
Beberapa hari kemudian.
Abraham mendapat kabar bahwa Mbah Tedjo tengah sakit, karena khawatir Abraham memutuskan untuk segera pergi menemui Mbah Tedjo serta yang lainnya bersama dengan istri kecilnya.
“Syila sudah siap?” tanya Asyila pada istri kecilnya yang tengah menyusui bayi mungil mereka berdua.
“Sudah, Mas. Hanya saja masih menyusui Akbar,” balas Asyila.
Abraham mengangguk kecil dan duduk di samping istri kecilnya.
“Mas, Pak Eko apa sudah datang? Bagaimana keadaan Pak Eko sekarang?” tanya Asyila yang memang sudah cukup lama tidak melihat sopir pribadi suaminya bekerja.
“Insya Allah, Eko sudah sangat membaik. Kalaupun masih sakit, Mas tidak akan mengizinkannya menyetir mobil,” balas Abraham.
“Alhamdulillah,” tutur Asyila dengan perasaan lega.
Pagi itu, hanya Abraham, Asyila serta bayi mungilnya saja yang pergi untuk menemui Mbah Tedjo serta yang lainnya.
Sementara Bela tidak ikut karena diajak Dyah pergi untuk menikmati pizza yang sebelumnya sudah dijanjikan oleh Dyah.
“Paman dan Aunty mau berangkat?” tanya Dyah ketika melihat Paman serta Aunty-nya yang baru saja menuruni anak tangga.
“Iya, kami mau berangkat. Apakah kalian berubah pikiran?” tanya Abraham.
Dyah dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Paman dan Aunty tidak perlu khawatir. Dyah hari ini akan mengajak Bela jalan-jalan dan juga menikmati Pizza,” tutur Dyah.
“Pizza? Maksudnya Bela mau makan pizza, begitu?” tanya Asyila sembari tersenyum lebar pada Bela.
Bela dengan malu-malu mengangguk kecil mendengar pertanyaan dari Asyila.
“Kok malah malu-malu begitu? Aunty sangat senang kalau Bela bisa keluar jalan-jalan dengan Kak Dyah,” ujar Asyila dan menyentuh pipi kiri Bela dengan gemas.
Bela tersenyum lebar dan semakin membuatnya terlihat begitu bahagia.
“Kami pergi dulu, Bela baik-baik ya bersama Kak Dyah dan juga Kak Fahmi,” tutur Asyila.
“Baik, Aunty,” jawab Bela.
Abraham dan Asyila pun mengucapkan salam untuk segera pergi meninggalkan perumahan Absyil menuju daerah tempat dimana Mbah Tedjo dan yang lainnya tinggal.
“Apa kabar Pak Eko? Sudah lama sekali Asyila tidak melihat Pak Eko,” tutur Asyila menyapa Pak Eko.
“Alhamdulillah saya sudah sembuh, Nona Asyila. Sebelumnya saya kira sudah dipecat karena memang sebelumnya tak kunjung sembuh,” terang Pak Eko.
“Pak Eko ini aneh-aneh saja, Mas Abraham pun tidak mungkin memecat Pak Eko,” balas Asyila setengah tertawa.
“Ehem!!” Abraham berdehem membuat Asyila dan juga Eko tersadar karena keasikan mengobrol.
“Sudah jam segini, ayo Eko cepat berangkat!” perintah Abraham.
Eko mengangguk kecil dan perlahan meninggalkan area Perumahan Absyil.
“Mas cemburu ya hanya karena Asyila mengobrol dengan Pak Eko?” tanya Asyila dengan berbisik.
__ADS_1
“Iya,” jawab Abraham singkat.
Asyila terkekeh geli dan seketika itu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dengan terus menggendong bayi mungil mereka.
Abraham tersenyum tipis dan rasa cemburunya seketika itu lenyap manakala istri kecilnya bertingkah manis seperti itu.
“Mas...” panggil Asyila lirih.
“Hhhmmm...”
“Sebelum tiba di daerah itu, bolehkah kita mampir sebentar?” tanya Asyila.
“Memangnya Syila mau mampir kemana?” tanya Abraham penasaran.
“Mau makan durian, Mas,” jawab Asyila malu-malu.
Abraham tertawa kecil melihat ekspresi istri kecilnya itu. Kemudian, mengiyakan dan meminta Eko untuk mencari penjual durian yang biasanya menjajakan dagangannya di pinggir jalan.
“Terima kasih, Mas!”
“Iya, sama-sama,” balas Abraham lalu, menciumi kening Asyila dengan sangat mesra.
Eko yang tengah menyetir pura-pura tak melihat. Meskipun, ia melihatnya dari kaca kecil yang terhubung langsung oleh keduanya.
Hampir 1 jam lamanya, penjualan durian yang biasa menjajakan dagangannya belum juga terlihat dan membuat Asyila sedikit kecewa karena buah yang diinginkannya belum dapat dirasakan.
Saat Eko yang mengemudikan mobil hampir putus asa, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat buah yang diinginkan oleh istri dari Tuannya itu.
“Nona Asyila tidak perlu bersedih, lihatlah di depan ada yang menjual durian,” terang Eko yang sangat senang.
Asyila menoleh ke arah dan seketika itu juga senyumannya merekah sempurna.
Eko perlahan meminggirkan mobilnya tepat di depan orang yang menjual buah durian tersebut.
“Ayo Mas!” ajak Asyila tak sabar.
Asyila turun dan diikuti oleh suaminya tercinta.
“Pak Eko kenapa masih di dalam, ayo turun sini!” panggil Asyila.
Eko mengiyakan dan bergegas turun untuk ikut bergabung dengan sepasang suami istri itu.
“Pak, kami pesan durian yang besar, manis dan bijinya kecil. Ada?” tanya Abraham.
“Ada,” jawab si penjual sembari mengambil buah durian yang dimaksud oleh Abraham.
Beberapa menit kemudian, buah durian pun siap untuk dinikmati.
“Masya Allah, rasanya sangat manis Mas Abraham,” ucap Asyila ketika merasakan bagaimana nikmatnya rasa buah durian tersebut.
Abraham tersenyum puas melihat respon Sang istri tercinta.
Usai menikmati buah durian, merekapun kembali melanjutkan perjalanan menuju daerah dimana Mbah Tedjo serta yang lainnya tinggal.
***
__ADS_1
Mbah Tedjo, Menik serta yang lainnya ternyata sudah menunggu kedatangan Abraham serta istri kecilnya.
“Mas, Asyila merasa sedikit gugup melihat mereka yang sudah berjejeran memperhatikan mobil kita,” tutur Asyila.
“Sudah tidak apa-apa, lihat Mbah Tedjo ada di sana. Seharusnya Mbah Tedjo tidak perlu sampai menyambut kedatangan kita,” ujar Abraham dan turun dari mobil seketika itu juga.
Asyila memanyunkan bibirnya dan bergegas turun dari mobil untuk menyusul suaminya yang turun lebih dulu.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham dan juga Asyila.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Mbah Tedjo, Menik serta yang lainnya.
Wajah Mbah Tedjo saat itu terlihat sangat pucat, meskipun begitu ia tetap tersenyum dan menyambut kedatangan mereka.
“Mbah Tedjo sakit apa?” tanya Abraham mendekat dan menuntun Mbah Tedjo untuk duduk di sebuah jejeran kursi kayu.
“Mbah tidak apa-apa, Nak Abraham. Hanya penyakit tua saja,” jawabnya yang tak ingin membuat Abraham serta yang lainnya khawatir.
Menik serta wanita lainnya malah fokus dengan bayi yang tengah digendong oleh Asyila.
“Adik bayi, kamu kenapa lucu sekali,” ucap Menik yang terlihat sangat gemas dengan bayi mungil tersebut.
“Mau gendong?” tanya Asyila pada Menik barangkali Menik ingin menggendong buah hati ke-empatnya itu.
Dengan malu-malu Menik mengiyakan.
“Akbar sayang, sama Tante dulu ya,” tutur Asyila dan dengan hati-hati memberikan bayi mungilnya ke gendongan Menik.
Abraham memberikan isyarat mata kepada Eko dan seketika itu juga Eko berlari kecil menuju mobil untuk mengambil belanjaan yang dibeli oleh Abraham serta Asyila.
“Tuan, ini taruh mana?” tanya Eko.
Abraham tersenyum dan meminta Eko meletakkan barang-barang belanjaan tersebut tak jauh dari mereka.
“Ya Allah, kenapa harus repot-repot membawakan bahan-bahan makanan sebanyak ini?” tanya Mbah Tedjo.
“Apanya yang repot? Kami malah sangat senang kalau setiap datang membawa makanan atau lainnya yang tentu saja bermanfaat,” balas Abraham.
“Nak Abraham ini bisa saja, sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada Nak Abraham dan keluarga. Bagaimanapun, saya tidak bisa membalas kebaikan Nak Abraham dan keluarga ini. Yang bisa saya lakukan adalah mendo'akan kebaikan serta kesejahteraan untuk keluarga Nak Abraham,” terang Mbah Tedjo.
“Masya Allah, justru Do'a itulah yang kami butuhkan,” balas Abraham.
Perbincangan itu terus saja berlanjut, sampai akhirnya waktu bagi Abraham serta yang lain untuk kembali ke Perumahan Absyil.
Akan tetapi, sebelum Abraham berpamitan dirinya mengeluarkan amplop yang di dalamnya sudah berisi beberapa lembar uang untuk dibagikan kepada Mbah Tedjo serta yang lainnya.
“Maaf semuanya, tolong diterima,” ucap Abraham dan memberikan sebuah amplop tersebut kepada Mbah Tedjo dan memberikannya kepada yang lain secara bergantian.
Mbah Tedjo, Menik serta yang lainnya berkali-kali mengucapkan terima kasih atas apa yang Abraham berikan kepada mereka.
Setelah semuanya mendapatkan bagian mereka masing-masing, Abraham, Asyila, bayi mungil mereka dan Eko pun bergegas kembali menuju Perumahan Absyil.
“Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!”
__ADS_1
Eko pun perlahan mengendarai mobil tersebut dan akhirnya pergi meninggalkan daerah dimana Mbah Tedjo serta yang lainnya tinggal.
Abraham ❤️ Asyila