyah, saat itu juga berbalik dan memberikan senyum manisnya.


“Kenapa tidak tidur disini saja?” tanya Asyila.


Dyah mengernyitkan keningnya dan menyadari bahwa Aunty-nya baru saja menangis.


“Aunty menangis?” tanya Dyah khawatir ketika melihat mata Aunty-nya merah ciri khas orang yang baru saja menangis.


Asyila dengan cepet menggelengkan kepalanya.


“Tidak,” jawab Asyila singkat tanpa menatap sepasang mata indah milik Dyah.


Wanita muda bermata sipit itu tahu benar, bahwa Aunty-nya tengah berbohong. Akan tetapi, Dyah memilih berpura-pura mempercayai apa yang dikatakan oleh Aunty-nya.


“Aunty, Dyah sebenarnya ingin sekali tidur disini. Akan tetapi, Dyah banyak pekerjaan di rumah yang belum selesai. Insya Allah besok Dyah akan tidur disini,” terang Dyah.


“Sudah tidak apa-apa, Aunty mengerti maksud kamu.”


“Ya sudah, Dyah dan Asyila kecil pulang dulu ya Aunty. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati di jalan. Terima kasih untuk hari ini,” balas Asyila.


Dyah mengiyakan dan terus melambaikan tangannya sampai akhirnya ia tak terlihat lagi.


“Bela sudah mandi?” tanya Asyila pada Bela yang saat itu tengah menonton kartun.


“Belum, Aunty,” jawabnya sembari menoleh ke arah Asyila.


“Bela sekarang pergi mandi ya biar segar!” pinta Asyila dengan perkataan yang begitu lembut.


Bela mengiyakan dengan senang hati dan bergegas untuk segera mandi.


Kini, diruang keluarga hanya ada Asyila dan bayi mungilnya.


“Kesayangan Bunda Alhamdulillah hari ini tidak rewel, terima kasih ya sayang,” tutur Asyila dan menggendong bayi mungilnya yang saat itu tengah berada di kereta bayi.


Beberapa saat kemudian.


Ketukan pintu tiba-tiba terdengar dan kebetulan saat itu Bela sedang bermain seorang diri di ruang keluarga, sementara Asyila sedang sibuk memandikan Bayi Akbar.


“Tok... Tok... Tok...” Suara pintu diketuk.


“Assalamu’alaikum,” tutur Ema dan juga Kahfi.


Bela berlari kecil untuk segera membukakan pintu.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bela yang baru saja membukakan pintu.


Ema mengernyitkan keningnya ketika melihat bahwa yang membukakan pintu bukanlah pemilik rumah tersebut.


“Adik ini siapa ya?” tanya Ema yang belum mengetahui siapa gadis kecil dihadapannya.


Bela bingung harus menjawab apa, untungnya Asyila tiba-tiba datang dan mempersilakan sahabatnya serta putra kecil sahabatnya untuk segera masuk ke dalam.


Ema dan Kahfi pun masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga.


“Syila, siapa adik kecil ini?” tanya Ema penasaran dengan kehadiran Bela di rumah tersebut.


“Maaf ya Ema, aku belum sempat memberitahukan kamu. Ini Bela, bisa dibilang sekarang aku menjadi orang tua pengganti untuknya,” balas Asyila memperkenalkan Bela.


Ema mengernyitkan keningnya dan masih belum paham maksud dari sahabatnya, Asyila.

__ADS_1


“Maksudmu orang tua pengganti?” tanya Ema yang ingin mendapat jawaban yang lebih jelas lagi.


Sebelum menjawab dan menjelaskan mengenai Bela kepada Ema, Asyila pun meminta Bela untuk mengambil selimut bayi mungilnya di dalam kamar.


Bela mengiyakan dan bergegas menuju kamar untuk mengambil selimut bayi milik Bayi Akbar.


Setelah Bela sudah benar-benar tak terlihat lagi, Asyila langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Bela sehingga gadis kecil itu bisa tinggal disini. Asyila menceritakannya dengan cara berbisik-bisik, dikarenakan Asyila tidak ingin membuat Bela sedih ataupun tersinggung.


Sebelum Bela sampai ke ruang keluarga, Asyila sudah menceritakan semuanya dan Ema pun terlihat begitu sedih.


“Tolong bersikaplah seperti biasanya saja!” pinta Asyila pada Ema.


Ema menyeka air matanya sembari mengangguk setuju.


“Aunty, ini selimut adik bayi,” tutur Bela sambil menyerahkan selimut bayi tersebut.


“Terima kasih, Bela,” balas Asyila dan menyelimuti bayi mungilnya itu yang saat itu masih berada di kereta bayi.


Ema memperhatikan wajah Bela dan merasa sangat kasihan dengan apa yang telah Bela lalui.


“Mama, ayo pulang!” ajak Kahfi yang saat itu terlihat begitu lemas.


Asyila menoleh ke arah Kahfi yang usianya sama dengan Ashraf, tiba-tiba Asyila menyadari bahwa saat itu Kahfi tidak seperti biasanya yang ceria dan bersemangat.


“Kahfi sakit?” tanya Asyila sambil menyentuh kening putra kecil sahabatnya.


“Iya, Asyila. Kahfi sakit sudah dua hari ini, aku pulang dulu ya. Oh ya, aku datang kesini cuma ingin mengantarkan ini!” Ema tersenyum dan memberikan rantang stainless berisi bubur kacang hijau, telur balado serta manisan buah.


“Terima kasih, Ema. Semoga Kahfi cepat sembuh ya.”


“Aamiiin, lain kali mainlah ke rumah ajak juga Bela,” tutur Ema yang tersenyum lebar ke arah Bela.


“Iya Tante,” jawab Bela tersenyum malu-malu.


Ema dan Kahfi akhirnya pamit pulang.


Bela kembali menutup pintu rapat-rapat dan kembali menghampiri Asyila yang berada di ruang keluarga.


“Bela, tolong bawa rantang stainless ini ke meja makan ya. Sebentar lagi Aunty akan menyusul!” perintah Asyila.


Bela mengiyakan dan tanpa pikir panjang dirinya langsung membawa rantang stainless itu ke ruang makan.


Asyila yang sebelumnya tersenyum dengan penuh semangat, tiba-tiba kembali menitikkan air matanya.


“Mas kemana saja? Kenapa sampai sekarang tidak bisa dihubungi?” tanya Asyila yang selalu menunggu kabar dari suaminya.


Waktu hampir mendekati Maghrib, suaminya malah belum ada kabar sama sekali.


“Tidak, aku tidak boleh cengeng begini. Bukankah sebelumnya aku pernah melewati ini sebelumnya, ayo Asyila kamu harus kuat dan tidak boleh cengeng,” tutur Asyila menyemangati dirinya sendiri dan menyeka air matanya agar tidak terlalu mengalir.


Asyila menghela napasnya dan bergegas membawa bayi mungilnya ke ruang makan.


“Masya Allah, Bela pintar sekali,” puji Asyila ketika melihat isi rantang stainless tersebut sudah berpindah wadah.


Bela tersenyum malu karena sebelumnya ia sudah sering melakukan hal seperti itu.


“Ayo sekarang ditutup dulu dengan tudung saji, sekarang kita bersiap-siap untuk sholat Maghrib!” ajak Asyila yang terlihat begitu bahagia, padahal hatinya saat itu sangatlah sedih.


“Baik, Aunty!” seru Bela yang begitu semangat.


Asyila menggendong bayi mungilnya dan melenggang pergi menuju kamar, Bela pun mengikuti langkah kaki Asyila untuk sholat Maghrib di kamar.


Setibanya di dalam kamar, Asyila memutuskan untuk menyusui bayi mungilnya terlebih dahulu agar nanti ketika sholat bayi mungilnya itu tidak rewel.


“Bela wudhu duluan ya!” pinta Asyila.


Bela dengan penuh semangat dan bergegas mengambil air wudhu.


Asyila sangat senang dengan Bela yang semakin hari semakin pintar saja. Baru beberapa hari tinggal di kediamannya, Bela sudah bisa membaca meskipun masih mengeja.


Dan masih banyak hal lainnya yang dengan cepat Bela pelajari.


“Sayang, Bunda dan Kak Bela mau sholat dulu. Kesayangan Bunda diam dulu disini, jangan menangis,” tutur Asyila dan secara pelan-pelan meletakkan bayi mungilnya di ranjang bayi. Kemudian, dirinya bergegas mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat Maghrib.


Bela yang sudah siap, memilih duduk di sajadah yang sebelumnya sudah ia bentangkan. Gadis kecil itu sudah tidak bingung lagi dengan bacaan sholat. Meskipun, ada beberapa bacaan Do'a yang sepenuhnya belum ia hafal.


“Bela sudah siap?” tanya Asyila yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Insya Allah, Aunty.”

__ADS_1


“Masya Allah, Aunty sangat senang mendengar Bela mengatakan kalimat barusan. Ya sudah ayo kita sholat!”


__ADS_2